
Begitu memasuki lobi, Yunita merasa lemas--seolah kakinya kehilangan tenaga-- dia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di salah satu sofa yang ada di lobi hotel; sekalian menunggu Andre yang sedang pergi ke toilet. Hari ini merupakan pengalaman pertamanya berjalan di tengah-tengah sorotan layaknya artis.
“Yunita?” saat sedang menunggu Andre kembali, dia mendengar suara seorang laki-laki sedang memanggil namanya. Dan ketika dia menengok, perasaannya cukup senang sekaligus lega saat melihat Dimas dan Brandon; yang tampak menggandeng pasangan masing-masing. Setidaknya, dia tidak merasa terlalu asung di sini karena punya teman yang dia kenal.
“Loh, kok sendirian? Andre mana?" Dimas bertanya "Jangan bilang dia langsung cari c...,” sebelum Dimas menyelesaikan kalimatnya, Brandon tampak langsung menginjak kakinya, "Aw, damn. Lu tau itu sakit ngak?" Dimas menggerutu.
“Lu ngak usah nyebar fitnah disini. Andre kagak sama seperti lu, mata keranjang,” jawab Brandon.
Seperti biasa, setiap kedua orang ini berkumpul selalu saja ada tingkah konyol yang mereka lakukan tanpa memedulikan sekitar mereka. Dia menjadi tidak heran pertemanan ketiganya sangat awet; mereka bertiga selalu bertingkah seperti tidak punya beban pikiran sama sekali, selalu bercanda gurau sepertinya membuat mereka bertiga jarang bertengkar, pikirnya.
“Wah, kadang-kadang gua bertanya-tanya. Lo itu sahabat atau musuh gua sebenarnya,” Dimas kembali menggerutu.
“Both of them,” Brandon menjawab dengan cuek, dan melempar senyuman ke Yunita.
“Wah, mulut lu itu ya, bener-bener perlu dikasih pelajaran,”
“Ngak salah dengar gua? Yang paling remes kan lu disini,”
“Hah," Dimas mendengus, "Lu mau gua kasih ingat dengan kejadian waktu itu hah?”
“Duh, lu berdua ya. Kenapa ngak sekalian aja lu pergi ke ring tinju terus saling adu jotos sana,” Yunita menyela keduanya.
Meskipun terkadang lucu, namun kali ini pertengkaran kedua orang ini malah membuat dia semakin pusing dan tidak bisa menenangkan pikirannya.
“Nice Idea,” ucap Dimas setelah hening sejenak
“Hmm,” Brandon mengangguk, terlihat seperti menyetujui ide tadi yang Yunita lontarkan secara spontan sebelum berpikir.
Yunita hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat pikiran kekanak-kanakan dari Dimas dan Brandon.
“Ada masalah apa lagi lu berdua sampai pacar gua geleng-geleng kepala,” kata Andre yang baru saja kembali dari toilet. “Pasti melelahkan berada di antara 2 orang laki-laki bermulut perempuan ini,” tambah Andre sambil merangkul pundak Yunita.
Saat Andre berdiri di sampingnya, melihat pasangan Dimas dan Brandon yang menatap ke arah Andre dengan senyuman malu-malu, Yunita menyadari bagaimana menawannya Andre saat memakai tuxedo, ditambah lagi dengan tinggi badan yang terlihat sedikit di atas rata-rata orang seumuran mereka.
__ADS_1
“Ehm, honey," Yunita bersikap manja dengan melingkarkan tangannya di lengan Andre, "Kenapa kita ngak masuk aja sekarang?” dia mengatakannya dengan senyuman penuh kemenangan ke pasangan Dimas dan Brandon.
Sikap Yunita tersebut tampaknya menjadi pukulan telak bagi pasangan Dimas dan Brandon tersebut; senyuman dan lirikan mata mereka sekarang sirna. Ada sedikit rasa puas dalam diri Yunita setelah melakukan hal tersebut.
Memasuki ruangan ballroom, tempat di mana acara yang menyebabkan kehebohan di luar tadi, membuat Yunita merasakan suasana di depan gedung tadi hanya sepersepuluh dari apa yang dilihatnya sekarang ini.
Sebelumnya, pernikahan-pernikahan crazy rich yang sering dilihatnya di film-film ataupun drama sekarang sedang ada di depan matanya. Dekorasi yang fantastis; panggung yang begitu megah dan luas; meja bundar besar yang ditatah sedemikian rupa lengkap dengan taplak putih memenuhi ruangan tersebut membuatnya serasa berada di tempat yang betul-betul asing baginya.
"Wow, daebak," hanya dua kata itu yang bisa dia ucapkan dalam hatinya saat berjalan bersama Andre.
Sekarang dia sedikit mengerti, kenapa acara ini bisa dibilang sangat elite. Apalagi saat mendengar penjelasan Andre di mobil, tentunya tamu di sini bukanlah orang sembarangan. Dia bisa melihat beberapa aktris dan aktor papan atas di beberapa meja.
Wedding bandnya pun bukan wedding band biasa-biasa saja, melainkan full band dengan alat musik yang terlihat bermacam-macam; salah satu alat musik yang jarang dia lihat ada di acara pernikahan biasanya pun ada, Grand Piano. Dan, tentu saja, dia berani bertaruh kalo beberapa artis juga pasti diundang untuk menyanyi. Seperti sekarang ini, dia bisa menyaksikan penampilan live dari salah satu penyanyi favorit kakaknya di atas panggung.
“Pertama kali ya?” Andre bertanya ketika Yunita sedang menaksir berapa uang yang dihabiskan oleh pasangan pengantin yang membuat acara semegah ini.
"Hmm," Yunita mengangguk. Dalam hati kecilnya, dia juga menginginkan hal seperti ini suatu saat nanti.
Andre kemudian membawa Yunita terus berjalan, namun kali ini mereka berpisah dari Dimas dan Brandon; di mana dia dan Andre belok ke kanan, sedangkan Dimas dan Brandon ke kiri.
“Wah, ini yang namanya Yunita ya?” ucap wanita tersebut yang seketika langsung menghampirinya dan memeluknya. Tidak tahu harus berbuat apa, Yunita yang bingung akhirnya memutuskan untuk mengikuti alur saja.
Pakaian yang di pakai wanita ini pun terlihat sederhana, hanya sebuah Kebaya Brokat panjang dengan potongan belahan dada berwarna krem dipadukan dengan bustier yang warnanya senada; lengan panjang; dan aksesoris pelengkap bermotif bunga di pinggangnya; ditambah rok batik berwarna coklat dengan sedikit warna keemasan membuat wanita tersebut terlihat sangat sexy namun juga anggun.
“Gimana, cantik kan ma?” kata Andre.
Mendengar Andre mengucapkan kata ‘ma’, Yunita langsung membelalakan matanya kepada Andre. Andre hanya tersenyum, mengedipkan mata, dan menggangguk. Dia berusaha memproses apa yang dia dengar; wanita yang terlihat seperti orang berusia 20-an akhir ini adalah Ibunya Andre?
“Tentu dong, banget malah. Ayo duduk,” jawab Ibunya Andre, yang kemudian menyuruhnya duduk. Masih dengan perasaan tidak percaya soal Ibu Andre yang terlihat awet muda, Yunita duduk di samping Andre.
“Pst," Yunita menyenggol tangan Andre, "Mamamu umurnya berapa? Kok muda banget?” dia bertanya.
Andre hanya senyum-senyum sendiri dan sesekali tertawa ringan. Sebab bukan pertama kalinya dia mendengar pertanyaan semacam itu.
__ADS_1
"45 Tahun ini," Andre berbisik di dekat Yunita; yang hampir saja menjerit mendengar kenyataan yang tidak bisa di percaya itu.
“Liat tuh anakmu, baru pertama kali bawa pacarnya ke depan kita. Tapi sudah berani mesra-mesraan kaya begitu,” ujar Ibu Yunita yang tersenyum kepadanya sembari menyenggol lengan seorang pria berumur 40-an di sampingnya; yang merupakan Ayah Andre.
“Biasalah, apel tidak jatuh jauh dari pohonnya” ucap seorang wanita lainnya yang semeja dengan Yunita dan keluarga Andre. Walaupun sama-sama terlihat muda, akan tetapi entah kenapa wajah Ibunya Andre tetap terlihat lebih muda, apalagi saat tersenyum tadi.
“Biarkan sajalah, lagian mereka kan udah dewasa. Jadi normal-normal aja dong kalau punya pacar atau mesra-mesraan, selama masih dalam batasan tertentu,” ujar Ayah Andre yang terlihat sibuk dengan sebuah tablet di tangannya; yang mana menurutnya cukup maklum, apalagi mengingat Ayah Andre merupakan pemilik perusahaan no 1 di Indonesia dengan segala kesibukan yang super extreme.
Di samping itu, Yunita sedikit terkejut saat mengetahui dari mana suara rendah Andre yang berat dan sangat menawan tersebut berasal; tepatnya ketika Ayahnya Andre berbicara tadi.
Melihat kedua orang tua Andre, dia menganggap Andre sangat beruntung karena mendapat semua bibit unggul dari kedua orang tuanya tersebut. Wajah yang tampan dari Ibunya; dan suara yang menawan dari Ayahnya; dia sedikit menebak kalau salah satu Ibunya Andre terpikat dengan Ayahnya Andre mungkin karena suara yang kharismatik dan menawan tersebut.
Sekitar 15 – 30 menitan Yunita duduk bersama dengan Andre, namun terasa sangat sebentar. Atmosfer yang nyaman bisa dibilang salah satu penyebabnya, rasa gugup yang tadi ada dalam dirinya sekarang berubah menjadi rasa nyaman.
Orang tua Andre—seperti yang dikatakan Andre—sangat berpikiran terbuka. Selama mereka duduk dan makan bersama, tidak ada pertanyaan yang menurutnya tidak nyaman keluar dari mulut orang tua Andre ataupun dua pasangan lainnya; yang ternyata mereka adalah keluarga dekat Ayah dan Ibunya Andre.
Dan setelah itu, keluarga Andre seperti tidak memperhatikan dia dan Andre lagi, pembicaraan keluarga Andre perlahan berganti soal perusahaan Ayah Andre, bagaimana kemajuannya, prospek, rencana IPO dan segala macam hal yang tidak dia mengerti.
"Bagaimana kalau kita pergi ke meja Dimas dan Brandon?"
Beruntung, ditengah-tengah pembicaraan yang memusingkan dan membuatnya sedikit bosan tersebut, Andre mengajaknya untuk pergi ke meja di mana Brandon dan Dimas duduk. Namun sebelum itu, dia pergi terlebih dahulu ke stan makanan untuk mengambil beberapa tusuk sate ayam lagi; selain karena sate ayamnya cukup enak, sate ayam juga merupakan salah satu makanan yang sangat dia sukai.
Karena terlalu fokus mengambil sate, dia secara tidak sadar sampai menyenggol lengan seseorang di sampingnya saat hendak berbalik yang untungnya tidak menyebabkan makanannya maupun orang tersebut berhamburan ke lantai, “Ah, maaf, maaf,”
“Ah, tidak a...”
Sebelum pria tersebut menyelesaikan perkataannya, Andre yang entah datang dari mana langsung datang dan berdiri di antara Yunita dan pria tersebut. Pria tersebut hanya tersenyum; menggeleng-gelengkan kepala sedikit; dan menaruh piring di pinggiran meja, “Wah, liat siapa yang datang? The Richest one,” ucap pria tersebut dengan suara yang agak dikeraskan akibat suara musik yang cukup keras; dan dengan intonasi yang terkesan sedang menantang.
Andre bergerak maju mendekati pria tersebut, dan berbicara agak dekat dengan pria tersebut; yang sayangnya dia tidak bisa mendengarnya akibat suara musik yang kebetulan penuh dengan permainan bass dan drum. Namun satu hal yang pasti, pandangan pria tersebut yang melihat ke arahnya dengan senyuman dan tatapan aneh membuatnya cukup risih.
Setelah selesai berbicara, Andre kemudian menariknya pergi dari situ. Namun, lagi-lagi pria tersebut dengan sikap arogannya mulai berbicara, “Kenapa hah? Kurang percaya diri? Takut kejadian waktu itu terulang?”.
Andre yang sepertinya terpancing emosinya, berhenti sesaat; melepaskan genggamannya; dan berjalan menghampiri pria tersebut dengan tangan yang dikepal—yang untungnya langsung dicegat oleh Dimas dan Brandon yang dengan cepat menahan tangan dan pundak Andre sambil membisikkan sesuatu—dan untuk pertama kalinya, Yunita melihat tatapan Andre yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tatapan penuh dendam, amarah, dan rasa ingin menghabisi seseorang. Bahkan saat sedang terlibat perkelahian dengan Rico, tatapan Andre tidak seperti itu.
__ADS_1
Sementara pria tersebut pergi dan Andre yang masih ditahan oleh Dimas dan Brandon, kejadian barusan membuat Yunita sedikit penasaran, ada hubungan apa pria tersebut dengan Andre?. Kenapa Andre begitu terlihat mendendam dengan pria tersebut?. Akan tetapi, sebagian kecil dirinya menyuruhnya untuk berhenti penasaran dengan hal tersebut sebelum dia terluka sendiri akibat rasa keponya tersebut.