
Sesuai dugaan Andre, apapun yang bersifat trending di sosial media, sudah pasti akan menjadi santapan lezat bagi para wartawan. Ditambah lagi statusnya dan Yunita yang bisa dibilang orang terpandang, media seolah memberi perhatian khusus kepada mereka berdua dan mengirim begitu banyak orang di kantor ibunya. Dia berani menebak, di kantor Ayahnya juga pasti tidak jauh berbeda.
Demi menghindari wartawan-wartawan yang siap menerkam dengan kamera dan menusuk dengan mic, Andre memilih menggunakan jalan masuk VVIP yang hanya keluarganya saja bisa masuk; karena di setiap mobil keluarga Andre, semua dipasang sejenis chip khusus untuk akses masuk.
Lift yang mereka naiki pun bukan sembarangan. Sesuai dengan kelasnya, VVIP; hanya berhenti di dua lantai, lantai tempat mereka parkir dan lantai di mana ruangan ibunya berada dan hanya bisa berfungsi dengan kode biometrik keluarga mereka saja.
Sampai di depan pintu ruangan Ibunya, Andre bisa mendengar ibunya sedang marah besar. Entah dengan siapa, namun jika harus menebak, pasti dengan salah satu perusahaan media yang menyebar gosip yang beredar sekarang ini.
“KALAU KALIAN TIDAK MAU BERAKHIR DI PENJARA. HAPUS SEMUA ARTIKELNYA KURANG AJAR!!!!” suara Ibunya Andre menggema sampai keluar, meski pintu—yang punya peredam suara ini—dalam keadaan tertutup.
Setelah menunggu sebentar untuk memastikan apakah Ibunya sudah selesai dengan semua emosi tersebut, dia membuka pintu dan masuk.
Saat mereka memasuki ruangan, Andre agak kecewa—bercanda—saat melihat Ibunya lebih dulu menghampiri Yunita dibandingkan dirinya, “Kamu ngak apa-apa kan?” Ibunya bertanya dengan suara yang lembut, seperti seorang Ibu yang baru saja melihat anaknya terluka.
“Wah, mom, yang ngak baik-baik saja itu aku,” ujar Andre sembari memasang wajah cemberutnya.
“Lah, kamu kan laki-laki. Calon CEO INS Group dan calon suami artis papan atas. Harusnya kamu tahan mental dong,” Andre di sindir oleh Ibunya, “Dan juga, kau ngapain dekat-dekat sama cewek itu lagi? Sampai di foto pula,” bukannya rasa simpati, Andre dibuat tidak percaya karena malah mendapatkan ceramah dari ibunya saat ini.
Dan yang membuatnya tambah malu karena di dalam ruangan itu ada Yunita dan juga Widya; asisten ibunya.
“Loh, mama ngak tahu kalo dia asistennya Pak Agus?” Andre balik bertanya untuk menyalahkan ibunya.
Sebab, ibunya yang terkenal detail dalam menjalin kerja sama, seharusnya sudah mengetahui tentang Diana dari awal bekerja dengan Pak Argus.
“Ngak. Yang benar dia asistennya Pak Agus?” melihat ibunya yang sama-sama binging, membuat Andre semakin yakin kalau Ibunya memang tidak tahu soal Diana yang menjadi Asisten Pak Agus, “Wid, telpon Pak Agus, minta dia ganti orang yang bernama Diana,”
“Ngak usah ma,” Yunita akhirnya berbicara, “Entah apa gosip yang akan timbul berikutnya kalau mama minta dia dipecat,”
“Kenapa? Dia sudah jadi biang kerok hari ini, dan kamu masih mau maafin dia? Dasar perempuan itu, padahal sudah mama peringati untuk tidak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi,”
__ADS_1
“Lagian kali ini kan cuma kebetulan saja. Dan, kalo sampai dia mengadu ke media, kita bisa repot juga kan nantinya. Bagaimana kalo kita klarifikasi saja? Cukup bagus bukan?” Andre mendukung saran Yunita.
Dia lebih memikirkan entah apa yang akan di lakukan ibunya jika situasi ini tambah parah nantinya.
“Oke, tapi kau yang harus berbicara. Setuju?”
“A-A-Aku?” Andre terkejut, padahal dia berharap kalau ibunya yang akan mengklarifikasi gosip itu lewat humas saja.
“Yap, anggap saja sebagai latihan sebelum menjadi direktur muda mungkin?”
“Oke,” Andre akhirnya setuju.
Sejujurnya, dia bukannya tidak mau, dia juga merasa kalau apa yang dikatakan ibunya memang benar.
Hanya saja, ini merupakan pengalaman pertamanya tampil dan berbicara di depan banyak kamera setelah cukup lama. Rasa gugup menyelimuti kepalanya.
Dia takut, kalau sampai berbicara dan malah gelagapan, maka akan menjadi headline baru lagi.
“Nah betul itu, kebetulan calon istrimu kan artis papan atas, pernah sampai ke Oscar segala,” sahut Ibunya Andre, mendukung apa yang dikatakan Yunita soal mengurangi rasa gugup.
Selama setengah jam berikutnya, Yunita; dengan modal beberapa kamera DSLR, memberikan les singkat kepada Andre soal bagaimana berbicara di depan kamera. Dengan bantuan Ibunya Andre dan Widya, mereka bertiga menilai apakah cara berbicara Andre sudah dianggap lolos atau tidak. Dan cukup mengejutkan, Andre tidak butuh waktu terlalu lama untuk berbicara dengan lancar dan menunjukkan kharismanya di depan kamera.
“Ma,”
“Hmm?”
“Aku boleh improvisasi sedikit kan nanti?”
“Improvisasi apa? Jangan aneh-aneh deh kamu. Tahu sendiri kan media dan netizen di negara ini seperti apa?”
__ADS_1
“Soal pernikahan,” Andre berbisik di telinga Ibunya agar Yunita tidak bisa mendengarnya.
“Oh itu, boleh. Terserah kamu. Yang penting, kali ini kamu harus fokus menjelaskan alasanmu putus dengan Diana dulu, membantah soal Yunita sebagai cewek matre, dan membersihkan namamu sendiri.Sisanya, bebas, asalkan kamu sudah punya pertimbangan matang.
Kamu sudah harus mulai terbiasa membuat keputusan sendiri sebenarnya. Karena dalam beberapa minggu ke depan, kamu bukan lagi orang biasa, melainkan penerus perusahaan Ayahmu,”
Di loby, keributan di pintu utama sudah bisa langsung terdengar begitu keluar dari lift. Wartawan yang berkumpul di depan pintu, para petugas keamanan yang senantiasa berjaga menghalangi para wartawan tersebut agar tidak menyerobot masuk.
Begitu Andre, Ibunya, Widya dan Yunita memunculkan batang hidungnya di loby perusahaan, semua wartawan tersebut langsung standby; ada yang memegang pulpen dan catatan kecil, ada yang langsung mengetes mic, mengatur kamera agar menyoroti mereka berempat.
Petugas keamanan dengan sigap langsung membentuk barikade agar para wartawan tersebut tidak maju terlalu dekat lagi.
“Tolong ya, kalau kalian bisa tenang dan tidak berdesakan, kami akan memberikan klarifikasi mengenai gosip mereka yang sedang beredar. Jadi, saya mohon agar semuanya bisa tertib,” ujar Widya yang berjalan di depan dan menemui wartawan lebih dulu sebelum Andre, Ibunya dan Yunita keluar.
Melihat situasi yang agak tenang, Widya memberitahu petugas keamanan untuk melonggarkan penjagaan mereka. Namun, situasi yang tenang tersebut tidak berlangsung lama.
Ketika Andre dan Yunita keluar dari pintu utama dan disusul oleh Ibunya Andre, wartawan kembali menggila dan memaksa maju. Para petugas keamanan dengan sigap mendorong barikade sekitar satu langkah di depan Andre.
‘Bagaimana pendapat Anda soal rumor yang beredar’, ‘Apakah betul Anda meninggalkan Diana, mantan Anda karena mendapat Yunita yang lebih cantik?’, ‘Bagaimana soal Yunita yang di sebut sebagai pelakor?’, ‘...’ pertanyaan dari para wartawan terus mengalir sebelum Andre sempat menjawab satu pun. Andre berusaha mencari celah jeda sesaat.
“Maaf,” dia memulai ketika sudah tidak terlalu banyak orang yang bertanya, para wartawan tersebut terdiam dan fokus mengarahkan mic dan menyorotnya dengan kamera mereka.
“Semua gosip yang beredar di luar sana tidak benar. Saya dan Diana memang pernah mempunyai hubungan spesial, namun semua itu sudah menjadi masa lalu.
Kami juga sudah putus jauh sebelum saya mengenal Yunita. Dan alasan saya putus, bukan karena Yunita lebih cantik atau apapun itu, tapi karena satu dan lain hal yang tidak etis jika saya sebutkan. Dan..” Andre sedikit ragu, dia menengok sebentar ibunya untuk bertanya sekali lagi apakah boleh mengatakannya atau tidak.
Ketika melihat ibunya tersenyum, dia langsung percaya diri dan menarik nafas dalam-dalam, lalu sedikit tersenyum.
“Dan saya mohon kepada kawan-kawan semua, agar tidak menyebarkan info apapun lagi terkait saya dan Yunita, calon istri saya,” ketika dia menyebut Yunita sebagai calon istrinya, semua wartawan menjadi heboh dan sebagian mulai menyorot Yunita,
__ADS_1
“Saya akan mengambil tindakan hukum apapun apabila masih ada yang menyebarkan isu-isu tidak benar terkait kami berdua, sekian,” Andre menutup perkataannya sambil menggandeng tangan Yunita masuk ke dalam mobil yang sudah standby semenjak beberapa menit yang lalu di belakang para wartawan.