
...Chapter XXI...
“AWAS!!!” teriakan Yunita menembus alam bawah sadar Andre yang masih mengenang masa lalunya.
Peringatan Yunita yang agak telat dan Dimas yang tidak memperingatkan padahal berada paling dekat dengan Andre, berakhir dengan Andre yang menyenggol vas tersebut sampai terjatuh dan juga menginjaknya.
“AW!!” Andre memekik kesakitan saat potongan kaca yang berserakan di lantai terasa menembus telapak kakinya. Namun, dia masih berusaha menurunkan ujung sofa yang di pegangnya tersebut, sebelum akhirnya dia duduk di lantai sambil bersandar di tembok.
Yunita terlihat cukup panik saat melihat bercak darah di lantai apartemen kakaknya; yang kebetulan berwarna putih sehingga bercak darah dari kaki Andre nampak begitu jelas dan membuatnya sedikit ngeri. Apalagi, dia tipe orang yang sangat tidak tahan melihat darah yang berserakan cukup banyak. Kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual setiap kali melihat yang namanya ‘darah’.
“Stef, lo jaga Yunita dan coba tanya ada kotak P3K atau ngak. Dim, lu bantu gua angkat Andre ke sofa,” Brandon yang cukup paham soal pertolongan darurat—karena kakaknya yang merupakan seorang dokter—langsung bergerak cepat mengatasi situasi tersebut.
“Ah memalukan banget, ya kan? Bahaya nih kalo sampai ada yang upload ke sosmed,”
Andre yang sedang menahan rasa sakit di telapak kakinya, masih sempat-sempatnya berusaha melawak. Dimas dan Brandon yang mendengar ucapan Andre tersebut hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat mereka satu ini yang masih saja berusaha mencairkan suasana dengan lawakannya yang garing.
“Percuma lah gelar sabuk hitam lu kalo kaya begini saja sampai merintih kesakitan kaya anak bayi,” Dimas membalas dengan mengungkit salah satu kebanggaan Andre, yaitu berhasil menyusul mendapatkan sabuk hitam taekwondo yang di dapatkannya saat kelas 3 SMP. Dia bahkan sangat ingat bagaimana Andre sering mengungkitnya setiap kali pelajaran olahraga berlangsung.
“Betul”, Brandon yang bahkan sangat jarang berkomentar, kali ini juga ikut mendukung perkataan Dimas tadi. Andre terlihat tidak bisa berkata apa-apa dan hanya sedikit geleng-geleng kepala.
“Nih, kotak P3Knya,” ujar Stefani yang datang sambil membawa P3Knya dan memberikannya kepada Dimas.
Ada hal yang menarik perhatian Andre ketika melihat interaksi antara Stefani dan Dimas di depannya saat ini. Skinship yang seperti sedang di samarkan dengan beberapa gerakan yang menurutnya tidak perlu; lirikan mata keduanya yang saling curi-curi pandang; senyuman sayu di wajah Stefani di tambah dengan gelagat aneh dari Dimas; seperti menunjukkan tanda-randa orang lagi kasmaran.
__ADS_1
Tak mau mengacau, Andre hanya berdiam diri sambil diam-diam mengamati tingkah Dimas dan Stefani. Selain karena ini masih cuma dugaannya saja, dia juga tidak mau terlalu ikut campur. Apalagi mengingat Stefani merupakan teman akrab Yunita.
Dan juga, dengan sifat Dimas yang playboy, Andre berpikir ada baiknya jika untuk yang satu ini, dia cukup berdiri dan melihat saja. Karena, akan cukup berbahaya jika Dimas mempermainkan Stefani. Hubungannya dengan Yunita pun mungkin akan ikut terseret dan berakibat buruk.
Walau begitu, pikiran, hati dan mulutnya tetap saja gatal untuk mengompori jika Dimas dan Stefani memang punya suatu hubungan spesial.
“Dim, kalo dia senyum-senyum sekali lagi, lu ambil selotip dan tutup mulutnya,” ujar Brandon ketika menangkap Andre yang sedang senyum-senyum sendiri.
“Siap bos,” balas Dimas yang pergi meninggalkan Andre dan Brandon, sepertinya betul-betul melaksanakan perintah Brandon. Karena ketika kembali, Dimas sudah menggenggam lakban dan sebuah gunting.
“Btw, yang gua WA lu tadi, butuh berapa lama?”
Andre yang sedikit terkejut melihat Dimas yang menganggap serius candaan Brandon tadi. Dia lalu mencoba mengalihkan topik dengan membahas WAnya tadi pagi yang meminta tolong soal kecurigaannya.
“Tapi, kok lu bisa banget curiga sama orang tua lo sendiri? Bukannya selama ini lo ngak pernah di kekang?” tambah Brandon lagi.
“Betul, tapi kalo lo melihat apa yang hampir terjadi dengan Diana dan Tony waktu itu. Seharusnya lo mengerti, kalau Ibu gua tuh sangat perhatian dengan segala sesuatu yang mungkin akan merusak image gua di depan banyak orang.
Dan sekarang, Yunita. Kalian kan lihat bagaimana dia diperlakukan banyak orang di sekolah selama ini. Dia dikucilkan karena tidak masuk dalam kelas sosial kita yang terkutuk itu. Di keluarga besar gua sendiri, Yunita pasti akan dianggap sebelah mata begitu pula gua nantinya karena memilih pasangan yang tidak selevel.
Dan Ibu gua pasti ngak akan tinggal diam. Makanya gua curiga kalau ini adalah cara ibu gus untuk menaikkan nilai Yunita di depan keluarga besar gua,”
Merasa tidak bisa menanggung semuanya sendirian, Andre akhirnya menceritakan sedikit dari isi kepalanya kepada kedua sahabatnya ini. Di samping mereka lebih pengalaman; karena orang tua Dimas dan Brandon sendiri agak lebih ketat dalam soal pergaulan. Dia juga merasa nyaman dengan mereka berdua.
__ADS_1
“Kenapa rasanya susah ya buar jadi orang normal buat kita. Mak... Maksudku, bisa sedikit lebih bebas begitu. Ngak terlalu diatur-atur sama ortu kita, tidak perlu khawatir dengan pandangan orang, kapan ya kita bisa kayak gitu,”
Perkataan Dimas tersebut membuat Andre dan Brandon saling menatap satu sama lain dengan wajah yang agak berkerut.
“Kayaknya lo ngak cocok deh ngomong kaya begitu,” ucap Brandon, yang kemudian didukung oleh Andre dengan anggukan kepala.
“Maksud lo?”
“Yah coba aja lu pikir, berapa cewek yang sudah lo sakiti selama ini,”
“Terakhir gua hitung sih ada 20an,” potong Andre, yang dibalas Dimas dengan mata melotot.
“Nah, coba aja lo pikir. Image lu sekarang sudah tercap playboy. Jadi kata, ‘menjaga image’ rasanya kurang pas kalo keluar dari mulut lo itu. Dan juga....”
Sementara Brandon terus mengoceh setelah selesai memperban kaki Andre, dan mengubah beberapa menit setelahnya menjadi seperti sesi ceramah. Wajah Dimas terlihat sedikit agak berkeringat, tanda kalau dia sedang gelisah. “Mungkin malu rahasia besarnya didengar oleh Stefani,” gumam Andre dalam pikirannya.
“AHHHH, Sudah, sudah. Iya, gua ngerti kok kalau image gua udah terlalu negatif,” Dimas yang kakinya terlihat bergerak naik turun semakin cepat, akhirnya menghentikan Brandon yang terus mengoceh,
“Tapi jangan lu cerita kalau ada orang lain dong,” tambahnya.
“Ya sudah, bagaimana kalau kita pesan makanan aja. Sudah jam makan siang juga. Dan, gua ngak mungkin dong keluar ke restoran dengan keadaan begini,” melihat suasananya menjadi sedikit kurang menyenangkan. Andre mencoba menengahi keduanya. Karena, di samping itu, di saat yang sama, Yunita dan Stefani sedang berjalan ke arah mereka bertiga.
Akan tetapi, satu hal yang menjadi jelas setelah percakapan barusan. Yakni, Dimas pasti mempunyai perasaan kepada Stefani, entah sudah dinyatakan atau belum.
__ADS_1