
Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Suara jarum jam yang berdenting yang biasanya tidak terdengar oleh Yunita, karena sedang bosan, dia bisa mendengarnya.
Ditemani juga dengan angin sepoi-sepoi berhembus lewat jendela besar yang ada di kamarnya dan Andre. Dia bisa mencium aroma daun teh dari kebun teh yang tumbuh di sekitar tempat dia dan Andre menginap yang letaknya jauh dari segala hiruk pikuk perkotaan.
Hanya ada dia Andre, Brandon, Cecilia, Dimas dan juga Stefani; yang akhir-akhir ini mereka singkat menjadi the six setelah Cecilia di masukkan ke dalam group circle Andre.
Cukup bagus juga sih, dia bisa menenangkan pikirannya, jauh dari segala kepenatan karena gosip yang beredar seminggu lalu.
Yap, sudah seminggu semenjak Andre mengumumkan Yunita sebagai calon istrinya. Namun rumor tersebut masih tidak bisa hilang sepenuhnya. Selalu saja ada media yang mengupload ulang kembali artikel seminggu yang lalu.
“Dasar para lintah hoax,” begitulah Andre menyebut media online yang masih terus memposting berita yang sudah mereka bantah.
Yunita ingat dengan jelasbagaimana kesalnya Andre ketika melihat nama Diana masih disangkut pautkan dengan mereka berdua. Andre bahkan sampai hampir membanting handphone karena saking kesalnya.
Dan, akibat semua kepenatan itu, Cecilia kemudian menyarankan untuk berlibur sepekan ke villa milik keluarga Andre di puncak bogor. Untungnya, selama ini dia cukup rajin masuk di semua mata kuliahnya, sehingga izin sekitar 2 minggu yang diajukannya diterima oleh semua dosen tanpa banyak pertentangan yang berarti.
Bahkan Prof Guntur pun, dosen killer yang cukup dia khawatirkan akan tidak meng acc izinnya, malah tidak menentang sama sekali. Mungkin karena image Andre, pikirnya.
Rasanya dia menjadi semakin mengerti apa maksud Andre ketika menyuruhnya menimbang baik-baik soal masuk dunia hiburan 9 tahun yang lalu.
“Mikirin apa kamu?”
Melihat Yunita yang berdiri di teras kamar tidur mereka berdua, Andre kemudian menghampirinya, memeluknya dari belakang, mengecup lehernya dari samping, dan membenamkan wajahnya di pundak di Yunita untuk beberapa saat.
“Ngak, cuma menikmati suasana alam di pagi hari. Kapan lagi bisa menikmati suasana tenang begini. Jauh dari segala macam gangguan,”
“Hmm, tenang saja, rumah kita nanti juga kan bakal jauh dari keramaian,” kata Andre sembari bertopang dagu di pundak Yunita.
“Maaf ya, aku cuma jadi beban kamu lagi kali ini,” Yunita membalas dengan mengelus kepala Andre.
“Don’t say that. Semuanya harus kita harus hadapi bersama, apapun itu,”
Perlahan, Andre kemudian mengecup pundak Yunita lagi dengan lembut, berlanjut ke bagian samping lehernya, telinganya. Yunita yang terbawa suasana kemudian berbalik.
__ADS_1
Kesempatan tersebut langsung disambar Andre dengan mengecup bibir Yunita beberapa kali sebelum Andre menghisap bibirnya.
“Hoi, hoi. Masih pagi ini, dasar pasangan kasmaran,” dari bawah balkon, di taman yang terlihat dari balkon kamar Andre dan Yunita, Cecilia mengomeli mereka berdua.
Saat mendengar suara Cecilia, dengan cepat Yunita langsung mendorong Andre menjauh. Wajahnya memerah, dia merasa gerah dan akhirnya memutuskan ke kamar mandi guna mendinginkan kepalanya.
“Bisa ngak sih kamu jangan gangguin kakak hah?” berbeda dengan Yunita, Andre merasa sedikit kesal. Dia kemudian meneriaki adiknya yang usil karena menganggu momennya dengan Yunita tadi, “Kenapa kamu manggil-manggil?” lanjutnya.
“Loh, bukannya hari ini kita mau ke Taman Safari?”
“Ok, tapi kamu numpang sama yang lain, jangan ikut kakak!”
“Idih, memang aku maunya begitu. Dari pada jadi obat nyamuk doang,” Cecilia membalas balik dengan mencibirkan mulutnya.
Dan begitulah, mereka akhirnya pergi dengan dua mobil; Andre dan Yunita, sedangkan Cecilia ikut dengan Brandon, Dimas, dan Stefani.
Mereka memutuskan untuk tidak sarapan, dengan pertimbangan mereka mungkin akan memakan waktu lama di perjalanan karena harus memberi wortel dulu; hal yang wajib dibawa saat berkunjung ke taman safari. Dan juga menghindari jalanan yang mungkin akan macet.
Sebagai gantinya, mereka membeli beberapa snack dan roti untuk dimakan sepanjang perjalanan.
Banyak kali mereka mengalami kejadian lucu; seperti dihadang oleh binatang yang baru akan pergi setelah di kasih wortel, atau saat Dimas secara lucunya membuat mobil yang dia bawa sampai bau kopling seperti orang baru belajar bawa mobil karena salah permainan kopling dan gas di tanjakan.
Namun, disamping itu semua, Andre cukup senang karena bisa melihat Yunita yang hanya tersenyum dam tertawa sepanjang jalan.
Kedatangan mereka di restoran yang mereka kunjungi pun langsung menyedot perhatian orang begitu satu orang, yakni Yunita, turun dari mobil.
Banyak orang yang langsung mengerumuni mereka dan meminta foto bareng. Hal itu berlangsung sekitar 5 menitan, dan baru berkurang setelah beberapa satpam membantu menghalangi kerumunan tersebut sehingga mereka bisa masuk ke dalam restoran.
“Wah, memang cukup gila popularitasnya Yunita kalo diajak pergi-pergi, beda sama orang di samping gua ini,” Brandon memuji ketenaran Yunita.
Akan tetapi, sebenarnya dia sedang menyindir Dimas yang selama ini membanggakan diri bisa berfoto dengan berbagai artis lokal maupun internasional dan sering pamer di IG-nya.
Perkataan Brandon tersebut, membuat yang lainnya tertawa, apalagi ketika mengingat bagaimana Dimas pamer di group mereka soal fotonya dengan salah satu artis hollywood; yang malah pernah duduk dengan Yunita saat ajang penghargaan Oscar.
“Ya beda lah, Yunita kan pengikut IG-nya sudah 30 jt-an. Ngak usah jauh-jauh deh, sama gua pun kalah dia. Gua 5 jt-an, dia masih 3 koma berapa begitu,” Andre tambah memanasi suasana.
__ADS_1
“Berisik lu berdua,” Dimas tampak kesal,
“Biasa, sudah kepojok jadi begitu dia, kaya anak kecil kalau ngak dikasih permen,” Stefani juga ikut mengejek Dimas, sepertinya sudah berbaikan Dimas karena sangat terlihat enjoy saat ikut mengejek Dimas.
“Kok kamu malah ikut-ikut mereka sih?” kata Dimas sambil menatap Stefani.
Sementara yang lainnya mengejek Dimas, Cecilia secara diam-diam merekam aktivitas tersebut dengan kamera kecil yang dia sembunyikan sedemikian rupa di dalam tasnya dan langsung tersambung ke kantor ibunya.
Agar tidak dicurigai, dia membuka laptopnya dan melanjutkan apa yang dia lakukan secara diam-diam selama ini. Yaitu membalas komentar negatif tentang kakaknya dan Yunita di forum, IG, dan media sosial lainnya; tentunya memakai akun samaran. Hal ini sudah dilakukannya selama beberapa hari terakhir.
Ketika sedang membalas salah satu komentar negatif yang seperti biasa, mengatai Yunita matre, dia menerima notifikasi berita terbaru tentang Yunita. Penasaran, dia langsung membuka notifikasi tersebut dan cukup terkejut dengan judul artikel yang terpampang di laptopnya, ‘Pengakuan langsung Diana, mantan dari Mr.A’.
“Kak!!” Cecilia langsung memanggil Andre dengan suara agak keras,
“Sudah tahu,” Andre kemudian menggeser handphonenya ke tengah meja untuk memperlihatkan pesan yang di terimanya semenit sebelum Cecilia memanggilnya, yang isinya adalah Diana yang meminta tolong.
‘Ndre, Gua tahu selama ini banyak salah sama lo, i know that. Tapi, gua ngak tahu mau minta tolong sama siapa lagi selain lo. Apa yang akan gua katakan di media nanti, dan semua artikel beberapa minggu belakangan ini semua adalah rencana Toni, kali ini gua diancam karena dia punya aib gua di telponnya. Help me this time, dan gua akan bongkar semua kebusukan si brengsek Toni,’.
“Terus lo percaya?” Dimas terlihat kesal.
“For some reason, yes,” jawab Andre sambil mengambil kembali di handphonenya,
“Are you idiot? Ndre, dia sudah mengkhianati lu demi Tony, dan lu percaya itu? That’s bullshit goblok. Sekali dia sudah berkhianat, dia pasti akan melakukannya lagi, dan….” Sementara Dimas terus mengoceh, Andre kemudian menaruh kembali hpnya di tengah meja dan memutar sebuah rekaman suara,
“Putuskan hubunganmu Yunita, atau kalian berdua akan menerima akibatnya,” ucap seorang pria dengan suara yang berat dan agak parau.
Mereka berlima langsung terdiam begitu mendengar rekaman tersebut, Andre juga memutarnya dengan suara agak pelan, agar orang lain tidak bisa mendengarnya.
“Jadi?” Andre kemudian menanyakan pendapat yang lainnya. Mereka tidak bersuara dan hanya bisa termenung.
“Oke, tapi lo ngak boleh sendiri, siapa tahu ini hanya jebakan supaya kalian bisa di potret berdua saja,” Brandon menyetujui dan memberikan saran.
“Oke kalau begitu, lo (menunjuk Brandon), gua, sama Yunita yang akan menemui dia, di rumah gue yang baru,” Andre langsung memutuskan tanpa berpikir banyak dan mengirimkan alamat rumah barunya kepada Diana.
Dimas awalnya menolak keputusannya tersebut. Namun Andre dan Brandon menyinggung soal Dimas yang terlalu ekspresif sebagai alasan dia tidak bisa di ajak dalam pertemuan kali ini.
__ADS_1