
Saat sampai di rumah, Yunita dikejutkan dengan kehadiran mobil ibunya dan juga Ibunya Andre yang terparkir di garasi. Meski sebelumnya dia sudah diberitahu kalau sesi pembuka hari ini adalah family talk, namun tetap saja ia tidak menduga kalau kedua orang tuanya akan datang secepat ini. Ia menjadi sedikit agak malu kalau harus memasak di depan Ibunya dan juga ibunya Andre; yang tentu masakannya akan jauh levelnya di bawah kedua orang tersebut.
“Well, tampaknya ada yang gugup mau ketemu mertua nih?” Stefani masih sempat-sempatnya menggodanya. Untung saja tim stylistnya berada di mobil yang terpisah dengannya dan juga Stefani, sehingga mereka tidak melihat dirinya yang dilanda rasa gugup. Ia memilih untuk tidak meladeni Stefani dengan keusilannya tersebut.
Alasan terbesar ia segugup sih bukan karena orang tuanya Andre, melainkan karena ibunya sendiri. Karena semenjak berita soal Andre yang mengumumkan soal pernikahan, ia belum pernah sekali pun pulang ke rumah dan bertemu dengan orang tuanya. Bukannya ia tidak pernah merencanakan hal itu sih, namun belum ada waktu saja.
Saat berjalan menaiki tangga menuju pintu depan, ia mencoba memikirkan beberapa alasan yang masuk akal untuk dikatakan kepada Ibunya nanti. Apalagi, kali ini merupakan masalah pernikahan; sesuatu yang bagi ibunya tentu bukanlah masalah kecil.
“Sudah pulang?” ibunya Andre menyapa begitu ia, Stefani dan juga beberapa orang yang mengikutinya melewati ruang tengah.
Setidaknya, ia bernafas lega; karena tidak langsung bertemu dengan Ibunya. Namun, ia juga sedikit terkejut saat melihat Kak Alika yang tersenyum kepadanya. Sejujurnya, ia tidak menduga kalau Kak Alika akan datang. Karena kemarin, Kak Alika mengatakan akan ada urusan di luar kota hari ini.
“Iya tante, baru pulang belanja,” ia menjawab dengan sesantai mungkin, meski sebenarnya ia sendiri merasa kalau suaranya tadi agak sedikit bergetar karena gugup.
“Ya sudah, belanjaan kalian berdua (menunjuk Yunita dan juga Stefani) kasih dulu ke mereka, tante mau ngomong sesuatu,” tanpa banyak membantah, ia dan Stefani melakukan apa yang di katakan Ibunya Andre, lalu duduk di sofa yang ada di hadapan Ibunya Yunita, “Kenapa kamu nolak tawaran main film dari Sutradara terkenal itu?” Ibunya Andre melanjutkan.
Cara berbicara Ibunya Andre, diluar dugaannya, tidak seperti yang ia duga. Tidak ada sama sekali kemarahan dalam suaranya ataupun tatapan matanya.
“Sudah pasti lah karena calon suaminya,” sebelum ia sempat menjawab, Kak Alika menyela dengan senyuman besar di wajahnya.
“Haduh, memang kalian berdua ini sangat mirip ya. Sama-sama bucin tapi gengsi untuk menunjukkan kebucinan kalian,” goda Ibunya Andre sembari menggelengkan kepalanya sebentar.
Ia yang awalnya ingin mengelak, sekarang malah malu-malu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi di depan semua orang. Senyuman di wajah Stefani dan Kak Alika sekarang malah tambah lebar akibat perkataan Ibunya Andre tadi.
__ADS_1
“Awalnya, saat tante nyuruh kamu ambil acara reality show yang ini, itu karena tante ngak tahu kalo kamu dapat tawaran film dari sutradara terkenal. Kalau tau ada hal seperti itu, tante bakal suruh kamu ambil film itu. Andre pun pasti akan mengatakan hal yang sama,”
Ia sedikit terkejut dengan pernyataan Ibunya Andre barusan, “Sebenarnya, saya juga berpikir untuk bertanya dulu ke Andre, tapi saya teringat sesuatu. Setelah semuanya tercapai, bisa menginjakkan kaki di red carpet Oscar; yang menjadi mimpi semua artis manapun. Saya malahan merasa hampa, tidak ada yang wow.
Dulu, saya memang bekerja begitu keras karena ingin balas dendam dan membuktikan ke hadapan semua orang yang mengejek saya dulu, kalau saya bisa sukses juga. Tapi, setelah sukses, entah kenapa gairah dan semangat berapi-api yang dulu ada dalam diri saya, hilang begitu saja. Sekarang saya lebih ingin melakukan apa yang saya mau, berada di sisi Andre dan melakukan hal yang baru yang belum saya pernah lakukan sama sekali.”
Saat selesai mengucapkan semua uneg-unegnya tersebut, ia merasa lega; karena bisa sesuatu yang mengganjal di hatinya, yang hanya bisa ia pendam dan tidak bisa ia ceritakan selama ini akhirnya bisa keluar juga lewat mulutnya.
“Ternyata betul juga kata orang-orang, kalau yang namanya jodoh itu pasti akan punya kemiripan dalam suatu hal. Dan dalam hal ini, kalian sama-sama saling care dan rela mengorbankan sesuatu dalam hidup kalian,”
“Maksudnya tante apa ya?”
“Loh, Andre belum cerita ke kamu?”
“Cerita apaan?”
Dengan sedikit agak keheranan, ia mengikuti apa yang dikatakan Ibunya Andre. Stefani yang terlihat penasaran juga mengambil handphone dan mengetikkan sesuatu. Hasilnya, ia terkejut saat melihat akun yang dimaksudkan Ibunya Andre tadi, yang ternyata adalah akun fanspage dirinya.
“Kalian tahu ngak artinya nama akun tersebut, sangat alay banget,” terang Ibunya Andre.
“Memang artinya apa tante?” Stefani bertanya,
“Jangan muntah ya. Artinya, Andre Love Yunita Selamanya. Karena 012 dalam bahasa korea itu adalah selamanya,”
__ADS_1
Saat mendengar penjelasan sambil melihat akun fanspage yang dimaksud Ibunya Andre, ia tidak merasa kalau nama tersebut adalah hal yang alay. Malah ia cukup senang dan merasa kalau itu adalah hal yang menggemaskan dari Andre. Satu sisi yang semakin jarang ia lihat dari Andre beberapa tahun terakhir, dan jujur saja, ia memang cukup merindukan sifat Andre yang satu itu.
Saat melihat akun fanspage yang dibicarakan ibunya Andre untuk beberapa lama. Ia merasa tampilannya terbilang cukup bagus, karena semua foto disusun begitu rapi dan estetik, tidak asal upload begitu saja, sehingga sangat enak dilihat. Jumlah followernya yang mencapai 700 ribu juga terbilang cukup besar. Namun, yang cukup menarik perhatiannya, adalah saat melihat fotonya ketika menghadiri Oscar. Ia cukup terkejut, karena seingatnya, tidak sembarang orang boleh memotret kecuali saat melewati red carpet.
“Tante,”
“Hmm?”
“Andre waktu juga pernah ikut oscar?” karena penasaran, ia langsung menanyakan hal tersebut tanpa berbasa-basi sama sekali,
“Iya, dan ditahun yang sama dengan kamu juga waktu itu,”
“Kok bisa?” ia heran, karena setaunya, keamanan di Oscar cukup ketat, dan hanya artis-artis yang masuk nominasi—baik itu lewat filmnya atau nominasi secara individual—dan juga yang mendapatkan undangan saja yang bisa masuk.
“Hmm, itu kayaknya lebih cocok kalau Alika yang menjelaskan,” ucap Ibunya Andre sembari melirik ke arah Kak Alika.
“Ah itu. Cuma kebetulan aja, perusahaan keluarganya Andre pernah mensponsori salah satu film yang kebetulan syuting di Indonesia. Nah, kebetulan, mereka masuk nominasi Oscar. Mereka sebenarnya ngundang Ibunya Andre sebagai ramah tamah karena di sponsori menginap di hotel bintang 5 waktu itu. Tapi, waktu itu beliau berhalangan. Jadi, Andre yang menggantikan sebagai representatif. Begitu,” jelas Kak Alika.
“Emang kamu ngak ketemu sama dia?” Ibunya Andre tiba-tiba menanyai dirinya. Tentu, ia langsung menggeleng, karena tidak mungkin ia akan bertanya seperti ini jika bertemu Andre waktu itu, “Wah, dasar anak itu, memang kekeh banget dengan keputusannya,” Ibunya Andre sempat geleng-geleng kepala sebentar.
“Tapi kok bisa ya, ngak ada sama sekali satupun fotonya yang keluar ke social media,” celetuk Stefani tiba-tiba. Ia juga merasa heran kenapa Andre—yang wajahnya bak model itu—tidak disorot sama sekali. Padahal, kebanyakan wartawan pasti akan menyorot orang-orang yang good looking, meski nantinya hanya ada 1 atau 2 artikel kalau orang tersebut bukanlah pesohor ataupun bintang yang sedang naik daun.
“Soal itu, kalian bisa tanyakan sendiri ke Andre nanti. Yang penting, tante hanya mau kasitau kamu untuk tetap melakukan apapun yang kamu mau. Tidak ada yang akan melarangmu kok, ya setidaknya untuk beberapa tahun ke depan, sampai perusahaan baru yang dipimpin Andre bisa sedikit stabil dulu,”
__ADS_1
“Terima kasih tante karena sudah mendukung saya selama ini,” ia sangat bersyukur karena selama ini Ayah dan Ibunya Andre begitu mendukungnya. Baginya, keluarga Andre sudah seperti menjadi keluarga kedua dan mematahkan perkataan kebanyakan orang kalau mertua, apalagi mertua yang kaya raya itu cukup galak.
“Lebih baik sekarang kita bantu mamamu, masa jadi dia yang memasak. Ayo,” ajak Ibunya Andre sembari berdiri; menggulung lengan bajunya, dan berjalan menuju dapur. Sementara ia, Kak Alika dan juga Stefani mengikuti dari belakang.