
Sebulan berlalu,
Yunita kembali ke kesibukannya, berkat gosip pertunangannya dengan Andre yang begitu tiba-tiba. Sutradara dan Production House yang memproduksi web drama yang dibintanginya memajukan jadwal tayang dan menyusun ulang semua jadwal syuting hanya dalam hitungan seminggu. Bahkan, demi mengejar hype yang sedang ada, sistem produksi yang awalnya menggunakan post production diubah menjadi kejar tayang.
Dia sendiri sempat khawatir soal kemungkinan pandangan dari aktor dan aktris lain soal dirinya. Meskipun staff di lokasi syuting dan sutradara sendiri berdalih kalo ini demi menebus waktu yang sudah tertunda kemarin, dia cukup yakin pasti ada orang yang akan berbicara buruk soal dirinya.
“Wah, hebat banget!!” Stefani yang bersorak membuat Yunita sedikit terkejut ketika dia sedang menunggu gilirannya dipanggil dalam mobil sambil memejamkan matanya.
“Ada gosip yang heboh lagi?” tanya Yunita, dia lebih memilih untuk tidak terlalu peduli dan kembali memejamkan matanya; berusaha untuk menenangkan pikirannya, mengatur emosinya—karena hari ini dia harus melakoni adegan sedih—dengan memutar lagu yang bergenre ballad.
“Ngak. Hari ini ada pengumuman pembagian kelas untuk kelas XI,”
“Terus?”
“Pacar lu, gua liat namanya masuk ke kelas Akselarasi,”
“Hah? Akselerasi?” Yunita langsung terbangun, dan segera menyambar tablet yang di pegang oleh Stefani, menscrollnya ke atas sampai menemukan nama Andre yang ternyata betul memasuki kelas Akselarasi. Dia cukup terkejut karena Andre tidak pernah mengatakan apapun soal mengambil kelas Akselerasi.
“Loh, dia ngak bilang ke lu gitu?” Stefani bertanya sambil mengecilkan volumen musik dalam mobil melalui remote kecil yang ada di sandaran tangan kursi milik Yunita; yang memang bisa ditaruh barang-barang di bagian belakangnya.
“Ngak tuh,” jawab Yunita yang sekarang sedang memegang hpnya dan mengirim pesan WA ke Andre. Setelah sekitar semenit pesannya tidak berubah menjadi dua centang biru, dia langsung menekan tombol panggil di pojok kanan atas layarnya.
Bersamaan dengan itu, pintu mobilnya seperti ada yang mengetuk dari luar. Mendengar ada yang mengetuk, Stefani langsung menarik tuas pintu.
“Permisi, sudah giliran dek Yunita sekarang,” ujar perempuan yang kebetulan, adalah assisten sutradara.
“Ah, baik. Terima kasih ya,” jawab Stefani, “Ayo, urusan itu nanti saja. Yang penting sekarang fokus dulu dengan pekerjaan lu,” bisik Stefani ke Yunita yang masih berusaha menghubungi Andre.
Selama gilirannya syuting, Yunita harus mengulangi sampai beberapa kali take di beberapa adegan awal akibat emosinya yang sedikit bercampur aduk. Dia berusaha membangun kembali emosinya dengan membayangkan hal-hal yang bisa membuatnya sedih. Baru setelah melewati beberapa adegan awal, semuanya mulai berjalan dengan lancar; dia menyelesaikan semua pengambilan gambarnya untuk hari ini dan cuma butuh mengulang sesekali sebelum dinyatakan bagus.
“Wah, padahal gua mengira kalau syuting hari ini bakal kacau gara-gara mood lu yang berubah tadi,” ucap Stefani ketika mereka berdua sedang berjalan menuju ruang make up Yunita.
__ADS_1
“Ya ngak mungkinlah, gua kan pr...”
“... itu palingan cuma gara-gara backingan dia doang makanya bisa setenar itu,” pembicaraan yang kurang mengenakkan ketika mereka melewari ruang makeup salah satu aktris lainnya membuat Yunita berhenti berbicara dan merusak moodnya.
“Iya, gara-gara berita pertunangannya aja jadwal sampai di majukan semua? Pake jimat apaan dia bisa memikat tuh anak pengusaha kaya?”
“Apa jangan-jangan mereka udah yang ehm-ehm begitu ya?”
“Wah, minta di tampol orang itu ya. Misi, biar gua kasih pelajaran dulu mereka,” Stefani yang sudah menggulung lengan bajunya dan maju untuk mendobrak pintu ruangan para penggosip tersebut, langsung ditahan oleh Yunita.
“Sudah, ngak usah. Biarkan saja. Jangan sampai ada berita yang enggak-enggak muncul lagi. Bisa repot nanti kak Alika sama Ibunya Andre kalau sampai itu terjadi,” sebenarnya semenjak minggu pertama syuting dimulai kembali, Yunita sudah merasakan atmosfer yang tidak mengenakkan dari beberapa lawan mainnya. Namun, akhir-akhir ini semakin bertambah parah; beberapa orang bahkan berani bergosip dan melemparkan pandangan sinis terhadapnya saat kamera sedang tidak menyorot, “Konfrensi Persnya kapan?” dia bertanya dan kembali berjalan menuju ruang makeup miliknya.
“Sekitar tanggal 28 Juli, sekitar dua mingguan lagi. Kenapa?”
“Yah, berarti tabrakan sama ulang tahunnya Andre dong,”
“Jadi gimana? Mau gua tanya sutradaranya?,”
“Yah ngak apa-apalah sekali-kali memanfaatkan gelar calon nyonya,”
“Idih, Ogah kalau cuma buat kaya gituan doang. Nantilah gua pikirin caranya. Hpku mana?”
“Ah, ini. Ada pesan masuk tadi, kayaknya dari Andre sih, soalnya dia miscall tapi ndak kedengaran karena lo kasih silent”
“Ok. Sama minta tolong sama Kak Alika untuk menolak semua tawaran film sampai akhir tahun ini. Dan juga, bilang Andre setuju soal tawaran iklan couple,”
“Hah, seriusan lu? Kok gua ngak pernah dengar ya,”
“Udah, ikutin aja apa yang gua bilang,” jawab Yunita yang kemudian tersenyum lebar ketika melihat chat Andre yang mengajak ketemuan di apartemen milik dia.
***
__ADS_1
Meninggalkan Yunita dengan kesibukannya. Di waktu yang sama, Andre, Brandon, dan Dimas berkumpul di apartemen Andre. Sembari menunggu kedatangan Yunita, Brandon membuka laptopnya, juga menaruh beberapa map dokumen diatas meja ruang tamu lalu memutar sebuah video yang agak buram.
Dari pertama menonton saja, Andre sudah bisa menebak kalau itu adalah video dari lokasi syuting malam sebelum gosip cinta segitiga Yunita keluar. Apalagi saat melihat mobil minivan yang dipakai Yunita saat itu; karena memang hanya Yunita yang satu-satunya mempunyainya kalo dia tidak salah ingat.
“Ya terus apa?” tanya Andre, karena setelah menonton video berdurasi 2 menit tersebut, dia tidak melihat sesuatu yang spesial kecuali saat dimana dirinya sedang berkonfrontasi dengan Christofer; yang mana foto mereka tersebut besoknya langsung menghiasi social media.
“Gua sudah duga reaksi lu akan seperti itu, coba perhatikan,” Brandon kemudian mengambil laptop tersebut kembali; melakukan sesuatu entah apa itu, dan meletakkan kembali laptopnya di atas meja. Dan kali ini, apa yang ditunjukkan Brandon malah membuatnya semakin tidak mengerti. Apa yang dia lihat hanyalah gambar dari video tadi yang di pause, dan di zoom beberapa kali ke area yang agak gelap.
“Apaan sih? To the pointnya aja la... wait,” Andre kemudian berhenti, dan menyadari sedikit keanehan dalam foto tersebut. Walaupun terlihat buram dan agak gelap, dia bisa melihat sesuatu seperti pantulan flash di kaca mobil.
Menimbang angle pengambilannya, Andre langsung mengambil tabletnya, dan mencari beberapa foto yang dirilis waktu itu lalu membandingkannya side by side dengan gambar video yang dipause, ‘Tidak salah lagi, mereka pasti pelakunya’ gumam Ande dalam pikirannya. “Ini lu dapat dari mana? Terus no plat mobil pelakunya bagaimana?”
“Kamera dashboard mobil yang kebetulan parkir. Sayangnya, no platnya tidak ada. Entah kebetulan atau disengaja, tidak ada kamera lain di sekitar tempat orang tersebut parkir atau berada. Ada beberapa yang orang gua sewa curigai. Tapi masih butuh banyak waktu untuk memastikan,” jawab Brandon.
“Hah, kenapa nyari satu orang aja susahnya minta ampun,” ucap Andre sambil melempar map yang di pegangnya tadi kembali ke meja dan kemudian bersandar di sofa sambil menatap langit-langit apartemennya.
“Kalo minta bantuan ibu lu, pasti bisa lebih cepat,” ujar Dimas yang bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur.
“Besoklah gua tanya,” jawab Andre.
“Eh, tapi lu serius mau ngambil kelas Akselerasi?” tanya Brandon.
Andre hanya mengangguk, pikirannya sudah terlalu lelah memikirkan banyak hal. Sampai sekarang, dia bahkan masih menyimpan sedikit keraguan, ‘apakah jalan yang diambilnya sekarang ini sudah benar atau tidak?’. Setiap hari, saat bangun pagi, dia selalu memikirkan hal tersebut. Meskipun ibunya sudah berjanji untuk menjaga Yunita, tetap saja faktor eksternal yang tidak terduga tentu tidak akan bisa dicegah oleh siapapun.
Seperti apa yang terjadi saat ini, gosip cinta segitiga tersebut bisa muncul sebelum ibunya sempat bertindak. Dan di samping itu, dia tentunya tidak bisa melarang Yunita dalam segala hal. Apalagi setelah mendengar tujuannya terjun ke dunia hiburan yang penuh tantangan. Apa yang dia lakukan sekarang; dengan kekuataannya sekarang, hanyalah sebatas mengamati dan memperbaiki apa yang sudah terjadi.
__ADS_1