
...Chapter XIV...
"Congrats on your weeding yesterday," ucap wartawan yang mewawancarai Andre dan Yunita secara eksklusif setelah upacara pernikahan mereka di langsungkan kemarin.
Kak Alika merasa memberikan fan service tidak ada salahnya; walau sebenarnya Yunita sudah menolak di awal, karena dia ingin menikmati masa-masa awal pernikahannya dengan tenang.
"Terima kasih," Yunita menjawab dengan ramah,
"Oke, mungkin saya akan langsung saja. Karena kabarnya kalian akan langsung berangkat honeymoon malam ini. Bagaimana perasaan kalian sebagai pengantin baru?"
Andre dan Yunita saling menatap, mereka berbicara lewat tatapan mereka untuk menentukan siapa yang akan menjawab pertanyaan ini.
"Senang dong tentunya, apalagi setelah banyak rintangan yang harus kami lewati untuk bisa sampai di titik ini," Andre akhirnya menjadi orang yang menjawab, sedangkan Yunita hanya mendukung dengan senyuman.
"Oke," kata pewawancara, "Berbicara tentang rintangan. Bagaimana cara anda menghadapi komentar negatif yang selama ini selalu bermunculan di Instagram. Banyak yang penasaran cara kalian bisa menghadapi semua itu selama 10 tahub lebih,"
Yunita hanya terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Andre yang menyadari sikap Yunita tersebut menjawab mewakili Yunita, "Kami mencoba untuk tidak memedulikan semua itu."
‘Cewek Penjilat’, ’Cewek Matre’, semenjak menjadi aktris, dua julukan itu selalu saja Yunita dapatkan di Instagram miliknya ketika dia mengupload suatu foto. Banyak haters yang menganggapnya cuma memanfaatkan Andre sebagai jalan pintas menjadi aktris, dan pendongkrak popularitasnya.
Tidak sampai di situ, bahkan para wartawan yang selalu mengikuti tren juga kerap kali menyinggung soal julukan itu dan kisah dibaliknya demi meningkatkan jumlah klik di artikel mereka.
Soal dirinya bisa jadi Aktris karena Andre sih tidak sepenuhnya salah juga, karena memang awal mula dirinya menjadi aktris adalah tidak lama setelah dia menghadiri pesta malam itu; malam dimana dia pertama kali bertemu dengan orang tua Andre.
.***
Waktu terus berlalu, dan tidak terasa semester pertama berlalu begitu cepat. Rasanya, momen yang paling menarik dalam hidupnya terjadi; momen saat dia bertemu kembali dengan Andre; saat mereka mulai berpacaran; dan saat dia bertemu dengan orang tua Andre seperti baru saja terjadi kemarin.
“Wuah, akhirnya bisa istirahat juga sebulan penuh,” ujar Stefani ketika bel berbunyi; menandakan masa-masa kelam akibat UAS sudah berakhir, dan libur panjang menanti mereka. Wajahnya terlihat sangat ceria, tidak seperti beberapa minggu lalu; murung, seperti punya beban hidup yang sangat besar di pikirannya.
“Jadi, rencananya lu mau ngapain buat liburan?”
__ADS_1
“Ih, pake nanya lagi, ya ikut elu liburan lah,” jawab Stefani yang sekarang mengaitkan lengan mereka berdua.
Sebenarnya, pertanyaannya tadi cuma sekedar pura-pura saja. Karena memang dia mengajak Stefani untuk ikut liburan yang direncanakan Andre. Stefani sendiri bahkan belum lama ini akhirnya ditambahkan oleh Brandon ke dalam group yang sempat disinggung oleh Dimas, sebagai “Circle pertemanan”.
Tidak ada yang spesial sih dalam group chat tersebut; kecuali guyonan tiga sekawan tersebut yang kerap membongkar aib satu sama lain, yang bahkan sampai foto-foto memalukan mereka pun di sebar juga tanpa ada rasa malu sama sekali. Stefani sama seperti dirinya saat pertama kali melihat kekonyolan tersebut; kaget, karena tidak menyangka Andre dan Brandon yang terkenal cukup pendiam ternyata memunyai sisi tersembunyi lainnya.
Hari-hari di sekolahnya, terutama di kelasnya selama ini masih sama seperti saat pertama kali hubungannya dengan Andre tersebar, dimusuhi. Yap, tidak ada yang berubah sama sekali; tatapan sinis; digosipkan yang tidak-tidak; dijauhi beberapa teman sekelasnya, sudah menjadi hal lumrah baginya. Terkhusus di kelasnya sendiri, teman-teman kelasnya baru akan bergaul dengannya jika ada tugas dan terpaksa harus satu kelompok dengannya; walaupun beberapa orang masih netral sebenarnya, hanya saja sedikit takut dikucilkan juga.
“Lebih baik punya sedikit teman tapi bisa di percaya daripada banyak teman tapi penghianat,” kata-kata Andre tersebut membuatnya memandang permasalahan yang dihadapinya di sekolah dengan pandangan berbeda.
Awal-awalnya, dia memang cukup tertekan harus dikucilkan seperti itu, bahkan dia sampai sempat menyalahkan Andre atas nasib yang menimpanya. Namun, perkataan Andre tadi, membuat dia tersadar dan bersyukur bisa melihat warna asli dari orang-orang di sekitarnya saat ini. Dia juga sangat bersyukur punya sahabat seperti Stefani yang terus berada di sampingnya.
Hari ini, seusai pulang sekolah, rencananya untuk pergi bersama dengan Andre ke suatu tempat batal karena Andre di panggil oleh salah satu guru di sekolahnya; entah untuk keperluan apa. Jadi, untuk mengisi waktu kosongnya, dia memutuskan untuk pergi dengan Stefani ke mall untuk refreshing.
“Permisi, adek Yunita ya?” ujar seorang perempuan yang berpenampilan seperti wanita karir—tinggi; memakai kaca mata; memakai sweeter dan celana jeans yang agak ketat—menghentikan dia dan Stefani ketika berada di depan gerbang.
“I.. Iya, betul. Ada apa ya?”, Yunita menjawab dengan seramah mungkin.
“Tenang saja dek, saya bukan penjahat kok,” ujar perempuan tersebut.
Seolah tahu apa yang sedang Yunita pikirkan saat ini, perempuan tersebut mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi panjang berukuran kecil dari dalam tasnya; seperti kartu nama lalu memberikannya kepada Yunita.
Dengan sedikit curiga, Yunita mengambil kartu nama tersebut, ‘Alika Yuniar – Scout Talent, MSC Production House’ tertera di kartu nama tersebut, disertai dengan beberapa keterangan singkat lain mengenai perusahaan tersebut. Meskipun terlihat meyakinkan, dia tidak semerta-merta langsung percaya, dan bersikap seperti tidak tertarik.
Namun, Alika tampaknya tidak menyerah dan akhirnya mengajak mereka untuk pergi ke sebuah cafe untuk berbicara, bahkan Stefani pun diizinkan untuk ikut.
Di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya, ketika Stefani sedang memesan minuman, Alika yang duduk di depan Yunita, kembali mengeluarkan sesuatu, kali ini merupakan sebuah naskah yang di halaman paling depan tertulis, “Only You”.
“Jadi, saya datang ke sini buat ngerekrut kamu jadi pemeran pendukung di web drama terbaru perusahaan kami,” ujar Alika. Yunita, dalam hatinya cukup kaget namun juga senang luar biasa. Akan tetapi, tetap saja, dia masih bingung akan satu hal,
“Bagaimana kakak dapat info soal saya?” Yunita langsung menanyakannya.
__ADS_1
Hal itu sedikit mengganggunya, karena selama ini, dia tidak pernah ikut audisi apapun. Sehingga cukup mencurigakan tentang bagaimana kak Alika bisa mendapat info soal dirinya, bahkan sampai mengetahui di mana dia bersekolah.
“Ah, soal itu. Sejujurnya, saya pertama melihat fotomu itu saat kompetisi di Singapura beberapa waktu lalu. Sebenarnya, saat itu saya udah siap-siap nawarin project film buat kamu, tapi kedahuluan sama rekan kerja saya. Nah, kebetulan kali ini ada project yang butuh karakter yang agak nerd gitu, dan tiba-tiba saya teringat kamu waktu itu. Ditambah lagi, pas kamu datang di pesta pernikahannya artis C waktu itu, produsernya langsung setuju deh, gitu.”
“Oh, begitu,” Penjelasan Alika terdengar cukup meyakinkan, karena tadinya dia mengira kalau dirinya sedang berusaha ditipu dengan diiming-imingi menjadi artis yang sudah banyak memakan korban.
Menjadi artis, tentu semua orang seusianya akan langsung mengatakan ya bila ditawari kesempatan sebesar ini. Melihat kesempatan besar yang berada di depannya saat ini, pikirannya langsung membayangkan jauh ke depan soal kehidupannya yang akan segera berubah.
“Hellow?” Alika mengetuk bagian meja di depan Yunita yang sedang bengong.
“Ah,” keasyikan melamun, dia lupa kalau di depannya masih ada Alika, “Bisa saya pikir-pikir dulu ngak kak?” tanyanya kemudian.
“Kenapa?” Alika terlihat agak bingung mendengar jawabannya yang meminta sedikit waktu untuk berpikir,
“Saya mau tanya orang tua saya dulu, soalnya ini kan kesempatan yang besar banget. Takutnya orang tua saya menentang pas saya udah setuju, kan bisa gawat,” dia sedikit berbohong. Karena sudah pasti Ayahnya, dengan watak sekeras batu, akan sangat tidak setuju. Entah bagaimana kalau ibunya. But anyway, alasan yang tidak bisa dia ucapkan adalah Andre.
Kenapa? Karena Andre pernah berkata untuk menjaga diri agar tidak terlalu dekat dengan dunia di mana penuh wartawan—yang di sebut Andre sebagai perusak privasi—karena beberapa wartawan akan mengejar mereka berdua saat hubungan mereka terungkap; yang mana dia juga tidak menginginkan hal tersebut.
“Ah, oke. Berapa lama?” tanya Alika kembali; cara bicaranya terdengar seperti agak tidak senang dengan keputusan Yunita saat ini.
“3 hari,” merasa agak tidak enak, Yunita yang pada awalnya ingin mengatakan seminggu, dia akhirnya mengatakan 3 hari setelah berpikir sejenak.
Setelah menyepakati hal tersebut, Alika dengan senyuman yang terlihat agak di paksakan kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Yunita sebelum Stefani kembali membawa minuman pesanan mereka; naskah yang di letakkan di atas meja tadi pun juga ikut di bawa.
“Loh, orang yang tadi mana?” ujar Stefani sambil meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja, dan menengok ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.
“Udah pergi,”
“Lah, terus gimana?”
“Tau ah, pusing gua. Jadi ke mall ngak nih?” dia mencoba menghindari pertanyaan Stefani tersebut. Padahal, dalam pikirannya saat ini, dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Ayahnya dengan halus soal dirinya yang ditawari menjadi artis.
__ADS_1