Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
CH. 52


__ADS_3

“Hmm, masak apaan kamu?” Andre bertanya sembari memeluk Yunita yang sedang memasak dari belakang dan mencium pipinya.


“Aw, stop it bisa ngak? Ngak menghargai perasaan gua lu berdua ya,” Brandon tampak menutup menghalangi wajahnya dengan satu tangan saat melihat adegan uwu-uwu di hadapannya sekarang ini.


“Makanya, lu cari lah cewek yang cakep, tapi jangan di lingkungan kantor kalau bisa,”


“Lah kenapa?”


“Iya, kenapa ngak boleh cari yang sekantor yang?” Yunita menimpali,


“Bukannya ngak boleh, cuma jangan sampai cewek tersebut cuma ingin manfaatin dia doang biar bisa naik jabatan atau dapet proyek penting. Kan sama saja makan hati ujung-ujungnya nanti,” Andre menjelaskan alasannya.


Itu tentunya bukan tanpa alasan dia berani mengatakan seperti itu. Sebab, dia sudah melihat berapa banyak orang—perempuan atau laki-laki—yang memakai cara tersebut untuk bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari biasanya. Dan ujung-ujungnya? Performa kerja yang ngedrop; hubungan yang menjadi canggung ketika tim dimana kedua orang yang terlibat tersebut berada; dan semua itu berakhir dengan pemecatan atau mutasi ke cabang lain. Dia tidak mau melihat sahabatnya menjadi seperti itu nantinya, sehingga dia sangat tidak menganjurkan untuk memacari teman sekantor.


“Hmm, ada benarnya juga sih kamu, tapi ngak selamanya kaya begitu sih,” Yunita setuju dengan apa yang dikatakan Andre, namun dia tidak setuju kalo harus menggeneralisasikan semua orang yang pacaran di satu kantor akan berakhir buruk.


“Tuh dengar kata calon nyonya, lebih bijaksana dari pada lu akhir-akhir ini. Payah lu,” Brandon langsung menyindir Andre dengan memanfaatkan perkataan Yunita tadi sebagai senjatanya.


“Ya terserah sih, gue kan ngak bilang ‘ngak boleh’, tapi ‘jangan sampai’ bambang. Lu kan pintar, masa harus cari yang di kantor sih? Di tempat lain banyak oi yang bakal ngantri dengan latar belakang keluarga lu dan pendidikan lu,” setelah mengatakan hal tersebut, Andre berpikir sejenak dan teringat sesuatu, “Tapi, lebih baik kalo lu pura-pura kismin sih, biar bisa dapat yang baik-baik,” Andre menyarankan.


“Oh iya, hampir kelupaan. Lusa, kalian kosongkan waktu ya malamnya,” ucap Yunita yang sedang memarut wortel menjadi potongan kecil dan panjang; hampir seperti mie bentuknya.


“Kenapa?”


“Aku dapat tiket undangan konser Kak Vina buat besok lusa, 6 biji pula. Pas banget buat semua anggota group kita,”

__ADS_1


“Vina yang pemenang grammy itu?” Andre sedikit mengenal Kak Vina jauh—sebelum orang tersebut mendapatkan Grammy—karena orang tuanya pernah beberapa kali mengundang Kak Vina sebagai singer di beberapa acara perusahaan. Ketika mendengar Kak Vina mendapatkan grammy, dia tidak heran, apalagi suaranya memang bagus, musiknya pun bisa dibilang menyentuh hati. Apalagi, setelah melihat bagaimana perjalanan karirnya yang penuh dengan cobaan, cukup pantas jika Kak Vina untuk mendapatkan penghargaan bergensi tersebut.


“Iya, jangan lupa ya,”


“Oke,”


Saat Andre kemudian hendak membicarakan tipe wanita yang disukai oleh Brandon. Handphonenya yang dia taruh di atas meja makan, berbunyi. Andre kemudian berjalan ke arah meja makan; mengambil handphonenya dan menjawab panggilan tersebut; yang ternyata adalah dari kantor polisi tempat Tony di proses. Menyadari kalo dirinya di perhatikan oleh Brandon dan juga Yunita, Andre berjalan menuju swimming pool di luar.


“Eh, menurutmu siapa yang nelpon itu? Serius begitu pula wajahnya, jangan-jangan...”


“Hush, dasar lu. Ngak baik sudzon oi,” Yunita, yang saat ini sedang memasukkan adonan telur dan sayuran yang sudah dicampur ke atas wajan, menghardik Brandon yang berusaha mengomporinya.


“Wah, lu ngak pernah curiga sama sekali ke Andre begitu? Kan bisa saja di berbelok loh,”


Yunita tersenyum saat mendengar ucapan Brandon, “Dia itu bukan orang seperti itu. Kalo dia orang yang ngak setia, ngak mungkin kami berdua bisa bertahan sampai sekarang. Dan juga, kalo dia berani macam-macam, gua punya backingan kuat,”


“Ibunya, kan gua menantu kesayangan dari dulu,” Yunita melirik ke arah Brandon dan mengucapkan kata-kata tersebut dengan begitu percaya dirinya sambil tersenyum lebar.


“Wah, memang betul-betul pasangan unik kalian berdua ya,” Brandon membalas sambil geleng-geleng kepala, “Eh, ngomong-ngomong, di manajemen lu, ceweknya cakep-cakep ngak?” Brando kemudian lanjut bertanya.


“Elu jangan cari yang cuma modal tampang luar doang lah, lebih bagus kalo yang hatinya baik. Penampilan luar mah gampang kalo ada uang,”


“Nah, lu cariin dong di kantor lu yang kaya begitu, bisa kan?”


“Emangnya lu ngak ada waktu buat cari sendiri?”

__ADS_1


“Ye, lu kan tahu bagaimana bakal sibuknya cowok lu selama setahun ke depan,”


“Ya sudah, tapi lu jangan bikin gua malu ya,”


“Bikin malu kenapa?” Andre yang baru saja selesai dan tidak sengaja mendengar perkataan Yunita barusan, langsung bertanya karena penasaran. Yunita tidak menjawab karena sedang fokus mengangkat telor gulungnya dari dalam wajan. “Bikin malu kenapa?” Andre bertanya kembali karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


“Itu, Brandon minta gua jodohin sama anak dari agensiku,” jawab Yunita


“Astaga, biar yang begitu saja, lu harus minta tolong ke Yunita?” Andre geleng-geleng kepala saat mendengar apa yang dikatakan Yunita barusan. Dia tidak menyangka kalau Brandon, orang yang cukup perfect; dan pasti akan banyak wanita yang mengantri di depannya, harus sampai meminta bantuan orang lain demi mengakhiri masa jomblonya.


“Bacot ah. Tadi telepon dari siapa sampai muka lu tegang amat? Selingkuhan lu ya?”


Perkataan Brandon tersebut langsung mendapat balasan dari Andre; yakni pukulan agak keras di kepalanya dengan spatula yang terbuat dari kayu.


“Enak saja lu kalau ngomong, lu pikir gua Dimas? Tadi dari kantor polisi,”


“Hasilnya sudah keluar?” Brandon berubah menjadi mode serius, begitu pula dengan Yunita yang menghentikan kegiatannya yang sedang membuat saos untuk telur fuyunghainya dan merapat ke Andre dan juga Brandon.


“Tony mengakui semuanya soal skandal yang dia ciptakan, termasuk mengancam gue lewat telpon sebelum balik ke Indo. Tapi, untuk yang itu...” Andre memberikan kode mata kepada Brandon; yang tampaknya langsung di tangkap oleh Brandon dan di balas dengan anggukan pelan, “Dia tidak melakukannya, bukan dia intinya,” Andre melanjutkan. Untung saja, Yunita tampak tidak curiga saat dia bertikar pandang dengan Brandon tadi.


Ada satu hal yang dia tidak ceritakan kepada Yunita selama ini; kalau dia selama 7 tahun ini—bersama dengan Brandon—sedang berusaha mencari pelaku yang menyerang mereka berdua malam itu, 7 tahun lalu. Ia tidak ingin mengganggu kesibukan Yunita dan membuatnya menjadi tidak fokus dengan karirnya. Ia juga tidak ingin Yunita harus kembali berada dalam bahaya dan melihatnya menangis seperti malam itu. Perasaannya terasa sakit setiap harus melihat Yunita yang menangis seperti pada malam itu


Ketika Andre, Yunita dan Brandon sedang termenung dengan pemikiran mereka masing-masing, handphone ketiganya bergetar bersamaan.


“Wah, reuni angkatan SMA M. Gua rasa kabar lu berdua yang bakal menikah bikin mereka penasaran,” ucap Brandon setelah membaca secara cepat pesan singkat di group alumni SMA M khusus angkatan mereka.

__ADS_1


“Ah, para kampret ini, masa gua dan Yunita disuruh tanggung 40% biaya yang dibutuhkan, enak betul mereka,” Andre memprotes saat melihat tulisan di bagian akhir pesan, ‘untuk merayakan kabar gembira kembalinya Andre, teman tercinta kita dan kabar bahagianya. Maka, Andre akan membayar 40% biaya yang dibutuhkan nantinya’


“Udah, biarin saja. Istri lu saja kagak protes itu, masa lu calon orang terkaya di se-Indo mau protes. Malu lah,” sindir Brandon.


__ADS_2