
Setelah Yunita pergi, suasana di ruang tamu menjadi lebih tenang namun juga terasa sedikit dingin bagi Andre; entah memang karena AC-nya atau karena rasa gugupnya. Dia berusaha mengesampingkan semua itu dan mengingat-ngigat kembali apa yang dia dapatkan di internet soal bagaimana cara menghadapi dan mendapatkan hati calon mertua yang galak.
“Jadi..” Begitu Ayahnya Yunita bersuara, Andre langsung bersiaga; memaksa otaknya bekerja lebih ekstra daripada biasanya; menenangkan dirinya dan memaksa dirinya untuk sedikit tersenyum meskipun dalam hatinya dia sangat gugup, “Kenapa kamu bisa suka sama anak saya? Apa yang kamu lihat dari dia?”
Pertanyaan Ayah Yunita membuat Andre sedikit terkejut, dia tidak bisa memikirkan ingin menjawab apa. Dengan cepat, dia berusaha mencari inspirasi dengan melihat sekelilingnya. Matanya kemudian terpaku dengan foto keluarga Yunita dengan ukuran besar yang tergantung di dinding.
“Senyumannya,” jawab Andre.
“Maksudnya?” Ayah Yunita terlihat bingung dengan jawaban Andre yang terlalu singkat.
“Saat itu..” Andre terhenti sebentar, dia berusaha menyusun dengan cepat semua hal yang diingatnya saat kompetisi di Singapore waktu itu, “2 tahun yang lalu. Saya pertama ketemu Yunita di kompetisi robotik di Singapore. Saat itu, saya sebenarnya sedang ada masalah pribadi. Tapi, saat melihat senyuman anak bapak, dan saat berjabat tangan. Entah kenapa, melihat Yunita yang seperti itu membuat saya bisa melupakan kesedihan saya dan fokus ke kompetisi.
Walaupun kalah, anehnya saya malah merasa senang saat melihat Yunita mengangkat piala. Agak klise mungkin kedengarannya, tapi senyuman anak bapak yang menyelamatkan saya dari jurang depresi saat itu. Dan, seolah memang sudah takdir. Kami berdua bertemu lagi di sekolah yang sama, awalnya saya tidak sadar, tapi senyuman Yunita yang seperti membekas di benak saya membuat saya ingat kembali dengan dia. Dan ibu saya pernah berkata, ‘Seseorang yang bisa membuat kita melupakan kesedihan kita, adalah orang yang berharga’,” jelas Andre. Khusus untuk kalimat terakhirnya tadi—entah terdengar bagus atau tidak—dia tidak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari mulutnya secara spontan.
“Hmph,” reaksi Ayah Yunita—sesuai apa yang di peringatkan Yunita tadi saat di perjalanan—terlihat susah di tebak. Entah reaksi tersebut karena merasa cerita yang dikarang Andre barusan terdengar memalukan, yang jelas situasi ini sangat persis ketika Andre berbincang dengan Ayahnya sendiri; sama-sama sulit ditebak.
Bahkan Pak Budi—yang lebih tua dan tentu lebih banyak menghadapi berbagai macam sifat orang—terlihat mengangkat bahunya saat Andre melirik untuk meminta clue soal reaksi Ayah Yunita.
“Saya dengar perusahaan orang tua kamu cukup sukses ya, sampai menempati No.1 di Indonesia?”
“I.. Iya,”
“Terus, apa kamu akan cuma mengandalkan kekayaan orang tuamu? Semua yang namanya bisnis bisa jatuh loh,”
“Memang, untuk saat ini saya bergantung kepada orang tua saya. Tapi saya juga sudah punya pegangan untuk jaga-jaga untuk kedepannya,”
“Seperti apa?”
“Investasi Saham,”
__ADS_1
“Tapi itu kan juga duit orang tuamu,”
Sebenarnya di titik ini, saat Ayah Yunita berusaha menyudutkannya secara terus menerus. Andre masih berusaha menahan dirinya, dia berusaha mengambil sisi positifnya saja; menganggap wajar kalo seorang ayah sangat ingin yang terbaik untuk anak mereka, apalagi kalau anak perempuan.
“Memang, pada awalnya seperti itu. Tapi bagi saya yang penting adalah hasilnya. Prinsip saya dalam hidup, tidak ada kesuksesan kalo kita tidak mengambil langkah pertama. Dan saya membuktikan hal itu, untuk saat ini mungkin saya sudah punya 100x lipat dari apa yang saya pinjam dari orang tua saya. Dan itu akan terus bertambah selama saya kelola dengan baik,” jawab Andre.
Dia sebisa mungkin menjaga cara bicaranya; mulai dari intonasi, penekanan, dan nada bicaranya agar tidak terdengar seperti orang yang tersinggung. Lagi pula menurutnya, pertanyaan soal perusahaan ayahnya bangkrut itu terdengar agak impossible. Bukannya bermaksud sombong, tapi dia juga cukup tahu kalo landasan finansial perusahaan ayahnya itu cukup bagus.
Entah ini adalah sebuah ujian dari Ayah Yunita—seperti beberapa refrensi pengalaman orang lain yang dia dapatkan di internet semalam—atau memang Ayah Yunita meremehkannya. Namun, Andre tidak bisa menyembunyikan 100% ekspresi kesalnya, apalagi dari orang terdekatnya seperti Pak Budi. Terbukti, Pak Budi, ketika mata mereka berdua bertemu, dia langsung ditegur untuk menurunkan pandangannya.
***
Sementara itu, di dapur. Yunita duduk di dapur sambil bertopang dagu. Dia sangat penasaran apa yang terjadi di ruang tamu sekarang.
“Ngomong-ngomong, Ibunya Andre itu orangnya kharismatik banget ya. Walaupun gaya bicaranya terlihat santai, tapi kaya ada aura bagaimana begitu yang bikin kita segan sama dia,” ujar Ibunya Yunita ketika sedang memasukkan sayuran ke dalam sop daging yang sedang di masaknya.
Dia sendiri sebenarnya cukup terkejut saat mengetahui kalo pengacara yang cukup dia segani saat itu ternyata adalah Ibunya Andre. Dia bahkan masih ingat bagaimana setiap media memberitakan Ibunya Andre sebagai orang tidak tahu malu karena masih membela seorang pembunuh berantai.
Kata-kata Ibunya Andre saat itu, saat sedang di wawancara seusai kasus itu dimenanginya terngiang selalu di kepalanya, “Jangan hanya menilai orang dari luarnya saja. Bayangkan, kalo orang itu adalah Anda. Dituduh melakukan pembunuhan padahal Anda cuma berada di tempat dan waktu yang salah saja. Bagaimana perasaan kalian?”
“Seriusan kamu? Pengacara hebat itu adalah Ibunya Andre? Orang yang tadi datang ke rumah kita?” Ibunya Yunita langsung menghentikan kegiatannya; menutup pancinya dan berbalik menatap Yunita dengan tatapan tidak percaya.
“Iya, masa mama ngak tahu?” jawab Yunita lagi, menurutnya, wajah Ibunya Andre cukup mudah di kenal. Dia sendiri bahkan langsung mengenali Ibunya Andre adalah pengacara kasus pembunuhan yang sempat dibenci semua orang.
“Haduh, kalo tahu begitu, mama pasti akan suruh tinggal dulu buat makan masakan dengan resep spesialnya mama, sayang sekali,”
“Mimpi kali ma, dia itu orang sibuk, super sibuk. Apalagi, kata orang-orang, firma hukumnya itu kan sukses besar semenjak kasus itu. Jadi pasti makin banyak orang yang mengantri untuk menyewa jasanya,” celetuk Angelica Kakak Yunita.
“Kakak tahu?”
__ADS_1
“Kalo firmanya tahu, tapi kalo ketemu langsung ngak. Soalnya perusahaan kakak pernah coba apply case ke firma mereka. Berharap dapat Ibunya Andre, tapi karena alasan jadwal padat, dapatnya yang lain. Tapi memang top sih pelayanannya. Pengacaranya juga pada handal. Sudah 3x perusahaan kakak minta bantuan mereka, dan semuanya win,” jelas kakaknya Yunita sambil memotong-motong daun bawang di atas tatakan tanpa berhenti meskipun sedang berbicara.
Meninggalkan kakak dan Ibunya yang sedang bergosip, Yunita berjalan ke ruang tamu; rasa penasarannya dan cemas yang sudah menumpuk dari tadi mendorongnya secara tidak langsung untuk berjalan ke ruang tamu. Akan tetapi, apa yang didapatinya membuatnya terkejut. Bukannya suasana yang canggung atau semacamnya, melainkan ayahnya yang sedang berbicara sambil tersenyum. Dia sedikit tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini, Ayahnya tersenyum dan berbicara dengan santai dengan Andre adalah hal di luar dugaannya. Rasanya sia-sia saja dia dipenuhi dengan rasa cemas dari tadi.
“Masakannya sudah siap?” tanya Ayahnya Yunita ketika Yunita terus berjalan sampai Ayahnya menyadari kedatangannya.
“Belum,” Yunita menjawab sambil menggeleng.
“Terus, kenapa kamu datang ke sini kalau begitu?”
“Bosan di dapur. Kayanya ada yang seru ya? Papa bahas apaan sama Andre sampai serius banget kaya tadi?” Yunita yang masih tidak yakin dengan apa yang dia lihat sekarang, mencoba bertanya sembari duduk di samping Andre.
“Cuma beberapa pembicaraan diantara pria saja. Tapi, harus papa akui. Andre, pilihan kamu. Papa suka. Dia punya pemikiran ke depan, agak humoris, dan wajah rupawan. Walau masih gantengan papa pas seumuran dia,”
Humor receh yang dilontarkan Ayah Yunita sampai membuat Pak Budi tersedak, “Tuh kan pa, ngak ada yang bakal percaya dengan kata-kata papa yang satu itu,” tak mau kehilangan momen ini, Yunita dengan spontannya meledek lelucon ayahnya tersebut.
Apalagi, ini bukan pertama kalinya ayahnya mengatakan hal tersebut sih. Karena setiap mereka menonton suatu film dan melihat aktor yang cukup tampan, Ayahnya selalu mengatakan kalo dia lebih tampan dari pada aktor tersebut.
“Kamu jangan mentang-mentang karena ada cowokmu disini, terus kamu mau ngejek papa ya,”
“Ei, tanya aja coba sama mama atau kakak nanti,” Yunita terus mengejek ayahnya.
“Ada apa sampai manggil mama hah? Kenapa?” ucap Ibunya Yunita yang datang bersamaan dengan Angelica; kakaknya ke ruang tamu tepat saat Yunita sedang mengejek Ayahnya.
“Yang, coba kamu liat, mana yang lebih gagah saat seusia Andre. Aku atau si Andre cowoknya anakmu tuh,” Ayah Yunita bertanya.
“Ah itu mah sudah pasti Andre lah, ayah mah lewat kalau sama Andre,” celetuk Angelica, dan lucunya, Ibunya Yunita juga mendukung hal tersebut. Pengakuan Ibunya Yunita membuat semua orang di dalam ruangan tersebut mencoba menahan diri untuk tidak tertawa.
Melihat suasana yang ceria seperti ini, Yunita kemudian meremas tangan Andre saat semuanya sedang tidak memperhatikan dia dan Andre, “Thanks ya,” ucapnya. Andre hanya melirik sebentar, sebatas untuk membalas dengan senyuman.
__ADS_1