
“Haduh, padahal masih ada seminggu lebih. Kenapa cepat pulang sih?”
Semenjak dari bandara Incheon sampai sekarang; saat mereka sedang menunggu bagasi mereka, Dimas terus saja mengoceh menanyakan kenapa mereka pulang dan mengakhiri liburan mereka begitu cepat.
“Lah lu kenapa malah ikut gua? Kan lu bisa lanjutin liburan sendiri atau berdua bareng Stefani atau Brandon,” Andre yang sedikit kesal akhirnya menjawab dengan suara yang agak meninggi. Dia juga tidak bisa mengatakan kalau alasan mereka pulang adalah karena Ibunya menyuruh dia dan Yunita untuk segera pulang dengan alasan ada hal darurat.
“Gimana mau lanjut kalau cewek gua itu selalu ngikut jadwal cewek lo. Eh Yun, lu bisa cari assisten lain ngak? Biar jadwalnya Stefani kosongan dikit,”
“Dasar kamu ya,” Stefani menjawab sambil menjewer telinga Dimas, “Ngak usah dipikirin omongannya ni orang yang ngak jelas, fokus aja ama urusan kalian berdua hari ini,” ujar Stefani kemudian kepada Yunita tanpa melepaskan tangannya dari telinga Dimas.
“Well, seenggaknya sekarang playboy kelas kakap ini dapat cewek yang bisa bikin dia takut. Thanks ya Stef,” ucap Brandon sambil mengedipkan mata kepada Stefani.
“Baguslah, dari pada jadi beban ortunya mulu kan dengan gosip-gosip ngak jelas yang dia buat,”
“Dasar teman ngak punya akhlak lu berdua ya....” gerutu Dimas yang sekarang memegangi tangan Stefani agar telinganya tidak di tarik terlalu keras.
Andre, Dimas dan Yunita tampak tidak memedulikan Dimas yang mulai mengoceh dan fokus mencari koper mereka di antara koper yang melewati mereka; karena tidak kepulangan mereka yang tiba-tiba, mereka hanya mendapakan kelas bisnis sehingga harus mengambil bagasi mereka sendiri.
Suasanya yang penuh canda tawa tersebut berubah menjadi canggung ketika mereka melangkah keluar dari gerbang kedatangan. Di luar, tanpa mereka duga, banyak wartawan dengan kamera langsung berlari menghampiri mereka; terkhususnya Yunita dan Andre.
Dengan cepat, Andre langsung menarik Yunita untuk bersembunyi di belakangnya. Sementara itu, Stefani, Dimas dan Brandon berdiri agak mepet di belakang Yunita untuk menghalangi wartawan dari belakang yang sudah mengepung mereka.
Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut wartawan yang mengerumuni mereka, namun semua intinya sama, mempertanyakan soal gosip pertunangan Andre dan Yunita, juga soal cinta segitiga Andre, Yunita dan Chrsitofer.
“Maaf ya, soal gosip apapun itu kami no comment,” Andre menjawab ketika sudah tidak terlalu banyak yang berbicara. Jawabannya tersebut sebenarnya sesuai dengan apa yang disuruh oleh Ibunya saat menyuruhnya pulang kemarin.
Reaksi wartawan yang tidak puas—dan memang sifat mereka seperti itu—langsung menghujani Andre dan Yunita berbagai pertanyaan lagi. Andre yang sudah cukup pengalaman dengan hal seperti ini hanya terus berjalan sambil menelepon Pak Budi, memberi tanda untuk menjemputnya. Tidak lama, sekitar 5 menit kemudian, Kak Alika bersama beberapa orang yang lebih mirip bodyguard—dari badannya yang kekar—menghampiri mereka semua.
“Maaf kawan-kawan semuanya, untuk pernyataan resmi nanti akan kami berikan sebentar malam ya. Jadi, mohon kerja samanya, biarkan mereka istirahat setelah perjalanan panjang ya,” ujar Kak Alika dengan baju yang agak kusut; karena harus berdesakan dengan para wartawan demi menghampiri Andre dan Yunita.
Pak Budi yang agak telat datang bersamaan ketika mereka sampai di depan mobil SUV milik Yunita. “Yunita akan ikut saya dulu kak, ada yang harus kami bicarakan dengan Ibu saya,” ucap Andre ketika melihat Pak Budi yang membuka pintu mobilnya.
“Ok, silahkan, saya juga mau kesana soalnya,” jawaban Kak Alika tidak mengejutkan bagi Andre. Karena sudah tahu sifat ibunya yang akan menyelesaikan suatu masalah secepat mungkin.
Dan, wartawan yang melihat Andre dan Yunita yang menaiki mobil Andre langsung memotret hal tersebut, beberapa di antara mereka terlihat mulai sibuk dengan catatan dan handphone masing-masing.
***
Tiba di perusahaan orang tua Andre, Yunita dan Stefani sempat di buat takjub saat mengetahui kalo seisi gedung—yang paling kurang memiliki 20 lantai—adalah milik orang tua Andre. Pikirnya, seperti office tower, perusahaan keluarga Andre hanya menyewa beberapa lantai saja. Namun, lain halnya dengan kak Alika, dia tampak tidak terkejut sama sekali seolah ini bukan pertama kalinya dia berkunjung.
Sama seperti di drama-drama yang dia tonton, untuk melewati area loby dan mengakses lift, mereka harus punya izin khusus—semacam ID Card—untuk melewati palang pintu; yang tentunya tidak perlu untuk Andre, karena begitu mereka mendekat, semua palang tersebut langsung terbuka.
Saat sedang mengantri menunggu lift, orang-orang di sekeliling sesekali melirik ke arah mereka; beberapa bahkan terdengar sedang bergosip dengan suara yang sangat pelan. Namun sudah pasti, kalo gosip tersput adalah tentang Andre dan Yunita.
Wajar saja, selain Andre memang jarang datang ke perusahaan orang tuanya tersebut, gosip yang semakin santer beredar soal pertunangan mereka berdua pun seolah menjadi bensin yang membuat api gosip bertambah besar. Sampai Andre dan yang lainnya keluar dari dalam lift pun, orang-orang masih sering bergosip.
“Eh, dengar-dengar internet disini pakai satelit yang bisa nyampai 100 Gbps?” celetuk DImas saat mereka sedang berjalan sebuah lorong yang sepanjang kanan kiri mereka adalah ruangan kantor para eksekutif tertinggi perusahaan, mulai dari COO, CMO, dll.
__ADS_1
“Udah dari setahun lalu, sekarang lagi uji coba, dan itu cuma in theory ya, belum tentu segitu dalam pemakaian sehari-hari,” jelas Andre yang dimata Yunita, ketika berbicara dengan agak serius seperti itu terlihat agak keren dan sedikit berkharisma.
“Berarti semua server disini pakai Satelit semua?” tanya Dimas kembali,
“Ngak, cuma buat backup saja kalo Satelit. Masih pakai fiber optik disini mah. Tapi mungkin saja sih 50:50 penggunaannya,” jelas Andre kembali.
“Pantas saja bokap lu mau rencana IPO, momentumnya pas banget. Bayangin, perusahaan lu mungkin satu-satunya di Indo yang punya satelit dengan bandwith 100 Gbps. Pasti laku keras lah. Apalagi kalo sampai digoreng sama media begitu hebohnya. Goks lah pasti hasilnya,” ujar Dimas kembali.
“IPO itu ngak semudah itu bambang. Banyak yang perlu di check, audit keuangan, sistem manajemen, RUPS, ...”
“Mereka masih SMA tapi bahasannya sudah selevel itu, memang beda kelas dengan kita-kita ya?” ujar Stefani sementara Andre, Dimas dan Brandon terus berbicara tentang IPO.
Saat mendengarkan Andre, Dimas dan Brandon. Yunita merasa mereka seperti hidup dalam dunia yang berbeda dengan ketiga orang di depannya ini dan seolah memberitahunya bahwa masih banyak yang dia tidak ketahui soal Andre.
Sekitar beberapa menit berjalan, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan yang mempunyai pintu kaca yang di atasnya terpampang plang bertuliskan,”President Direktur / CEO.” Satu hal yang keren dan membuat Yunita takjub, adalah saat Andre menempelkan jarinya di sebuah scanner untuk membuka pintu kaca tersebut. Dia menduga, hanya orang yang dengan sidik jari terdaftarlah yang bisa membuka pintu tersebut, seperti yang ada di film-film scifi.
Melewati pintu kaca tersebut, ruangan pertama yang mereka lewati adalah ruangan yang cukup besar dengan 4 orang pekerja yang merupakan sekertaris Ayahnya Andre. Sebelum akhirnya mereka memasuki ruangan super besar dengan sofa panjang; meja biliar; TV super besar dan tipis yang terlihat menyatu dengan tembok dan tentunya ada meja besar yang sudah pasti adalah milik Ayah Andre.
“Welcome, bagaimana rasanya pertama kali datang ke sini?” Ibunya Andre menyambut mereka semua dengan senyuman lebar di wajahnya. Sementara Ayahnya Andre terlihat sedang sibuk dengan seseorang lewat telephonenya.
“Besar banget tante, aku kira tadi cuma beberapa lantai saja,” jawab Yunita dengan agak sedikit malu-malu; Stefani juga hanya mengangguk dan tersenyum karena tidak tahu harus berkata apa.
“Wah, semakin cantik saja kamu tiap hari,” Ayah Andre, begitu selesai dengan urusannya, langsung memuji kecantikan Yunita.
Padahal, Yunita hanya memakai pakaian kasual; cuma kaos yang ditutupi sweter berwarna coklat—agar tidak kedinginan di pesawat—dan celana panjang abu-abu yang agak tipis namun tidak tembus pandang. “Memang, kamu punya mata yang jeli kalo soal cewek cantik ya,” ujar Ayah Andre kemudian sambil melirik ke arah Andre.
“Ayo, duduk dulu. Pasti ada capek kan habis perjalanan panjang? Mau minum apa?” tanya Ibu Andre yang terlihat menekan sesuatu di meja Ayah Andre. Tak lama setelahnya, seorang perempuan yang merupakan salah satu sekertaris Ayahnya Andre masuk.
Beberapa menit awal, sekitar 10 atau 20 menitan, mereka hanya membicarakan soal liburan; menyenangkan atau tidak, ada masalah selama liburan atau tidak, yah sekedar basa-basi. Baru, setelah minuman pesanan mereka datang, Ibunya Andre bangkit berdiri dari sofanya, berjalan ke arah meja Ayahnya Andre dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja.
“Ok, ngak usah berlama-lama lagi. Tolong kunci pintunya,” ucap Ibunya Andre. Dan Kak Alika, tanpa menjawab, dia langsung mengunci pintu sesuai dengan perintah Ibunya Andre. Hal itu, tentu merupakan tanda tanya bagi Yunita, ‘sejak kapan Kak Alika mengenal keluarganya Andre’, dan ‘Apa hubungan mereka sebenarnya?’.
Saat dia, Yunita sedang bertanya-tanya apa yang terjadi sekarang ini sampai harus mengunci pintu segala. Ibunya Andre kemudian menaruh sebuah tablet di atas meja dan bersamaan dengan itu layar TV besar yang menyatu dengan dinding tadi menyala.
“Yunita dan Stefani, kalian berdua mungkin belum tau apa yang ada di depan kalian saat ini. Kurang lebih 2 minggu yang lalu, ini masuk ke WA tante, WA pribadi yang tidak ada orang yang tahu kecuali keluarga saja,” setelah Ibunya Andre selesai berbicara, sebuah foto selfi yang menampilkan Yunita dan Christofer berada di ranjang dengan badan tertutup selimut terpampang di layar—namun sangat jelas kalo ingin memberi kesan kalo mereka habis berbuat mesum—tidak sampai disitu, di sampingnya juga terpampang email yang mengancam untuk memberikan sejumlah uang agar foto tersebut tidak bocor.
“Dasar brengsek, orang gila mana sih yang berani macam-macan sampai kaya gini?” melihat foto tidak seonoh tersebut, Andre langsung naik pitam dan hampir saja melempar asbak rokok yang ada di meja. Untungnya, Dimas dan Brandon langsung memegang tangan Andre.
“Ini bukan aku kok tante, kenal dia aja baru kemarin,” Yunita membela diri dengan agak gelagapan karena masih shock; tidak menyangka kalau ada orang yang tega begitu jahatnya melakukan hal seperti ini.
“Tenang, tante juga tau. Sudah tante cek sama ahlinya, dan memang ini adalah editan yang begitu mulus. Dan, Christofer juga korban disini,”
“Hah? Jadi bukan Christofer dalangnya?” Andre yang sudah menandari Christofer sebagai tersangka yang paling memungkinkan, agak terkejut dengan perkataan Ibunya yang terlihat begitu tenang dan yakin.
“Yap, mereka berdua merupakan korban. Dan harus diakui, orang yang ngirim cukup pintar, alamat IP-nya dari luar negeri untuk sekarang ini, entah dia menyamarkannya atau memang dia tinggal di luar. Jadi cukup susah untuk dilacak lebih jauh,” jelas Ibunya Andre, “Dan satu lagi, untuk sementara IG kalian berdua akan dikelola Alika. Apalagi banyak hate comment yang muncul semenjak beberapa hari terakhir,”
“Sudah? Itu saja?” tanya Andre
__ADS_1
“Iya,”
“Itu kan bisa dibicarakan lewat WA atau video call,” protes Andre,
“Jadwalnya Yunita udah mulai padat mulai minggu depan, biarin dia istirahat biar ngak kecapeaan pas harus syuting siang malam,”
“Tau kamu Ndre, jangan mikir liburan mulu. Kasian tuh calon mantu kesayangan Ibumu kalo kecapean,” goda Ayahnya Andre.
Perhatian yang ditunjukkan Ibu dan Ayahnya Andre membuat Yunita terharu, dia tidak tahu harus berkata apa-apa lagi setelah selama ini selalu dibantu oleh Ibunya Andre. Dia, selama ini berpikir untuk membalas kebaikan keluarga Andre, namun malahan sampai meluapakan dirinya sendiri dan membuat orang lain khawatir.
“Ah, dan mulai sekarang, Andre..,” sahut Ibunya Andre
“Hmm?”
“Untuk sementara, kamu tinggal dekat Yunita,” ujar Ibunya Andre saat mereka semua berada di depan pintu, bersiap untuk pulang.
“M.. Mak.. Maksudnya kami tinggal satu rumah begitu?” pikiran Yunita yang sedikit melayang dan memikirkan hal yang tidak-tidak membuat cara bicaranya menjadi sedikit gelagapan, wajahnya bahkan sampai agak memerah.
“Loh, kamu belum kasih tau dia Ndre?”
“Oh kamu maunya begitu?” tidak memedulikan Ibunya, Andre menggoda Yunita dengan senyuman nakal, “Pulang dulu ya mom,” ucap Andre berpamitan sambil menggenggam tangan Yunita yang wajahnya semakin memerah. Melihat tingkah Andre dan Yunita, Ibunya Andre hanya geleng-geleng kepala sedangkan Ayahnya Andre malah senyum-senyum sendiri.
***
Di perjalanan pulang, Andre dan Yunita bersama Pak Budi juga, memilih untuk mampir sebentar di mall untuk berbelanja beberapa kebutuhan di apartemen Andre—setelah di jelaskan oleh Andre, Yunita malah balik mencurigai kalo Andre selama ini memata-matainya makanya bisa tahu jadwalnya—sedangkan Dimas dan yang lainnya langsung pulang dengan mobil yang biasa dipakai Yunita ke lokasi syuting.
Seperti yang di peringatkan Alika, saat mereka sedang berbelanja sampai mengantri untuk membayar, tidak sedikit orang-orang yang meminta foto dengan mereka berdua—namun tentunya lebih banyak Yunita—dan sedikit membuat mereka berdua kurang nyaman.
“Kalian berdua betah ya dengan semua hiruk pikuk seperti itu,” tanya Pak Budi, yang mengamati mereka dari kejauhan dan hanya geleng-geleng kepala saat berbelanja.
“Kan tadi udah kusaranin nunggu aja di mobil pak,” jawab Andre,
“Maaf ya, saya disini jagain nona satu ini, bukan situ,” canda Pak Budi,
“Terima kasih pak, nanti saya traktir yang enak-enak,”
Andre, yang ingin membalas perkataan Pak Budi tadi, di interupsi oleh handphonenya yang bergetar dalam saku celananya. Melihat kalau itu adalah telepon dari Brandon, dia langsung menjawab, “Kenapa?”
“Wah, rencana ibu lu gokil juga ya? Bisa-bisanya lu posting bersamaan kaya gitu?”
“Apaan sih? Gua ngak posting...” sebelum menyelesaikan perkataannya, Andre teringat kalau IG-nya saat ini bukan hanya dirinya yang mengelola, “Tunggu sebentar, gua telpon balik nanti,” imbuh Andre sebelum menutup telpon dari Brandon.
“Kenapa? Ada masalah baru?” tanya Yunita ketika melihat Andre yang terburu-buru memeriksa sesuatu.
Andre tidak menjawab, dia hanya langsung membuka IG-nya, dan terkejut melihat postingan teratas di berandanya yang adalah fotonya dan Yunita saat liburan di korea kemarin.
“..Night, maybe this was too late. But, after look how much this misconception has become bigger problem than before, i think i need to explain the truth. Me and @Yunita_7996 actually dating from 1 years ago. So, what media told you about Yunita left Christofer for rich man (me) isn’t true. And about the enganggement. Yes, that’s was right, we have plan for it but not now. After Graduate maybe? But anyway, i just want to clear all false and fake rumour. So, please say bad things to her. Have a nice day.”
__ADS_1
Caption Yunita di IGnya pun terlihat tidak jauh berbeda, hanya sudut pandang yang berbeda namun poin utamanya kurang lebih sama. Bahkan foto yang diupdate pun sama dan di waktu yang bersamaan pula sesuai dengan perkataan Brandon.