
‘Dimana aku?’ Andre bertanya-tanya. Di sekelilingnya gelap gulita, dia tidak bisa melihat apapun. Dia ingin berteriak, namun dia merasakan sesuatu seperti sedang menempel dan menutup mulutnya begitu rapat. Dia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya, namun juga tidak bisa karena kakinya terasa seperti diikat oleh sesuatu. Entah itu tali atau kawat, yang jelasnya terasa sangat menyakitkan.
“Dia bangun boss” sahut seorang pria dengan suara berat dan agak parau. Tidak lama setelah pria tersebut berbicara, dia bisa mendengar suara langkah kaki bergema di sekelilingnya dan terasa semakin mendekat ke arahnya.
“Good, sekarang kabari tua bangka itu,” ujar pria yang suaranya berbeda ketika suara langkah kaki tersebut berhenti tepat di depannya, “Dasar orang gila, ...... meminta ..... menculik anak kecil,” kata-kata pria tersebut mulai terdengar agak samar-samar.
Sementara pria tadi mengoceh tidak jelas entah dengan siapa, Andre perlahan mulai mendengar suara langkah kaki orang yang sedang berlari, “Bos, gawat. Polisi sedang ke sini,” ujar seorang pria lainnya yang langsung disusul dengan suara gebrakan meja dan besi jatuh ke lantai yang menggema sampai ke telinganya.
“Sialan, cepat, naik ke mobil, kita pindah ke lokasi berikutnya,” ujar pria yang mereka panggil bos. Beberapa menit berikutnya, dia dipaksa berjalan mengikuti orang-orang ini, langkahnya terasa cukup pendek dan dia merasa berjalan agak lebih lambat dari biasanya. Berjalan di lorong yang lebar, menuruni tangga, sampai menaiki sebuah mobil. Dia bisa merasakan hal tersebut walau matanya tertutup.
Memberontak? Rasanya percuma, hanya buang-buang tenaga saja. Meski sudah di bebaskan dari ikatan yang menjerat kakinya tadi. Sekarang ini dia bisa merasakan kalau dia diapit cukup erat di samping kanan dan kiri dalam mobil yang dinaikinya. Di samping itu, mendengar orang yang menculiknya ini terus mengoceh karena kesal dan suara sirene yang terus mengikutinya, dia bisa menduga kalau mobil yang ditumpanginya sedang di kejar oleh polisi.
“Injak gasnya goblok!! Ngak bisa lebih cepat lagi apa?!!” ujar si bos. Cara bicaranya terdengar cukup kesal.
“S.. Su.. Sudah bos,” jawab salah seorang pria yang sudah pasti sedang mengendarai mobil yang dinaikinya ini. Suara mesin yang sedari tadi terdengar meraung sampai ke dalam mobil, sekarang terdengar makin keras akibat terlalu di paksa.
“Dasar Ka..... AWAS!!!” bersamaan dengan suara bos yang berteriak, suara ban berdecit begitu keras terdengar. Sedetik kemudian, dia bisa merasakan badannya melayang di udara; kepalanya kemudian terantuk oleh sesuatu dan membuatnya hilang kesadaran.
__ADS_1
***
“ANDRE!!!” suara Yunita yang memanggilnya entah dari mana terdengar dalam kegelapan yang menyelimutinya, dia bisa merasakan tangannya cukup hangat dan seperti sedang menggenggam sesuatu yang anehnya tidak terlihat. Dia kemudian merasakan seseorang seperti sedang menekan dadanya, dengan begitu cepat dan berulang-ulang.
Cahaya putih kemudian muncul di depannya, ditengah-tengah kegelapan tersebut. Ketika dia mendekati cahaya tersebut, dia bisa mendengar suara seseorang, “Sekarang belum waktumu, kembalilah,”. Setelahnya, badannya terasa seperti ditarik kebelakang, begitu kencang sampai jantungnya berdetak begitu cepat dan dia hanya bisa menutup matanya. Dan begitu, dia membuka matanya, Ayah Ibunya, Yunita, Cecilia, dan yang lainnya ada di depan matanya, sedang menatapnya dengan tatapan cemas; Yunita dan Ibunya tampak akan menangis.
“See, sudah kubilang. Dia pasti baik-baik saja,” ujar Dimas dengan tersenyum lebar sambil menepuk pelan kakinya Andre,
Dimas mungkin berkata seperti itu dengan santai, tapi Andre, dalam hatinya tau kalau Dimas sebenarnya berusaha membuat suasana menjadi tidak terlalu tegang. Senyuman yang terlihat dipaksakan, suara yang sedikit agak bergetar dan tidak lancar saat berbicara, tatapan mata yang liar ke sana kemari, dan mata yang terlihat seperti sudah cukup lelah dan akan menangis, dia bisa melihat semua itu di wajah Dimas.
Selagi Andre di periksa oleh dokter dan perawat,
Setelah tenaga medis selesai melakukan pemeriksaan dan keluar dari ruangan. Tak lama kemudian, 2 orang pria berjaket coklat; yang satu terlihat berusia 30-an dengan kumis hitam, lingkar mata bagian bawah yang agak hitam seperti orang yang begadang beberapa hari dan rambut acak-acakan; sedangkan satunya lagi terlihat cukup muda, kulit yang agak kecoklatan, wajah yang fresh seperti baru habis bangun pagi, rambut yang tertata, dan kaca mata yang dipakainya membuat orang ini terlihat sangat intelektual.
“Permisi,” sapa pria yang lebih tua,
“Iya, siapa ya?” Yunita menjawab menggantikan Ibunya Andre yang terlihat kelelahan,
__ADS_1
Kedua pria berjaket coklat itu tidak membalas, melainkan mengambil sesuatu dari balik saku jaketnya. Yang terlihat agak tua menunjukkan lencana polisinya dan menunjukkannya, sedangkan yang muda terlihat mengambil catatan kecil dan sebuah bulpen.
“Bisa kami bertanya sebentar mengenai apa saja yang terjadi tadi malam, demi penyelidikan,” ujar pak polisi tersebut.
Yunita mengangguk pelan. Kedua polisi tersebut kemudian berdiri di samping kiri kasur tempat Andre tertidur, sedangkan Yunita di kanannya. Mereka kemudian ditanyai beberapa pertanyaan. Mulai dari perkiraan waktu kejadiannya, ciri-ciri pelaku yang bisa mereka ingat, ada orang yang menyimpan dendam kepada mereka atau tidak dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Orang tua Andre juga tidak luput dari beberapa pertanyaan. Agak wajar sih, mengingat keluarga Andre adalah pengusaha no 1 saat ini di Indonesia sehingga tidak menutup kemungkinan ada orang yang berniat jahat dengan mereka.
Sesi tanya jawab itu berlangsung kira-kira sekitar 30 menitan sebelum akhirnya kedua polisi itu berpamitan dan diantar oleh Dimas dan Brandon yang juga pamit pulang.
Hingga orang tuanya pulang dan hanya meninggalkan dia dan Yunita berdua saja, Andre masih terus kepikiran dengan mimpinya yang tadi. Jauh di dalam pikirannya, Andre sebenarnya ingin bertanya soal mimpinya tersebut. Akan tetapi, dia merasa agak sedikit berat hati saat melihat wajah Ibunya yang terlihat begitu kelelahan.
“Kamu ngak pulang juga?” Andre bertanya ketika Yunita sedang merapikan kasur yang memang di sediakan untuk keluarga yang mungkin ingin menjaga langsung. Kamarnya memang bisa dibilang cukup mewah; punya ruangan ramu sendiri, meja makan yang bisa sampai 4 orang, pantry sendiri, dan kamar mandi yang terbilang sangat luas. Malah, kamarnya ini lebih mewah dari kebanyakan kos-kosan elite pada umumnya.
“Ngak, jadwalku kukosongin buat besok. Soalnya kata dokter besok kamu sudah bisa pulang,” jawab Yunita.
“Kamu ada masalah apa di lokasi syuting?” Andre sedikit penasaran setelah mendengar soal perlakuan beberapa aktor ke dia di lokasi syuting ketika ditanyai oleh polisi tadi.
Yunita awalnya menolak mengatakan permasalahannya. Akan tetapi, Andre yang terus bertanya membuat dia akhirnya menceritakan semua masalahnya di lokasi syuting sambil rebahan di kasurnya; yang tidak berjarak terlalu jauh dari kasur Andre.
__ADS_1