Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC II : CHAPTER V


__ADS_3

Esoknya, sesuai keinginan Yunita, mereka berlima akhirnya pergi ke Nami Island dan kebeberapa tempat wisata lainnya yang di sarankan oleh tour guide mereka. Sorenya, mereka pergi ke tempat yang sangat disukai oleh wanita, yaitu mall.


“Untung saja gua bawa kartu yang limitnya agak gede-an,” gumam Andre dalam hatinya ketika melihat Yunita dan Stefani yang dengan mata berseri-seri melihat-lihat berbagai macam tas, sepatu dan pakaian yang ada di dalam mall tersebut. Tak lupa, kedua perempuan tersebut sampai mengajak tour guide mereka untuk ikut juga. Sementara Andre, Dimas, dan Brandon hanya ikut dari belakang.


“Agak nyesel kan lu sekarang masuk ke sini?” goda Dimas.


Awalnya, mereka memang ingin makan terlebih dahulu dengan harapan nantinya Yunita dan Stefani agak kelelahan dan tidak berselera lagi untuk berbelanja. Namun, Dimas—yang entah kerasukan setan apa—malah menyarankan untuk pergi ke mall terlebih dahulu. Dimas, yang seolah tahu kelemahan Andre adalah Yunita, bahkan memanas-manasi Yunita dan Stefani untuk membujuk Andre untuk lebih memilih ke mall terlebih dahulu; yang akhirnya dituruti oleh Andre juga.


“Kagak. Gua Cuma keberatan kalo belanjaannya Stefani itu gua yang bayarin, padahal pacarnya juga ada di sini,” melihat Yunita dan Stefani yang berada agak jauh dari mereka, Andre memilih untuk sedikit menyindir Dimas dengan membongkar apa yang dia ketahui soal dia dan Stefani selama ini.


“L.. Lo tahu dari mana?” Dimas terlihat terkejut, keningnya sedikit mengerut dan berkeringat, mungkin karena rahasianya terbongkar.


“Ya elah, lu pikir kita berdua ngak hafal dengan sikap lu apa?” Brandon menjawab dan bahkan menyeringai untuk meledek Dimas yang sekarang seperti kucing yang tertangkap basah mencuri ikan; hanya diam di tempat dan tidak bisa berkata apa-apa.


“Bahkan, si Yunita saja tahu loh tanpa gua atau Brandon kasih tahu,”


“What!? Seriusan lu berdua?” Fakta kalau Yunita juga mengetahui hal tersebut tampak membuat Dimas lebih terkejut lagi. Seperti ada yang dia dan Stefani sembunyikan dari Andre, Brandon maupun Yunita selama ini. Namun, Andre sedikit menebak kalau Dimas takut soal bagaimana dia memperlakukan Stefani dengan sedikit buruk.


“Makanya, jadi Playboy pintar dikitlah pilih mangsa. Masa yang paling dekat dengan kita-kita lu embat juga. Ya ketahuan lah pea,” Andre melontarkan jawaban yang diselingi dengan guyonan .

__ADS_1


Walaupun sebenarnya dia sedikit gatal ingin mengetahui hubungan Stefani dengan Dimas lebih jauh lagi. Akan tetapi, mengingat mereka sedang liburan, dia tidak ingin merusak suasana ini dengan keisengan yang bisa sedikit memganggu pertemanan mereka.


“Eh, ngomong-ngomong soal Christofer, lu sudah baca yang gua kirimin tadi pagi kan?” ujar Brandon yang tiba-tiba membahas soal Christofer.


“Sudah, agak ngak mungkin juga sih dia menjadi dalangnya sendirian. Entah apa motifnya, yang penting sekarang adalah mencari alasan kenapa dia cari masalah sama gua. Apalagi kalau dia sudah tahu siapa gua sebenarnya, dia ngak akan sebodoh itu; ngak melakukan klarifikasi atau apa kek yang menjernihkan kesalahpahaman yang ada. Ya kan?


Gua sebenarnya benci mengatakan ini. Kali ini, gua setuju kalo mom menggunakan segala secara untuk menutupi aksi pansos ngak jelas si kampret itu kali ini. Terlepas memang pansos atau dia memang nantang gua atau bagaimana,” Andre mengomel cukup lama, dia mengeluarkan uneg-uneg yang dia tahan selama ini.


 “Tapi menurut gua sih, bisa saja ini bukan perbuatannya kan?” ujar Dimas,


“Maksudnya?” Andre sedikit bingung dengan maksud Dimas, apalagi semua bukti yang mereka punya sekarang mengarah ke Christofer sendiri.


Perkataan Dimas membuat pikiran Andre sedikit terbuka, dia selama ini tidakpernah terpikirkan akan hal tersebut. Selama ini, dia hanya berfokus pada apa yang sudah ada di depannya dan tidak pernah melihat lebih dalam lagi.


“Ah, betul juga. Dengar-dengar dia lagi ada sedikit masalah dengan manajer sama bos di agensinya kan?” ucap Brandon ketika Andre tengah memikirkan ulang siapa kira-kira orang di balik semua gosip yang terjadi sekarang ini.


Andre tidak menjawab dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pikirannya buntu, dia hanya bisa menduga-duga namun tanpa bukti yang konkret. Di saat ini, dia menyadari ketidakmampuan dirinya untuk memecahkan masalahnya sendiri dan sedikit agak menyesali pemikiran kalau dirinya sudah bisa menjaga dirinya dan Yunita.


“Sst, nanti aja dilanjutkan,” melihat Yunita yang sedang mendekat ke arah mereka, Andre menyetop pembicaraan mereka bertiga. “Udah belanja ya? ,” ujar Andre saat Yunita berdiri di depan mereka dengan beberapa tas belanjaan.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, handphonenya bergetar. Dia sengaja tidak mau membuka handphonenya karena takut melihat nominal yang baru saja di tambahkan ke dalam kartu kreditnya. Bukannya dia tidak ikhlas, hanya saja kali ini dia sedikit agak cemas dengan total yang sudah dihabiskannya untuk liburan kali ini.


“Udah,” mata Yunita dan Andre saling bertemu untuk sesaat, “Tenang aja, ngak banyak kok,” ujar Yunita sambil mengembalikan kartu kredit Andre setelah melihat Andre yang menggigit bibir bagian bawahnya.


“Wah!!! Lu pelit amat, padahal pake Black Card juga!!” seru Dimas menyindir Andre dengan mata yang terbuka lebar-lebar dan sedikit memalingkan wajahnya untuk mencibir.


“Gua kan sudah bilang, kalo buat my ini—Andre menggandeng Yunita seperti sedang memamerkan hubungan barunya dengan Yunita di depan yang lainnya—gua ngak bakal ambil pusing. Tapi kalau….”


“Iya, iya, iya. Sudah, gua ngerti maksudlu. Ngak perlu di ulang dua kali,” Dimas tampak berjalan menuju ke arah Stefani yang berada tak jauh dari mereka—sedang mengecek sesuatu dalam tas belanjanya— dan meraih tangannya. Raut wajah Stefani tampak terkejut dengan tingkah Dimas, namun tidak berkata apa-apa dan hanya menurut dengan Dimas yang menyeretnya, “Ok karena semua sudah tahu, berarti gua ngak perlu sembunyi-sembunyi lagi ya?” ucap Dimas dengan pedenya di depan semua orang. Bahkan, Dimas sampai mengangkat tangannya yang sedang bergandengan dengan Stefani, seolah ingin memamerkan hal tersebut.


“Whatever,” ucap Brandon yang sepertinya masa bodoh dengan tingkah Dimas tersebut. Andre dan Yunita juga memilih untuk tidak memedulikan pernyataan Dimas tersebut, mereka berdua malah pergi berjalan meninggalkan Dimas dan yang lainnya.


“Mau kemana lu berdua?” tanya Brandon.


“Ngedate, lu balik saja duluan ke hotel,” Andre berbalik sebentar untuk menjawab pertanyaan Brandon. Dan setelahnya, kembali berjalan sambil menggandeng tangan Yunita agak erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa sebagian belanjaan Yunita.


Ada keuntungan juga sih dia mengikuti saran ibunya untuk menginap di Hotel Interncontinental Seoul. Selain memang nyaman, lokasinya juga sangat dekat dengan berbagai pusat perbelanjaan dan berbagai hal lainnya. Dan yang membuat dia setuju menginap di sini sebenarnya adalah restoran favoritnya , Grand Kitchen yang memang menjadi bagian dari hotel tersebut. Bergaya prasmanan, pelayanan yang ramah, makanan yang sudah pasti sangat enak. Meskipun memang tergolong sangat mahal, namun tetap sepadan dengan kenyamanan yang di dapatkan.


Jika di Indonesia mereka harus sedikit menjaga jarak atau membawa teman lain saat berjalan di tempat umum agar tidak ada yang memotret mereka. Di luar negeri, mereka bisa dengan bebas bergandengan tangan, atau bahkan saling merangkul tanpa khawatir mengenai apapun. Yah, paling beberapa orang hanya melirik ke arah  mereka berdua untuk sesaat; entah karena melihat tas belanjaan, PDA yang mereka lakukan, atau mungkin melihat wajah Yunita yang mungkin cukup memikat, atau mungkin juga karena mereka adalah jomblo ngenes yang menyendiri cukup lama—para Jones jangan tersinggung ya.

__ADS_1


__ADS_2