
Untungnya, saat postingan pengakuan itu dimuat. Yunita dan Andre, sudah hampir selesai membayar, sehingga tidak tinggal terlalu lama disitu. Dan, gara-gara postingan seperti itu, rencana mereka berdua untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah terpaksa dibatalkan.
Yunita, di dalam mobil sangat gelisah akan suatu hal; yakni reaksi keluarganya, terutama Ayahnya. Baru saja dia duduk di dalam mobil selama kurang lebih semenit—saat Andre dan Pak Budi sedang memasukkan barang belanjaan mereka—teleponnya berbunyi. Melihat kalo Ibunya yang menelpon, tanpa berpikir panjang dia langsung mengangkatnya.
“Ha...”
“PULANG KAU SEKARANG!!!”
Mendengar suara Ayahnya yang berteriak seperti itu, Ayahnya pasti sudah melihat berita tersebut.Dia juga bisa sedikit menebak bagaimana ekspresi Ayahnya saat ini seperti apa. Wajah yang ketus, mata yang melotot, kening yang berkerut, dan mulut yang siap menembakkan kata-kata pedis yang akan membuat siapapun bisa sakit hati mendengarnya.
“Ah, halo, Yunita. Ndak usah hiraukan perkataan Ayahmu, kamu baru pulang kan? Istirahat saja dulu, besok pagi baru kamu kesini. Tapi, ngomong-ngomong, postingan di IG itu betulan?” tanya Ibunya tidak lama kemudian.
“Hmm,” jawabnya agak pelan. Ada sedikit rasa takut dalam dirinya kalau-kalau Ibunya bakalan kecewa dengan apa yang terjadi sekarang ini.
“Wah, congrats ya!!” sahut kakaknya yang terdengar sangat antusias. Mendengar hal itu, membuat perasaannya sedikit lega dan bisa tersenyum.
“Hah, untung saja bisa cepat-cepat kabur, bisa enek aku kalau harus menghadapi mereka tadi,” ucap Andre ketika masuk ke dalam mobil.
“Eh, dia lagi disamingmu? Sini mama mau bicara sebentar,” tanpa menunda-nunda, Yunita langsung memberikan teleponnya kepada Andre.
Andre, yang baru saja masuk, terkejut saat melihat siapa yang menelpon di layar hp Yunita. Dengan cepat dia mengambil telpon tersebut, berdeham beberapa kali sebelum akhirnya berbicara.
“H.. Halo tante,” melihat Andre yang gelagapan saat berbicara seperti ini, Yunita tersenyum lebar. Tidak akan ada yang percaya mungkin, kalau Andre, orang yang terlihat berkharisma dan berwibawa bisa juga gelagapan saat berbicara.
Entah apa yang dibicarakan Ibunya dengan Andre begitu lama, namun satu hal yang jelas, Andre terlihat begitu gugup. Bahkan, jakunnya terlihat bergerak naik turun cukup sering akibat menelan ludah. Tidak sampai disitu, bagian belakang telinganya juga terlihat berkeringat. Padahal tadi tidak sama sekali dan juga dalam mobil sangat dingin, sehingga berkeringat dalam suhu yang cukup dingin begini rasanya kurang normal saja.
__ADS_1
“Nih,” Andre yang keningnya terlihat berkeringat mengembalikan handphone Yunita.
“Kenapa lagi mom?”
“Kalo dia sampai nyakitin kamu. Lapor ke mama, biar mama kasih pelajaran dia. Oke?” mendengar perkataan Ibunya barusan, Yunita sedikit bisa mengira-ngira apa yang dikatakan Ibunya tadi sampai membuat Andre begitu gugup.
“Iya, udah ya, nanti lagi ku telpon,” ucap Yunita lalu membiarkan Ibunya yang mengakhiri panggilan.
***
Esoknya, sesuai dengan apa yang dikatakan Ibunya. Dia dan Andre pergi ke rumah orang tuanya. Mereka berdua sebenarnya bisa dibilang agak nekat. Karena sebenarnya, Ibunya Andre dan juga Kak Alika semalam—saat dia bertanya soal rencana mereka pagi ini—sempat mewanti-wanti agar tidak terlalu muncul di depan publik sampai gosipnya mereda. Namun, bukan berarti mereka tidak mengizinkan. Malahan, Pak Budi, datang menjemput mereka dengan begitu banyak hadiah dari Ibunya Andre yang ditaruh di bagasi.
“Wah, cukup tenar juga kalian berdua ya? Ngak turun-turun loh dari top 5 daftar pencarian tertinggi semenjak pengumuman itu di posting,” ujar Pak Budi saat sedang menyetir dalam perjalanan ke rumah Yunita.
Agak mengherankan juga sih, gumam Yunita dalam pikirannya. Kenapa dia dan Andre bisa sampai setenar ini? Apalagi, kalo mau dipikir matang-matang, dia hanyalah artis pendatang baru yang belum genap setahun berkarir. Tapi, sisi positifnya, pengikut IG-nya melonjak hampir 300 ribu followers dalam beberapa jam saja dari 800ribuan, menjadi 1,1 juta. Punya Andre, yang bahkan jarang tersorot, melonjak dari 280 ribu menjadi 700 ribu.
“Ya itukan karena notifikasi yang isinya semua soal kalian berdua. Bahkan, halaman awal majalah gosip di internet semua isi paling depannya soal kalian juga,” protes Pak Budi yang sepertinya tidak terima dengan apa yang dikatakan Andre.
Dia, Yunita, memilih tidak ikut campur. Karena dia tahu, kalau Pak Budi dan Andre itu sudah seperti Paman dan ponakan. Begitu akrab, bahkan terkadang hampir seperti teman juga, saling bercanda yang menurut orang lain mungkin terdengar tidak sopan. Sejujurnya, dia sedikit iri dengan Andre yang punya kehidupan seperti itu; bukan harta ya, namun bagaimana orang di sekelilingya begitu care dan mensupportnya.
“Kapan ya, Ayah akan berhenti menjadi orang yang egois dan memaksakan kehendaknya?” dia bergumam dalam hatinya. Dia hanya bisa berharap agar Ayahnya nanti tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat Andre tersinggung.
Saat sampai di rumahnya, Kakaknya menjadi orang pertama yang menyambutnya ketika baru tiba. Kakaknya bahkan sampai memakai parfum andalannya yang biasa mereka berdua pakai saat pergi pesta formal saja; CHANEL No.5 Eau De Parfum Red Edition.
“Parfum kalian berdua sama ya?” tanya Andre, yang tampaknya menyadari hal tersebut. Yah, tidak mengejutkan sih, karena Ibunya Andre juga pernah memakai parfum yang sama kalo dia tidak salah ingat.
__ADS_1
“Wah, tahu juga soal parfum yang bagus lo. Sudah sering ngasih cewek hadiah parfum ya?” tanya Kakak Yunita. Sorotan matanya kini seperti seorang psikolog yang sedang menyelediki apakah lawan bicaranya berbohong atau tidak.
“Kak..”
“Ah, bukan. Ibu saya soalnya sering koleksi parfum. Jadi yang jenis tertentu saya hafal,” Andre menjawab pertanyaan Kakak Yunita dengan cukup lancar dan tenang.
“Sudah ah, masuk yuk. Ayo pak, masuk juga,” sebelum kakaknya bertanya yang tidak-tidak, Yunita menggandeng tangan Andre, mengajaknya dan juga Pak Budi untuk masuk ke dalam rumah.
Tidak banyak yang berubah semenjak dia meninggalkan rumah tersebut 6 bulan lalu. Hubungannya dengan Ayahnya pun menjadi sangat renggang, jumlah pertemuan mereka selama 6 bulan terakhir ini mungkin bisa dihitung dengan jari. Itupun, hanya saat ada acara resmi dan dirinya terpaksa datang karena permintaan Ibunya.
Walaupun begitu, bukan berarti dia menjadi lupa dengan Ayahnya. Setiap kakaknya berkunjung ke apartemen, atau saat ibunya menelpon. Dia selalu menanyakan kondisi ayahnya lewat mereka berdua. Jauh di dalam hatinya, sebenarnya dia sangat ingin kembali dan memeluk ayahnya. Namun, rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal hatinya untuk melakukan hal tersebut; yang dia sendiri tidak tahu apa itu.
“Mom, tamu spesial kita sudah datang,” seru kakaknya Yunita dengan suara yang agak keras seperti sedang mengumumkan sesuatu yang penting.
Yunita sebenarnya agak malu dengan kelakuan kakaknya tersebut, tapi ya begitulah hubungannya dengan kakaknya; penuh kelucuan dan hal-hal absurd.
“Antar ke ruang tamu aja, mama lagi ngecek masakan ini,” sahut Ibunya Yunita.
Berjalan ke ruang tamu, mereka berdua dan juga Pak Budi dibuat terkejut saat melihat Ibunya Andre sedang duduk di sofa, berhadapan dengan Ayahnya Yunita dan sedang menyeruput teh dari gelas yang di pegangnya. Yunita awalnya mengira kalo Andre mengetahui hal ini, namun saat melihat raut wajah Andre, keraguannya hilang. Dalam hatinya, Yunita berharap semoga ayahnya tidak mengatakan sesuatu yang tidak di depan Ibunya Andre sebelum mereka datang.
“Santai saja, mama cuma datang nyapa aja. Ini juga mau pergi, ada rapat dengan klien,” ucap Ibunya Andre yang sekarang tengah berdiri dari kursinya, “Lagian sih, kalian bilangnya mau datang agak pagi. Jadi mama geser semua meeting ke siang hari,” gaya bicara Ibunya Andre mungkin terdengar santai, seperti sedang mengomel namun juga bercanda gurau. Akan tetapi, raut wajahnya sedikit menonjolkan rasa tidak suka karena Andre dan Yunita tidak on time. “Permisi pak, saya tinggal dulu ya,” tambah Ibunya Andre diselingi dengan senyuman setelah selesai berbicara dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ayahnya Yunita terlihat membalas senyuman Ibunya Andre tersebut juga dengan senyuman ramah; dan membuat Yunita sedikit bertanya-tanya, apa yang sudah mereka lewatkan?
“Bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu sekarang, yang penting hadapi saja dulu apa yang akan terjadi,” Yunita berucap dalam hatinya. Langkah demi langkah, rasa gugupnya semakin besar. Dalam hatinya dia terus berdoa, semoga hari ini tidak akan berakhir dengan buruk.
__ADS_1
“Kamu bantu Ibu sama kakakmu dulu sana di dapur,” perintah Ayahnya Yunita dengan wajah yang sangat serius saat Yunita, Andre, dan juga Pak Budi—yang duduk di agak jauh dengan Andre dan Yunita—baru saja duduk di sofa sekitaran semenit. Bahkan senyuman tadi saat Ibunya Andre pamit pun sudah hilang.
Yunita awalnya tidak ingin pindah dan tetap diam di tempatnya. Akan tetapi, Andre meremas tangannya, menatapnya dengan tersenyum seolah ingin mengatakan kalau keadaan ini bisa dia tangani sendiri.