
“Akhirnya, semuanya selesai juga,” setelah pulang ke rumahnya bersama Yunita, Andre langsung melempar dirinya ke atas sofa yang paling pertama dia lihat di ruang tamu.
Sementara Yunita lebih memilih untuk duduk di atas kursi pijat untuk menghilangkan pegal-pegal di badannya.
Dimas yang pertama kali masuk ke kediaman Andre dan Yunita itu tidak bisa menahan dagunya yang hendak jatuh karena terpesona dengan isi dalam rumah Andre.
“Woah, gila rumah lu. Jadi ini hasil saham yang lu tabung-tabung sampai ngak mau traktir kita pas lu kuliah? Gile abis lah,”
“Ampun deh sama kalian, calon nyonya sama tuan besar,” Stefani geleng-geleng kepala melihat tingkah Andre dan Yunita yang bersantai setelah menempuh hari yang cukup berat tadi siang.
“Apaan sih, biasa saja kali, kita kan teman,”
Andre berusaha merendah. Dia tidak suka kalau hari dipanggil ‘tuan besar’ oleh salah satu dari ketiga temannya ini.
“Berbicara soal gelar lu itu,” Brandon tiba-tiba menyeletuk, “Mulai besok jadwal lu bakal super padat. Dan, tidak ada waktu untuk pacaran terlalu bebas. Apalagi perusahaan yang lu pimpin ini merupakan perusahaan yang nyaris bangkrut dan kemudian diakuisisi oleh Ayah lu, jadi butuh sedikit perhatian ekstra supaya tidak terpeleset semakin dalam ke jurang kebangkrutan ,”
“Kasian deh. Semangat ya,” Yunita meledek Andre sambil tersenyum lebar
Stefani tersenyum gemas kepada Yunita, “Eits, lu juga ngak bisa santai-santai,” ucapnya, yang langsung membuat senyuman Yunita sebelumnya sirna, “Terima kasih buat skandal kali ini yang membuat lu semakin terkenal. Kak Alika menyuruh lu untuk ambil satu film sebagai penutup tahun ini. Dan,” dia mendengus, “beberapa klien kita mau foto kalian berdua ada di media, untuk memanfaatkan hype yang ada,”
“What? Really?” Yunita merasa tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Padahal, dia sudah menyelesaikan 1 film untuk tahun ini sesuai dengan kontraknya; hanya satu film setiap tahun selama dirinya berkuliah.
“Ah, hampir lupa. Mulai senin besok, lu sudah harus masuk kampus lagi,” perkataan Stefani yang terakhir tadi seperti menambah garam di atas bekas lukanya yang belum kering bagi Yunita.
“Makanya, jangan keburu senang dulu kamu, kena getahnya juga kan,” Andre balik meledek calon istrinya yang sudah kegirangan duluan tadi.
“What? Ini juga gara-gara kamu tahu,”
“Oh, begitu ya, jadi sekarang gara-gara aku begitu,”
“Sudah, stop lu berdua!” Stefani yang tidak tahan melihat pertengkaran sepasang kekasih di depannya tersebut, memaksa dirinya untuk menginterupsi agar Yunita dan Andre berhenti.
“Hm, galak juga ternyata kalo manajer artis terkenal sedang ngamuk ya,” celetuk Brandon karena kagum ada orang baru yang bisa membentak Andre.
Karena hanya ada segelintir orang yang bisa membuat Andre tunduk seperti sekarang ini, kedia orang tuanya, Yunita, Cecilia, dan Stefani yang baru saja menjadi orang ke 5 dalam list tersebut. Bahkan Brandon dan Dmas pun—yang notabene sudah menjadi teman lamanya—tidak terlalu berani untuk membentak Andre selama ini.
“Sekarang, lu mau tinggal di sini atau balik ke apartemen?” Stefani bertanya ke Yunita setelah menarik nafas beberapa kali.
“Gue tinggal di sini,” Yunita menjawab dengan suara yang pelan.
Stefani kalau sedang marah, bagi Yunita hampir sama galaknya dengan kakaknya, Angelica kalau marah. Entah karena memang suara mereka berdua yang keras, atau memang aura mereka yang sangat mengintimidasi lawan bicaranya. Yang jelas, dia tidak berani melawan saat kedua orang ini sedang marah.
“Ok, kalau begitu gua balik dulu. Besok, lu standby jam 7, oke?” ujar Stefani.
“Wait, sekalian antar gua dong,” ucap Brandon saat Stefani berjalan meninggalkan ruang tamu.
“Ya sudah cepetan, kasian itu sopir agensi kemaleman pulangnya,”
“Wait, gua ngambil orang hilang dulu,” ujar Brandon. Dia lalu berjalan menuju ke arah ruang santai dan tak lama setelahnya, kembali bersama Dimas.
“Gua ngak boleh nginap disini apa?” pinta Dimas dengan muka memelas.
“NGAK! Pergi lu,” Andre mengusir Dimas dengan tegas.
Dan dengan segera, Brandon langsung menyeret Dimas pergi bersamanya dan juga Stefani. Andre dan Yunita, sempat mengantar ketiga sahabat mereka tersebut sampai di depan mobil van milik Yunita.
__ADS_1
Setelah yang lainnya pergi, Andre mengajak Yunita untuk makan malam di luar ketika melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Yunita yang juga sedang datang rasa malas untuk memasak, mengikuti ajakan Andre tanpa banyak bicara dan langsung masuk rumah untuk berganti baju yang lebih santai.
Salah satu keuntungan mempunyai rumah di perumahan elite yang baru berdiri adalah bisa mendapatkan harga tanah menjadi sedikit lebih murah dari pada perumahan yang sudah berdiri beberapa tahun lamanya dan cukup ramai, sehingga bisa memborong sederet tanah seluas 10 hektar.
Namun kekurangannya, orang-orang yang tinggal di sana harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan untuk ke pusat kota terdekat.
Di pusat kota, Andre mengemudi agak lambat di pinggir jalan saat melewati berbagai kios pinggir jalan yang membangkitkan perasaan nostalgia ketika Ayahnya dulu mengajak makan di warung penjual ayam lalapan saat malam-malam.
“Eh, stop,” Yunita menyetop Andre tepat di depan warung penjual pecel lele, “Yang ini saja yuk?” ucap Yunita dengan wajah yang berseri-seri.
“Yakin?” Andre sedikit tidak menyangka, kalau selama ini, Yunita yang hidupnya terlihat glamor seperti dirinya. Ternyata juga suka dengan pecel lele.
“Iya, anggap saja makanan pembuka sekalian nostalgia,”
“What? Bukannya kamu harus jaga badan?”
“Dengan cara menyiksa begitu? Ngak mau lah,” Yunita mencibir.
Dia memang sedari awal menekankan kepada Kak Alika kalo dirinya tidak suka kalo harus menjalani diet yang terlalu ketat seperti yang banyak di lakukan artis-artis lainnya.
Menurutnya, makan 3 kali sehari tetap saja boleh, yang penting tidak rakus dan tetap rajin berolahraga. Apalagi, jadwal ketatnya dari pagi sampai malam—ketika sedang banyak jadwal syuting—yang menharuskan dia selalu ekstra fit, sehingga akan sangat berisiko jika dia kelelahan hanya karena harus mengikuti diet ketat tersebut.
“Pakaian sudah cocok, ngak pakai aksesoris, cuma pakai sandal, eh kamu malah bawa mobil mewah buat makan di pinggir jalan,” Yunita menyalahkan Andre yang membawa mobil sedang mewahnya dan membuat orang melirik ke arah mereka berdua semenjak mereka masuk ke dalam warung yang dipilih Yunita tadi.
Dan kebetulan sekali, hari ini adalah hari minggu, sehingga tidak heran kalo banyak anak muda yang makan di tempat tersebut. Bahkan, beberapa perempuan sampai menghampiri Yunita dan meminta foto bareng.
Tidak hanya itu, ibu-ibu yang kebetulan sedang makan bersama keluarganya pun juga sampai meminta foto bareng.
Keramaian tersebut baru berhenti ketika salah seorang pegawai warung—yang mungkin menyadari Yunita yang mulai agak risi—menyuruh gerombolan tersebut untuk keluar kalau tidak ingin membeli makanan di warungnya.
“Berisik kamu,”
***
Esoknya, Andre berangkat ke kantor lebih dulu dari Yunita yang masih sibuk dengan pakaiannya; maklum, belum seminggu semenjak mereka pindah, jadi barang-barang memang masih agak sedikit berantakan di dalam kamar.
“So, apa saja yang perlu di perhatikan dari perusahaan yang bakal gua kelola?” Andre bertanya kepada Brandon, yang duduk di sampingnya karena Pak Budi akan menjadi sopirnya sampai setahun ke depan; dengan pertimbangan ia dan Brandon akan sedikit sibuk tahun pertama mereka di perusahaan.
“Pertama, perusahaan ini bergerak di bidang elektronik rumahan. Cukup sukses di 4 tahun pertamanya sebelum akhirnya mengalami krisis finansial dan diakuisisi oleh Ayahmu.
Laporan keuangannya bisa dibilang cukup buruk. Sebelum diambil alih, punya hutang sekitar 100 juta dollar. Laporan keuangan Q2 tahun ini pun cukup buruk, minus 1,8 juta dollar. Namun secara YoY dengan kuartal yang sama ada peningkatan 10%.
Kedua, soal jajaran direktur dalam perusahaan. Lu musti waspada dengan Direkur Dept HRD, dan Keuangan. Mereka berdua bisa dibilang bakal jadi musuh terberat lo seandainya ada permasalahan internal. Yang terakhir dan paling penting,” Brandon tersenyum sebelum melanjutkan, “Ceweknya pada cakep-cakep,”
Spontan, Andre langsung menggeplak kepala temannya sahabatnya satu ini dengan tablet di tangannya; yang untungnya pakai case sehingga memperkecil kemungkinan tabletnya rusak. Dia tidak menyangka, kalau temannya yang satu ini bisa tertular virus plaboy dari Dimas.
“Dasar lu ya. Makanya cari jodoh sana,”
Sesampainya mereka di kantor, hal pertama yang dia lakukan adalah melakukan sedikit inspeksi dadakan ke setiap Departemen; karena sekarang memang sudah sekitar jam 9-an.
Hasilnya cukup bagus, hanya satu dua saja yang belum datang, bahkan Direktur-direkturnya pun sudah datang di ruang rapat; mungkin karena sehari sebelumnya dia sudah mengumumkan kedatangannya.
Melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, para Direktur dan pemegang saham yang mempunyai hak vote saat pengambilan keputusan langsung berdiri menyambut Andre.
__ADS_1
“Tidak usah berdiri, duduk saja,” ucapnya,
Jika dilihat sekilas, orang-orang di depannya ini memang terlihat menghargainya. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih teliti lagi, ekspresi mereka sangat jelas seperti sedang meremehkannya—terima kasih karena kegabutannya, dia sedikit mempelajari psikologi selama berkuliah.
Dan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Brandon, Direktur HRD dan Keuangan; Pak Guntur dan Pak Naden, menjadi orang yang paling terang-terangan meremehkan Andre lewat ekspresi mereka. Bahkan sampai menyengir ketika Andre pura-pura mengalihkan pandangannya untuk sesaat.
“Well,” Andre berdiri, “Saya rasa mungkin masih ada yang belum mengenal saya. Nama saya Andre Pratama Rajata. Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian mungkin merasa kalau saya kurang pantas menjadi PresDir saat ini.
Namun, saya tegaskan, pengalaman kerja saya di dua perusahaan besar selama berkuliah di US cukup untuk membuat saya mengerti seluk beluk perusahaan kita sekarang ini.
Dan, satu lagi, jangan macam-macam dengan saya. Saya tahu beberapa dari kalian sedang menertawakan saya saat ini karena merasa saya cuma anak muda yang menjadi Direktur karena orang tua saya,” kalimat terakhir Andre tersebut tampak membuat semua orang di ruangan tersebut terkejut.
Ekspresi mereka perlahan berubah menjadi sangat tegang seperti anak kecil yang ketahuan mengambil sesuatu diam-diam,
“Kalian tidak pantas menertawakan saya, kalian juga tidak pantas menjadi direktur disini!! Karena beberapa dari kalian, yang cuma bisa modal tanda tangan saja, perusahaan ini merugi setiap bulannya. TAU KALIAN SEMUA?!!”
Dia sedikit berimajinasi saat di mana dirinya akan membentak orang-orang di depannya sekarang ini dengan kata-kata kasar yang hanya ada dalam pikirannya saat ini.
“Besok, siapkan laporan terbaik kalian dan rencana kalian setahun ke depan untuk memajukan perusahaan. Kalau tidak memuaskan, jangan salahkan saya kalau kalian dicopot dari jabatan kalian,” Andre menutup sesi perkenalannya dengan ancaman sebelum akhirnya berjalan ke luar dari ruangan tersebut.
“Kenapa lo ngak langsung ngumumin projek yang lu rencanakan saja? Dari pada lu buang-buang tenaga kan buar marahin mereka,” Brandon bertanya saat mereka sedang berada di dalam lift; yang kebetulan hanya ada mereka berdua.
“Great things in buisness are never done by one person. They’re done by team of people. Pernah dengar?”
“Steve Jobs?”
“Yap, correct,” Andre tersenyum, “Meski gua punya ide sebrilian apapun, tetap saja butuh bantuan semua orang untuk merealisasikannya menjadi kenyataan.
Dan gua percaya, kalau di antara mereka tadi itu ada yang punya potensi yang bagus. Makanya gua mau lihat dulu pemikiran mereka seperti apa, supaya gua tahu harus berbuat apa ke depannya. Menyusaikan ritme lah singkatnya,” jelasnya.
“Lo yakin perusahaan ini bisa selamat dari jurang krisis?”
“Semua bisa terjadi di dunia ini, tergantung strategi kita nanti bagaimana. Apalagi, perusahaan ini basic awalnya adalah IoT, sehingga punya potensi besar di kemudian hari.
Gua rasa, ayah gua berharap besar dengan perusahaan ini. Tinggal bagaimana strategi kita sekarang untuk menghadapi produk dari luar yang notabene memang sudah menang brand, dan kualitas,”
“Jadi?”
“Ya kita harus sedikit ekstra, alias burn cash sedikit di awal-awal untuk pemasaran yang masif; peningkatan kualitas material, design, UI; dan yang terpenting adalah price yang kompetitif.
Bisa very cheap di awal untuk mendongkrak nama kita, baru setelahnya kita naikkan harga setelah kepercayaan orang terhadap kita meningkat,”
“Tapi itu kan butuh waktu lama, apa ngak terlalu berisiko?”
“Sekitar 3 – 5 tahun mungkin kalau ngak ada hambatan. Tapi kan memang semua harus ada risikonya, dan saat ini gua belum kepikiran ide lain sih. Makanya gua minta mereka kasih ide, supaya ada yang bisa gua manfaatkan nantinya,”
“Dasar. Lo sudah liat belum artikel terbaru lu dengan Yunita?”
“Hah? Ada lagi?” Andre sedikit terkejut namun tiba-tiba teringat apa yang dia dan Yunita lakukan kemarin malam, “Biar gua tebak, pasti soal gua dan Yunita makan di pinggir jalan kan?”
“Yap, lu sengaja ya?”
“Kagak, itu memang karena gua laper dan lagi ingin makan di luar saja,” Andre menjawab dengan santai.
Dia sedikit heran, karena entah kenapa, popularitasnya dan juga Yunita meningkat cukup tajam akhir-akhir ini. Pada awalnya, dia merasa kalau hal itu cukup bagus. Selain bisa menjaga nama Yunita agar tetap hype dan terus diingat, dia juga diuntungkan karena bisa membuatnya sedikit dikenal oleh para calon mitra bisnisnya ke depan.
__ADS_1
Namun, tetap saja dia tidak bisa mengatakan kalau dia tidak risih dengan perhatian berlebih yang tertuju ke arahnya dan juga Yunita.
Entah cuma kebetulan karena media online yang ingin meningkatkan jumlah kliknya, atau memang ada seseorang yang sengaja melakukannya dengan tujuan tertentu. Yang jelas, dia berharap agar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi nanti.