Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 6. Ruang BP


__ADS_3

“Dasar licik lu berdua ya, bisa-bisanya cuma gua yang bonyok disini,” Dimas menggerutu dengan suara pelan ketika guru BK/BP sedang memeriksa Rico dan teman-temannya.


Andre sempat lupa kalo Dimas tidak menyelesaikan kursus bela diri saat SD dulu karena mengeluh sakit badan setiap pulang latihan.


“Makanya, berantem itu pake otak, bukan pake otot,” ejek Brandon,


"Awas lu ya ******, lihat aja nanti balasan gua," ucap Dimas dengan tatapan penuh tekad untuk membalas Brandon.


Andre dan Brandon berusaha menahan diri untuk tidak kelepasan menertawai Dimas. Apalagi saat ini mereka sedang berada di neraka; setidaknya seperti itulah Dimas menggambarkannya. Ini juga merupakan pengalaman pertama kali bagi Andre masuk ke yang namanya ruang BP.


Tidak berselang lama. Ketika mereka sedang ditanya-tanyai oleh salah satu guru di ruangan tersebut, suara pintu yang seperti di baru saja di dobrak mengejutkan seisi ruangan tersebut; yang ternyata adalah wali kelas mereka. Pak Panji, yang juga salah satu guru Bahasa Inggris mereka.


Agak tergesa-gesa, Pak Panji menaruh buku yang sedang di tentengnya; lalu menghampiri Andre, Dimas dan Brandon yang sebenarnya mereka sedang diinterogasi. Dengan wajah pucat, Pak Panji memeriksa keadaan Andre dengan sangat mendetail seperti seorang dokter.


“Pak Panji, ada keperluan apa kesini? Ini kan urusannya BK, bukan wali kelas,” ujar guru yang sedang memeriksa mereka tadi,


“Kenapa tidak? Saya kan walinya selama dia bersekolah disini, dan juga...” Pak panji terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya, dan sebagai gantinya malah berbisik ke guru yang tadi.


Raut wajah guru yang menginterogasi mereka sedikit berubah menjadi agak cemberut, tongkat kayu; yang seukuran penggaris besar sepanjang kurang lebih 60 cm di tangannya, kini diturunkan. Tidak seperti tadi, selalu tegak dan siap memukul siapa saja yang melawan.


“Tetap saja, tidak bisa begitu,” melihat senjata rahasianya saja tampaknya tidak berhasil. Sekarang, mau tidak mau namanya sebagai siswa yang tidak pernah di panggil orang tuanya ke BK harus tercoreng, “Kalian berlima, panggil orang tua kalian besok. Sedangkan, kalian bertiga...” guru BK tersebut berdeham pelan sebelum melanjutkan dengan suara yang tidak segalak saat berbicara ke Rico dan kawanannya, “Kalian buat surat perjanjian, ditandatangani orang tua masing-masing, bukan orang lain!”.


“Terima kasih pak,” ucap Andre sambil sedikit membungkuk kepada guru BP yang sekarang dia tandai menjadi guru killer dalam pikirannya.


Di luar, mereka bertiga juga tak lupa berpamitan ke Pak Panji; yang tampaknya juga sedang sibuk karena hanya membalas dengan lambaian tangan sembari berjalan pergi.


Ketika mereka dalam perjalanan kembali ke kelas, tidak disangka-sangka, Yunita ternyata menunggu mereka bertiga; atau mungkin lebih tepatnya menunggu Andre. Dia sendiri sebenarnya cukup terkejut dengan hal itu.

__ADS_1


“Haduh, malas gua di sini jadi nyamuk doang, balik yok,” ujar Dimas sembari merangkul pundak Brandon,


“Heh, ingat lo ya tradisi kita,” seru Brandon,


“Iya, iya, iya, sono lu. Jangan langsung balik ke kelas lu, tunggu gua bentar di perpus,” balasnya, Brandon hanya membalas ok lewat bahasa tangan.


“Tradisi apaan?” Yunita bertanya dengan wajah penasaran.


Tidak mau ditangkap oleh guru BP lagi karena pacaran di saat jam pelajaran, Andre mengajak Yunita untuk berjalan ke kantin sambil mengobrol; dan juga sekalian untuk makan siang karena dirinya belum makan sama sekali akibat harus masuk ke ruangan BP sampai jam istirahat selesai.


“Pajak Jadian,”


“Oh, kirain apaan,”


“Eh, kamu kenapa masih di luar?,” Andre bertanya.


“Ah tadi sebenarnya ulangan, cuma aku dapat freepass, karena nilaiku dapat 100 pas excersisenya kemarin,”


“Congrats ya,” ucapnya sembari mengelus kepala Yunita dengan lembut. Tidak mengherankan juga sih sebenarnya, apalagi Yunita memang dapat juara 2 waktu di singapura, yang mana orang dengan IQ pas-pasan tentu akan cukup sulit meraih gelar tersebut.


Saat sampai di depan sebuah mesin seperti TV berukuran sangat besar di kantin, dia mengeluarkan kartu makan, menempelkannya di mesin tersebut dan mengambil 2 buah voucher makan untuk dia dan Yunita. Kantin di SMA M bisa dibilang cukup elit karena mengikuti gaya beberapa Universitas kenamaan di luar negeri. Mereka akan diberi sebuah kartu khusus yang akan digunakan untuk mengambil makanan tergantung dari paket yang mereka pilih.


Perbedaannya, di SMA M kartu ini lebih mirip seperti kartu ATM yang bisa di top up sesuai dengan kemauan pemiliknya dan tidak akan habis masa berlakunya. Setelah itu, mereka tinggal memilih paket menu yang ada; yang biasanya jumlah setiap paketnya terbatas.


Dan, selesai memilih, mereka akan mendapatkan voucher yang akan ditukar ke petugas kantin. Kelebihannya lagi, selama jam istirahat satu orang cuma bisa mengambil maksimal 2 paket. Jadi, kalo mau tambah lebih, maka harus menunggu seusai jam istirahat kalau ada paket yang tersedia.


“Jadi, btw, mulai hari ini kita go public nih?” saat tengah makan, pertanyaan Yunita itu membuat Andre baru tersadar kalau tanpa sengaja tadi dia mengungkapkan kalau mereka pacaran ke satu sekolah.

__ADS_1


“Alah mak, lupa aku, terus gimana dong? Udah terlanjur, kamu ngak apa-apa kan?”


Andre menepok jidatnya dan bertanya kepada Yunita, karena dia sangat mengerti dengan apa yang namanya privasi. Dan, dengan pengakuannya barusan, maka beberapa hari ke depan mungkin akan cukup berat buat Yunita. Harus digosipkan sana sini. Menahan omongan para penggosip itu menurutnya bukan perkara mudah. Dia sendiri saja, butuh waktu 2 tahun lebih di SMP untuk mengabaikan perkataan orang-orang seperti itu.


“Ngak apa-apa kok. Ternyata kamu juga punya sisi itu ya,”


“Sisi apaan?”


“Teledor dan agak konyol. Padahal kalo ngeliatin kamu pas di Singapura waktu itu kaya cool banget, berkarisma gitu,”


Melihat Yunita yang berbicara sambil menatapnya terus menerus, Andre kemudian menjahili Yunita dengan mencuil sedikit mayones di bakinya, lalu mengoleskannya di wajah Yunita.


“Ihhh," Yunita menjerit, "Kutarik ah yang bilang kamu cool dan berkarisma,” Yunita tampaknya agak sedikit kesal, namun Andre hanya menertawakannya. Karena, kalau dia tidak melakukan hal itu, mungkin saja dia akan mencium Yunita yang menatapnya seperti tadi.


“Semua ada waktu dan tempatnya. Bagi orang-orang yang cuma kenal sama aku dari sosial media bagi mereka mungkin akan seperti itu. Karena memang aku jarang punya teman yang cukup dekat, bisa berbagi cerita baik itu sedih ataupun suka. Temanku bahkan cuma ada 3, Dimas, Brandon dan satu lagi Gion yang pindah ke luar negeri.


Tapi, kalo kamu kenal aku secara langsung. Ya seperti yang kamu bilang tadi, Teledor dan agak konyol, itu belum seberapa. Kalo kamu masuk ke circle ku dengan 2 orang bawel tadi itu," Andre mendengus, "Ya akan lebih parah lagi. Tapi, kalau sudah harus pergi ke pesta formal, ya ngak mungkin dong aku bersikap kaya tadi, ya kan?” dia malah merasa kalau saat ini sedang curhat kepada Yunita.


“Jadi di depan semua kamera itu akting?”


“Ya, sometime,” jawabnya.


Ketika melihat jam tangannya yang menunjukkan sudah mau masuk jam pelajaran ke 11, dia menyudahi obrolan itu dengan memperlihatkan jam berapa sekarang. Dan, sama seperti dirinya, Yunita tampak langsung terburu-buru melahap makanan di depannya.


Andre tersenyum, namun juga sedikit khawatir. Apakah Yunita bisa mengacuhkan para penggosip itu? Apalagi, saat memikirkan bagaimana ngerinya cewek-cewek sosialita kalo sedang bergosip. Terkadang dia sampai merinding membayangkan hal itu.


Namun satu hal yang pasti, dia akan terus berusaha berada di samping Yunita setiap dibutuhkan, bagaimanapun caranya.

__ADS_1


__ADS_2