
Ding Dong... Bel pintu apartemennya berbunyi, memecah keheningan saat tiga sekawan itu sedang fokus dengan urusan mereka masing; Andre yang sedang berusaha menenangkan pikirannya, Dimas yang sibuk dengan handphonenya, dan Brandon yang sibuk dengan laptopnya.
“Pasti Yunita. Bukain gih, gua lagi mager, pusing,” perintah Andre sambil melirik ke arah Dimas.
“Siap pak Bos,” Dimas menjawab dengan sedikit meledek sebelum beranjak dari tempat duduknya.
“Ada untungnya juga punya teman dablek kaya dia kadang-kadang,”
“Hmm, jadi ada pencair suasana. Walaupun agak ngeselin kadang-kadang kekonyolannya itu,” Andre setuju dengan perkataan Brandon yang satu ini.
Karena memang, Dimas dengan imagenya yang playboy dan agak konyol, selalu saja ada moment dari tingkahnya yang membuat mereka tertawa. Bisa dibilang, diantara mereka bertiga, yang menjadi mood booster paling sering adalah Dimas.
“Hadeh, kalian bertiga ya, mengundang orang. Tapi masa tamunya yang beli makanannya,” baru saja masuk, Yunita langsung menggerutu sambil membawa beberapa kotak pizza dan meletakkannya meja depan Andre dan Brandon. Sementara Dimas dan Stefani terlihat menyusul tak lama kemudian dengan beberapa kotak makanan; yang dari luarnya sudah kentara kalo dari K*C.
Yunita yang sudah kelelahan akibat menenteng belanjaannya tersebut di loby tadi, duduk di samping Andre setelah mengambil sekaleng coca-cola dari dalam kantong plastik yang dibawa Stefani tadi.
“Tuh Ndre, masa lu nyuh cewek lu buat beli makanan. Padahal dia kan baru pulang syuting. Pasti capeklah, harusnya itu....”
“Udah, lu jangan sok bijak lu. Tadi gua minta tolong lu sama Dimas, pada kagak mau semua kan? Balas budi sedikit kek, kan biaya liburan lu semua udah gua tanggung,” Andre langsung memotong perkataan Brandon dan mengomelinya.
“Oke, next time, deal?” jawaban Dimas dan gerak geriknya yang terlihat meragukan membuat Andre sedikit tidak yakin kalau orang ini akan menepati kata-katanya. Andre kemudian melirik ke arah Brandon dan tersenyum saat melihat Brandon mengedipkan sebelah matanya sambil menggoyangkan handphone miliknya. Dia langsung paham dengan maksud Brandon.
“Ok, Deal. Liburan berikutnya lu yang bayar,” Andre menjawab.
“Ok, siapa takut,” Dimas dengan percaya dirinya mengatakan hal tersebut tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi di belakangnya.
“Kalian itu ngak ada hari tanpa cek cok ya? Kok bisa-bisanya masih pada solid kaya gini?” tanya Yunita yang dari tadi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Andre, Dimas, dan juga Brandon.
“Itulah hon, aku sendiri juga heran. Kenapa ya aku bisa terjebak sama mereka-mereka ini. Bikin pusing aja tiap hari, ckck” jawab Andre dengan begitu pedenya dan sedikit menggelengkan kepalanya.
Brandon dan Dimas yang tidak terima dengan perkataan Andre tersebut, sontak saja langsung melempari Andre dengan bantal yang ada di sofa, “Ngaur aja lu,” ucap Brandon.
(Ding Dong...) Bel yang lagi-lagi berbunyi menghentikan Andre, Dimas, dan Brandon yang akan melakukan perang bantal.
“Tamu spesial kita sudah datang kayanya,” ucap Andre dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Dia langsung mengode Dimas dengan matanya untuk segera pergi menyambut orang yang dia sebut ‘tamu spesial’. Tanpa menunda-nunda, Dimas langsung menaruh bantal di tangannya dan pergi berjalan ke arah pintu apartemen Andre.
“LOH!!! SIAPA YANG NGUNDANG BOCIL SATU INI WOI?!!” reaksi Dimas seperti yang di duga Dimas, langsung berguyon.
__ADS_1
“ENAK AJA LU YA,” suara seorang perempuan dengan nada yang agak meninggi membalas Dimas.
“AW!! AW!! Parah lu ndre, ngak bilang kalo satu nenek lampir datang,” Dimas yang tadinya berjalan dengan tersenyum saat menyambut ‘tamu spesial’ mereka, kembali dengan berjalan sambil mengelus-mengelus pantatnya.
“Wah, emang ngak pernah berubah kebiasaan teman kakak satu ini ya? Heran aku,” seorang perempuan muncul dari balik tempat yang terhalang dinding sambil mengomel setelah diganggu Dimas tadi.
Parasnya terbilang sangat cantik; kulit seputih susu, rambut yang dibiarkan tergerai kebelakang, hidung yang agak sedikit mancung, mata yang tidak terlalu terbuka lebar dan juga tidak terlalu sipit-sipit amat membuat Yunita mengagumi apa yang dilihatnya sekarang.
“Ngak kaya aku kan, cil?” tanya Brandon yang sekarang memasang wajah terbaiknya di depan ‘tamu spesial’ Andre tersebut.
“What? Bocil?” sahut perempuan tersebut, sorotan matanya yang seperti ingin melahap orang yang tadinya menatap Dimas sekarang mengarah ke Brandon.
“Cecilia.. kusingkat cil, ngambil tengahannya,” Brandon membalas perkataan Cecilia, senyuman di wajahnya sekarang hilang. Dia bahkan menatap Andre sambil mengatakan ‘help me’ lewat matanya.
“Sudah, biarin aja mereka berdua,” ucap Andre sambil memegang lengan Cecilia, “Sini, kenalan dulu sama...”
“Yunita kan? Pacar kakak?” Cecilia langsung melepaskan diri dan kemudian duduk di samping kiri Yunita, “Jadi, kak Yunita sudah pasti jadi kakak iparku kan?” dia bertanya dengan tersenyum sambil menatap Yunita.
Mendengar kata ‘kakak’, Yunita menjadi sedikit lega dan merasa agak sedikit malu karena sedikit curiga kalau Andre mempunyai cewek lain. Yah, dari awal sih dia sudah sedikit menduga kalo Cecilia adalah keluarga Andre apalagi saat melihat kemiripan wajahnya dengan Ibunya Andre. Akan tetapi, sepanjang yang dia tahu, keluarga Andre tidak pernah menyebut kalo Andre mempunyai seorang adik, sehingga dirinya sempat curiga tadi.
“Ssh, jangan gitu ah,” Yunita menegur Andre dan kemudian membalas pelukan Yunita, “Masa kamu tega marah sama adekmu yang imut begini?” ucap Yunita sambil mengedipkan sebelah matanya saat menatap Cecilia.
“Tuh kak, dengerin tuh,” ucap Cecilia. Setelah mendapatkan dukungan Yunita, dia mengejek Andre sambil menjulurkan lidahnya sedikit.
Melihat apa yang terjadi di depan matanya, Andre tidak bisa percaya kemampuan menjilat adiknya sudah meningkat drastis semenjak terakhir kali mereka bertemu. Dan, karena kepalanya sudah cukup penat, dia memilih untuk tidak terlalu meladeni perkataan Cecilia untuk kali ini.
Tidak butuh waktu lama; kurang dari sejam, Yunita, Cecilia dan juga Stefani terlihat semakin akrab. Andre yang awalnya ingin menjelaskan kenapa dia mengambil kelas Akselerasi, pada akhirnya membatalkan rencananya tersebut dan sibuk bermain game MOBA bersama Dimas dan Brandon.
Sekitaran jam setengah 12 malam, mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Terkecuali Cecilia, yang memilih untuk menginap di apartemen kakaknya. Dan, Berhubung tinggal selingkungan dengan Yunita, Andre menyempatkan waktu untuk berjalan menemani Yunita yang letak tower apartemennya tidak terlalu jauh.
“Jadi, ada yang kamu mau jelaskan? Kaya kenapa kamu ngak kasih tau aku soal kelas akselerasi mungkin?” tanya Yunita setelah mereka berdua berjalan beberapa menit.
“Ah itu karena aku pengen bisa selesai lebih cepat, supaya masa depan kita terjamin. Semakin cepat aku selesai, maka semakin cepat juga aku bisa melindungi kamu sepenuhnya,”
“Hmm, begitu,”
“Loh, kamu ngak marah?”
__ADS_1
“Marah? Ngak. Lebih ke arah kecewa aja sih, karena kamu ngak jujur dari awal. Cuma ya apa boleh buat, itu keputusanmu. Meskipun aku pengennya kita tamat sama-sama, tapi aku yakin kalo kamu punya alasan tersendiri,”
“Syukurlah kalau begitu,” Andre bernafas lega setelah melihat reaksi Yunita yang tidak seperti dia pikirkan.
“Tapi, awas ya kalau matamu jadi nakal, lirik kanan kiri,” Yunita mengancam.
Di saat yang sama, Andre melihat seseorang pria dengan pakaian serba hitam; menggunakan jaket dengan hoodie; memakai masker dan mempunyai gerakan mencurigakan yang berjalan menuju ke arah mereka. Apalagi kedua tangan pria tersebut berada dalam kantong jaketnya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Tak sampai disitu, sedari tadi, Andre sudah menyadari kalo gerak geriknya sedang di awasi dari belakang saat mereka berjalan tadi. Tidak mau membuat Yunita menjadi panik, dia terus berusaha bersikap tenang namun tetap siaga penuh kalo-kalo kedua orang ini melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
Menyadari orang di belakangnya semakin mendekat, tangannya sudah bersiaga untuk menghajar orang di belakangnya ini. Dan saat menangkap orang yang berjalan dari depan seperti sedang memberi kode dengan gerakan matanya, Andre langsung berbalik. Betul saja apa yang dicurigainya, orang dibelakangnya tersebut ternyata sudah siap menusuknya dengak pisau yang ada di tangannya.
Dengan cekatan, dia langsung menghindar; memukul pergelangan tangan pria tersebut lalu menendangnya tepat dibagian dadanya sampai pria tersebut terjatuh.
“NDRE!!!” mendengar Yunita yang berteriak, Andre langsung tersadar kalau masih ada satu orang lagi. Ketika dia berbalik, dia melihat pria yang berjalan dari depan tadi sudah siaga dengan pisau ditangannya juga dan sedang berlari mendekati Yunita.
Menyadari waktunya mungkin tidak cukup untuk melawan balik. Dengan sekuat tenaga, Andre berlari menghampiri Yunita dan memeluknya. Di saat yang sama, dia merasa sesuatu menusuk pinggangnya. Beberapa detik awal, dia tidak merasakan apa-apa; 2 orang yang mencurigakan tadi juga terlihat berlari pergi meninggalkan dia dan Yunita.
Baru setelah menghela nafasnya, rasa sakit yang amat perih terasa bagian pinggang dan perutnya. Rasa sakit yang teramat parah tersebut membuat dia kehilangan tenaga untuk tetap berdiri dan akhirnya jatuh tersungkur di pelukan Yunita yang sudah matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
“TOLONG!!!” Yunita berteriak cukup keras walaupun sedang menangis tersedu. Dia juga dengan cekatan mengambil handphonenya dari dalam kantung sweeternya dan menelpon ambulans.
Tidak lama setelah Yunita yang berteriak minta tolong, seorang satpam—yang mungkin mendengar teriakan Yunita di tengah malam tadi—datang menghampiri mereka berdua. Dalam keadaan setengah sadar, Andre melihat satpam tersebut mulai berbicara di walkie talkienya.
“Sudah telpon ambulans dek?” satpam tersebut bertanya sembari mengeluarkan sapu tangan; menaruhnya di pinggang tempat Andre tertusuk dan menekannya cukup kuat sampai-sampai Andre merintih akibat rasa sakit yang terasa semakin hebat, “Tekan disini,” ujar satpam tersebut. Yunita melakukan apa yang diperintahkan satpam tersebut dengan segera meski tangannya sedikit gemetaran.
Sementara semua hal itu terjadi di sekitar mereka, Andre bisa merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Dia juga mulai merasa kedinginan; kepalanya terasa pusing; padangannya mulai mengabur. Dan tak lama berselang—saat dirinya hampir kehilangan kesadaran—dia bisa mendengar bunyi sirene ambulans semakin kencang setiap detiknya.
“Jangan tidur kamu Ndre, p.. please,”
Meski Andre ingin mengikuti perkataan Yunita, tetapi tubuhnya tidak mau menuruti pikirannya. Perlahan-lahan, matanya mulai terasa sangat berat sampai di tidak bisa menahan matanya untuk tetap terbuka. Selema beberapa saat terakhir, dia bisa mendegar riuh di sekitarnya seperti suara sirene yang begitu keras; suara pintu mobil yang dibuka; perawat yang sibuk berbicara; Yunita yang menangis semakin kencang.
‘Is This my last moment?’ ucapnya dalam hati ketika merasakan tubuhnya seperti sedang diangkat. Setelahnya, dia tidak bisa merasakan apa=apa lagi, suara-suara yang di dengarnya tadi terasa semakin kecil sampai akhirnya dia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.
__ADS_1