Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC II : CHAPTER VI


__ADS_3

“Akhirnya bisa ngedate berdua juga. Kapan lagi kan bisa kaya gini. Kalo di Indo, bisa-bisa besok udah jadi gosip,” ujar Andre; yang sebenarnya itu adalah sebuah keluhan. Karena masalah utama mereka berdua adalah waktu bersama.


Meskipun memang, mereka berdua masih rajin saling mengirim pesan singkat ataupun telpon sebagai gantinya. Tetap saja, rasanya sangat berbeda dengan menghabiskan waktu berdua langsung. Itulah kenapa Andre menjadi sedikit senang saat gosip yang membuat dirinya dan Yunita kerepotan selama seminggu belakangan, karena dia bisa menghabiskan waktu berduaan dengan Yunita.


“Iya, untung aja bukan projekku kemarin bukan sistem kejar tayang. Jadi masih bisa penyesuaian shedule dulu,” ucap Yunita.yang dalam hatinya sebenarnya sedang memikirkan berapa kerugian yang sudah di sebabkan oleh skandalnya ini. Komen di IG-nya pun sekarang kebanyakan adalah hate comment; yang berani dia tebak kalau semua itu pasti dari fans militan Christofer.


“Tapi, kamu ngak apa-apa soal gosip pertunangan kita berdua?” Andre bertanya kepada Yunita sambil menggenggam tangannya.


Meskipun dia senang dengan soal pertunangannya dengan Yunita yang tiba-tiba diumumkan—rasanya seperti sesuatu yang spesial—namun baginya pendapat Yunita lebih penting. Dia hanya tidak mau mereka berdua hidup dalam paksaan akibat tekanan gosip dan orang luar karena ini menyangkut kehidupan mereka berdua.


Yunita terlihat menghela nafas, membuat Andre menjadi sedikit agak gugup. Tidak bisa dipungkiri, kalo dia sedikit takut mendengar Yunita akan mengatakan keberatan dengan pertunangan yang tiba-tiba ini.


“Ngak kok,” ucap Yunita.


“Hah?” pikiran Andre seperti komputer yang mengalami error sesaat akibat saking gugupnya.


“Aku bilang ngak, sayang,” Yunita mengulangi jawabannya tadi,


“Ke.. kenapa?”


“Hmm, kenapa ya. Mungkin karena aku sadar kalo selama ini pemikiranku terlalu idealis, padahal selama ini nyatanya aku hanya bergantung ke keluarga kamu,”


“Maksudnya?”


“Aku sudah tahu kok. Kalo selama ini Ibu kamu banyak ngebantu aku supaya dapat peran dalam sinetron, web drama atau film,”


“K.. Kamu tahu dari mana?”


“Aku ngak sebodoh itu kali honey. Setiap project yang aku bintangi selalu ada saja sponsor dari Ibu kamu, baik itu besar ataupun kecil,”

__ADS_1


“Jadi, kamu merasa ngak enak begitu?”


“Tentu ngak, malahan aku bersyukur dan ingin melakukan yang terbaik untuk membalas semuanya. Biar ibumu ngak rugi ngesponsorin aku selama ini,”


Melihat Yunita yang menjawab dengan tersenyum seperti itu, membuat Andre merasa lega. Dari awal, dia sebenarnya sudah memperingatkan Ibunya untuk tidak terlalu terang-terangan membantu Yunita agar tidak ketahuan. Namun, ibunya mengindahkan hal itu dan membantu Yunita secara gamblang, seolah ingin mengatakan kalau Yunita adalah anak emasnya dan harus sangat di perhatikan.


“Bagaimana kalau kita pindah tempat?” ucap Andre.


Yunita terlihat kebingungan dengan maksud Andre. Dan sebelum Yunita sempat mengatakan sesuatu, Andre sudah memanggil pelayan, meminta tagihan dan membayarnya dengan black card yang tadi dipakainya untuk berbelanja.


“Kita mau kemana?” tanya Yunita ketika Andre memegang tangannya dan  mengajaknya untuk beranjak dari tempat duduknya.


“Sudah, ikut saja,” jawab Andre.


***


“Hi, can i ask some question?” ucap Andre kepada salah satu resepsionis yang ada di depannya.


“Sure, is there anything you need sir?”


“Can i book presidential suite? I hear that’s the best room on this hotel,” permintaan Andre tersebut mengundang keraguan dari wajah resepsionis yang ada di meja resepsionis. Walau tidak terlalu kentara, namun tatapan mata mereka tampak seperti mengatakan, “orang ini bercanda kali ya?”


“Okay, Wait a second. Let me check it first,” ujar resepsionis tersebut.


Tidak salah kalau pelayanan disini di bilang yang terbaik, pegawainya pandai untuk bersikap profesional. Walaupun tatapan mereka menyiratkan keraguan soal kondisi dompetnya, namun mereka tetap melayani dengan baik, “for how many nights sir?” ujar si resepsionis tadi kembali.


“5 days” sekali lagi perkataan Andre tersebut mengundang tatapan keraguan dari resepsionis yang berdiri di depannya. Hingga akhirnya dia mengeluarkan kartu black card milik ibunya dan membuat semuanya terdiam. Mereka semua bahkan sampai tidak bisa tersenyum lagi saat memproses permintaannya.


Setelah menerima kartu kamarnya yang baru, dia menyembunyikan kartu tersebut di dalam saku mantelnya sebelum menghampiri Yunita.

__ADS_1


“Lama amat,” Yunita menggerutu begitu Andre kembali,


“Sorry, yuk,” ucap Andre. Dia kemudian menjulurkan tangannya yang langsung dipegang oleh Yunita.


Di dalam lift, Yunita terus bertanya mereka akan kemana setelah melihat Andre menekan lantai paling atas. Andre tidak menjawab tentunya, karena memang niatnya untuk memberi sedikit kejutan. Saat dalam lift, sebelum sampai ke kamar barunya, Andre menutup mata Yunita dengan sapu tangannya.


“Apaan sih ah, jangan ngadih-ngadih deh kamu,” Yunita mengomel, namun Andre tetap menutup mata Yunita dan melarangnya untuk membuka penutup mata tersebut.


Untuk ke lantai di mana kamar paling top berada—yang mungkin jarang dihuni karena harganya yang super mahal dimana hanya artis atau pengusaha yang biasanya menginap di kamar tersebut—mereka harus menempelkan kartu kamar ke sebuah scanner yang ada di dalam lift.


Keluar dari dalam lift, Andre menuntun Yunita berjalan sembari mencari kamar nomor 3002. Setelah sampai di depa kamarnya, Andre mengeluarkan kartu kamarnya dan membuka kamar tersebut; menuntun Yunita masuk dan berjalan ke atas balkon pribadi yang cukup luas dengan kolam pribadi tentunya.


“Now, open your eyes,” ucap Andre setelah mereka berada di tepian balkon.


Yunita tampak tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan mengecup bibir Andre yang sedang lengah karena menikmati pemadangan malam hari kota Seoul yang selama ini sering dibicarakan dan diidamkan oleh banyak orang, “Thanks ya,” ucap Yunita.


Andre cukup kaget dengan Yunita yang tiba-tiba nyosor tanpa mengatakan apapun. Tidak terima, dia kemudian meraih pinggang Yunita ke dalam pelukannya.


“K.. KA.. kamu mau ngapain?” Yunita menjadi sedikit gelagapan karena cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Andre barusan, wajahnya agak memerah; angin malam yang dingin menyapu wajahnya ditambah lagi perlakuan Andre barusan membuat jantungnya berdetak cukup cepat.


“Kamu ya, yang benar dong kalo mau adegan kiss,” ujar Andre sambil menarik Yunita sampai wajah mereka berdua cuma berjarak beberapa centi saja.


Untuk sejenak, saat saling menatap satu sama lain begitu dekat, Andre bisa merasakan detak jantung Yunita yang berdetak begitu cepat, wajah yang semakin memerah, gerakan mata yang tidak bisa diam, hembusan nafas Yunita yang terasa hangat saat menyentuh wajahnya. Dan yang paling menarik perhatiannya adalah bibir Yunita, yang terlihat begitu menggoda, mulai dari bentuknya, warna lipstiknya yang terlihat natural; tidak terlalu tebal, dan terlihat pas di warna kulitnya yang putih bersih.


“Ka.. Kamu ngapain…”


Sebelum Yunita menyelesaikan kalimatnya, Andre yang sudah tidak tahan lagi kemudian mencium bibir Yunita berbarengan dengan tangan kananya yang memeluk Yunita semakin erat sementara tangan kirinya mengelus kepala bagian belakang Yunita.


Yunita, awalnya tampak terkejut, namun lama-lama menikmati permainan Andre; hanya pasrah dan memejamkan matanya. Apalagi, suasana malam itu rasanya sangat pas, bagaikan dalam drama yang sering di tonton olehnya.

__ADS_1


__ADS_2