Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
CH 53


__ADS_3

Malam lusanya, sesesuai dengan kesepakatan. Mereka berenam datang 2 jam lebih awal demi menghindari kemacetan dan berkumpul di salah satu restoran yang cukup ramai pengunjung dan letaknya tak jauh dari gedung konser, sekitar 200 meter sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Andre, Yunita dan Cecilia—yang kebetulan berangkat bersama dari rumah Andre—memilih pakaian yang tidak terlalu mencolok; paling hanya tas mahal Yunita saja yang paling mencolok, itu pun kalau orang tersebut tas tersebut kw atau tidak.


Yunita juga memilih memakai aksesoris kaca mata tanpa lensa untuk menyamarkan penampilannya. Rambutnya yang biasanya blonde, khusus untuk hari ini dibuat lurus dan tergerai bebas di sisi kiri agar meminamalisir kemungkinan orang akan mengenalinya nanti.


Stefani dan Brandon juga sama. Brandon hanya memakai kaos, rompi yang terbuat dari wol dan berbentuk jaket, dan celana jeans berwarna krem. Sedangkan Stefani  sendiri hanya memakai kaos berwarna biru laut dengan sweter berwarna coklat muda di luarnya dan celana jeans berwarna biru gelap.


Yang paling nyentrik dari mereka semua—dan membuat mereka malu—mungkin adalah Dimas; yang memakai kemeja, jaket, dan celana kain berwarna pink; kaca mata hitam dan beberapa pernak-pernik di tangan dan lehernya.


“Nih anak goblok, sudah ngak waras, atau memang ngak punya otak? Bukannya jelas-jelas di group sudah di bilang ‘pakai pakaian yang santai dan tidak mencolok’ Ya kan?” Andre dan Brandon berbisik sambil memalingkan muka dan tidak ingin menatap teman mereka yang satu itu. Sama halnya dengan Yunita, Cecilia dan Stefani yang lebih memilih untuk mengacuhkan Dimas.


“Moodnya mungkin lagi bagus, biarin saja. Nanti dia duduk paling ujung sama Stefani, setuju?” Brandon memberikan masukan, dan langsung disetujui oleh Andre tanpa berpikir sama sekali.


“Kayaknya fansmu kepengen foto sama kamu deh, ladenin dulu lah itu, kasian mereka nungguin dari tadi,” Andre menyenggol lengan Yunita; yang terlihat sedang asyik mengobrol dengan Stefani, dan mengingatkan soal keberadaan orang-orang yang sudah sedari tadi terus melirik ke arah mereka.


Risiko menjadi artis populer, meski sudah berdandan begitu berbeda dengan penampilan biasanya, tetap saja masih ada beberapa fans yang cukup jeli dan bisa mengenali penyamaran Yunita tersebut.


“Dah, biarin saja, nanti kalau kita mau jalan dan mereka minta foto, pasti akan ku layani kok,” Yunita mendekat ke Andre dan menjawabnya, agar tidak di dengar oleh orang di sekitar mereka.


Yunita sebenarnya tak tega membiarkan orang-orang tersebut berdiri capek-capek seperti itu hanya demi tanda tangan atau foto bareng. Akan tetapi, dia sudah pernah mengalami beberapa kali hal seperti ini. Ketika dia menghampiri dan memenuhi permintaan mereka, maka akan semakin banyak orang yang berbondong juga ingin melakukan hal yang sama.


Dia tentu tidak mau kalo akhirnya niat baiknya malam memicu keramaian yang bisa menganggu orang lain. Hal itu juga sejalan dengan apa yang Kak Alika pernah katakan: “Rendah hati memang baik, tapi tetap harus bisa tahu kapan harus mengacuhkan sesuatu demi kebaikan bersama.”


Kata-kata tersebut lah yang mengubahnya dari orang yang tidak tegaan; selalu meladeni setiap ada penggemarnya yang menunggunya, menjadi sedikit acuh tak acuh. Dalam artian, tahu kapan bisa meladeni fansnya, dan kapan dia harus bersikap tegas dengan mengacuhkan mereka.


Sekitar sejam sebelum konser dimulai, mereka berenam beranjak dari restoran tempat mereka menunggu dan berjalan kaki ke gedung konser. Terbukti, ide Andre dan juga Brandon untuk datang lebih awal cukup tepat, karena begitu mereka keluar ke jalan raya, mereka langsung disambut dengan hiruk pikuk kemacetan kota Jakarta pada malam hari.


Ditambah lagi, semakin di perparah dengan adanya konser yang akan di selenggarakan, sehingga kerumunan orang-orang dan kedaraan yang ingin masuk ke dalam lokasi parkiran gedung, menambah kemacetan yang sudah ada.


Di dalam gedung konser, setelah membeli beberapa snack dan minuman di stand yang memang disediakan pihak panitia, mereka berenam masuk lewat jalur khusus; berkat status Yunita, setelah memperlihatkan tiket mereka ke salah satu panitia yang bersiaga di depan pintu masuk.


Kocaknya, Dimas sempat ditahan sebentar akibat pakaiannya yang alay dan membuat panitia mengira kalau Dimas adalah fans alay yang mencoba menyelinap masuk.


***


“Haduh, apa ini? Ide ngak ada gunanya, cuma mengcopy ide-ide lama yang sudah ada dan sedikit mengubah designnya doang. Pantas saja perusahaan ini hampir bangkrut,”


Andre menggerutu ketika membaca salah satu proposal ide produk yang diserahkan oleh Direktur dan tim R&D. Sebab, sudah seharian ini apa yang dia baca tidak ada yang mempunyai wow factor sama sekali. Terkesan sangat bermain aman.

__ADS_1


Contohnya saja, semua proposal tersebut memiliki kesamaan, yakni menggunakan SoC kelas menengah ke bawah. Padahal menurutnya, mereka seharusnya menggunakan SoC menengah ke atas agar bisa bersaing. Apalagi di era IoT seperti ini; dimana kebutuhan akan kemampuan sebuah smartphone juga meningkat agar mampu menangani semua kemauan penggunanya.


“Tidak bisa seperti ini.” Andre bergumam.


Dia lalu melempar map yang dipegangnya ke atas tumpukan map lain yang ada di meja depannya dan kemudian berdiri.


“Mau kemana lu?” Brandon bertanya.


“Keliling-keliling,” Andre menjawab tanpa menengok ke belakang atau menghentikan langkahnya.


Dia merasa, kalau orang-orang di perusahaan ini seperti tidak punya motivasi atau kemauan untuk bertempur lagi dan hanya menunggu waktu kebangkrutan saja. Padahal, setelah diakuisisi dan selamat dari kebangkrutan, mereka seharusnya bisa lebih termotivasi lagi dan berusaha sebaik mungkin.


Tiba di lantai 3—dimana DeptR&D berada di lantai 3 hingga lantai 7—semua  orang berdiri menyambutnya. Namun dengan segera, sambil tersenyum, dia meminta agar tidak usah berlebihan menyambutnya. Bagian pertama yang dia kunjungi di lantai tersebut adalah bagian yang bertanggung jawab mengembangkan UI.


“Permisi,” dia menyapa salah satu pegawai wanita yang berada di dekatnya,


“I.. Iya pak. Ada apa ya pak?”


“Yang lainnya pada kemana ya? Ini kan bukan jam istirahat,”


Andre bertanya tanpa basa-basi sedikit pun; namun tetap tersenyum ramah. Dia heran saat melihat hampir setengah dari kantor Tim UI Designer yang terlihat kosong.


Berhubung, ini merupakan pertama kalinya dia berkeliling. Dia mengangguk menerima tawaran pegawai wanita tersebut.


Saat memasuki ruangan rapat. Dia sedikit agak lega. Karena, meski jajaran Direkturnya terlihat malas dan tekesan acuh tak acuh terhadap perkembangan perusahaan, para pegawainya ternyata tidak seperti para Direktur-direktur tersebut.


“Tidak usah berdiri, lanjutkan saja,” ucapnya saat orang-orang di ruangan tersebut hendak berdiri untuk menyambutnya. Sementara pegawai wanita yang tadi mengantarnya, ternyata sudah pergi sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih.


Meski sebenarnya dia sudah disediakan tempat duduk, ia lebih memilih untuk tetap berdiri  dan terus menyaksikan bagaimana tim ini membahas soal beberapa bug di UI, dan keinginan mereka untuk mengubah UI yang ada sekarang; yang mana ia sendiri juga setuju dengan mengubah UI yang ada sekarang menjadi lebih modern lagi.


Akan tetapi, di samping itu, ada beberapa keluhan tim UI developer soal bagaimana mengimplementasikan UI yang baru. Misalnya saja, kemampuan perangkat yang agak lemah untuk menjalankan UI yang baru dengan cukup mulus dan stabil; UI mereka yang terlalu overkill dari segi penampilan dan fitur untuk layar yang sudah ada sekarang.


“Ok, hal itu akan saya pertimbangkan. Dan beberapa masukan lagi, saya mau UI berikutnya lebih user friendly dari pada harus kaya fitur tapi susah digunakan. Juga, kalo bisa OS kita harus sudah bisa terintegerasi dengan beberapa perangkat IoT nantinya,” usulnya.


Dari reaksi orang-orang di dalam ruangan tersebut; yang tampak mengangguk ringan dan juga terlihat mencatat hal tersebut. Dia bisa sedikit menyimpulkan kalo mereka juga setuju dengan dua hal tersebut. Hal itu juga membuatnya sedikit lega karena perusahaan ini masih mempunyai karyawan yang punya passion dan tidak sekedar makan gaji buta saja.


Beranjak ke bagian Product Development di lantai yang sama; tempat semua ide soal perangkat seperti apa yang akan dibuat dan diuji terlebih dahulu. Bagian pertama yang di tuju Andre adalah bagian Smartphone. Keadaan disini sedikit lebih sunyi dibandingkan dengan tempat sebelumnya, meski sebenarnya orang-orangnya lebih banyak dari pada tempat tadi.

__ADS_1


Dan lagi-lagi, kehadirannya tampak mengejutkan semua orang. Dan pada detik ini, membuatnya berpikir apakah CEO sebelumnya tidak pernah turun mengecek karyawannya secara langsung? Padahal, selama kuliah dia sering diingatkan kalau Boss & Employee Relationship itu sangat-sangat penting untuk kekompakkan perusahaan saat menghadapi suatu masalah.


Kali ini, dia hanya terus berjalan saja dan berkeliling hingga secara tak sengaja melihat ruangan dengan plang ‘Product Sample’. Mengingat keluhan tim UI soal perangkat yang kurang mumpuni, dia tanpa ragu-ragu memasuki ruangan tersebut. Dalam ruangan tersebut terdapat beberapa smartphone dan tablet yang dilabeli dengan sejenis serial number.


“Panggil satu atau 2 orang ke sini,” pintanya kepada Brandon.


Sembari menunggu, saat melihat jajaran smarthphone yang sudah dalam proses pengembangan, dia menjadi semakin yakin kalau alasan kenapa perusahaan ini tidak pernah berkembang adalah karena kurangnya inovasi. Design yang ada di hadapannya sekarang ini tampak sama saja terlepas apakah isi di dalamnya berbeda atau tidak.


Saat orang yang dipanggilkan oleh Brandon masuk; dan juga merupakan salah satu kepala riset, tanpa banyak berbasa-basi dia menyuruh orang tersebut menjelaskan produk yang ada di depannya sekarang. Dan hasilnya? Semua SoCnya tidak jauh berbeda, hanya berbeda angka belakang namun tetap saja masih satu kelas, yakni SoC untuk menengah ke bawah.


“Kau sudah berapa lama kerja disini hah?” dia berbicara dengan suara datar; melangkah maju mendekati meja dan mengambil salah satu smartphone.


“Saya 8 tahun pak,” jawab pegawai tersebut dengan suara yang terdengar gugup.


“8 Tahun tapi hasilnya seperti ini terus? Padahal kalian cuma mengeluarkan 1 atau 2 Smartphone dalam setahun. Bukankan itu artinya waktu kalian cukup untuk memikirkan desain dan kemampuan yang lebih inovatif?” ia mendekati pegawai tersebut dan berbicara sambil menahan dirinya yang emosi karena tidak melihat ada kemajuan sedikit pun dari beberapa history produk yang dia baca sebelumnya.


“Maa..”


“Simpan omong kosongmu. Saya kasih waktu sebulan, buatkan saya design yang lebih baik dari ini untuk produk tahun depan. Kalau tidak, lebih baik kau mundur saja,” ucapnya dengan tegas dan menunjukkan sedikit kemarahan dalam suaranya dan kemudian menaruh smartphone yang dipegangnya tadi di atas meja kembali sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Di dalam lift; setelah selesai berkeliling. Niatnya yang tadinya untuk refreshing, malah membuat kepalanya semakin pusing saja setelah menyadari terlalu banyak yang harus dia benahi terlebih dahulu sebelum melangkah maju.


“Bagaimana jadwalku untuk minggu depan?” dia bertanya kepada Brandon ketika mereka sampai di ruangannya kembali. Untuk menjernihkan kepalanya, dia memilih rebahan sebentar di kursi santainya sambil memejamkan matanya.


“Untuk seminggu ke depan, ada beberapa pertemuan rapat yang tidak terlalu urgen, dan undangan makan malam dengan beberapa direktur. Kenapa?”


“Batalkan semuanya yang bisa dibatalkan,”


“Hah?”


“Lu ngak dengar? Gua bilang batalkan,”


“Ya maksud gua kenapa dibatalkan?”


Ia kemudian membuka matanya, menatap Brandon dan menyuruhnya untuk mendekat. Brandon terlihat ragu namun tetap mendekat juga pada akhirnya.


“Gua akan merombak semua susunan direktur dan beberapa hal lainnya,”

__ADS_1



__ADS_2