Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 12. Pertemuan Yang Terlupakan (1)


__ADS_3

...CHAPTER XII...


Sekitar 6 bulan yang lalu


Beberapa bulan berlalu semenjak pertemuannya dengan Andre di kompetisi di Singapura. Dia masih berusaha mencari semua hal tentang Andre, namun tidak segiat dahulu saat perasaannya masih sangat menggebu-gebu. Di samping itu, persiapan menghadapi ujian nasional juga menjadi prioritas utamanya saat ini. Beruntung bagi dia dan timnya, berkat juara di kompetisi waktu itu, mereka dibebaskan dari UAS, sehingga bisa lebih fokus ke Ujian Nasional.


“Akhirnyaaaa! Selesai juga tugas-tugas sialan ini,” sorak Axel sembari mengangkat tangannya tinggi dan melakukan beberapa gerakan perenggangan badan, “Gimana kalau kita pergi bioskop buat melepas stress?” ajak Axel, yang tentu saja langsung di setujuinya. Karena memang, mereka butuh sedikit refreshing.


“Wait, satu nomor lagi,” ucap Liani yang terlihat begitu serius mengerjakan tugasnya.


Mereka mungkin dibebaskan untuk tidak ikut UAS, akan tetapi setiap ulangan harian dan tugas-tugas selama sebulan yang tidak mereka ikuti tetap harus mereka selesaikan. Oleh karena itu, mereka selalu berkumpul di perpus setiap pulang sekolah demi mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk.


“Lama bangat sih bu ketua, ngak usah panjang-panjang amatlah, yang penting dari pikiran sendiri. Bukan salinan kata-kata buku,” ujar Axel yang mulai merapikan tumpukan buku yang mereka gunakan sebagai referensi jawaban.


“Tau, ngak usah perfeksionis amat kali,” kata Yunita.


Dia cukup setuju dengan perkataan Axel soal tabiat Liani yang mengerjakan tugas dengan jawaban panjang-panjang dan sangat rinci. Meskipun kadang-kadang hal tersebut ada baiknya juga sih, karena selain bisa menambah nilai, dia atau Axel juga tinggal meringkas kalau harus mecontek.

__ADS_1


“Iya, iya, sudah selesai kok,” Liani menggerutu sembari berdiri dari kursinya dan mulai merapikan buku-buku di depannya. Liani memang tipe orang yang tidak suka dikritik saat sedang melakukan sesuatu dan itu sudah mereka rasakan semenjak pertama kali mereka di satukan dalam satu tim.


Di satu sisi, hal itu merupakan hal yang cukup positif, karena memang dia sendiri mengakui kalo dia dan Axel kerap kali membuat kesalahan, sehingga sikap tegas Liani sangat dibutuhkan. Akan tetapi, efeknya adalah karakter Liani yang sedikit agak keras bahkan di kehidupan sehari-hari; walaupun tidak terlalu sering. Tapi, tetap saja ada saat di mana dia dan Axel menjadi sedikit tertekan dan emosi dengan sikap Liani tersebut.


Untungnya, Liani yang mungkin sadar akan hal itu, membuat satu aturan penting di antara mereka, “Ucapkan apa saja unek-unek kalian, langsung!” Aturan itu terbukti cukup efektif, dan membuat mereka bertiga memiliki ikatan dan kerja sama yang cukup kuat karena selalu bersikap jujur satu sama lain.


Keluar dari perpustakaan, Yanto, pacar Liani menghadang mereka tidak jauh dari pintu keluar perpustakaan. Ekspresi Liani terlihat tidak senang; murung; dan seperti jijik akan sesuatu.


“Mau apa lagi kamu?” tanya Liani dengan wajah jutek dan gaya bicara yang ingin menyudahi pembicaraan tersebut secepat mungkin. Liani bahkan membuang wajah ke arah lain.


Yanto, dari kelas 7, tepatnya semester ke 2, mulai dikenal sebagai playboy cap kakap; kerap kali gonta-ganti pacar, entah itu satu letingnya ataupun dengan kakak kelas. Wajahnya memang tidak terlalu oke, sandarlah, akan tetapi kemampuannya dalam bermain basket membuat banyak wanita gampang kepincut. Termasuk dirinya sendiri juga, walau hanya sesaat.


Sedangkan Liani sendiri, dengan parasnya yang cantik; punya wajah campuran China-indo; proporsi badan yang lebih bagus ketimbang perempuan seusianya; warna iris matanya yang cukup jarang di Indonesia, yaitu coklat; membuat banyak cowok mengejarnya. Namun, entah kenapa, secara ajaibnya, saat kenaikan kelas, malah Yanto yang bisa memenangkan hati Liani; yang terkenal menolak semua cowok yang mendekat.


Dia sendiri baru mengenal Liani secara langsung saat mereka duduk di kelas yang sama, 8A. Mereka baru mulai akrab dan menjadi sangat dekat ketika di kelompokkan dalam satu tim robotik, bersama dengan Axel. Benih-benih pertengkaran Liani dan Yanto baru mulai terkuak ketika mereka naik kelas 9. Menjelang perlombaan tingkat nasional pun, Liani sempat curhat kepadanya soal pertengkarannya dengan Yanto. Namun, untungnya Liani bisa tetap fokus dan membawa mereka sampai juara di Singapura.


Tak mau menjadi, bagian dari permasalahan dua sejoli ini, dia dan Axel yang tampaknya sefrekuensi memilih untuk berjalan terlebih dahulu lalu berhenti agak jauh dari tempat Liani dan Yanto berdiri dan mengamati pertengkaran tersebut dari jauh.

__ADS_1


“Lagian, kenapa ngak putus aja sih. Cowok brengsek kaya gitu ngak ada syukur-syukurnya, sudah dapat cewek cantik dan sexy kaya Liani, masih aja sempat kepikiran selingkuh. Udah gila kali ya,” gerutu Axel yang sedang bersandar di tembok dan juga tidak mengalihkan pandangannya dari Liani dan Yanto.


Sementara Yunita, dia memilih untuk duduk di bangku kayu yang ada di setiap lorong dan di letakkan setiap sekitar beberapa meter jauhnya.


“Lu suka sama Liani ya?” tanyanya; bukan tanpa alasan dia mencurigai hal tersebut. Sebab, sebulan sebelum kompetisi nasional, sikap Axel bisa dibilang cukup perhatian kepada Liani.


“Wh.. What? Ngak mungkin lah, i.. itu kan,” melihat Axel yang salah tingkah, cukup bisa membuktikan kalau tebakannya benar.


“Jujur ajalah, sik....”


“LEPASIN!!!” teriakan Liani membuatnya terkejut ketika dia hendak menggoda Axel yang sedang salah tingkah. Dan yang mengejutkannya lagi, saat dia baru bangkit berdiri dari kursinya, Axel sudah dengan terburu-terburu berjalan menuju ke arah Yanto yang terlihat seperti sedang memaksa Liani untuk tidak pergi.


Hal yang terjadi berikutnya sudah bisa dia tebak, Axel tanpa banyak basa basi langsung memukul Yanto tepat di wajah. Terlihat cukup keras karena Yanto sampai terjatuh, padahal sebagai seorang pebasket, Yanto sudah dilatih untuk tahan ketika di body saat pertandingan.


Ketika dia sampai, Liani terlihat kaget dengan apa yang baru saja dilihatnya, “Lo bukan manusia, brengsek. Tapi sampah, sampah masyarakat,” Well, makian Axel terdengar sedikit aneh baginya—karena menurutnya sedikit kurang berani dan kasar—akan tetapi, tetap cukup mengejutkan. Karena seingatnya, jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah dia melihat Axel yang seperti ini.


Liani, yang masih terlihat sedikit kaget, menyuruh Axel untuk mundur. “We are done now,” ucap Liani sebelum akhirnya mengajak Yunita dan Axel pergi meninggalkan Yanto yang masih terkapar di lantai sambil memijat-mijat rahangnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2