Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC II : CHAPTER X


__ADS_3

Malamnya, setelah seharian lebih menghabiskan waktu di rumah Yunita. Andre dan Yunita; beserta Pak Budi pamit untuk pulang. Angelica sebenarnya meminta Yunita untuk tinggal barang beberapa hari lagi, namun Yunita berdalih kalau dia ada meeting soal web dramanya besok. Andre yang megetahui kalo itu bohong, untungnya tidak mengatakan apapun sehingga Yunita bisa lolos kali ini.


“Kamu ada masalah dengan Ayahmu?” tanya Andre ketika mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang. Pertanyaan tersebut membuat Yunita sedikit kaget; namun langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat. Andre yang merasa kalau itu adalah hal sensitif, dia menaikkan penghalang yang akan menghalangi suara mereka agar tidak terdengar oleh Pak Budi yang sedang menyetir.


“Ngak tuh,” sangkal Yunita; masih dengan poker face-nya yang dia coba pertahankan. Dia tidak menyangka kalau apa yang dia sembunyikan rapat-rapat selama ini dari orang-orang di sekitarnya, dengan begitu mudahnya bisa diketahui oleh Andre.


“Ngak usah bohong deh, kelihatan banget reaksimu yang berbeda jauh saat dengan Ibumu dan saat dengan Ayahmu saat kita baru sampai tadi,” Andre langsung berterus terang tanpa bertele-tele sedikit pun.


“Hah, kentara ya?”


“Ya iyalah, beda 180 derajat banget. Semua orang pasti juga akan berpikiran sama,”


“Yah begitulah, aku hanya tidak suka saja terlalu di kekang. Harus itulah, harus inilah. Dan yang paling menyebalkannya lagi, aku harus selalu bersikap manis di pertemuan keluarga besar yang sangat tidak kusukai,”


“Kenapa?”


“Kenapa kamu bilang? Aku tidak suka dengan semua orang disitu yang selalu membanding-bandingkan anak mereka, saling menjodohkan anak mereka, menentukan kemana anak-anaknya harus melangkah; harus mengambil jurusan apa; harus kerja apa nanti. Seolah hidup seseorang ditentukan oleh mereka. I hate it so much!!,”


Mendengar perkataan Yunita barusan, Andre menjadi sedikit lebih mengerti kenapa Yunita sampai bersikap seperti tadi. Sejujurnya, mereka berdua terbilang mirip sih untuk masalah dengan keluarga besar.


Bedanya, Ayah dan Ibunya seperti tidak peduli dengan semua itu, dan lebih memilih membebaskan mereka sampai tamat SMA. Walaupun ujung-ujungnya tetap harus belajar tentang manajemen perusahaan dan pada akhirnya mengambil alih perusahaan; kebebasan yang dia dapat masih lebih bagus di banding apa yang diceritakan Yunita barusan.


“Hmm, begitu ternyata. Jadi alasanmu jadi artis sebenarnya karena ingin lepas dari pengaruh orang tuamu?”


Yunita tidak menjawab pertanyaan tersebut dan hanya mengangguk sebagai gantinya.


“Okay, just do whatever you want,”


“Hah? Kamu ngak merasa iwfill dengan aku?”


“Kenapa harus begitu?”

__ADS_1


“Ya karena aku sudah seperti anak durhaka mungkin dimatamu?” mendengar perkataan Yunita tersebut, Andre tersenyum melihat Yunita yang ternyata mempunyai sisi seperti ini; sangat polos. “Kenapa senyum-senyum kamu?” tanya Yunita.


“Bagaimana ngomongnya ya? Aku sih merasa fine-fine aja dengan hal seperti itu. Mungkin karena aku juga pernah merasakan hal yang sama, walaupun tidak separah kamu mungkin ya. Tapi intinya, i dont have problem with that. Semua orang punya masalahnya sendiri, dan butuh penyelesaian yang berbeda-beda. Ada yang lama dan ada yang sebentar. Jadi, aku cuma menganggap kalo ini prosesmu saja untuk melewati masalah yang ada sekarang.


Dan, aku juga yakin. Jauh di dalam lubuk hatimu, sebenarnya kamu sangat peduli dengan Ayahmu. Ya kan?” Andre membalas sembari mengelus kepala Yunita dan menatap dia cukup lama. Akibatnya, pandangannya yang terfokus pada mata Yunita, malah makin turun ke bibir Yunita yang terlihat menggoda dengan lipstik merah muda yang melapisi bibirnya.


Melihat Yunita yang lengah dan mungkin tidak akan sempat untuk menangkis apa yang akan terjadi berikutnya, Andre dengan cepat memajukan kepalanya dan mengecup bibir Yunita yang sangat menggodanya.


“Ih, kamu ya. Mulai suka cari kesempatan dalam kesempitan sekarang ya,” protes Yunita yang wajahnya agak merona.


“Salahkan bibirmu yang menggoda itu dong. Lagian kenapa kamu pake lipstik segala, padahal kan cuma mau ke rumahmu doang?”


“Biar kelihatan seperti orang yang cukup mapan di depan Ayahku,” jawab Yunita.


“Hmm, kalau begitu kita sekalian aja ke mall. Mumpung Bioskop masih buka,” ujar Andre setelah melirik ke jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 9 malam. Setelah itu, dia langsung menurunkan penghalang yang tadi, “Pak,  ke Mall XXXX dulu ya,” ucapnya.


“Mau ngapain? Bukannya kalian dilarang tampil di depan publik dulu ya?”


“Ah, nanti aku yang ngomong sama mama. Lagian udah go public juga kan? Jadi apa yang musti ditakutkan lagi?” jawab Andre.


***


“Kayanya kamu salah milih hari dan jam deh,” ujar Yunita saat tadi melihat bagian dalam bioskop yang cukup ramai. Dia dan Andre ternyata lupa, kalau hari ini adalah hari sabtu a.k.a malam minggu; waktu dimana banyak sejoli, pasangan muda-mudi dan keluarga yang menghabiskan waktu weekendnya untuk bersenang-senang. Dan bioskop, tentu sudah pasti menjadi pilihan untuk refreshing dari segala kemumetan.


“Ada bagusnya juga sih, orang-orang banyak yang lebih fokus dengan urusannya masing-masing kan. Dan juga, kita ambil yang super private banget. Jadi ngak usah terlalu khawatirlah. Orang kita cuma nonton bioskop doang, bukan pergi ke hotel,”


“Tapi kamu ngak kasian apa sama Pak Budi?”


“Ya dia kan mau pergi makan aja, biarin aja lah. Dia memang orangnya begitu, sederhana banget. Kagak mau ngerepotin orang. Yang penting tadi kan udah kutawarin, jadi aku ngak salah dong,” jawab Andre membela dirinya sendiri.


“Tapi apa betul ngak apa-apa kalo kita berkeliaran bebas seperti ini?”

__ADS_1


“Ngak apa-apa, lagian hypenya cuma sebatas orang yang menggunakan sosmed dan tertarik dengan gosip-gosip doang kok, jadi ngak bakalan terlalu wow yang luar biasa banget,” jelas Andre.


“Tapi...”


Yunita yang hendak berbicara, tiba-tiba teralihkan saat handphonenya yang dia taruh dalam tas terasa seperti bergetar. Sebenarnya sih ini sudah yang ketiga kalinya dalam 10 menit terakhir. Awalnya, dia megacuhkannya karena mengira paling telpon tidak penting. Akan tetapi, karena sedikit penasaran siapa yang menelponnya, dia langsung mengambil handphonenya dan cukup terkejut saat meihat siapa yang menelponnya; Kak Alika.


“Ha.. Halo kak?” Yunita menjawab telpon dari Kak Alika sesegera mungkin, karena Kak Alika selalu hanya menghubunginya saat ada hal yang cukup penting-penting saja.


“Kalian lagi di bioskop ya?”


“Secepat itu menyebarnya?” Yunita tercenang dengan bagaimana informasi soal dirinya dan Andre yang hanya pergi ke bioskop menyebar di sosmed. Padahal, saat rumor cinta segitiganya saja waktu itu butuh waktu hampir seharian sebelum tersebar.


“Sudah tuh, di IG fanbasemu sudah banyak yang upload. Walaupun kualitasnya ngak terlalu bagus sih.”


“Ngak apa-apa kan kalo kami keluyuran kaya gini?”


“Loh, kenapa takut. Lagian kalian udah resmi, dan juga tidak ada gosip miring kaya merebut pasangan dan apalah gitu. Jadi fine-fine aja. Dan, coba kamu bujuk Andre biar mau main iklan berdua bareng kamu,”


“WHAT?! Kok tiba-tiba?”


“Ya dari tadi siang sebenarnya udah ada yang masuk beberapa, mau kalian berdua jadi bintang iklan mereka. Tapi, mamanya Andre nyuruh tanya langsung ke Andrenya saja. Lumayan loh, ada 3 yang serius banget. Sisanya masih ambigu,”


“Banyak banget,”


“Hoho, siapa suruh kualitas visual kalian terlalu memukau banyak orang,’


“Ya sudah, nanti aku tanyakan.”


“Ingat ya. Kalau bisa paling lambat....”


Tanpa mendengarkan perkataan Kak Alika sampai selesai, Yunita lagsung menutup telponnya dan menyetelnya ke mode jangan ganggu karena merasa apa yang akan dikatakan Kak Alika berikutnya tidak terlalu penting. Malam ini, dia hanya ingin menikmati hari ini. Karena minggu depan, dia sudah harus kembali ke kesibukannya dan beberapa minggu setelahnya, akan lebih parah lagi karena dia harus berusaha ekstra antara membagi waktu antara kesekolah dan kesibukan syutingnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2