Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch. 54


__ADS_3

“What!? Lu gila ya?” Brandon tampak tercenang saat mendengar rencana Andre.


“Kenapa? Santai saja. Semua harus kita tangani dengan diam-diam. Jangan sampai para pemalas itu mendengar apa yang gua rencanakan,” ujar Andre dengan santainya untuk menghilangkan ekspresi terkejut dari wajah Brandon tersebut.


Dia cukup memaklumi reaksi Brandon barusan. Siapapun pasti akan bereaksi seperti itu saat mendengar rencana yang dia katakan tadi. Akan tetapi, dia mengatakan hal itu pun juga bukan tanpa pertimbangan matang. Sebab menurutnya, sikap masa bodoh dari para Direktur sekaranglah yang menjadi penyebab hancurnya perusahaan ini. Dan, kalau terus dibiarka, bukan tidak mungkin perusahaan ini akan menghadapi krisis kembali dalam waktu dekat. Bahkan mungkin kali ini akan berhujung pada kebangkrutan.


“Lu yakin bakal melakukan itu?” Brandon kembali bertanya, di wajahnya masih tersirat sedikit keraguan meski ekspreksi wajahnya sudah terlihat sedikit santai.


“Yap. Jadi, sebulan ke depan, kita tetap seperti biasa. Rapat dan segala macamnya tetap seperti biasa, tapi diam-diam, kita juga seleksi performa kerjanya para Direktur tersebut bagus atau tidak. Kalau jelek, ya kita ganti dengan yang lebih mampu,”


“Tapi kan...”


“No tapi-tapi, lu liat aja sendiri, ide yang di serahkan para Direktur itu seperti bagaimana? Sampah semua, cuma daur ulang produk lama dan rubah nama doang. Bagaimana mau maju kalau begitu, ya kan?”


Brandon awalnya tampak kembali ingin mengatakan sesuatu namun kemudian tidak jadi, entah karena alasan apa. Sedangkan Andre sendiri, meski tadi dia berucap dengan penuh percaya diri, namun dalam hatinya dia sedikit agak takut.


Dia sadar betul dengan posisinya sekarang ini yang agak kurang menguntungkan. Meski posisinya sekarang ini cukup kuat karena mempunyai 41% saham perusahaan ini dan menjadikannya pemilik saham terbesar, dia tetap tidak bisa menganggap remeh situasi yang akan dihadapinya saat melakukan perombakan besar-besaran.


Terutama, mengingat Pak Guntur dan Naden yang sama-sama mempunyai 10% saham. Kelihatannya mungkin tidak mengancam, namun tetap saja dia harus waspada dengan kedua orang tersebut jika ingin melakukan perubahan ke depannya. Melihat jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul 7 malam, dia kemudian berdiri, berjalan ke cermin besar yang ada di pojokan ruangan di belakang mejanya dan merapikan penampilannya.


“Jadi, tidak ada jadwal lagi kan untuk hari ini?” dia bertanya kepada Brandon; yang sedang memandangi tablet yang di pegangnya.


“Untuk sekarang ngak ada, tapi besok pagi lu punya rapat dengan Bagian pemasaran soal perilisan produk baru bulan depan. Setelah itu, sorenya ada rapat dengan Bagian Keuangan, sesuai dengan permintaan lu kemarin. Dan, gua saranin lu baca dokumen yang gua kirim di email lu,” jawab Brandon dengan berbicara agak cepat namun tetap ada titik komanya.


“Oke, kalau begitu, hari ini lu pulang sendiri,” ucapnya sambil menepuk pundak Brandon dengan tersenyum kecil, sebelum pergi meninggalkan temannya itu.


“Hah? Lu mau kemana emangnya?”

__ADS_1


“Mencari informasi,” dia menjawab tanpa berbalik sedikit pun dan keluar dari dalam ruangan tersebut.


***


Dalam perjalanan pulang, Andre tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia meminta Pak Budi untuk mengantarnya ke sebuah alamat yang dia tuliskan di kertas; yang didapatkannya dari seorang teman semasa kuliahnya di Harvard dulu. Uniknya, tidak seperti biasanya, Pak Budi tampak mengerutkan alis dan terdiam sejenak saat membaca alamat tersebut. Padahal, Pak Budi dengan pengalaman puluhan tahun menyetir di kota Jakarta sangat jarang terdiam seperti itu.


“Kenapa pak?” dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Dalam pikirannya hanya ada dua kemungkinan; entah alamat itu salah, atau memang kurang familiar di benak Pak Budi.


“Ah, ngak, hanya saja ini kan tidak searah dengan jalan pulangmu,” Pak Budi menjawab dengan senyuman yang tidak biasa, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Namun, ia menganggap hal itu mungkin karena Pak Budi berpikir terlalu keras untuk mengingat alamat tersebut. Keraguannya semakin memudar saat melihat Pak Budi yang berhenti sesaat di pinggir jalan untuk memeriksa peta di layar besar yang ada bagian depan.


Kerumitan dari alamat tersebut tidak berhenti sampai disitu, saat tiba di jalan yang tertera di alamat yang ada di kertas. Dia harus turun, dan mencari nama tempat yang disebutkan oleh temannya. Sebab ternyata, ia masih harus memasuki jalan yang tidak bisa di lewati oleh mobil; karena merupakan kawasan pertokoan yang padat pengunjung sehingga hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki.


‘votre bonheur’ sambil menghafal tulisan yang dikirimkan oleh temannya, ia berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Sesekali ia berhenti dan melihat kebelakang untuk sesaat demi memastikan kalau dia tidak melewati tempat yang dicarinya.


“tu n'es pas le bienvenu ici,” kata-kata kurang menyenangkan yang diucapkan seorang laki-laki tersebut menjadi kalimat pembuka tepat setelah lonceng berdering saat dia melewati pintu masuk.


“Vraiment? Est-ce ainsi que vous traitez un vieil ami ?” dia menjawab dengan santai.


“Seperti biasa, bahasa francismu masih buruk Ndre. Belajar lagi napa,” sapa laki-laki tadi kembali, kali ini dalam bahasa yang lebih ia pahami.


“Lah, gua kan cuma belajar itu bahasa selama 2 bulan, lagian gua juga udah pusing dengan banyak tugas. Jadi, ngak ada waktu buat nambah beban pikiran lagi,” dia menjawab sembari mengambil tempat duduk di meja bar yang ada di depannya.


Temannya satu ini, Joseph, keturunan campuran Indo France, memang suka mengisenginya dengan menggunakan bahasa francis. Hal itu bermula ketika mereka bertemu pertama kali saat ia magang di salah satu raksasa teknologi di US. Joseph, kala itu memperkenalkan diri dengan bahasa francis sampai membuatnya komat-kamit karena tidak mengerti bahasa francis sedikit pun.


Joseph, sebenarnya cukup unik, tamat dari MIT—salah satu universitas ternama dunia—malah pulang ke indonesia dan membuka kafe sederhana. Tapi, jangan salah, itu hanyalah sebuah kedok, karena temannya satu ini lah yang memberitahunya soal lab bawah tanah tersembunyi. Tempat itu bisa dibilang sebagai sarangnya dalam melakukan pekerjaannya sebagai freelance di bidang web developer.

__ADS_1


“Dasar, bisa-bisanya lu ngak pernah kasitahu gua kalau pacar lu itu idola gua, memang teman ****** lu,” Joseph tiba-tiba berbalik dari mesin kopi dan menggerutu tidak jelas saat berjalan ke arahnya.


Perawakan yang tinggi; badan yang cukup kekar; paras yang tampan dan sanggup memikat wanita manapun, orang-orang mungkin akan lebih percaya kalo orang yang ada di hadapannya ini adalah binaragawan atau model dibandingkan seorang master IT.


Ya, memang sih, ia tahu kalo Joseph itu sangat menyukai Yunita. Ia kerap kali mendengar Joseph curhat ingin foto bareng dengan Yunita. Namun, karena waktu itu dia dan Yunita sedang mempertahankan hubungan mereka berdua agar tetap menjadi rahasia. Dia tidak pernah memberitahu Joseph, padahal bisa saja ia mengabulkan keinginan Joseph tersebut.


“Ya sudah, nanti deh gua ajak lu ketemuan sama dia. Bagaimana?” dia berusaha merayu Joseph layaknya anak kecil yang sedang merajuk.


“Berduaan doang,”


“Enak saja lu,”


“Ya sudah, kalau begitu tawaran lu gua tolak,”


“Ya ga bisa lah bambang, dia itu artis papan atas, kalo makan berduaan sama lu bisa kena gosip entar, mikir lah,”


Sebenarnya, dia bisa saja sih menyewa satu restoran agar tidak ada wartawan yang bisa meliput. Akan tetapi, tetap saja, ada sedikit perasaan khawatir kalau Joseph bertemu berdua saja dengan Yunita. Entah kejahilan apa yang akan dilakukan Joseph nantinya.


“Oke, awas aja lu kalau ingkar janji. Now, soal yang kita bicarakan di telepon tadi. Lu taukan biaya gua ngak semurah itu,”


Ia tersenyum saat mendengar perkataan Joseph tersebut, alih-alih langsung menyebutkan harga, temannya satu ini malah ingin bernegoisasi dengannya.


“Pendapatan lu berapa sebulan dari freelancer? Gua tambahin 50% dari total pedapatan lu dan kalo semuanya lancar, lu jadi kepala R&D. Bagaimana?”


Joseph sempat terdiam untuk sesaat, menggaruk dagunya, sebelum akhirnya menyetujui tawaran tadi.


Tidak ada pembicaraan lebih lanjut setelahnya, hanya sedikit ramah tamah dan setelah itu ia pergi dari kafe milik Joseph karena mengingat Pak Budi yang menunggunya di mobil. Dan lagi pula, sekarang sudah hampir jam 9 malam. Ia juga tidak mau sampai larut malam hanya demi merekrut Joseph ke dalam perusahaannya. Namun, ia juga cukup senang karena berhasil merekrut Joseph demi memeriksa latar belakang semua Direktur yang ingin ia singkirkan nantinya.

__ADS_1


__ADS_2