
“Kak,”
“Hmm,”
“Menurut kakak, kalo kakak ditawari jadi artis kaya aku, bakal kakak terima atau ngak?” Yunita dengan iseng bertanya karena sedikit bosan dengan kemacetan yang ada di depan mereka.
“Kenapa? Kamu nyesel sekarang ninggalin rumah?” kakaknya yang memang paling misterius, dengan pintarnya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.
“Hmm, a litle bit? Tapi ngak ada keinginan untuk balik juga sih, at least sampai aku sedikit sukses gitu,”
“Yah, kalo kakak sih mungkin akan melakukan hal yang sama denganmu, Kalau... tidak ada hal yang harus kakak khawatirkan,”
“Maksudnya?”
“Dulu, kakak pikir kalau kakak berkorban mengikuti semua kemauan Ayah, semua pasti akan berakhir di kakak saja. Kakak ngak menyangka aja kalau kamu juga bakal di paksa seperti kakak,”
“I hate him” melihat pemandangan langit malam yang bersih tanpa bintang sedikit pun, membuat dia mengibaratkan jalan hidupnya yang sepeti langit malam tersebut, bersih seperti lembaran baru yang akan di lukis dengan bintang-bintang yang merupakan hasil pencapainya nanti.
“Sudah, ngak usah di pikirkan lagi," kata kakaknya, "Eh, ngomong-ngomong, soal yang namanya Andre tadi, bukan Andre yang sempat kamu cerita ketemu di Singapore itu kan?”
“Ah, memang dia kok,” dia menjawab dengan santai karena merasa tidak apa-apa kalau dia mengungkapnya ke Kakaknya yang sangat pengertian ini.
__ADS_1
“WHAT?! Seriusan kamu? Andre yang orang tuanya super kaya raya itu?” melihat respon kakaknya yang agak excited, dia sedikit meragukan penilaiannya barusan. Dia sedikit ragu, apakah kakaknya ini akan menjaga rahasia tersebut dari ibunya untuk saat ini atau tidak.
Sialnya, karena macet, mau tidak mau Yunita harus menceritakan ke kakaknya yang sangat getol ingin tahu soal kisah hubungannya dengan Andre sepanjang perjalanan mereka. Selama dia bercerita, kakaknya hanya senyam-senyum; sesekali menggelengkan kepalanya; dan juga menepuk tangannya.
“Begitu. Tapi jangan ngomong ke mama dulu ya. Please,” alasan dia tidak ingin ibunya tahu soal Andre yang dulu sebenarnya juga sempat di curhat, adalah karena dia tidak mau ibunya memandang buruk Andre dan menjadi menuduh Andre seperti Ayahnya tadi.
“iya, ngak bakalan,” jawaban kakaknya meskipun terlihat meragukan, namun dia tidak punya pilihan lain selain percaya saja.
Saat mereka sampai, Yunita tidak diantar sampai ke dalam apartemen, kakaknya hanya mendropnya di depan lobi dan langsung pulang karena urusan pekerjaan. Wajar sih, karena dia pernah melihat langsung bagaimana kakaknya begadang sampai jam 4 pagi hanya demi membaca laporan sebuah kasus yang tebal-tebal. Dia sendiri mungkin akan langsung menyerah jika harus berhadapan dengan dokumen setebal itu.
Akan tetapi, kerja keras kakaknya tampaknya berbuah manis, dia bisa mengetahui hanya dengan melihat isi apartemen yang kakaknya miliki. Apartemen tersebut terkesan cukup mewah baginya; punya tiga kamar tidur; balkon yang luas dan bisa digunakan untuk nongkrong; ruang tamu yang luas; bahkan dapurnya pun cukup lega untuk 2 orang bergerak dengan bebas secara bersamaan.
Tanpa banyak berbasa-basi, dia langsung mencari kamar tidur utama yang mempunyai kamar mandi untuk digunakan sebagai kamar tidurnya. Selain terasa lebih private; dia juga memang sudah terbiasa dengan kamar tidur yang mempunyai kamar mandi di dalamnya. Seusai memilih kamar dan menaruh pakaiannya di lemari, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia menunda untuk melakukan bersih-bersih yang sudah di rencanakannya saat melihat debu yang menempel di lantai semenjak dia masuk tadi.
Kebiasaan ini, dia lakukan setelah melihat Liani yang sedang mengetik sesuatu dengan serius dalam laptopnya. Liani sendiri menganggap sebuah Diari sebagai tempat untuk menceritakan perasaan, beban, dan setiap kejadian yang dialaminya. Dan, tanpa sadar, dia yang awalnya mengikuti temannya tersebut, malah menjadi keterusan karena dia selalu merasa lega setelah menulis diari tersebut.
...***...
Keesokan harinya, Yunita bersama Stefani—sebenarnya bersama Andre dan Dimas juga sih, namun karena khawatir ada yang mengenali Andre, Dimas dan Andre akhirnya ditinggal di salah satu kafe—mereka berdua pergi ke kantor PH sesuai dengan yang tertera di kartu nama Kak Alika.
Dari luar, gedung tersebut terlihat biasa-biasa saja, cuma bangunan berlantai 3 yang terlihat minimalis dengan sentuhan full glass panel di beberapa bagian yang menambah kesan modern. Namun, kemegahan tersembunyi di dalamnya. Setelah melewati bagian resepsionis—yang terlihat biasa saja—mereka di sambut dengan hiruk pikuk orang-orang yang terlihat sedang rapat di beberapa ruangan berukuran sedang yang di lagi-lagi dindingnya terbuat dari kaca.
__ADS_1
Naik ke lantai 2, mereka disambut pemandangan yang sedikit unik di sisi sebelah kanan mereka. Jika kebanyakan kantor mungkin akan memakai meja lurus yang lebar, lain halnya dengan kantor tempat kak Alika bekerja; mereka memakai meja segi enam yang dipakai juga oleh 6 orang, dan tanpa sekat sama sekali.
Di sisi sebelah kiri, mereka kembali menemui beberapa ruangan yang berdinding kaca—namun kali ini semuanya buram, alias tidak tembus pandang—resepsionis yang berjalan di depan mereka kemudian mengantar mereka memasuki salah satu ruangan tersebut; yang ternyata adalah ruangan kak Alika. Kak Alika menyambut mereka berdua dengan senyuman besar menghiasi wajahnya, seolah sudah menantikan kedatangannya.
“Jadi, bagaimana? Sudah yakin dengan keputusanmu atau masih perlu waktu berpikir lagi?” tanya kak Alika, sambil mempersilahkan mereka untuk duduk.
Entah kenapa, pertanyaan kak Alika tersebut terdengar agak sedikit sarkas baginya, seolah menempatkan ia sebagai orang yang sok jual mahal dengan kesempatan emas yang di tawarkan Kak Alika.
Tidak mau kesempatan sebesar ini rusak hanya karena perasaan konyolnya, dia memilih mengabaikan dugaan tersebut, “Aduh, maaf ya kak. Soalnya orang tuaku agak ketat soal yang namanya pendidikan,”
“Ok, yang penting kamu sudah memutuskan kan? Kalau begitu, tinggal tanda tangan kontrak dan briefing singkat soal peranmu, jadwalmu, dan hal-hal yang harus kamu persiapkan, baik itu soft skill dan lainnya,” Kak Alika kemudian bangkit dari kursinya; berjalan kembali ke mejanya, mengambil beberapa dokumen dan meletakkan di meja depan Yunita dan Stefani, “Ah, bagaimana kalau temanmu itu jadi asisten sementara? Ngak apa-apa kan?” imbuh Kak Alika sambil mencari sesuatu dalam tumpukan kertas dan map tersebut.
“Berat ngak kerjaannya kak?” Stefani bertanya dengan suara agak pelan,
“Ngak banyak kok, cuma mengingatkan jadwal syutingnya aja, dan siap sedia kalo kakak hubungi nanti,” Stefani terlihat merenung sebentar sebelum pada akhirnya mengangguk menyetujui untuk menjadi asisten Yunita, “Nah, ini. Tanda tangan di sini, dan juga di sini,” berhasil menemukan dokumen yang diinginkannya, Kak Alika kemudian menaruh map transparan berwarna biru di depan Yunita, lalu mengarahkan dia untuk tanda tangan di bagian mana saja.
Setelah semua formalitas tersebut, kak Alika memberikan Yunita beberapa pengetahuan singkat soal web drama yang dibintanginya; mulai dari peran apa yang di mainkannya, kelas akting yang harus dia ikuti, jadwal syuting, sampai hal-hal detail tentang menyesuaikan pakaian dengan berbagai scene yang akan datang.
“Wah, repot juga ternyata jadi artis ya,” ujar Stefani ketika mereka sedang menuju ke lobi di mana Pak Budi, sopir Andre, sudah menunggu mereka. Dia tidak menyangka, untuk peran yang cukup simple seperti ini; peran di mana menurut Kak Alika, dia hanya akan tampil sekitar 10 sampai 15 menit saja, membutuhkan begitu banyak persiapan.
“Tau, gua kirain juga cuma datang, syuting, pulang. Ternyata ruwetnya minta ampun,” keluhnya. Sekarang, dia bisa mengerti kenapa Andre sedikit menentang idenya saat dirinya mengatakan ingin menjadi artis.
__ADS_1
Di lobi, Pak Budi menyambut mereka dengan tersenyum, sambil membantu membawa tumpukan dokumen tersebut untuk dimasukkan ke dalam bagasi belakang—karena Kak Alika menambahkan beberapa buku soal pelajaran berakting dan juga buku-buku yang bergenre sama dengan web drama yang akan dibintanginya untuk dibaca sebagai refrensi.
Begitu di dalam mobil, dia langsung memundurkan sandaran kursinya sampai agak miring, lalu memejamkan matanya dan merenungkan kembali apakah jalan yang dipilihnya sekarang ini sudah benar atau belum.