Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 5. Pernytaan Cinta (2)


__ADS_3

Andre dan Yunita akhirnya memutuskan untuk pacaran sejah hari itu, akan tetapi mereka berdua memilih untuk menjalaninya diam-diam tanpa harus di ketahui orang lain.


Agak susah memang, terutama kalau mempunyai teman seperti Dimas yang sangat peka dalam membongkar rahasia orang sedang berada di sampingnya. Ia tidak bisa terlalu sering mencuri-mencuri kesempatan di saat jam istirahat untuk bertemu dengan Yunita di perpustakaan; tempat yang akhirnya mereka pilih untuk bertemu dan sekaligus menghabiskan waktu bersama.


Sebulan lamanya mereka berhasil mengelabui seisi sekolah, termasuk Brandon dan Dimas. Namun, salah satu kerugian yang harus Andre rasakan adalah menahan rasa jengkel setiap kali harus melihat atau mendengar rumor tentang laki-laki yang banyak menembak Yunita.


Walaupun sebenarnya Yunita selalu menceritakan semuanya dan menolak semua laki-laki tersebut, tetap saja ada sedikit rasa insecure dalam dirinya. Ditambah lagi, dengan kisah cintanya yang pahit di masa lalu, membuatnya semakin merasa agak khawatir dengan popularitas Yunita yang memang sangat cantik.


Meskipun begitu, dia berusaha untuk tidak melewati batas dan berubah menjadi pacar yang terlalu posesif; walau terkadang sifat itu keluar dengan sendirinya.


“Hoi, bengong mulu, maju pea, itu pada sekarat padahal,” gerutu Dimas ketika mereka kalah dan kehilangan tower terakhir.


Akhir-akhir ini, dia, Dimas dan Brandon sedang giat-giatnya kembali bermain DOTA. Hampir setiap hari, mereka membawa laptop mereka masing-masing hanya untuk bermain game tersebut saat jam istirahat atau jam pelajaran yang gurunya tidak jadi masuk.


Akan tetapi, skill mereka ternyata tidak sama seperti saat mereka masih SMP; di mana saat itu mereka bisa mencapai Win Rate 75 – 80%, Dimas bahkan pernah mendapat 82%. Sekarang, mereka hanya mentok di 60% - 70%.


“Lu lagi ada beban hidup ya? Kok jelek banget permainan lu sekarang?”, Brandon, yang sepertinya sedang kesal juga protes kepadanya dengan wajah masam.


“Hahaha namanya juga orang sudah lama tidak main lagi,” Andre mencoba mengelak dari pertanyaan Brandon.


Jujur saja, pikirannya memang sedikit terganggu belakang ini karena memikirkan siapa lagi yang akan menembak Yunita. Dia sebenarnya sudah beberapa kali ingin membicarakan permasalahan ini dengan Yunita, akan tetapi waktu yang dipilihnya selalu saja ada yang menginterupsi.


Ketika sedang mempeributkan soal skilnya yang sedang menurun, seorang teman kelasnya berlarian di depan kelasnya, “Woi, woi, woi, Rico dan gengnya sedang ke kelasnya X-8, katanya Rico mau nembak Yunita,”


Mendengar hal itu, Andre langsung menutup laptopnya; bangkit berdiri; lalu berlari menuju kelas Yunita tanpa memedulikan reaksi orang-orang. Kenapa diia bisa panik dan langsung berlari begitu mendengar perkataan teman kelasnya tersebut? Itu semua karena ini sudah yang ketiga kalinya Rico menembak Yunita; satu kali secara diam-diam, dan satu kali di depan banyak orang.

__ADS_1


Dan, semuanya berujung penolakan. Kali ini, dengan membawa gengnya? Dia tidak bisa tidak khawatir dengan apa yang akan dilakukan orang tersebut kepada Yunita.


Ketika dia sampai di lorong lantai 3, dia melihat suasana di depan kelas Yunita sudah begitu banyak murid lain yang berkumpul. Saat hendak melangkah maju, dirinya riba-tiba ditahan dari belakang; yang ternyata itu adalah Brandon dan Dimas yang rupanya juga menyusulnya.


"Mau ngapain lu?" Dimas bertanya, "Lu ngak tau kalau dia adalah anak dari salah satu pemilik perusahaan yang bersaing dengan perusahaan lu?"


"Masa bodoh amat, gua ngak peduli," Andre melepas tangan Dimas dari pundaknya.


"Wait," Brandon kembali menahan Andre.


Dalam waktu yang singkat, mereka bertiga menyusun rencana, entang bagaimana menghadapi Rico dan gengnya. Karena bagaimanapun juga, Rico merupakan seniornya di SMA M dan itu tidak bisa dirubah meskipun sebenarnya, jika berada di dalam dunia bisnis, Perusahaan Ayah Rico berada di bawah level perusahaan keluarga Andre.


Selesai menyusun rencana, mereka bertiga kemudian menerobos paksa kerumunan di depan kelas X-8 tersebut dengan Andre berada di paling depan.


Berhasil masuk, Andre tanpa banyak berpikir langsung menghampiri Yunita lebih dulu sementara Brandon dan Dimas menyusul di belakangnya.


Rico, perawakannya sedikit lebih tinggi darinya; badannya besar dengan perut tambunnya tersebut seperti orang peminum bir. Wajahnya juga tidak terlalu oke-oke amat, namun masih dalam golongan standar. Dan seperti gosip yang di dengarnya begitu masuk SMA M, Rico dengan gengnya memang sedikit suka memaksa orang untuk memenuhi keinginannya; yah cukup wajar sih menurutnya, dengan uang dan tampang yang cukup tangguh, setiap lawannya pasti akan gemetar duluan.


Akan tetapi, itu bukan berarti dia harus takut pada orang di depannya ini, apalagi dia sendiri juga mempunyai gelar sabuk hitam dalam dunia taekwondo, dan juga sedikit mengetahui soal ilmu bela diri jujitsu; terima kasih kepada kegabutannya saat dia di SD.


“Wah liat siapa yang ada di depan kita sekarang," kata Rico dengan senyum mengejek, "Tiga pewaris pliar utama INS Group. Cukup mengejutkan, karena kalian tidak pernah mau terlibat masalah sebelumnya. Gua rasa, salah satu dari kalian punya hubungan dengan wanita sok jual mahal di belakang itu kan?”


“Watch your mouth dumbass,” ucapan Rico tadi membuat emosi Andre tersulut, namun sesuai rencana dia mencoba menahan emosinya, dan memilih untuk mengumpat saja.


“What do you say?” Rico yang terlihat mulai sedikit terpancing akhirnya bergerak maju, namun ditahan oleh Brandon. Sementara Andre sendiri tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya.

__ADS_1


Dia kemudian melirik ke arah Dimas, dan ketika Dimas mengedipkan mata, dia langsung tersenyum dan menjalankan rencananya yang sudah mereka bertiga susun sebelumnya


“Hei, bukannya lu udah ditolak 2 kali ya?” Ande memulai, dia mencoba memancing emosi Rico agar memukulnya terlebih dahulu; karena secara diam-diam, dia menyuruh seseorang di luar kelas tadi untuk merekam apa yang terjadi di dalam,


“What? 2 kali? Wah sangat memalukan banget,” Dimas memanas-manasi suasana.


Wajah Rico semakin memerah ketika perkataan Dimas tadi membuat seisi kelas seperti sedang menahan tawa dengan kejadian memalukan tersebut.


“Kau...” Rico sekarang mulai terlihat mengertakkan gigi sampai-sampai garis dagunya bisa terlihat dengan jelas.


Namun, karena merasa belum puas, Andre kembali melanjutkan, “Dan, lu berharap dengan cara seperti itu bakal diterima hah? Wah, kayanya lo punya penyakit narsistik deh,” dia bisa mendengar Yunita sempat tertawa sebentar di belakangnya,


“Tapi bagaimana ya? Gua rasa lo ngak akan pernah dapat hatinya. Karena...” Andre mundur sedikit dan menggenggam tangan Yunita sebelum melanjutkan perkataannya, “Her heart now belongs to me, you idiot,” perkataannya tersebut membuat seisi kelas sempat terkejut. Begitu pula dengan Rico yang matanya terlihat semakin melotot.


“Nah, dengar kan? lebih baik kau kembali sana ke bapakmu buat mengadu, dari pada bawa geng begini kan? Malah terkesan pengecut, dan lagi pula,” Dimas berbicara sambil membuat gerakan melingkari wajah Rico dengan jari telunjuknya, “Wajah lo itu, ngak bisa buat lawan wajahnya. Mungkin sedikit oplas bisa memperbaiki wajah lo, walaupun sikap sih kayaknya ngak bisa di operasi jadi lebih baik pastinya,” perkataan Dimas tersebut tampaknya membuat tersinggung beberapa orang di belakang Rico.


Sontak, orang-orang tersebut langsung bergerak hendak memukul Dimas. Namun, sepersekian detik sebelum pukulan tersebut menghantamnya, Dimas membuat pergerakan seolah dia terkena pukulan.


Berhasil menjalankan rencana rahasia mereka, Andre melepas tangan Yunita. Dia dan Brandon menangkis serangan orang-orang tersebut yang hendak memukul Dimas kembali.


“Oke, now you do it first, HAJAR!!!” ucap Dimas dengan penuh semangat.


Dan perkelahian pun tidak dapat dihindarkan. Melawan 5 orang, tidak ada masalah bagi Andre, Dimas ataupun Brandon. Berkat semua pelajaran bela diri yang dia dapat, tidak ada satu pukulan dari teman-teman Rico yang mengenai ketiganya.


Andre juga tidak perlu terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk melawan 3 orang di depannya sekarang ini karena mereka hanya memukul berdasarkan emosi.

__ADS_1


Perkelahian itu juga tidak berlangsung lama, karena sekitar 3 atau 5 menit kemudian, seorang guru menangkap basah mereka semua dan mengiring mereka semua ke kantor BP, kecuali Yunita yang dengan sengaja Andre suruh untuk menjauh sedikit.


__ADS_2