Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 11. Old Enemy


__ADS_3

Toni, adalah salah satu teman Andre saat duduk di bangku SMP dan juga menjadi sahabat karibnya bersama dengan Brandon dan Dimas. Pembawaannya yang ceria, tidak jaim, dan selalu nyambung saat diajak bercanda apa pun membuat mereka berempat sangat klop. Perawakan mereka berempat yang cukup tinggi membuat mereka sering disebut the fantastic four.


Alasannya? dia juga tidak tau pasti soal itu. Hanya saja, berdasarkan apa yang didengarkan oleh Dimas—yang sering gonta ganti cewek—mereka disebut seperti itu karena mendekati kata perfect. Kaya; wajah rupawan; postur dan bentuk tubuh yang atletis, merupakan beberapa dari banyak alasan.


Namun mereka berempat, sebenarnya tidak mengakui hal itu, karena orang-orang tersebut tidak tau bagaimana konyolnya mereka berempat ketika berkumpul bersama di basecamp mereka di rumah Dimas. Dia, Brandon, dan Toni sebenarnya ingin menunjukkan warna asli mereka yang penuh dengan kekonyolan di depan banyak orang. Akan tetapi, seperti biasa, Dimas dengan keplaboyannya menolak mentah-mentah ide tersebut dengan alasan imagenya yang keren akan hancur dan membuat cewek-cewek akan lari darinya.


Pertemanan mereka bisa terbilang cukup harmonis dan awet meskipun di terpa berbagai gosip. Namun semuanya berubah saat mereka duduk di kelas 3 SMP. Toni yang mereka kenal perlahan berubah menjadi sangat asing. Hubungan pertemanan mereka bertiga dengan Toni perlahan mulai retak dan berubah menjadi persaingan.


Dan puncaknya, adalah saat Toni entah sengaja atau tidak, merebut pacar sekaligus cinta pertamanya saat itu. Hal itulah yang juga membuat konsentrasinya terganggu saat menjalani pertandingan di Singapore dan menyebabkan timnya menelan kekalahan pahit; dari tim yang sangat diunggulkan menjadi juara menjadi nothing, pulang tanpa hasil.


Beruntung baginya, Dimas dan Brandon selalu ada di saat dia mengalami masa-masa suram tersebut. Seperti kata orang-orang, cinta pertama memang cukup sulit untuk dilupakan. Ia bahkan butuh 6 bulan lamanya untuk melupakan cinta pertamanya tersebut.


Oleh karena itulah, setelah bertemu dengan Yunita, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan hal yang sama terulang kembali. Dan itu pula sebabnya, ia menjadi sangat emosi saat melihat Toni dekat-dekat dengan Yunita, walaupun itu mungkin tidak disengaja; yang sebenarnya itu hanyalah sebuah ketakutan akan kehilangan orang yang ia sukai untuk kedua kalinya.


***


“Sudah, ngak ada untungnya lu berdebat di sini. Pikirkan bagaimana kalau sampai wartawan di luar mendengar hal ini?” ucap Dimas yang menahan lengan dan bahu Andre sementara Toni, orang itu melempar senyuman sinis sembari pergi dari hadapan mereka berempat.

__ADS_1


Setelah Toni menghilang dari pandangannya, Andre tersadar akan pandangan orang di sekitar mereka yang melihat ke arahnya sembari berbisik. Sadar kalau hal tersebut bisa menjadi image buruk untuk dirinya maupun keluarganya, sambil memasang muka datar, ia kembali menggenggam tangan Yunita dan pergi meninggalkan tempat tersebut disusul oleh Brandon dan Dimas.


“Dasar kampret,” dia mengumpat dalam hati, “kenapa harus hari ini sih?” tanpa sadar, dia mengucapkan kata-kata yang seharusnya diucapkannya dalam hati. Perkataannya tersebut, tampaknya membuat Dimas, Brandon, kedua pasangan mereka masing-masing dan juga Yunita keheranan.


“Hah? Maksudnya apa?” Yunita langsung bertanya,


“Anu..” ia sebenarnya sangat ingin berkelit dan menjawab yang lain. Akan tetapi, pikirannya buntu, ia tidak bisa memikirkan satu kebohongan yang akan terdengar meyakinkan saat ini. Tak punya pilihan lain, ia akhirnya menceritakan soal perkataan Toni tadi yang terngiang di kepalanya saat ini terus menerus dan membuat moodnya menjadi sedikit agak kacau.


“Memangnya laki-laki tadi siapa?” pertanyaan Yunita membuat Dimas, Brandon, dan juga dirinya terdiam untuk sebentar. Mereka bertiga saling menatap, seperti berbicara dengan menggunakan telepati dan mata mereka. Sementara Yunita, menatapnya dengan tatapan seperti orang yang kepo dengan masa lalu orang. Kedua wanita yang datang bersama Dimas dan Brandon pun terihat tidak peduli dan hanya memainkan hp.


Merasa kalau hanya permasalahan waktu saja sebelum Yunita juga tau, ia menganggukkan kepalanya saat Brandon dan Dimas menatapnya; sebagai isyarat kalau Dimas ataupun Brandon boleh menceritakan tentang Toni.


“Lah memangnya kenapa?” Yunita sepertinya sangat penasaran dengan hal tersebut. Dimas dan Brandon kembali menatap Andre, seperti sedang meminta izin untuk menceritakan hal tersebut. Andre sendiri hanya mengangguk dan tersenyum. Karena sejujurnya, ia sudah tidak mau berbicara apapun soal Toni semenjak Toni merebut kekasihnya tanpa alasan yang jelas.


“Yah, rumor yang gua dengar sih banyak. Ada yang bilang kalau itu gara-gara cewek. Apalagi dia ini nih (menunjuk Andre dengan tatapannya) populer di antara cewek-cewek di SMP kami bertiga dulu. Tapi bagi gua ngak masuk akal kalau soal itu, karena dia ini cuma punya 1 mantan doang selama di SMP. Itupun berakhir tragis karena si bangsat Toni tersebut,” Brandon menyenggol lengan Dimas ketika Dimas menggunakan kata ‘bangsat’. Kedua pasangan mereka juga tampaknya sedikit terkejut ketika Dimas mengucapkan kata-kata kasar tersebut.


“Terus menurut kalian karena apa?” tanya Yunita kembali, yang sepertinya sangat kepo dengan hal tersebut.

__ADS_1


“Ngak tahu juga, soalnya sampai sekarang dia sama Toni belum pernah ketemu dan membicarakan hal itu dengan baik-baik. Tadi pun, itu sebenarnya pertama kalinya Toni muncul setelah tamat dari SMP. Dan juga...”


“Enough, ngak ada gunanya membahas masa lalu yang buruk kaya gitu,” merasa pembicaraan ini akan panjang, ia memotong pembicaraan Dimas, melipat tangannya di atas meja, “Dari pada itu, bagaimana kalo kita membicarakan aibnya Dimas yang pas dia pacaran sama kakak cantik dan berujung kena tamparan, bagaimana? Setuju?” usulannya tersebut membuat Brandon tersenyum lebar, sedangkan Dimas mulai terlihat salah tingkah; raut wajahnya juga berubah dari yang tadinya tenang menjadi kelihatan panik; matanya juga terlihat tidak bisa fokus. Pasangan Brandon dan Dimas yang sepertinya merasa tidak dianggap, berdiri dan pamit pulang terlebih dahulu.


“Heh, lu ya? Kalo cuma kita bertiga sih ngak apa-apa. Masa Yunita juga harus tau aib gua sih? Dia kan, maaf ya, tidak termasuk ke dalam circle kita,” Dimas yang sudah mulai panik berusaha mencegah Andre ataupun Brandon untuk mulai bercerita.


“Circle apaan sih?” Yunita bertanya lagi,


“Ah, group chat kami bertiga,” jawab Brandon,


“Cuma itu? Gampang, tinggal dimasukin ke dalam group kok nantinya. Lagi pula gue sama dia juga udah ditakdirkan satu sama lain kali. Buktinya gua udah ketemu dia dua kali tanpa di sengaja tuh,” ia membantah alasan Dimas barusan; dan sedikit senang juga sih bisa membuat Dimas, yang biasanya sangat suka mengerjainya, terlihat panik ngak karuan. Yah, hitung-hitung balas dendam sedikit lah atas mulut embernya itu selama ini.


“Hoi, yang namanya takdir itu kalo sudah tiga kali ketemu tanpa disengaja, dua kali mah bukan apa-apa,” Dimas dengan percaya diri membalas perkataan Andre. Andre tidak bisa membantah perkataan Dimas tersebut dan hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa.


“Sudah tiga kali kok,” Yunita kemudian memecah keheningan tersebut ketika Dimas tersenyum dengan percaya diri karena merasa sudah menang atas Andre.


Ia terkejut, karena seingatnya mereka baru 2 kali bertemu secara tidak sengaja, saat di singapura, dan saat hari pertama masuk SMA waktu itu. “Dimana?” ia bertanya karena penasaran dimana ia bertemu dengan Yunita untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Yunita yang tersenyum lebar, membuat ia menjadi sangat penasaran; yang sepertinya juga dirasakan oleh Dimas dan Brandon yang sekarang ini menatap Yunita dengan serius. Mungkin berharap akan mendapatkan aib yang bisa dijadikan bahan gibahan, pikirnya.


__ADS_2