
Keesokan harinya, Andre, Brandon, Dimas, Yunita, dan juga Stefani berkumpul di salah satu restoran fast food di daerah Kelapa Gading untuk membicarakan rencana liburan mereka.
Di kala mereka semua sibuk membicarakan destinasi yang sangat mereka masing-masing inginkan,Yunita tidak bisa fokus; kepalanya terasa agak pusing akibat memikirkan bagaimana untuk memberitahu Ayahnya soal dirinya yang ditawari menjadi artis.
“Hey, mikirin apaan kamu sampai melamun kaya begitu?” memperhatikan Yunita yang hanya diam saja dari tadi, Andre akhirnya mencubit pelan lengan Yunita untuk menyadarkannya.
“Hah? Apaan?” merasakan rasa sakit seperti digigit semut, Yunita baru sadar kalau dia sudah melewatkan banyak hal, “Maaf, lagi mikirin masalah di rumah sama kakakku,” dia terpaksa sedikit berbohong setelah merasa menyebabkan suasana menjadi sedikit kurang baik.
“Kamu lagi ada masalah apa? Kalau emang bisa diceritain, ceritain aja, jangan di pendam sendiri. Cuma bikin pusing aja malahan,” Andre mencoba mengulik apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh pacarnya.
“Dia habis di rekrut sama scout talent PH,” ujar Stefani begitu mendadak,
Tatapan mereka langsung tertuju kepadanya. Menyadari kalau waktunya juga tinggal sedikit dan hanya masalah waktu sebelum semua orang terdekatnya tau, dia kemudian mengeluarkan kartu nama yang diberikan Kak Alika kemarin dan meletakkannya di atas meja.
Akan tetapi, ekspresi Andre dan yang lainnya tidak terlihat begitu antusias, Stefani pun tampak sedikit heran dengan respon yang diberikan oleh ketiga sekawan tersebut. “Lah, ngak ngucapin selamat nih? Atau kalian juga sudah tau?” Stefani bertanya.
“Kamu yakin mau terjun ke dunia hiburan?” anehnya, wajah Andre; dengan kening yang mengerut, malah terlihat seperti sedang khawatir akan suatu hal.
“E.. Emangnya kenapa? Ada yang salah kalau aku masuk ke dunia hiburan?” Yunita bertanya sambil menatap Andre, Dimas, dan Brandon; yang tidak bereaksi apa-apa, secara bergantian.
“Banyak, tapi yang paling penting, kamu tidak akan pernah bebas seperti sekarang ini.” wajah Andre yang datar, ditambah lagi cara bicaranya yang terdengar seperti sedang mengancam membuat Yunita sedikit menelan ludah.
“Ngak usah nakut-nakutin deh kamu,” dia masih menolak perkataan Andre tersebut dan memukul lengannya agak pelan.
“Itu betul Yun. Lu mungkin menganggap pekerjaan seorang aktris itu hebat. Memang benar, cuma modal akting, paras rupawan, done, langsung dapat duit. Tapi, semua hal yang mengenakkan ada imbalannya. Dan dalam hal ini, Privasi.
__ADS_1
Sekarang, lo mungkin boleh bersikap bebas, bisa marah kepada siapapun disekolah tanpa peduli pandangan mereka terhadap lo. Tapi, begitu terjun ke dunia hiburan itu, lo ngak bakal bisa bersikap seperti itu lagi. Setiap perbuatan lo, pasti akan ada saja yang viral, diketahui semua orang di sosmed. Dan yang parahnya lagi, lo bakal di hujat banyak orang, termasuk keluarga lo juga bakal kena imbasnya,” jelas Dimas panjang lebar.
“Tapi buktinya, hidup kalian baik-baik saja kan? Jadi seharusnya ngak semenakutkan yang kalian bilang,” keinginannya yang kuat dari Yunita untuk menjadi aktris, membuat dia merasa kalau Dimas terlalu berlebihan. Ditambah lagi, dia melihat kalau Dimas, Andre, dan Brandon yang terlihat baik-baik saja dengan semua showbiz yang mereka katakan menakutkan tersebut.
“Itu berbeda, karena...”
“Sudah, cukup,” Andre tiba-tiba memotong Dimas yang sedang berbicara, “Kalau kamu memang mau terjun ke dunia hiburan, tidak apa-apa. Tapi, pikirkan dulu secara matang, jangan cuma karena tergoda melihat kehidupan artis yang sukses,” nasihat Andre tersebut berhasil sedikit menembus hati Yunita yang sudah kekeh untuk terjun ke dunia hiburan.
Dia tidak menjawab sama sekali, keinginannya tetap bulat untuk menjadi artis, karena menurutnya kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Dia juga sedikit meremehkan perkataan Dimas soal netizen dan yang lainnya.
Dalam pikirannya saat ini, dia berpikir, kalau dia hidup lurus-lurus saja dan tidak berbuat hal yang aneh-aneh, orang pasti juga tidak akan mempermasalahkan perbuatannya.
Dan di samping itu, dia juga membutuhkan kesempatan ini agar bisa lepas dari tekanan Ayahnya. Meskipun dia sangat benci dengan ayahnya yang suka memaksakan kehendaknya, akan tetapi dia tetap berprinsip teguh kalau masalah keluarga tidak boleh sampai bocor keluar.
Bahkan Stefani, Andre ataupun teman dekatnya sekalipun semasa SMP, dia tidak pernah menceritakan apapun ke mereka soal permasalahan keluarganya. Hanya kakaknya, Ibu tiri yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung saja yang tahu perasaan terdalamnya; meskipun dia juga masih menyembunyikan masalah asmaranya dengan Andre hingga saat ini.
“Iya, kamu keberatan?” dia bertanya balik, namun dengan sedikit penekanan pada kata ‘keberatan’. Seolah pertanyaannya tersebut bukan menanyakan pendapat, tapi lebih ke arah memaksakan kehendaknya sendiri.
“Ngak,”
“Kenapa?”
“Because that’s your life. Kamu yang menentukan, aku cuma mendukung sebisaku. Yang penting, jangan terlalu memaksakan diri, tetap balance antara sekolahmu dan karir akting. Karena pekerjaan sebagai artis itu yang paling berisiko, bayaran saat menjadi pemula ngak seberapa, tapi imbasnya ke mental dan kesehatan bisa parah banget,” ujar Andre.
Perkataan Andre barusan yang penuh dengan perhatian, membuat Yunita sedikit bertanya-tanya soal mantan Andre yang pernah disebut Dimas malam itu. Dia heran, kenapa wanita tersebut bisa meninggalkan Andre yang bisa dikatakan hampir seperti paket komplit; punya manner yang bagus; pemikiran yang dewasa ketimbang teman-teman seusia mereka.
__ADS_1
Hari itu, dia memutuskan untuk menolak diantar pulang oleh Andre dan memilih pulang sendiri. Bukan apa-apa, dia hanya ingin bisa merenungkan diri selama perjalanan pulangnya; memikirkan kata-kata yang akan digunakannya; dan bagaimana dia harus bersikap saat melihat reaksi ayahnya nanti—yang mana dia cukup yakin kalo Ayahnya akan marah besar.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya\, entah sebuah pertanda atau bukan\, kebetulan musik yang diputar dari radio sekarang\, ‘Win – Brian McKnight’ terasa agak pas dengan dirinya yang akan menghadapi salah satu tantangan terbesarnya malam ini. Merasa suka dengan lagu tersebut\, dia langsung membuka handphonenya; mencari lagu tersebut di spo***y; lalu menyimpannya ke dalam playlist favoritnya.
Ketika sampai di rumahnya, dia menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sebelum membuka pintu depan. Setelah masuk ke dalam rumah, sekarang tinggal mencari waktu yang tepat untuk menjatuhkan bom yang pasti akan merusak suasana di rumah malam ini yang cukup tenang.
“Dari mana kamu? Kenapa baru pulang jam segini?” Ayahnya seperti biasa, sangat ketat soal jam malam; pergaulannya; dan bahkan soal pendidikannya, membuaknya sedikit muak dengan semua pengekangan ini. Rasanya dia ingin segera mengucapkan hal tersebut sekarang.
“A...”
“Eh, kamu udah pulang?” sebelum Yunita sempat mengucapkannya, Ibunya memotong kesempatan sempurna tersebut. Dia membatalkan niatnya untuk sementara, karena tidak tega jika harus merepotkan ibunya yang selalu membelanya selama ini setiap kali ayahnya marah.
“Iya ma,” dia memaksakan dirinya untuk tersenyum hanya demi ibunya. Sedangkan untuk Ayahnya, ketegangan di antara mereka berdua sudah memuncak semenjak dia memutuskan untuk masuk ke dunia robotik; yang dianggap ayahnya sebagai hobi tidak berguna.
“Ya sudah, kamu naik dulu, ganti pakaian. Sekalian panggil kakakmu makan malam ya?”
“Ok mom,” jawabnya.
Saat dirinya sudah mencapai tangga, tiba-tiba, entah kenapa, dia sangat ingin memeluk ibunya. Sehingga, dia berbalik; berlari mendapatkan ibunya; dan memeluk ibunya dengan erat.
“Loh, kamu kenapa? Lagi ada masalah?” Ibunya bertanya. Saat merasakan kepalanya yang sedang di elus oleh Ibunya, dia merasa sedih, namun dia tetap berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.
“Ngak kok, lagi pengen aja,” ucapnya sembari tetap memeluk ibunya beberapa saat sebelum akhirnya dia melepas pelukannya.
“Dasar, kamu ya, memang yang paling manja,” ucap Ibunya. Senyuman yang terpancar dari wajah Ibunya membuat dia hampir saja meneteskan air mata, namun masih berhasil ditahannya, “Udah, ganti baju sana, keburu makanannya dingin,” perintah ibunya.
__ADS_1
Dia, Yunita, kemudian berjalan kembali menuju kamarnya. Perasaannya terasa sangat berat ketika memikirkan bagaimana reaksi ibunya yang lagi-lagi akan kerepotan melerai dirinya dan Ayahnya.