
Sementara itu, di lain tempat, di waktu yang sama,
Andre yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi dan panekuk, tidak bisa fokus dengan makanannya. Beberapa hari ini, pikirannya tidak bisa fokus dengan kegiatannya.
Dia sedikit heran, bagaimana bisa sebuah Production House bisa melacak seseorang sampai ke sekolahnya. Menurutnya, hal itu sangat mustahil kecuali mereka punya orang dalam di kepolisian; yang tentu akan sangat mudah mengetahui detail data pribadi seseorang.
Salah satu hal yang mendukung kecurigaannya, adalah Yunita yang sangat jarang mengupload sesuatu di sosial medianya. Bahkan, akun Yunita pun hanya mengizinkan teman saja yang bisa melihat postingannya. Sehingga, mengetahui soal Yunita dengan cara tracking lewat sosial media tampaknya agak mustahil.
Spekulasi liar kemudian terlintas di kepalanya. Dia sedikit curiga kalau ini semua ada hubungannya dengan orang tuanya. Terdengar agak jahat memang. Namun, bisa jadi itu satu-satunya alasan kenapa PH yang tidak terlalu besar seperti itu bisa mendapatkan kontak dan detail soal Yunita.
Akan tetapi,
Andre tidak mau mengambil kesimpulan secara terburu-buru. Cukup satu kali dia harus diliputi rasa bersalah karena mengambil kesimpulan tanpa menyelidiki kebenarannya dulu. Kali ini, dia ingin betul-betul memastikan terlebih dahulu baru menyimpulkannya.
Dia juga tidak memberitahu Yunita soal pemikirannya tersebut. Ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya kalau Yunita akan merasa terbebani; jika memang kecurigaannya betul.
“Haduh, lu tuh ya, ganggu aja pas gua lagi santai-santai di rumah,” Dimas menggerutu begitu kembali dari kasir untuk memesan scramble egg ketiganya.
Entah sudah yang keberapa kalinya Andre mendengar keluhan orang di depannya ini. Dia sejujurnya agak kesal, tapi tidak bisa membantah kalau memang dia mengajak Dimas hanya untuk menemaninya saja saat menunggu Yunita.
“Ngeluh mulu lu, bilang aja mau chatingan ama cewek lu,”
“Lah, itu lu tau. Ngapain gangguin me time gua sih?”
“Ah bacot. Ngomong-ngomong, lu punya kenalan detektif swasta ngak?” tanpa menunda-nunda atau basa-basi, Andre langsung menuju ke inti pembicaraannya. Selain karena menyadari waktu mereka yang mepet. Dia juga cukup gelisah setiap tidak menemukan jawaban atas pertanyaan di kepalanya.
“Kakak gua sih mungkin ada, emang kenapa?” Dimas menatap Andre sambil menyendok sesuap nasi dan scramble egg dengan saus sambal di atasnya ke dalam mulutnya.
“Gua mau lo cari tahu soal PH yang rekrut Yunita; siapa pemimpinya; koneksi yang dia punya; dan apakah orang-orang di sana ada koneksi ke orang tuaku atau tidak,”
__ADS_1
“Buat apaan semua tuh?”
“Udah, ngak usah banyak tanya, lu bisa bantu atau ngak,”
“Ya sabarlah, gua musti tanya kakak gua dulu. Dan juga, biayanya ngak sedikit koplak,”
“Tenang aja, gua bayar berapa pun! Yang penting lu jangan kasih tau Yunita soal ini,”
“Lu sering ngepet ya? Punya uang dari mana lu?” Dimas menatap Andre dengan tatapan curiga. Alis sebelah kanannya yang naik agak tinggi, sudah menjadi ciri khasnya ketika sedang curiga.
“Emang gua kaya elu? Uang di hambur-hamburkan cuma buat cewek doang,” jawab Andre dengan menyindir balik temannya ini.
Selama ini, Andre memang menyembunyikan dari Dimas dan Brandon soal kondisi keuangannya. Hal itu sebenarnya sengaja dia lakukan. Apalagi, dengan kebiasaan buruk Dimas yang suka sekali berpesta, Andre tentunya tidak mau kalo uangnya harus habis hanya demi kesenangan mereka semata.
Dan, berbicara soal keuangan. Andre bisa dibilang sangat menyadari betapa pentingnya itu. Di mulai semenjak kelas 2 SMP, berawal dari Ayahnya yang terus berbicara saham. Dia mulai tertarik dan mencari tahu semua yang berhubungan dengan saham. Mulai dari Trading forrex, currency, sampai crypto dia pelajari.
Hasilnya? Cukup memuaskan. Selama 4 bulan berusaha, dia mempunyai portofolio senilai ratusan juta sekarang ini; dan tentunya masih akan terus bertambah atau berkurang seiring berjalannya waktu. Terdengar mustahil memang, Ayahnya bahkan sampai sekarang menyebut keberhasilannya sebagai cuma sebagai keberuntungan pemula saja.
“Anyway, sekarang kan pacar lu jadi artis. Ngak ada perasaan insecure gitu apa dalam diri lu?”
“Ngak, kenapa memang?”
“Lah, Yunita itu kan udah cantik, pinter, body proposional. Masuk ke dunia hiburan, sudah pasti makin banyak saingan lu ntar,”
“Ngak apa-apa, gua ngak meragukan kesetiannya dan lebih memilih berserah aja sama yang di atas. Lebih baik begitu dari pada pikiran lu capek buat mikirin hal kaya gituan,”
Sebenarnya, Andre bukan tidak pernah memikirkan hal tersebut. Saat mendengar soal keinginan Yunita ingin menjadi artis beberapa hari lalu, Andre sudah terbayang-bayang bagaimana ke depannya nanti. Akan tetapi, dia tidak mau menjadi pacar yang posesif.
Baginya, yang namanya pacaran itu bukanlah berarti dia memiliki Yunita dan berhak mengaturnya. Yunita bisa berbuat apapun yang disukainya, begitu pula dengan dia sendiri. Dia hanya bisa ikut campur saat memang Yunita menyatakan ketidaknyamanannya terhadap seseorang.
__ADS_1
...***...
Tidak lama berselang,
Yunita akhirnya sampai di cafe tempat Andre dan Dimas menunggu. Melihat Yunita dan Stefani melewati pintu masuk cafe, Andre menarik kursi di sampingnya. Wajah Yunita terlihat sedikit lelah, padahal dia dan Stefani cuma berada di kantor PH tersebut sekitar 1 sampai 2 jam.
“Bagaimana? Berjalan lancar?” Andre memulai pembicaraan ketika Yunita duduk di sampingnya, sementara Stefani duduk di samping Dimas. Yang sedikit mencurigakan, adalah bagaimana mata Dimas yang terlihat mencuri pandang ke Stefani.
“Nothing special, cuma sekedar tanda tangan dan short lesson aja dengan kak Alika tadi. Kamu sudah makan?”
Yunita menjawab dengan santai. Dia tidak memberitahu secara detail tentang kegiatannya tadi. Selain dia merasa hal itu tidak terlalu penting, Kak Alika juga menyarankannya untuk merahasiakan beberapa hal sebelum press confrence berlangsung di bulan April nanti.
“Sudah,”
“Bagus, kalau begitu, gua bisa manfaatin kalian buat bantu beres-beres apartemen kakakku,”
“Lah, kamu pindah rumah?”
Andre agak sedikit terkejut. Jika melihat rumah Yunita, maka pastinya orang akan lebih memilih tinggal di rumah tersebut dibandingkan apartemen yang agak sempit—kecuali mungkin seperti apartemennya Andre yang merupakan sebuah penthouse yang begitu luas layaknya rumah.
“Iya, biar lebih dekat ke sekolah aja sih, dan biar bisa bangun agak siangan,”
Yunita tersenyum ketika mengucapkan bangun agak siangan. Cukup di mengerti sih. Karena, jarak rumah Yunita dari Bogor ke Jakarta memang cukup jauh. Belum lagi kalau macet, sehingga akan memaksa orang untuk bangun paling lambat jam 3 dan jalan jam 4 pagi untuk sampai di jakarta jam 7 tepat. Tau sendirilah, bagaimana macetnya Jakarta.
“Ya udah, makan dulu aja,” ucap Andre, ketika melihat jam di handphonenya baru menunjukkan pukul 12 siang.
...***...
Ketika Yunita dan Stefani sedang memesan makanan, Andre menyuruh Dimas menelepon Brandon untuk janjian bertemu di depan sekolah mereka. Di samping untuk merekrut tenaga tambahan, sekalian juga untuk membicarakan perjalanan liburan mereka minggu depan.
__ADS_1