
“Ha... Ah..”
Antusiasme dan senyuman berseri di wajah Andre tadi seketika sirna ketika melihat kalau yang datang ternyata bukanlah Yunita melainkan tante Ranty; salah satu sahabat ibunya yang cukup dekat dengan keluarga mereka.
“Loh, kenapa wajahmu cemberut? Emang kau kira siapa yang datang?” goda Ibunya yang sedang duduk di sofa dengan senyuman jahil di wajahnya.
“Gak lucu kali mom,” ucapnya dengan agak ketus karena kesal.
Andre yang tadinya berapi-api saat menuruni tangga sekarang merasa lelah dan akhirnya memilih untuk duduk di sofa sementara waktu. Dan juga, karena sudah terbiasa dari awal soal ‘good manner’ yang diterapkan orang tuanya. Dia merasa akan sangat tidak sopan kalo dirinya langsung pergi tanpa ikut mengobrol barang beberapa menit.
“Kenapa? Kamu pikir siapa yang datang? Pacarmu yang namanya siapa lagi itu?”
Ucap Tante Ranty yang ikut-ikutan menggodanya. Tidak mengherankan apabila Tante Ranty mengetahui soal Yunita. Karena, persahabatan antara Ibunya dan Tante Ranty yang begitu erat, di antara mereka berdua hampir tidak ada rahasia; kecuali rahasia klien atau perusahaan tentunya.
“Yunita,”
“Nah, itu. Hebat juga anakmu ya, bisa dapat yang cantik terus. Jadi gimana? Apa yang itu calon Nyonya muda nantinya?”
“WHAT!?”
Pertanyaan Tantenya tadi sedikit membuat Andre terkejut sampai-sampai dia hampir bangkit dari kursinya. Melihat respon ibunya yang dengan tenang menyeruput tehnya dan hanya tersenyum setelahnya, kecurigaan yang dirasakan Andre semakin meningkat.
“Bisa jadi. Tapi, semua tetap tergantung sama mereka berdua. Kita sebagai orang tua cukup mengawasi aja. Lagian mereka bukan anak kecil lagi kali,”
Jawaban Ibunya tersebut entah kenapa tidak membuatnya tenang, malahan semakin sedikit was-was. Karena, jika ibunya betul-betul menerima Yunita dengan ramah. Masih ada satu rintangan lagi, Keluarga Besar Ayah dan Ibunya.
...***...
Pada awalnya, keluarga besar Ayah Andre tidak pernah peduli terhadap keluarga mereka. Akan tetapi, semua berubah ketika Ayah Andre berhasil merintis perusahaannya sekitar 15 tahun lalu. ‘Uang akan menunjukkan wajah asli sesorang’, kiasan itu sangat tepat dengan apa yang keluarga mereka alami.
Kedua keluarga besar mereka, yang awalnya tidak peduli, berubah 180 derajat. Ayahnya, yang awalnya tidak pernah dianggap, semenjak menjadi sukses langsung diundang di setiap acara formal maunpun non-formal, ataupun acara keluarga dekat mereka.
Dan disinilah sisi negatif menjadi orang terpandang mulai dia rasakan, ‘tidak bebas dalam mengekspresikan perasanaan’, tepatnya pada saat Ayahnya yang menolak hadir di beberapa acara dengan embel-embel ‘acara keluarga’. Kenapa? Karena bayak orang yang tidak tahu permasalahan mereka, malah sok mengomentari Ayahnya dan keluarga kecil mereka. ‘Anak Durhaka’, ‘Keluarga tidak tahu diuntung’, ‘Ular bermuka dua’ dan banyak lagi hujatan lainnya yang sangat menyakitkan.
Semua itu, tambah di perparah dengan keluarga Ayah mereka, terutama kakeknya—yang akhirnya sangat Andre benci—yang ikut mengutuk anaknya sendiri. Terpojok, Ayahnya Andre pada akhirnya mengalah dan memilih untuk pura-pura bersikap baik.
__ADS_1
Sekarang, Andre, yang menjadi calon penerus perusahaan, harus menghadapi semua itu. Mulai dari sikap yang harus ekstra di jaga, riwayat akademik yang cemerlang, jauh dari pemberitaan negatif, Ayah dan Ibunya berusaha melakukan semua itu secara diam-diam—karena selama ini dia cukup di bebaskan—agar kejadihan pahit di masa lalu tidak terulang.
Dan tidak bisa dipungkiri kalau Yunita di pandang sebelah mata oleh kakeknya. Dia baru menyadari itu semua ketika 2 bulan terakhir, kakeknya selalu mengenalkan anak gadis secara mendadak, saat ada Yunita maupun tidak.
...***...
“Duh, inilah akibatnya kalau terlalu banyak nonton drama china,” keluh Andre sambil sedikit menggelengkan kepalanya, “Ini bukan jaman situ nurbaya kali Ma, Tan. Masa masih ada aja perjodohan paksa kaya gitu,” tambahnya.
“Siapa bilang ngak ada. Banyak kok, cuma rata-rata pada tunangan dulu pas tamat SMA, habis itu selesai kuliah baru married. Gitu,”
Apa yang dikatakan tantenya tersebut sebenarnya bukan hal yang asing lagi bagi Andre. Dia sendiri memang pernah mendengar hal tersebut, namun khusus untuk tunangan setelah tamat SMA, dia tidak pernah melihatnya secara langsung. Tapi kalau menikah sehabis kuliah atau menjelang akhir, dia sudah melihat banyak contohnya.
“Ah taulah, yang penting aku ngak mau kalo ada paksaan. Biarkan saja semua berjalan dengan normal, kan lebih bagus. Dan mama sama papa kan juga sudah janji tidak akan mencampuri segala urusanku sampai tamat SMA, ya kan?”
Suasana menjadi hening sejenak. Andre sekarang tanpa sadar sedang berdiri tegak, bertumpu pada kedua kakinya. Seketika, rasa sakit yang tadinya tidak terasa, langsung terasa nyeri. Rasanya seperti lukanya yang sudah kering terbuka kembali.
“Sepertinya anakmu ini memang sudah mabuk kepayang sama yang namanya Yunita ini ya?”
Pertanyaan Tante Ranty tersebut disambut dengan senyuman kecil di wajah Ibunya Andre, “Makanya, lebih cepat memang lebih baik. Ya kan?” ujar Ibunya Andre dibarengi dengan senyuman misterius ke Tante Ranty.
(Ding dong... bel rumah mereka berbunyi.)
“Lo ngundang tamu lagi ya?” ujar Tante Ranty bertanya kepada Ibunya Andre.
“Hm, tadi kan pendapatnya Andre sudah keluar. Bagaimana kalo kita tanya Yunita langsung sekarang?” ujar Ibunya Andre sambil meletakkan gelas tehnya di atas meja di depan mereka bertiga. Senyuman di wajahnya terlihat sedikit lebih lebar saat ini, “Mbak, tolong dong,” tambahnya.
Sedangkan Andre, dia hanya bisa terdiam di kursinya, kakinya yang terasa nyeri membuat dia tidak bisa berbuat banyak. Pikirannya menyuruhnya untuk berdiri dan menyambut langsung tamu yang ada di depan pintu. Akan tetapi, kakinya yang kesakitan tersebut menolak untuk mengikuti kemauannya.
Jantungnya berdegup semakin cepat seiring pembantu mereka mendekati pintu. Ada rasa senang, namun juga ada perasaan gugup yang muncul dalam dirinya. Dia merasa kalau pembicaraan soal pertunangan yang ujung-ujungnya juga pernikahan, terlalu cepat kalau mau dibicarakan sekarang.
Ya walaupun sebenarnya tidak bisa dipungkiri kalau otaknya yang aktif tersebut sudah traveling membayangkan bagaimana kehidupannya dan Yunita sebagai ‘suami istri’ di masa depan.
Mendengar suara pintu depan yang dibuka, Andre bingung ingin menyambut Yunita seperti bagaimana. Terlebih lagi, ini merupakan pertama kalinya Yunita datang ke rumahnya, sehingga kesan positif adalah sebuah keharusan. Akan tetapi, sekali lagi, kakinya tersebut membuat dia tidak bisa berbuat banyak, dan terpaksa hanya bisa duduk diam di sofa saja.
“Siang Tante, maaf telat. Kena macet tadi soalnya,”
__ADS_1
Sapa Yunita dengan suara yang lembut. Yunita juga terlihat cantik hari ini di balik penampilannya yang sederhana; hanya menggunakan baju kaos yang dilapisi sweeter berwarna coklat dan celana jeans berwarna biru. Yang membuatnya terlihat sedikit wow mungkin adalah tas branded yang dipegangnya. Ketika mata mereka berdua bertatapan sekilas, Yunita dan Andre hanya saling melempar senyuman.
“Ngak apa-apa. Di maklumi lah kalo jakarta macet. Ayo duduk,” ujar ibunya Andre.
Yunita terlihat agak malu-malu saat berjalan dan duduk di samping Andre. Sementara Ibunya Andre dan Tante Ranty, menatap dua sejoli di depan mereka tersebut dengan tatapan gemas, terutama Tante Ranty yang memang sangat menyukai gosip soal hubungan orang.
“Mom..”
“Bagaimana kalo kalian berdua bertunangan setelah tamat SMA?”
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Baik Yunita ataupun Andre, mereka berdua hanya diam seribu bahasa. Andre menganggap Ibunya terlalu melampui batas kali ini. Tidak masalah menurutnya kalo membicarakan soal seperti ini saat mereka sudah duduk di kelas 3 SMA dan mendekati kelulusan. Akan tetapi, saat ini, mereka baru kelas 1 SMA dan baru berpacaran beberapa bulan.
“Menurut saya...”
Andre yang sudah bulat ingin menentang pembicaraan tersebut, dipotong oleh Yunita yang mulai menjawab pertanyaan Ibunya tersebut.
“... Itu akan sangat merugikan saya sebagai perempuan," Yunita tersenyum sebentar, tangannya menggenggam tangan Andre saat ini, "Bukan bermaksud kurang ajar, tapi saya tidak mau hubungan kami berdua terlalu dipaksakan. Saya tau, kalo Andre memang orang yang cukup penting di keluarga ini, dan saya mungkin akan menjadi beban sehingga Tante ingin kami berdua cepat-cepat menikah supaya orang-orang menjadi diam.
Tapi menurut saya, orang-orang tidak akan berhenti bergosip. Apalagi saat ini, saya sedang berusaha debut menjadi artis. Kemungkinan, itu akan memberatkan saya nantinya karena sebutan ‘tunangan’ tersebut. Saya mau orang-orang mengenal saya dan memperhatikan saya bukan karena gelar ‘tunangan Andre’ atau ‘calon nyonya’ dan sebagainya. Saya mau orang mengenal saya karena prestasi saya, kemampuan saya sendiri. Jadi..”
“Ok, cukup,” Ibunya Andre menyela Yunita yang sedang berbicara lalu berdiam diri sejenak; seperti sedang memikirkan sesuatu, “Kalau begitu, saat umur 21 tahun? Bagaimana?”
Andre dan Yunita saling bertukar pandang, seolah mereka berdua berkomunikasi dengan telepati. Andre lebih memilih untuk menyerahkan semua keputusan kepada Yunita. Karena, setelah mendengar pernyataan Yunita barusan, dia menjadi tersadar kalau memang Yunitalah yang akan lebih menanggung beban berat nantinya.
Setelah beberapa menit berdiam diri dan berpikir, Yunita kemudian mengiyakan saran Ibunya Andre. Andre, dalam hati tentu sangat senang, akan tetapi dia memilih untuk menyembunyikannya dan hanya tersenyum saja sebagai gantinya.
...***...
Meninggalkan Yunita dan Tante Ranty di ruang tamu berdua saja, Andre mengikuti Ibunya masuk ke dalam ruang kantor pribadi Ayahnya. Sepertinya, Ibunya ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting, sampai-sampai mereka harus berbicara di ruangan terpisah.
“Memangnya kenapa sih, mama berpikir jauh sekali sampai sebegitunya?” tanya Andre setelah menutup pintu di belakangnya.
“Perlu mama jelaskan soal keadaan keluarga ayahmu itu? Dan segala macam musuh dalam selimut di sana sini?”
Andre tidak bisa membantah perkataan Ibunya tersebut. Karena dia juga tahu betul apa yang di maksud Ibunya, terutama soal musuh dalam selimut yang berada di sekitar mereka.
__ADS_1
“Ah. Bagaimana kalau kamu ambil kelas Akselerasi saat ditawarkan nanti?” lanjut ibunya lagi.