Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Arc II (Every Decision Have Impact) : Chapter I


__ADS_3

...CHAPTER I...


6 Bulan berlalu begitu cepat, Andre bahkan belum sempat mengatakan kepada Yunita soal keputusannya untuk mengambil kelas Akselerasi. Yunita, di satu sisi juga semakin disibukkan dengan kegiatan syutingnya. Terlebih lagi, Ibunya Andre tampak betul-betul membentuk Yunita menjadi artis yang serba bisa dengan memberikan berbagai tawaran film dan drama—secara sembunyi-sembunyi lewat agensi Yunita—tepat setelah web-drama pertamanya berakhir.


Akibatnya, Yunita menjadi sedikit ekstra sibuk karena harus bersekolah sambil syuting. Hal yang sama berlaku dengan Andre. Andre, selama 1 bulan terakhir sebelum semester genap berakhir, harus menghadapi serangkaian uji kompetensi tambahan setelah dinyatakan layak masuk kelas Akselerasi.


Kesibukan yang mendera keduanya, membuat mereka sangat jarang terlihat menghabiskan waktu bersama di sekolah. Yah, ada bagusnya juga sih sebenarnya. Orang-orang di sekolahnya jadi tidak menggosipkan mereka lagi, dan bahkan sampai ada rumour kalau mereka sudah putus.


“Hah, akhirnya bisa santai juga,” ucap Dimas begitu mereka berlima tiba di apartemen Yunita.


Setiap sepulang sekolah, mereka memang sering singgah di apartemen Yunita untuk sekedar melepas lelah atau penat. Dan, sampai saat ini, Yunita masih juga belum mengetahui soal Andre yang mempunyai penthouse di tower yang lainnya.


“Heh, lo jangan cuma nyantai doang,” ujar Stefani sambil menarik daun telinga Dimas sampai agak memerah.


Dimas dan Stefani sampai sekarang belum mengatakan apa-apa soal hubungan mereka berdua, terkadang bersikap seperti sepasang kekasih, kadang juga bersikap layaknya orang asing satu sama lain.


“Pst, lo curiga ga sih kalo mereka berdua udah pernah putus nyambung?” ucap Brandon saat Dimas dan Stefani berada agak jauh dari mereka bertiga.


Brandon tidak banyak berubah, selain masih yang paling peka ketika terjadi sesuatu di antara mereka berlima, ketenangannya dalam menghadapi suatu masalah juga semakin susah di lawan. Bisa dibilang, diantara mereka berlima, Brandon lah yang paling mampu ketika mereka menghadapi masalah yang membutuhkan pikiran dingin untuk menyelesaikannya.


“Oke, mumpung liburan sudah dekat. Bagaimana kalo kita bahas rencana liburan kali ini? Dan, untuk kali ini, Dimas yang akan tanggung semuanya,” usul Brandon, yang diikuti dengan tepuk tangan dari yang lainnya; terutama Andre, yang terlihat begitu antusias dan tersenyum cukup lebar.


“WHAT?!!” reaksi Dimas tampak sangat terkejut dengan usulan Brandon tersebut; bahkan sampai membuat dia memuntahkan minumannya, “Yang betul saja!! Ngak ada duit gua,” Dimas yang tampak sudah keringat dingin karena disuruh untuk mengeluarkan isi kantongnya, dengan setengah hati menolak ide Brandon tersebut.


“Kagak bisa gitulah, kemarin kan terakhir Andre yang bayar hampir semuanya. Bahkan sampai hotel yang harusnya bagian lu, dia yang bayar juga kan?” balas Brandon, yang tampak kekeh untuk menguras isi dompet Dimas untuk perjalanan kali ini.


“Beda kasta lah woi, dia anak pemilik perusahaan no.1. Kagak ada apa-apanya gua mah,”

__ADS_1


“Hmm, begitu. Perasaan nilai perusahaan lo naik hampir 12%-nan per kuartal pertama kemarin,”


Perkataan Andre tersebut tampaknya menjadi pukulan telak bagi Dimas yang terlihat tidak bisa berbicara sama sekali. Andre sebenarnya bermaksud untuk bercanda akan hal tersebut. Dia juga tidak masalah kalau harus menanggung setengah dari biaya perjalanan kali ini; karena ibunya memang mendukung juga sih.


“Sudah, sudah. Gimana kalo kita bayar masing-masing saja?” Yunita yang terlihat cukup lesu dari raut wajahnya, akhirnya mengusulkan ide yang pastinya sangat disukai oleh Dimas.


“Nah, gini dong. Seorag pemimpin yang baik. Memberikan solusi yang baik dan adil. Ngak kaya lu berdua,” gerutu Dimas.


“Bilang aja lu ngak mau ngeluarin duit kecuali buat cewek lu,” Brandon membantah perkataan Dimas. Karena memang sudah tabiat seorang plaboy seperti Dimas untuk tidak mengeluarkan uang kecuali demi menggaet seorang cewek.


“Lah terus gua bagaimana?” tanya Stefani,


“Ntar, lu ama gua,” jawab Yunita.


Mendengar perkataan Yunita, Andre langsung menatap Dimas; yang seperti dugaannya sekarang memasang muka memelas, “Apa lagi lu hah?” gertaknya. Alasannya? Karena dia menebak Dimas akan memintanya untuk menanggung biaya perjalanannya juga sama seperti halnya Yunita dan Stefani.


Andre dengan kepintarannya dan berhasil meraih rangking 1 umum dua kali berturut-turut. Dan Yunita dengan kemampuannya yang sangat baik dalam mengelola waktu antara syuting dengan kewajibannya di sekolah; tidak seperti kebanyakan artis yang lebih memilih homeschooling.


...***...


“Bagaimana jadwal besok? Ada Syuting atau ngak?” Yunita bertanya sambil bermalas-malasan di sofa yang empuk tak lama setelah semua orang pulang kecuali Stefani; yang memang terkadang tinggal bersama Yunita setelah popularitas Yunita meroket dan jadwal yang semakin padat, mengharuskan mereka berdua untuk mengefisiensikan waktu sebaik mungkin,


“Besok syuting jam 12 sih, tapi untuk jaga-jaga siapa tau kena macet, kita ke salon jam 7,” jawab Stefani dengan lancar tanpa melihat handphonenya sama sekali. Padahal, dirinya sedang membereskan piring-piring kotor yang ada di meja ruang tamu.


Lama-kelamaan, Stefani sudah seperti seorang manajer profesional yang menghafal jadwal Yunita begitu baik. Berbanding terbalik ketika pertama kali Stefani saat di masa-masa awal Yunita meroket; selalu membawa buku kecil kemana-mana, dan terkadang gelagapan ketika ditanya perihal jadwal Yunita berikutnya, bahkan dia sampai sempat di marahi oleh Agensi Yunita karena kerjanya yang dianggap tidak becus sebagai asisten manajer.


“Apa gua mundur aja dari salah satu sinetron atau web-drama yang sekarang ya?” Yunita kembali bertanya dengan tersenyum, sedikit berharap kalau Stefani akan mendukungnya.

__ADS_1


Namun, bukannya rasa simpatik yang di dapat, Stefani malah melempari Yunita dengan sebiji buah anggur yang ada di atas meja,


“Aw, sakit tau,” Yunita mengeluh sambil mengelus kepala bagian belakangnya,


“Mau bangkrut lo gara-gara harus bayar pinalti-nya?” ancam Stefani dengan wajah serius. Sorotan matanya bukan main galaknya. Yunita merasa, Stefani yang sekarang sudah berubah jauh dari Stefani yang dulu; menjadi lebih galak dan disiplin.


Uniknya, Yunita tidak pernah marah sama sekali dengan sikap teman akrabnya tersebut. Malahan dia semakin suka dan percaya dengan Stefani untuk segala urusan syutingnya. Dia juga mengerti, semua orang pasti akan sedikit berubah ketika mendapatkan tekanan luar biasa seperti yang di dapatkan Stefani.


“Oke lah, yang penting kita berdua jangan sampai sakit karena kelelahan aja. Bisa berabe entar,” ujar Yunita. Bukan tanpa sebab dia bekata seperti itu, Yunita sendiri sudah merasakan bagaimana susahnya ketika harus mencari alasan ke orang tua Stefani; karena Stefani tidak pernah mengatakan ke orang tuanya soal pekerjaannya menjadi asisten Yunita.


“Harusnya gua yang ngomong begitu. Tapi sudahlah, yang penting lu besok harus sedikit ekstra carefull sama lawan main lu yang namanya Christofer,” ucap Stefani. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit khawatir.


Walaupun tidak ditunjukkan secara terang-terangan, Yunita tetap bisa melihat kegelisahan lewat gerakan mata Stefani. “Oke, cuma ngak erlu terlalu akrab kan?”, ucap Yunita, yang memilih untuk tidak memperpanjang topik tersebut. Sebagai gantinya, dia mengambil handphonenya dan melakukan pencarian soal Christofer di internet.


Hasilnya sedikit di luar dugaannya, ‘Skandal Cinlok’, ‘Playboy’ menjadi berita paling teratas tentang orang tersebut. Dia menjadi tidak heran kenapa Stefani terlihat khawatir soal orang ini. Apalagi, dirinya saat ini hanyalah artis baru. Tidak terbayangkan bagaimana parahnya dirinya ditunduh menjadi artis pansos jika terlibat skandal dengan orang seperti Christofer.


“Besok konsep karakterku kaya gimana?”


“Agak Glamour dan menggoda. Kenapa?”


“Bagaimana kalo ngak usah ada menggodanya, maksudku jangan pake pakaian yang terlalu menonjol. Jadi, lebih menggoda secara visual wajah bukan lekuk tubuh,” saran Yunita.


Tidak bisa dipungkiri kalau hal yang paling memancing kaum adam untuk mendekati seorang wanita adalah ketika wanita tersebut memakai pakaian yang agak sexy. Yunita yang sadar betul akan hal tersebut, mencoba untuk meminalisir hal tersebut agar tidak memancing masalah menghampirinya.


“Boleh juga, tapi besok aja kita diskusikan sama tim stylist,” jawab Stefani.


“Usahakan ya, gua tidur duluan. Itu tinggalin aja, biar mbak besok yang urus,” ucap Yunita sambil berdiri dari sofanya yang nyaman, dan menyuruh Yunita untuk tidak beres-beres. Lagi pula, dia dan kakaknya memang sudah menyewa pembantu yang akan datang setiap hari untuk membersihkan apartemen tersebut.

__ADS_1


__ADS_2