
Andre dan Yunita saling bertatapan, keduanya seolah saling bertukar pertanyaan menggunakan telepati. Bersamaan dengan itu, orang-orang di sekitar mereka—yang sebenarnya sudah memperhatikan mereka berdua dari tadi—mulai mengambil foto dan menguploadnya ke internet. Seolah semua diatur, beberapa laki-laki langsung menghampiri mereka berlima dan menghalangi orang-orang untuk mengambil foto lebih banyak.
Di saat Andre masih bertanya-tanya; apakah Ibunya atau agensi Yunita yang menyebarkannya? Dan apa tujuannya? Dia mendapat telpon dari ibunya.
“Mom, ini maksudnya apa?” tanpa berpikir panjang, Andre langsung mengangkat teleponnya dan menanyai Ibunya langsung tanpa bertanya apakah Ibunya yang memang menyebarkan rumor tersebut atau bukan.
“Tenang dulu, kau tetap pergi saja liburan. Jangan pernah angkat telpon dari wartawan, dan nomor asing untuk sementara ini. Biar mama dan papa yang handle orang-orang tidak tahu malu ini,” perintah Ibunya Andre lewat telpon. Andre tidak mengerti kenapa ibunya sampai berbicara dengan nada serius seperti itu.
Satu hal yang pasti, ada yang tidak beres dengan skandal ini. Apalagi jika sampai Ibunya yang biasanya bersikap tenang sampai harus mengeluarkan statement seperti sekarang ini dan sampai menyeret nama perusahaan keluarga mereka.
“Memangnya kenapa ma? Bukannya ini gosip biasa saja seperti mama bilang kemarin?” Andre mencoba bertanya soal apa yang menyebabkan ibunya sampai harus mengeluarkan berita yang menurutnya sedikit random dan tidak perlu sebenarnya.
“Sudah, kamu ikuti saja kata mama kali ini!!” ujar Ibunya dengan penekanan di akhir kalimatnya.
Andre yang paham dengan sifat ibunya tersebut, akhirnya menurut dan sedikit berguyon soal limit cc-nya untuk mencairkan suasana yang menurutnya sudah agak tegang sebelum akhirnya memutus panggilan tersebut. Dia juga berusaha untuk memasang ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa di depan Yunita dan yang lainnya agar mood liburan mereka tidak terganggu.
Akan tetapi, secara diam-diam, dia meminta bantuan Pak Salimin, assiste ayahnya untuk mencari informasi soal apa yang terjadi sebenarnya; yang di langsung di sanggupi oleh Pak Salimin. Tak sampai di situ, dia secara diam-diam lewat WA juga meminta bantuan Brandon yang orang tuanya juga punya pengalaman di dunia entertaiment untuk mencari tahu soal Christofer. Dia punya dugaan, kalau Christofer berada di balik semua ini.
“Sebenarnya ada apa sih? Skandal kali ini parah ya?” Yunita bertanya ke Andre dengan wajah terlihat cukup cemas, bahkan keningnya sampai berkerut.
“Ngak, mamaku lagi iseng mungkin,” Andre menjawab dengan guyonan karena tidak ingin Yunita tertekan dan merasa bersalah. Lagi pula, sebagian dari masalah ini juga akibat perbuatannya juga karena menghampiri Yunita saat itu. “Mukanya santai aja dong, ngak usah sampai berkerut seperti itu. Kalau ada yang lihat, bisa-bisa dikirain kita lagi berantem,” tambah Andre.
“Sudah, percayakan saja sama mamanya Andre. Tante bukan orang yang akan berbuat gegabah, apalagi kalo menyangkut Andre. Tidak akan pernah,” ucap Dimas. Brandon mengangguk dengan ringan mengiyakan perkataan Dimas tersebut.
***
__ADS_1
Meninggalkan Andre dan yang lainnya. Ibunya Andre, di kantornya sedang sibuk memandangi layar komputer yang menunjukkan daftar kata pencarian yang paling banyak di cari saat ini dan juga artikel soal Yunita dan Andre.
“Bu, ini laporannya. Siapa yang dia temui 2 hari terakhir, latar belakang manajer, dan pemimpin agensinya,”
Widya, asisten Ibunya Andre yang sudah bekerja selama 6 tahun masuk ke dalam ruangan lalu meletakkan setumpuk kertas yang di klip menjadi satu di atas meja Ibunya Andre.
“Ah, terima kasih. Dan juga, tolong tetap awasi Christofer dan orang di agensinya yang menurutmu mencurigakan. Kalau perlu, kita harus tahu dengan siapa dia bicara setiap menelepon,” perintah Ibunya Andre sebelum Widya keluar dari ruangannya.
Setelah pintu ditutup, Ibunya Andre mulai membuka lembaran pertama dari apa yang di serahkan Widya. Layaknya sedang mengerjakan kasus yang sangat penting, beliau membaca dokumen—yang berisi laporan identitas orang yang bertemu dengan Christofer selama beberap hari terakhir—tersebut dengan teliti bagian demi bagiannya. Setiap detail sangat diperhatikan olehnya. Tak lupa, untuk bagian yang di rasa penting, Ibunya Andre menaruh pembatas dan mencatatnya dalam sebuah notebook yang selalu di bawanya saat pergi ke pengadilan.
“Bu, sudah waktunya makan siang? Mau di pesankan apa ya?” tanya Widya, asisten Ibunya Andre ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
Ada alasan kenapa Ibunya Andre bisa menjadi pengacara No. 1 dalam hal tingkat keberhasilan kasus yang dibela. Selain memang sangat mendetail dalam membaca setiap laporan. Dedikasi beliau saat mendapatkan sebuah kasus juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Ibunya Andre bahkan bisa terpaku pada berkas yang dibacanya selama berjam-jam sampai terkadang melupakan jam istirahat. Terkadang, asistennya lah yang mengingatkan beliau soal waktu istirahat.
“Baik, saya panggilkan sopir dulu,”
“Oke,”
Seolah tidak bisa lepas dari dokumen yang dibacanya tadi, Ibunya Andre sampai-sampai melanjutkan membaca dokumen tersebut di mobil sambil mencocokkan kembali beberapa poin yang menurutnya cukup penting. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya, karena menurutnya ‘Double crosscheck’ itu sangat penting. Berdasarkan pengalamannya; terkadang kalau hanya membaca sesuatu 1 kali saja, pasti ada saja detail yang terlewatkan.
“Kenapa kasus ini sangat penting Bu? Sampai-sampai ibu harus turun langsung?” tanya Widya yang mungkin heran, kenapa pengacara top No. 1 sampai harus turun gunung untuk menangani gosip yang terbilang sangat Tidak penting.
Ibunya Andre hanya terdiam, lalu membuka sesuatu di tabletnya dan menunjukkan pada asistennya—yang juga sudah menjadi tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya—alasan kenapa dia bersikap seperti itu. Reaksi Widya terlihat cukup kaget.
“I.. ini betulan?” Widya sedikit gelagapan saat bertanya apakah yang dilihatnya itu adalah betul atau tidak.
__ADS_1
Ibunya Andre tidak menjawab. Karena memang dia tidak punya bukti ataupun kesimpulan yang pasti saat ini. Dan, karena ini menyangkut masalah keluarganya, tidak ada pilihan lain selain menyelidiki ini semua secara diam-diam.
***
Seminggu lebih berlalu, gosip yang tadinya soal cinta segitiga Yunita sangat hangat di sosial media tenggelam begitu cepat akibat gosip pertunangan Andre dan Yunita. Di tambah lagi dengan Andre dan Yunita yang pergi ke luar negeri untuk berlibur membuat rumor lain soal keromantisan mereka berdua terus bermunculan. Akan tetapi tidak sedikit juga rumor negatif soal mereka berdua yang beredar.
“Yang, besok kita ke tempat syutingnya Winter Sonata bagaimana?” ajak Yunita begitu mereka tiba di hotel setelah dari bandara.
“Nami Island?”
“Iya,”
“Ya sudah, coba tanya tour guidenya saja,” jawab Andre.
Meskipun Andre sebenarnya sudah sering ke sana—karena ibunya yang cukup menyukai drama korea—dia tetap memilih menggunakan jasa tour guide yang menurutnya lebih paham mana tempat-tempat yang bagus. Dan, dia juga sebenarnya tidak mau repot-repot harus berjalan sambil membuka peta setiap beberapa menit agar tidak tersesat di tengah kota Seoul yang padat.
Menurutnya, jika liburan di Korea Selatan atau Jepang—dua destinasi favoritnya—sangat disayangkan kalau tidak bisa menikmati pemandangan indah yang disuguhkan sepanjang jalan.
“Gila lu ya? First class lu borong semua tadi?” tanya Dimas ketika mereka sedang berada dalam lift hotel.
“Biarin ajalah, demi privasi juga kan. Apalagi setelah apa yang terjadi di Bali. Malas gua kalau dikelilingi banyak orang begitu,” jelas Andre.
Keramaian, menurut Andre adalah hal yang wajar, apalagi dia sadar betul kalau Yunita adalah seorang artis yang sedang naik daun dan berpotensi bertemu dengan fansnya dimanapun mereka berada. Akan tetapi, dia hanya tidak suka kalau saat sedang liburan, dia harus menghadapi semua itu, karena tujuannya untuk liburan memang untuk refreshing.
Yunita juga terlihat kelelahan di mata Andre, walaupun tetap memaksakan tersenyum saat ada orang yang meminta foto bersama. Sorotan matanya yang terlihat lesu tidak bisa disembunyikan. Dan Andre paham betul bagaimana rasanya hal tersebut, tidak bisa mengekspresikan perasaan yang sebenarnya, harus terus meladeni permintaan orang-orang. Rasanya sudah hampir sama menjadi seorang budak saja.
__ADS_1