
Lusanya,
setelah bersitirahat sehari semenjak keluar dari rumah sakit. Andre, setelah mendengar cerita lagi dari Stefani tentang bagaimana tunangannya di perlakukan tidak baik oleh rekan sesama artis di lokasi syuting hanya karena permasalahan sepele. Dia menjadi sedikit kesal, karena menurutnya itu bukanlah kesalahan Yunita, melainkan staf di lokasi yang ingin mencari muka saja.
“Aduh kak, jangan terlalu banyak bergerak. Awas tuh lukanya ntar malah kebuka lagi jahitannya,” ujar Cecilia menasehati Andre yang berjalan sedikit agak cepat ketika berada di lobi hotel.
Cecilia, mungkin memang sangat suka menjahili Andre kakaknya ketika di depan banyak orang. Namun, tetap saja, sebagai seorang perempuan dan juga seorang adik, perasaannya cukup lembut ketika menyangkut keluarganya yang sedang terluka atau sedih. Contohnya saja, satu hal yang selalu disembunyikannya dari keluarganya. Saat ketika kakaknya putus dengan Diana, dia bahkan secara diam-diam—dengan bantuan Pak Budi—melabrak Diana langsung dan mengancamya untuk tidak muncul dihadapan kakaknya lagi.
Saat mendengar soal pertunangan kakaknya dan Yunita, dia yang memilih untuk tinggal dengan neneknya di singapura karena ingin menjauh dari ayahnya yang bersikap galak untuk sementara, langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk melihat perempuan yang bisa melunturkan pertahanan kakaknya yang cukup kuat semenjak putus dengan cewek brengsek bernama Diana itu.
“Pak, ke kantor mama dulu,” ucap Andre begitu berada dalam mobil, “Jadi kamu betulan mau sekolah di SMA kakak?” Andre melanjutkan bertanya ke Cecilia soal keputusannya untuk sekolah di SMA M.
“Iya, ngak boleh?”
“Ngak, Cuma nanya aja. Karena lebih bagus juga sih, lebih gampang di kontrol dan diawasi kalo ada apa-apa,”
“Dih, memangnya aku anak kecil apa? Harus di kontrol setiap hari. Lama-lama kakak malah sama kaya papa kalau kaya gini terus. And I hate it,”
Andre tertawa dalam hati untuk sesaat dan sedikit menyadarkan dirinya mengenai sifat ayahnya yang dia dan adiknya sama-sama tidak suka.
“Ya udah, yang penting kamu jaga kelakukan aja. Jangan sampai bikin masalah yang bisa jadi sindiran orang ke papa sama mama. Tapi, ngomong-ngomong, kamu pindah ke sini karena emang pengen pindah atau karena mau ketemu calon kakak iparmu? Atau jangan-jangan kamu udah punya pacar lagi di indo?”
Cecilia, saat mendengar pertanyaan Andre. Dia otomatis melempar pandangan tidak percaya dengan imajinasi kakaknya yang begitu aktif dan agak liar.
“Memangnya aku kakak? Baru pacaran setelah lama menjomblo langsung menghebohkan media sampai membuat humas perusahaan papa harus turun tangan langsung,”
“Oh begitu ya? Sudah mulai berani kamu ya sekarang,”
“Ya kan memang kenyataan,”
__ADS_1
“K...”
Sementara kedua kakak beradik tersebut bertengkar. Pak Budi yang sedang menyetir sedikit kelepasan dan menertawakan mereka berdua yang berantem seperti tom dan jerry.
“Ada yang lucu pak?” cecilia bertanya ketika tak sengaja menangkap basah Pak Budi yang tertawa tadi.
“Ah ngak, saya teringat dulu pas dek cecil masih tk. Tiap hari kerjanya ribut mulu ama Andre. Sampai-sampai nyonya dulu ngomel-ngomel,” Pak Budi menjawab dengan senyuman orang yang sedang bernostalgia.
“Kalau punya adek model kayak dia, emang pasti bikin pusing setiap hari,” ejek Andre.
“Ish,” Cecilia terlihat bete; dia melipat tangan di depan dadanya, ujung bibirnya bahkan sampai terangkat beberapa kali begitu cepat; yang sudah menjadi keunikan tersendiri dirinya ketika sedang marah atau badmood, “Lagian kita mau ngapain sih ke kantor mama dulu?” imbuhnya dengan ketus.
“Ada beberapa hal yang perlu dibicarakan,” jawab Andre dengan singkat dengan suara agak rendah yang hanya dia pakai saat sedang menolak secara halus sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
Gaya bicara Andre yang seperti itu, membuat mood dalam mobil berubah menjadi agak tegang dan kaku. Baik Pak Budi dan Cecilia tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan sampai ke kantor Ibunya Andre dan Cecilia. Saat berjalan di loby dan berdiri di dalam lift pun, raut wajah Andre begitu serius seperti otang yang sedang banyak pikiran.
Tiba di ruangan Ibu mereka, pemadangan yang jarang mereka dapati di rumah terpampang di hadapan mereka. Tumpukan map dengan berbagai macam warna tertumpuk di atas meja kerja, di meja yang biasa menerima tamu juga terdapat beberapa dokumen yang sudah terbuka, rambut yang tampak tidak di kramas seharian, sangat berbeda dengan apa yang kebanyakan orang lihat di kamera.
“Fiuh, mama kira klien yang datang, ternyata kalian toh. Duduk aja dulu, mama selesaiin ini dulu sebentar,” ujar ibu mereka sambil menunjuk sebuah dokumen yang terlihat agak tebal di hadapannya.
“Ma,”
“Hmm?”
“Aku pernah ngalamin sesuatu yang buruk dulu ya? Kaya diculik atau disekap gitu?” pertanyaan yang terlontar dari mulut Andre secara tiba-tiba tersebut sontak membuat Ibunya dan Cecilia terkejut. Cecilia dan Ibunya bertukar tatapan untuk sesaat, seolah sedang berusaha merahasiakan sesuatu.
“Kenapa kamu bertanya?” Ibunya menjawab pertanyaan barusan dengan tenang dan lancar, matanya bahkan tidak beralih dari dokumen yang sedang dibacanya.
Hal itu, bukannya membuat Andre tenang, dia malah semakin curiga. Dia tahu kalau ibuya pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Apalagi saat sehabis dia bertanya tadi, ibunya berhenti membalik halaman yang sedang dibacanya, seperti sedang terkejut dan tidak menduga hal barusan.
__ADS_1
“Nothing, cuma sekedar mimpi doang pas di rumah sakit,” meski curiga, dia tidak mau terlalu memaksakan diri untuk bertanya. Dia tidak ingin menambah beban pemikiran ibunya yang terlihat seperti akan menangani kasus penting.
“Mimpi kok dianggap serius,” celetuk Cecilia yang dari tadi sibuk dengan handphonenya.
“Betul, jangan aneh-aneh deh kamu,” ujar ibunya mendukung perkataan cecilia tadi, “Kamu datang ke sini pasti gara-gara Yunita kan sebenarnya?” imbuh ibunya yang sedang melepaskan kacamatanya.
“Udah jelas lah ma. Dia kan sedang dalam keadaan bucin super sekarang,”
“Kau...”
“Sudah, kalian berdua memang terlalu kompak kalau berantem ya. Kompak bikin mama sama papa pusing tau. Soal urusan Yunita, mama punya saran yang bisa berguna. Tapi pasti kamu ngak akan suka,” ujar ibunya.
Melihat Ibunya yang tersenyum seperti sedang merencanakan sesuatu, Andre dalam hatinya tidak bisa tenang. Meski memang dia juga tidak bisa memungkiri kalau rencana ibunya selalu bagus dan berhasil. Akan tetapi, melihat beberapa saran ibunya sudah terlaksana belakangan ini, bisa dibilang rencana ibunya selalu mengorbankan sesuatu sebagai imbalannya.
“Apa memangnya?”
“Bagaimana kalau kalian putus dulu untuk sementara?”
“What?!!!” mendengar ide ibunya yang sangat di luar dugaannya, mata Andre langsung membelalak karena begitu terkejutnya. Rasanya, seolah dia baru saja ditabrak dari belakang. Dia tidak bisa mempercayai ibunya bisa menyarankan ide segila ini.
“Tenang dulu, semua cuma di depan media kok. Kan kau memang setahun lagi mau ke Amrik buat kuliah. Jadi kita pake alasan itu sebagai penyebab kalian putus,”
“Karena kesibukan masing-masing, itu kan maksud mama?”
Andre langsung paham dengan arah rencana ibunya, cukup klasik dan umum sebenarnya. Akan tetapi, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya soal rencana ibunya kali ini.
“Lagian kalian kan masih bisa ketemua kalau di luar negeri, 3x setahun mungkin? Atau saat dia ngak ada proyek mungkin? Gampanglah kalau yang kaya begitu. Nanti mama atur supaya dia ada pemotretan ke luar negeri setiap beberapa bulan sekali,” ucap Ibunya Andre yang sedang berusaha meyakinkan Andre.
Di sisi lain, Andre masih bergelut dengan pemikirannya sendiri. Pikirannya yang logis dan rasional mengatakan kalau ini adalah ide yang cukup bagus, akan tetapi hatinya menentangnya untuk melakukan ide tersebut.
__ADS_1