
Mendengar nama Diana, Yunita sedikit terkejut namun juga cukup kagum dengan paras yang dimiliki oleh Diana. Dia sendiri bahkan sampai merasa agak insecure saat melihat kecantikan Diana yang sering di puji oleh Dimas dan Brandon beberapa kali.
“Kenapa wanita ini bisa ada di sini sih?” Yunita menggerutu dalam hati. Tentu dia ingin menjaga imagenya di depan orang-orang penting di samping Diana tersebut.
Walau begitu, saat kembali melihat Diana sekilas, rasanya ttidak berlebihan kalau Dimas dan Brandon terus memuji kecantikannya.
Andre terkesan biasa-biasa saja; tidak menunjukkan kebencian namun juga tidak menunjukkan sifat ramah melainkan hanya tersenyum kecil dan sesudah itu tidak ada interaksi tambahan lagi.
Lain halnya dengan Diana, dia menatap Andre dengan tatapan lain, seperti orang yang begitu kangen dan mengharapkan sesuatu dari Andre.
Saat berkeliling untuk melihat Interior, Diana juga hanya berjalan di belakang Andre dan Yunita. Namun Andre, sampai selesai mengecek pun juga tidak pernah sekalipun menyapa Diana terlebih dahulu, saling menatap pun juga tidak.
“Kamu masuk saja duluan kalo mau, aku mau bicara sebentar dengan Pak Agus,” Kata Andre saat mereka semua selesai berkeliling.
“Oke,” Yunita membalas; meski dia sebenarnya masih penasaran dengan sosok Diana itu. Dia merasa seperti terancam dengan pertemuan yang seperti sudah di takdirkan ini.
Di dalam mobil. Saat melihat Andre yang sibuk berbincang dengan Pak Agus dan para asistennya, dia bisa melihat dengan jelas Diana yang terus terlihat murung, seperti ingin mengatakan sesuatu. Sesekali, wanita itu menatap Andre meski tidak di balas dan kembali lagi menunduk layaknya orang yang mempunyai penyesalan yang dalam.
“Dasar perempuan jahat,” perkataan Pak budi yang begitu tiba-tiba membuat Yunita terkejut.
“Kenapa memangnya pak,” Yunita bertanya.
Karena jika Pak Budi saja sampai mengumpat saat melihat Diana, bisa jadi apa yang di lakukan Diana jauh lebih parah dari pada yang di ceritakan Brandon dan Dimas.
“Loh, Andre belum pernah cerita ke kamu?”
“Belum,” rasa penasaran yang ada di dalam diri Yunita mendorongnya untuk berbohong, dia sangat ingin mengetahui rahasia sebenarnya soal hubungan Andre dan Diana.
Pak Budi tampak terkejut dan mendengus sebelum kembali menatap Andre yang masih berbincang-bincang dengan Pak Argus, “Kalau dia masih belum cerita, berarti dia masih belum berdamai dengan masa lalunya satu itu.
Yang penting kamu tahu, jangan pernah mau terlibat dengan wanita licik itu. Andre dari luar mungkin terlihat lemah lembut dan baik hati. Tapi kalau dia sudah marah,”
__ADS_1
“Sangat menakutkan,” Yunita menyela; karena dia memang sudah melihat bagaimana Andre bisa menjadi orang yang sangat menakutkan saat marah.
“Betul,”
Meski sebenarnya masih penasaran, Yunita memilih untuk tidak memaksakan keinginannya. Dia lebih memilih menunggu Andre untuk menceritakan dengan mulutnya sendiri kelak.
“Hah, akhirnya selesai juga,” kata Andre saat baru masuk ke dalam mobil, “Bagaimana, kamu suka atau ngak?” dia lalu menanyakan pendapat Yunita.
Sebab, dari awal dia membangun rumah tersebut, salah satu keinginannya adalah. ‘Yunita juga harus menyukainya’. Maka dari itu, dia berpesan ke Pak Agus lewat ibunya, agar tidak terlalu maskulin atau dark, dan lebih ke arah family house; tempat yang cocok untuk anak-anak, sesuai dengan keinginan Yunita yang sempat terlontar saat mereka membicarakan masa depan mereka.
“Bagus, bolehlah,” Yunita menjawab. Dia lalu meminta saran kepada Andre untuk memili foto yang cukup bagus untuk di masukkan ke social media resminya.
Hasilnya, seleranya dengan Andre ternyata sama, sama-sama memilih foto ruang santai mereka yang menyambung dengan ruang makan dan dapur bersih yang disusun memanjang ke belakang.
Kolam renang outdoor yang luas dan juga mempunyai pemandangan alam yang cukup cantik—karena lahan mereka jauh dari pusat kota—dan menyambung ke ruang santai memberi kesan dream house yang banyak diimpikan orang.
“Pak, kita ke kantor mama dulu” pinta Andre kepada Pak Budi, “Kamu ngak ada jadwal kan hari ini?” Andre bertanya lagi kepada Yunita.
“Tulis saja, ‘My Lovely House with FuHu’, tandai akunku malah lebih bagus lagi,”
“FuHu?”
“Future Husband,”
Pak Budi yang duduk di depan, hanya bisa tertawa mendengar perkataan Andre barusan.
“Tuh, liat, Pak Budi saja sampai geli dengar kata-katamu,” ledek Yunita.
Alih-alih menambahkan tag alay yang di sarankan Andre. Dia lebih memilih menandai Andre langsung dan memberikan tanda hati di belakang nama Andre.
Tepat setelah menekan ‘posting’, panggilan dari Kak Alika masuk. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
“Ha...”
“Jangan posting apa-apa dulu lagi!” suara Kak Alika terdengar begitu serius, dan di saat itu juga Yunita langsung mengetahui sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi. Karena tidak mungkin Kak Alika akan menegurnya dengan nada seperti sekarang ini kalau cuma masalah biasa saja.
“K-Ke-Kenapa kak?” Yunita bertanya sambil menatap Andre dengan cemas. Dia memasang mode pengeras suara agar Andre bisa mendengarnya juga.
“Pokoknya untuk sementara ini jangan upload sesuatu lagi untuk saat ini. Dan ada bagusnya lu nonaktifkan kolom komentar untuk saat ini,”
Andre yang langsung mengerti dengan situasinya, langsung mengambil tabletnya, membuka internet dan mencari semua yang berkaitan dengan Yunita.
“Ko-kolom komentar?” Yunita mulai agak panik dan menggigit kuku jempolnya.
“Biarkan saja dulu,” Andre langsung menyela, “Biarkan semua komentar negatif masuk. Kumpulkan semua komentarnya, setelah itu serahkan ke Brandon. Dan batalkan semua jadwal Yunita seminggu ke depan. Sisanya biar saya yang urus,”
“Oke kalau begitu, kita ikuti rencananya Andre saja,” Kak Alika menyetujui permintaan Andre, “Kamu tenang saja Yun, semua pasti akan berlalu seperti yang sudah-sudah,”
“O-O-Ok,” setelah panggilan itu berakhir, Yunita menjadi gelisah, dia menggigit kukunya.
Pikirannya tidak bisa tenang, dan membuatnya agak pusing memikirkan kenapa ini terjadi setelah Andre pulang. Apakah memang dia hanya akan membawa masalah bagi Andre? Kenapa selalu saja ada orang yang tidak suka mereka bersama. “Hon, bagaimana kalau kita...”
Sebelum Yunita sempat menyelesaikan kalimatnya, Andre langsung menaruh tabletnya dan memeluk Yunita, “Don’t say that, aku akan melakukan apa pun agar masalah ini selesai. Kamu ngak usah khawatir, oke?” ujar Andre.
Mata Yunita mulai agak berkaca-kaca, dia takut kalau dirinya akan menjadi beban bagi Andre dan tidak ingin kejadian 8 tahun lalu terulang kembali; saat di mana dia hampir menjadi gila ketika melihat Andre berlumuran darah. Dia masih mengingat kejadian itu, yang begitu jelas tertanam di benaknya.
“Pak, nanti masuknya pakai akses VIP saja,” ucap Andre sambil terus menggenggam tangan Yunita dan berusaha menenangkannya.
Setelah melihat artikel yang menjadi biang kerok dari masalah kali ini, Andre tidak bisa tenang dan tidak habis pikir siapa yang mencari masalah dengannya. Ketika melihat komen di IG Yunita yang penuh dengan nada kebencian, membuat emosinya semakin memuncak dan ingin sekali mematahkan jari orang-orang tidak tahu malu tersebut.
“Calm down Andre, lu ngak bisa bertindak sembarangan,” dia berusaha mengontrol dirinya sendiri. Dia sadar dengan posisi Yunita yang saat ini merupakan artis top.
Dan lagi, saat ini dia juga sedang bersiap untuk menjadi Direktur di anak perusahaan Ayahnya. Kedua hal tersebut seperti mengikatnya, membuat dia tidak bereaksi sembarangan seperti saat dia masih SMA dulu. Banyak hal yang harus menjadi pertimbangannya; dan jujur saja, semua itu terasa memuakkan.
__ADS_1