Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC III : CHAPTER VIII


__ADS_3

Esok harinya, Andre, Yunita, dan juga Brandon mengakhiri waktu santai mereka lebih cepat demi mendengar cerita Diana dan mengakhiri semua permasalahan mereka yang sudah beredar di jagat maya.


Yunita sebenarnya ingin menghapus semua artikel negatif yang muncul 2 minggu terakhir karena takut dengan efek negatifnya kepada Andre. Akan tetapi, dia sadar kalo yang namanya ‘jejak digital’ tidak akan bisa dihilangkan.


Ibarat kanvas baru yang tak sengaja terkena cat air tanpa sepengetahuan pelukisnya, hal yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan noda tersebut sebagai awal dan membuatnya menjadi lukisan yang indah.


“Bagus juga rumah kalian ternyata. Habis berapaan ini?” kata Brandon yang baru saja kembali berkeliling rumah milik Andre.


Dari awal, dia langsung terpukau begitu melewati pintu depan, sama persis ketika Yunita berkeliling untuk pertama kalinya; hanya bisa menelan ludah karena membayangkan berapa harga semua pembangunan rumah tersebut.


“Tanyakan kepada yang punya,” Yunita menjawab,


“30 - 35an lah. Dan masih di ekspand ke kanan ke kiri, lahan sebelah kanan gua masih nego, yang kiri itu masih banyak,” Andre menjawab rasa pensaran Brandon. Yunita dan Brandon terkejut dan menelan ludah saat mengetahui jumlah yang sebenarnya ternyata jauh di atas apa yang mereka kira.


“Lu mau bikin mansion ya?”


“Nice one,” Andre tersenyum, “Memang itu rencana gua, cuma awalnya kan ini tanah gua beli 4 tahun lalu. Nah duit gua ngak cukup kalo mau take kanan kirinya, jadi cuma yang ini sama sebelah kirinya saja dulu. Karena dia pojokan dan viewnya bagus, makanya gua take duluan,” jelas Andre dengan begitu percaya diri.


Yunita sempat termenung saat membayangkan ‘mansion’ seperti apa yang direncanakan Andre. Akan jadi seperti apa ya? Semewah apa fasilitas yang ada di dalamnya? Pikirannya langsung melayang kemana-mana.


Dia kemudian menggelengkan kepalanya, membangunkannya dari mimpinya, “Yuk ah, ke pasar dulu. Mumpung masih jam 9 pagi,” ucapnya.


“Hah? Kamu bisa masak? Masakan beneran?” Andre tampak ragu.


Namun dia tetap mengikuti kemauan Yunita dan meninggalkan Brandon untuk menjaga rumah.


Dia pernah merasakan masakan Yunita ketika Yunita datang liburan ke US 2 tahun yang lalu. Dan rasanya? Bukan bermaksud sarkas, tapi memang tidak enak dan semenjak saat itu, dia tidak mengizinkan Yunita untuk memasak selama mereka bisa mencari makanan di luar.

__ADS_1


‘Entah sudah ada perkembangan atau belum ya?’ dia bertanya-tanya saat melihat Yunita sedang memilih bahan-bahan.


Meski begitu, dia tidak masalah dengan kekurangan Yunita yang satu itu; selain karena memang dia cukup mapan untuk menyewa pembantu, dia juga tidak ingin memaksa Yunita untuk menjadi serba bisa. Kalau Yunita ingin belajar masak tentu akan dia dukung.


“Kamu yakin kan mau beli apa semua?” kata Andre, dia sengaja berbicara dengan agak keras, karena ada cukup banyak orang yang mengikuti mereka berdua semenjak dari depan pasar tadi.


“Iya, tahu. Tenang saja, pasti enak kok,” Yunita menjawab dengan santai sambil terus berjalan dengan percaya dirinya.


Sedangkan Andre terus mengikuti di belakangnya dengan kantong belanjaan yang sudah terlihat agak berat. Yunita sebenarnya sudah memberitahu Andre untuk kembali ke mobil karena tinggal beberapa bumbu saja yang perlu dia beli.


Namun, Andre seperti biasa, dengan sifat yang agak protektif semenjak kecelakaan waktu itu, lebih memilih untuk terus mengekor di belakang Yunita.


Selesai membeli bumbu yang  dibutuhkan, mereka berdua kemudian berjalan kembali menuju tempat di mana mobil mereka parkir. Dan tidak lupa, Yunita melakukan sedikit foto bersama dengan orang-orang yang mengikuti mereka sedari tadi.


“Hah,” Andre membuang nafas panjang, “Lain kali, kamu pakai masker sama kacamata hitam kalau keluar. Biar ngak ngak banyak orang berkerumum,” dia mengomel setelah mobilnya keluar dari parkiran..


“What?! Ngak ada hubungannya kali, lagian itu semua kar....” sebelum Andre selesai berbicara, Yunita mengejutkan Andre dengan mengecup pipinya dan membuat Andre terdiam.


“Iya, maaf deh. Lain kali aku lakukan sesuai yang kamu bilang, oke?” ucap Yunita dengan cara bicara yang dibuat agak sedikit manis dan menggoda.


“Dasar kamu ya,” melihat jalanan yang agak macet dan mobil di sekitarnya berjalan cukup lambat, Andre menyalakan kemudi otomatis. Dia kemudian mendekatkan wajahnya sampai Yunita merona, “Kalo mau nyium itu yang benar dong,” imbuhnya sambil menatap mata Yunita untuk sesaat sebelum akhirnya memiringkan kepala, lalu menciumnya.


Terlalu menikmati momen itu, mobil di belakang mereka bahkan sampai mengklaksoni mereka.


Awalnya, Andre ingin marah, namun langsung surut ketika menyadari lalu lintas sudah kembali normal. Dengan segera, dia langsung menginjak gas pedalnya untuk menambah kecepatan.


Suasana di dalam mobil pun berubah menjadi agak sunyi sampai mereka berdua sampai di rumah mereka.

__ADS_1


***


Menjelang sore hari, Yunita, Andre dan Brandon masih sibuk memasak Ayam Kuah Kuning ala chef Yunita—ejekan Andre untuk Yunita yang kelewat serius dalam memasak kali ini—dalam porsi yang agak banyak dan membuat Andre sedikit khawatir itu semua akan terbuang percuma.


Ting Tong... Bel depan berbunyi,


“Udah sampai kali tuh, lu saja yang sambut,” Andre yang merasa agak malas untuk menyambut Diana, menyuruh Brandon yang pergi ke pintu depan sebagai gantinya.


“Katanya Profesional,” sindir Brandon.


Karena sebelumnya, Andre pernah mengatakan ‘sebagai orang yang profesional, orang itu harus pandai dalam mengelola perasaan agar tidak bercampur dengan urusan lain’ di sebuah wawancara media online tidak lama setelah kembali ke indonesia.


“Berisik, lu mau, rahasia lu yang itu gua bocorin ke Dimas?” Andre mengancam menggunakan salah satu kartu AS-nya.


“Eh, iya, iya, ini gua sudah jalan kok,” raut wajah Brandon berubah, menjadi agak panik dan dengan segera berlari meninggalkan dapur menuju pintu depan.


“Emang apaan sih?” Yunita sedikit penasaran.


“Rahasia antar lelaki, kamu fokus masak saja. Aku ke ruang tengah dulu,”


“Oke,” jawab Yunita sembari terus mengaduk masakannya di dalam panci sambil melihat resep di dalam tabletnya.


Sebelum pergi, seperti pengantin baru, Andre sempat mengejutkan Yunita dengan mengecup bibirnya. Dia sebenarnya malas meninggalkan dapur untuk pergi menemui Diana.


Meski memang kejadian itu sudah menjadi masa lalu. Dia tetap tidak bisa melupakan sakitnya waktu itu; harus mendengar pengkhianatan Diana di saat dirinya masih capek setelah pulang kompetisi.


“Demi Yunita, semua demi Yunita,” pikirannya menampar semua perasaan marahnya tersebut.

__ADS_1


Mau tidak mau, dia memang harus berdamai dengan semua masa lalunya jika ingin memulai hidup baru dengan Yunita. Dia sudah memikirkan semua itu secara matang. Hanya saja, dia sedikit agak pesimis soal berbaikan dengan Tony. Sebab, sampai hari ini, Tony belum sekalipun memberikan penjelasan apapun soal waktu itu.


__ADS_2