Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch. 55


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Andre yang pada awalnya ingin bermesraan dengan Yunita, malah mendapati Yunita dan Stefani yang sedang duduk di sofa ruang santai sambil menonton film di TV.


“Loh, kalian mau pesta nginap?” merasa tidak di sambut, dia menyapa duluan,


“Lu belum kasitahu dia Yun tentang kegiatan besok?”


“Belum, lupa tadi,”


“Wait, maksud kalian berdua apa?”


“Ituloh yang, besok siang kita syuting realuty show selama 1 tahun ke depan,”


“WHAT?!! Kok kamu ngak diskusi dulu ke aku? Dan bukannya kamu mau syuting film?”


“Lah, mamamu yang aprove tadi, kamu belum dikasitahu? Film ku juga di cancel, Kak Alika malah setuju dengan ibumu buat ikut acara itu”


Andre tidak bisa berkata apa-apa, dia langsung mengambil handphone dari dalam saku celananya dan segera menelepon Ibunya, “Halo, ma? Kok tiba-tiba aku sama Yunita harus ikut acara tv segala?” dia langsung bertanya begitu Ibunya mengangkat panggilannya.


“Udah, ikutin saja. Mama sebel dari seminggu kemarin di terror telepon mulu ama Produsernya. Kamu ikutin saja setahun, kalo emang ngak suka ya boleh keluar,”


“Tapi kan aku masih ada urusan perusahaan yang ngak boleh ditinggalkan,”


“Cuma nyita waktu sehari doang kok, bisa di akhir pekan kan?”


“Ta.. Tapi kan..”


“Sudah, jalani aja dulu. Itung-itung promosi namamu sedikit kan? Kamu juga bisa pake acara itu sebagai promosi produk perusahaanmu untuk bulan depan juga nantinya. Lumayan kan?”


Andre terdiam sebentar. Setelah dipikir-pikir kembali, ide Ibunya tidak terlalu buruk. Apalagi namanya dan juga Yunita sedang naik-naiknya belakangan ini.


“Okelah kalau begitu, tapi lain kali kasitahu aku dulu dong,” Andre menjawab dengan ogah-ogahan. Dia sebenarnya hanya malas mengakui kalo ide Ibunya itu sebenarnya bagus. “Honey,” dia memanggil Yunita setelah panggilannya dengan ibunya berakhir


“Hmm?” Yunita menyahut,

__ADS_1


“Ubah jadwalnya syuting jadi besok malam, lokasi gua yang tentukan”


“Hah? Tapi kan....,” Stefani tiba-tiba menyela,


“Gua musti ngurus beberapa hal dulu, jadwal rapat dan sebagainya. Lagian, siapa suruh lu ngak nanya-nanya dulu ke gua,” Andre langsung memotong perkataan Stefani.


“Argh..” Stefani terlihat bete dengan jawaban Andre tadi


“Sudah, sudah, yang penting dia udah setuju kan?” Yunita berusaha menenangkan sahabatnya tersebut. Sementara Andre, dia hanya pergi meninggalkan Stefani dan Yunita di ruang tengah sambil terus sibuk ponselnya.


Stefani cukup mengerti bagaimana kesibukan Andre, karena saat mereka liburan; sekitar 6 bulan sebelum kepulangan Andre ke Indonesia, Andre sendiri pernah mengatakan kalau dia mungkin akan berubah akibat kesibukannya dengan perusahaan.


Bahkan, Stefani tidak pernah mengeluh soal quaity timenya berdua dengan Andre yang semakin berkurang di banding sebelum Andre menjadi CEO di perusahaan sekarang ini. Dia sadar, kalau sekarang ini beban di pundak Andre pasti begitu banyak.


“Tapi, lu yakin ngak bakal nyesel menolak tawaran untuk main filmnya Sutradara dari luar tadi?” Stefani tiba-tiba mengungkit soal keputusannya tadi siang di kantor agensinya.


“Ngak. Lagian gua juga masih ada 1 Web Drama kan? Dan masih harus nyusun propsal juga, mana ada waktu gua untuk ke luar negeri,” jawabnya dengan sepercaya diri mungkin.


Meski sebenarnya, dalam hatinya, alasan dia menolak tawaran film itu adalah karena dia lenih memilih menemani Andre. Tentu, alasan itu akan terdengar sangat konyol bagi Stefani dan Kak Alika, dan juga membuatnya diejek oleh dua orang tersebut sebagai orang yang terlalu bucin.


“Mau nanya apaan lu? Awas aja kalau yang aneh-aneh,” dia memperingatkan Stefani setelah melihat senyuman aneh di wajah temannya ini.


“Lo betulan sekamar dengan Andre semenjak pindah ke sini?”


Ia menghela nafas begitu mendengar pertanyaan Stefani; yang sesuai dugaannya, pasti aneh-aneh, “Hmm,” dia menjawab dengan agak ogah-ogahan, mengambil piring tempat mereka menaruh snack di atas meja, lalu berdiri dan berjalan menuju pantry untuk mencuci piring tadi.


“Berarti lo udah itu dong, yang ehm ehm gitu?”


“Ehm ehm apa?”


“Itu loh, yang biasa dilakukan suami istri gitu,”


Ia tidak menjawab pertanyaan nyeleneh Stefani tersebut sampai selesai mencuci piring mereka tadi dan menaruhnya di laci bawah, “Sudah tidur sana, sudah jam 11 noh. Jangan lupa matikan TV-nya kalau lu sudah selesai. Ngantuk gua,” ucapnya sembari berjalan pergi meninggalkan Stefani dengan rasa pertanyaannya tersebut.

__ADS_1


***


Keesokan paginya, setelah Andre berangkat ke kantor, mumpung jadwalnya seharian ini di kosongkan khusus untuk syuting hari ini. Ia, Stefani dan beberapa orang dari tim sytlistnya pergi ke mall untuk berbelanja beberapa bahan makanan.


“Hah, padahal lu kan bisa pesan makanan dari restoran aja,” gerutu Stefani,


“Betul tuh,” timpal Janice, salah satu tim stylistnya,


“Ye, jangan begitu dong, kan mumpung jadwal ku kosong juga. Ngak apa-apa lah sekali-sekali, ya kan?” dia membalas sambil mencari beberapa bahan yang dibutuhkannya. Sebenarnya, alasan hari ini ia memilih memasak untuk kru yang akan datang ke rumahnya nanti, adalah karena ia ingin membuat kesan pertama yang baik.


“Eh, soal renuian besok lusa, lu mau datang?” celetuk Stefani,


“Jelas lah,”


“Lu kagak ada pertimbangan tersendiri begitu?”


“Maksudnya?”


“Yah, mereka kan kayak pengen pansos gitu. Dulu aja kagak pernah nyariin, selalu mencela soal hubungan lu dengan Andre. Pas diumumin putus pun, mereka sampai memandang rendah lu. Lah sekarang, begitu lu udah tenar dan mau married ama Andre, mereka baru nyariin. Lu ngak ada rasa benci gitu terhadap mereka?”


“Ngak, lagian juga ngak ada gunanya menyimpan dendam . Yang penting gua udah membuktikan diri ke mereka. Jadi sudah termasuk balas dendam secara halus juga sebenarnya sih, ya kan?” dia berbalik, menatap Stefani sambil menaikkan alisnya sekali saat hampir menyelesaikan kalimatnya, “Tangkap,” imbuhnya sambil melempar sebuah kol ke ketika Stefani lengah. Beruntung, salah satu tim sylistnya dengan gercep menangkap kol tersebut.


Tidak heran mendengar Stefani sampai bisa berpikiran seperti itu. Apalagi, saat ia mengingat bagaimana sulitnya ketika Andre sudah pergi ke London, dan hubungan mereka yang diumumkan putus waktu itu. Semua cercaan, tatapan mata yang amat merendahkan, dan dijauhi orang-orang di sekolahnya, semua itu ia dan Stefani rasakan. Beruntung, mereka berdua masih punya Brandon dan Dimas, yang membela mereka setiap ada masalah.


Dulu; saat dia masih labil. Dengan kesuksesannya sekarang ini, mungkin dia akan menyobongkan diri di hadapan semua orang-otang yang merendahkannya itu. Akan tetapi, setelah berkarir hampir 10 tahun dan melihat yang lebih parah lagi dari pada yang dialaminya, nafsu akan balas dendamnya perlahan memudar seiring waktu berjalan.


Dia juga teringat sebuah nasehat yang pernah dikatakan Ayahnya Andre tidak lama setelah ia mendapatkan penghargaan pertamanya sebagai Aktris terbaik beberapa tahun lalu: “Balas dendam tidak akan ada gunanya, hanya akan menjadi lingkaran masalah yang berkepanjangan. Lebih baik acuhkan saja, dan buktikan dengan prestasi”. Setiap mengingat kata-kata tersebut, dia selalu bersyukur, menertawakan sendiri dirinya di masa lalu yang ingin membalas dendam, dan terus melangkah maju sampai sekarang ini.


“Memang, pantas banget kalo orang melabelinya hati sebaik malaikat,” ujar salah seorang stylistnya ketika ia tidak melihat mereka karena sedang memilah cabai dan tomat yang bagus dan yang kurang segar.


“Itu semua hanya akting tau, kalian ngak ingat, kalau dia pernah dapat pengahrgaan aktris terbaik 3 tahun berturut-turut?” ketika ia berbalik, Stefani tampaknya sengaja mengatakan hal tersebut untuk mengejeknya.


“Biarin aja, yang penting gua akting dengan hati, ngak kaya lu cuma adegan 10 detik aja sampai 6 kali take,” tak mau kalah, ia membalas mengejek Stefani dengan momen saat Stefani berakting untuk pertama kali dan yang terakhir karena kualitas aktingnya yang dinilai buruk. Tim Stylistnya yang tampaknya juga mengingat hal itu, tampak tidak bisa menahan diri untuk tertawa.

__ADS_1


“Lah, itu kan dadakan, tanpa persiapan, dan juga...” wajah Stefani tampak memerah; entah itu karena malu atau marah, namun tetap saja menggemaskan untuk dilihat. Dia sempat berbalik menatap tim stylist di belakangnya sampai mereka terdiam sebelum akhirnya pergi sendirian setelah menyerahkan troli belanjaan.


“Ye, ada yang ngambek dong,” ujarnya sambil berjalan agak cepat mengejar Stefani; karena kebetulan ia juga sudah selesai berbelanja.


__ADS_2