Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 19. Masa Lalu (2)


__ADS_3

...Chapter XIX...


Dalam perjalanan ke apartemen Yunita, setelah bertemu dengan Brandon di depan sekolah, pikiran Andre masih terus memikirkan soal kemungkinan keterlibatan orang tuanya. Karena bukan menjadi rahasia lagi, kalau ada uang, segala sesuatu sangat memungkinkan.


Dia juga masih ingat kejadian tahun lalu, saat dia putus dengan kekasihnya dulu akibat ulah Toni.


...***...


...Flashback 1 Tahun yang lalu...


Waktu itu, bertepatan dengan pulangnya Andre dari perlombaan Robotik tingkat nasional yang akhirnya mengirim dia ke Singapore. Siapa yang menyangka, saat itu, dia harus menerima kenyataan pahit kalo Diana, pacarnya saat itu berpacaran dengan Toni dan memutuskan dia secara sepihak.


Dan lebih memalukannya lagi, foto Diana dan Tony sedang berpelukan yang menjadi awal kehacuran hubungannya beredar di group BBM sekolah mereka.


Pahit memang, hari dimana seharusnya menjadi hari bahagia, malah berubah menjadi kenangan pahit bagi Andre. Keadaannya pun juga langsung down semenjak hari itu. Bahkan, sampai mengganggunya saat dia sedang bertanding di Singapore. Timnya yang awalnya sangat di unggulkan, harus pulang tanpa trophy.


Di ruang tunggu, Andre duduk di salah satu kursi sambil menundukkan kepala. Dia merasa sangat malu untuk melihat Dimas dan Brandon. Karena, saat mereka sedang latihan, dia sudah berjanji untuk membawa tim mereka meraih juara 1 sebagai penutup kenangan mereka di SMP.


Ketika Andre sedang meratapi kegagalannya sebagai pemimpin tim. Dimas yang disusul Brandon di belakangnya, datang dan menepuk pundak Andre; selayaknya orang yang berusaha menyemangati, “Sudahlah, tidak apa-apa, yang penting kita juga sudah pernah runner up kan?” ujar Dimas.


“Sorry ya, gara-gara gua...”

__ADS_1


“Aduh, sudahlah. Lagian kita cuma ngelakuin semua ini gara-gara hobi doang kan? So, don’t take this lose to much, okay?” ucap Brandon yang memotong perkataannya.


Melihat Dimas dan Brandon yang tersenyum lebar; Andre juga ikut tersenyum, meski memang sebenarnya agak dia paksakan. Karena, Andre sangat tahu betul, bagaimana perlombaan ini begitu berarti, bukan hanya untuk dirinya saja, namun juga bagi Dimas dan Brandon.


Bagi Andre, kompetisi ini bisa menjadi tempat pembuktian dirinya, kalau dia bukanlah orang yang cuma mengandalkan nama besar Ayahnya saja. Sedangkan untuk Dimas dan Brandon, mereka sering bercerita kalau mereka ingin membuktikan kepada orang tua mereka berdua, bahwa sebuah hobi bisa menjadi sebuah kesuksesan juga.


Dan saat ini, dibalik senyuman kedua sahabatnya, Andre semakin mengutuk dirinya yang menghancurkan impian mereka hanya karena permasalahan cintanya yang sepele. Setelah sedikit mengobrol santai untuk mencairkan suasana, mereka bertiga kemudian kembali ke hotel sendirian; tentu setelah diizinkan pembina tempat mereka wajib lapor setiap ada sesuatu.


Merasa tidak ada yang bisa dibanggakan, Andre beserta Brandon dan juga Dimas memutuskan untuk kembali ke Indonesia lebih cepat. Sehingga, sekembalinya mereka ke hotel, mereka bertiga langsung mempacking pakaian dan barang-barangnya masing-masing.


“Bagaimana kalo kita liburan ke bali dulu seminggu sebelum masuk sekolah lagi?” ujar Dimas ketika mereka sedang mempacking baju-baju mereka. Ide tersebut disambut dengan baju yang dilempar Brandon mengarah tepat ke muka Dimas.


“Halah, palingan lu cuma mau cuci mata ngeliatin bule-bule doang kan?” Dimas yang sudah terlalu sering memakai cara yang sama demi sekedar ‘cuci mata’ tersebut langsung mendapat omelan dan ceramah dari Brandon.


Melihat bagaimana cerianya suasana di depannya saat ini. Andre serasa ingin menghentikan waktu saat itu juga, agar mereka dan terkhusus dirinya dapat menikmati momen ini sedikit lebih lama lagi.


Tapi, Andre juga menyadari betul kalau cepat atau lambat, pada akhirnya dia akan menghadapi Diana dan Tony yang akan menyapa dirinya sebagai sepasang kekasih. Sakit, sudah pasti. Namun, kehidupan akan terus berlanjut, kisahnya juga akan menjadi masa lalu. Orang-orang akan melupakan hal tersebut, terkecuali dirinya, orang yang mengalaminya langsung.


...***...


Setelah berpuas diri sambil mencari pelampiasan kesedihan atas kandasnya kisah cintanya dengan jalan-jalan di Bali selama seminggu. Saat berdiri di depan gerbang sekolahnya, dia menatap agak lama pagar besi yang tingginya mungkin ada 3 meter.

__ADS_1


Di benaknya, sekarang ini dia menganggap pagar tersebut bagaikan pagar dari penjara yang diisi dengan orang-orang yang akan bergosip di belakangnya soal kisah cintanya yang tragis. Dia berani bertaruh, kalau banyak orang yang senang dengan kisah cintanya yang berakhir tragis, terlebih lagi karena selama ini dia menolak banyak perempuan.


Dia bisa sedikit membayangkan bagaimana mereka bergorombol untuk bergosip dengan wajah yang tersenyum, lirikan mata yang tajam. Bahkan, untuk menghindari para penggosip tersebut di dunia maya, dia sampai harus keluar dari group BBM sekolah mereka.


Dan di saat seperti inilah, jika kalian ingin melihat warna asli dari teman-teman, atau setidaknya orang yang mengaku seperti itu.


“Hah, capek benar. Gara-gara si kunyuk kampret itu. Ngapain coba sok ngejar-ngejar bule kalau Bahasa Inggrisnya saja amburadul seperti itu?” Brandon yang biasanya sangat kalem sekarang malah menggerutu begitu mereka berdua masuk ke dalam kelas.


Tampaknya, Brandon belum bisa melupakan ulah Dimas saat mereka liburan di Bali kemarin. Di mana saat itu, Dimas dengan pedenya, karena posture badannya yang cukup tinggi, berusaha untuk mendekati beberapa bule. Namun kenyataan tidak akan semulus mimpi, kata-kata itu cukup tepat menggambarkan bagaimana mereka bertiga harus kerepotan karena Dimas yang selalu saja salah berucap.


“Sudah, anggap saja pengalaman hidup yang pahit. Siapa tahu, kemudian hari dia betul-betul dapat pacar bule kan?”


“Lu percaya kaya gituan? Bullshit, selama bahasa inggrisnya masih ancur kaya kemarin, gua ngak bakal percaya kalo dia dapat istri bule,”


Brandon mencibir saat mendengar ucapan Andre tadi, “Nah, itu orangnya datang. Panjang umur banget,” tambah Brandon sambil menganggukkan kepalanya.


Dimas memasuki kelas dengan nafas tersengal sengal, seperti habis melihat hantu saja, “lo, lo...” Dimas seperti berusaha mengatakan sesuatu, namun sepertinya nafasnya belum cukup teratur untuk bisa berkata-kata.


“Ngomong yang jelas napa lu,” Brandon, dari intonasi dan nada bicaranya terdengar sedikit emosi. Apalagi mengingat tadi Brandon juga baru saja mengumpat di belakang Dimas. Sehingga tidak terlalu mengherankan kalau sisa emosi tersebut bisa membesar jika Dimas salah tingkah sedikit saja.


“Ndre, Lo. Ah ngak, Lo berdua harus ke.....” sebelum Dimas menyelesaikan kalimatnya, perhatian semua orang dalam kelas tersebut sekarang tertuju ke orang yang sekarang ini sedang berada di depan pintu, yaitu Tony. Andre sekilas melihat Diana dibalik pundak Tony.

__ADS_1


Tatapannya dan juga Diana sempat bertemu. Dia bisa melihat Diana yang tidak tersenyum ataupun menunjukkan ekspresi apapun. Entah kenapa, dia merasa kalo tatapan Diana tadi seperti hampa, tidak ada kebahagiaan, atau perasaan apapun yang terpancar.


Andre yang ingin melangkah maju dan menghampiri Diana untuk memastikan dugaannya, dihentikan oleh Brandon. Saat dia menoleh, Brandon menatapnya dengan cukup serius, “Forget her, dia sudah mengkhianati kita semua,” ucap Brandon. Dimas juga terlihat mengangguk pelan.


__ADS_2