Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 24. Pilih Salah Satu (4)


__ADS_3

ARC I FINAL


Pertanyaan yang lebih terdengar seperti saran yang dipaksakan membuat Andre sedikit heran.


“Kenapa tiba-tiba membahas soal kelas Akselerasi”, ucapnya dalam hati. Meskipun sebenarnya, hal tersebut memang sudah dipikirkannya selama beberapa bulan terakhir. Alasannya? Tidak ada yang spesial, hanya saja dia ingin cepat-cepat selesai, dan bisa menikmati lebih banyak waktu bersantai sebelum Ayahnya akan menyeretnya ke dalam urusan perusahaan yang tentu akan menyita waktu, pikiran, dan raganya.


“Tenang saja, mama bukan mau menyuruh kamu untuk cepat-cepat meneruskan posisi ayahmu,” ujar Ibunya Andre yang melihat kerutan di kening Andre.


“Memangnya kenapa kalau aku tamat normal 3 tahun?” Andre kemudian bertanya karena sedkit ingin memuaskan rasa penasaran dalam dirinya soal alasan ibunya menyuruhnya untuk mengambil kelas Akselerasi.


“Nothing, hanya saja, semakin kamu cepat selesai akan lebih bagus. Malahan lebih bagus lagi kalo dapat S2 sebelum umur 25. Sehingga bisa jadi nilai plus di hadapan para investor dan dewan direktur,”


“Tapi bukannya itu hak eksklusif keluarga kita tentang siapa pemimpin perusahaan selanjutnya?”


Jawabannya ibunya terasa tidak sedikit masuk akal buat Andre. Apalagi, sepengatahuaannya selama ini, perusahaan mereka belum pernah terjun IPO. Dan juga, seingatnya—melalui kebiasaanya yang kadang menguping, ataupun tidak sengaja membaca beberapa beberapa kertas ketika sedang merapikan ruangan kerja ayahnya—80% saham perusahaan masih di kuasai oleh keluarga mereka.


“Perusahaan kita sekarang tidak sesimple itu. Dan walaupun kita punya hak eksklusif seperti itu. Tetap saja, pendapat dan loyalitas dari para Direktur itu penting. Dan cara untuk mendapatkan kepercayaan mereka, selain dengan uang, tentu dengan keahlian dari pemimpin itu sendiri. Dalam hal ini, dirimu,” jelas Ibunya.


“Nantilah, biar aku pikir-pikir dulu,” Andre membalas sambil berjalan pergi hendak meninggalkan ruangan tersebut. Dia memang sangat ingin mengikuti kelas Akselerasi yang selalu dikatakan oleh banyak orang sebagai kelas elit khusus orang dengan kecerdasan terbaik.


Sebelum memasuki SMA M, Andre sudah memutusan dengan bulat untuk berusaha masuk ke kelas yang dijuluki orang-orang yang gagal bertahan di sana sebagai, ‘kelas neraka’. Tapi, keputusan bulatnya itu perlahan tergerus seiring berjalannya waktu, terutama setelah berpacaran dengan Yunita.


Entahlah, dalam hatinya seperti timbul rasa ingin lulus bersama Yunita, menikmati prom night berduaan, ikut acara kelulusan bersama. Semuanya ingin dilakukannya bersama Yunita. Tidak heran kalau Dimas dan Brandon sering menyebutnya dengan ‘bucin level akut’.


“Dan, kamu bisa berhenti menyuruh Dimas atau Brandon untuk menyelediki soal bagaimana Yunita menjadi artis,” ucap Ibunya Andre, tepat saat Andre hendak menekan turun gagang pintu yang sudah di pegangnya.


Perkataan Ibunya membuat Andre terkejut, dia tidak akan pernah menduga kalau Ibunya akan mengatakan secara blak-blakan hal-hal seperti itu. Yang jelas, perkataan Ibunya tersebut seperti pengakuan yang di sembunyikan secara halus.


“Jadi, semua yang terjadi di masa lalu belum cukup juga ya ma?” ucap Andre, melepaskan tangannya dari gagang pintu lalu berbalik dan melihat ke arah Ibunya yang sedang merapikan meja Ayahnya.


Entah apa dia akan bisa memandang Ibunya dengan cara yang sama lagi dengan sebelumnya atau tidak setelah dia keluar dari ruangan ini, Andre bergumam dalam harinya. Terlebih lagi, setelah perbuatan Ibunya di masa lalu yang hampir menghacurkan kehidupan orang lain.

__ADS_1


“Maksudmu?”


Melihat Ibunya yang bahkan tidak memandangnya meski dia mengungkit kejadian tersebut, membuat Andre cukup geram sampai dia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga uratnya sempat menonjol.


“Apakah mama harus sampai seperti itu? Harus sampai menarik orang seperti Yunita ke dunia kita? Mama kan tau bagaimana orang-orang akan memandang dia nantinya?”


Perkataan tersebut diucapkan Andre bukan tanpa alasan. Mealinkan, karena dia sudah melihat langsung bagaimana orang-orang di sekolahnya memandang rendah Yunita saat mereka ketahuan pacaran. Itu baru di lingkungan sekolah. Dan tidak usah jauh-jauh, kakeknya dari Ayahnya saja memandang rendah Yunita dengan mengenalkan gadis lain meskipun ada Yunita.


Dan dengan Yunita menjadi artis, meurutnya malah akan mempermudah orang-orang tersebut untuk menekan Yunita karena seorang artis sangat rentan terkena skandal. Dan, hanya butuh skandal kecil saja untuk menghancurkan Yunita.


“Tenang, dia tidak akan di perlakukan seperti itu. Dan makanya itu, kau harus selesai S1 secepat mungkin agar bisa mengamankan psosisi Yunita di sampingmu dan melindunginya. Setelah selesai, kau boleh ambil rehat 2 tahun. Entah itu mau buka usaha, jalan-jalan kemanapun, terserah, mama akan biayai semuanya. Bagaimana?”


Di tahap ini, Andre mengakui kalo cara negoisasi Ibunya cukup hebat. Karena pada awalnya, dia berpikir kalau dia bisa rehat paling lama adalah 1 tahun, sebelum akhirnya harus mulai belajar mengelola perusahaan ayahnya. Dan, tawaran ibunya yang datang dengan jangka waktu yang sangat menggiurkan tersebut membuatnya sedikit goyah dengan pendiriannya.


Lagi pula, perkataan Ibunya memang tidak ada salahnya. Kalau dpikir-pikir kembali, dia memang harus segera keluar dari bayang-bayang orang tuanya. Itu adalah satu-satunya cara agar orang-orang tidak memandang sebelah mata dirinya.


Dan, setelah membuat fondasi yang kuat untuk dirinya sendiri, maka dia bisa juga melindungi Yunita—atau setidaknya membuat orang sedikit segan untuk macam-macam dengan mereka berdua—sampai Yunita cukup terbiasa dengan pandangan menjijikkan orang-orang yang gemar memandang rendah orang lain.


Kembali ke ruang tengah, Andre melihat Yunita dan Tante Ranty terlihat semakin akrab, hal itu membuatnya sedikit lega. Dia sedikit khawatir kalau suasana akan sedikit menjadi canggung saat ditinggal tadi. Tapi, mengingat sifat Yunita yang memang sangat friendly dan easygoing, dia percaya kalau Yunita bisa menyesuaikan dengan cepat dengan sifat Tante Ranty yang agak cerewet dan kepo.


“Kalian ngobrolin apaan sih di dalam? Lama amat,” Tante Ranty mulai menggerutu ketika Andre dan Ibunya kembali dan hendak duduk di sofa,


“Ah itu, cuma bahas rencana liburan mereka doang, sekalian ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani,”


Melihat bagaiaman respon dari Ibunya, Andre cukup mengerti kenapa Ibunya dipanggil No.1 lawyer di kalangan pengacara. Ketenangan dan pengendalian emosi. Ibunya, bisa dibilang cukup hebat dalam memisahkan emosi dan menjaga apa yang boleh di bicarakan dan tidak boleh. Wajah ibunya yang selalu terlihat tenang membuatnya terlihat sangat misterius dan tidak bisa ditebak.


...***...


Setelah makan siang bersama—atas inisiatif ibunya—dan merasa tidak ada hal penting lain yang perlu dibicarakan. Andre, bersama pak Bui kemudian mengantar pulang Yunita. Dalam perjalanan, Andre kembali berpikir apakah keputusan yang di ambilnya sudah tepat atau tidak.


“Ternyata ibu kamu pintar masak ya?” ujar Yunita yang terlihat terus memandangi kotak berisi makanan yang di masak Ibunya Andre.

__ADS_1


“Kenapa? Enak?” tanya Andre: karena sudah terlalu sering memakan masaka ibunya setiap hari, dia menjadi merasa tidak ada yang spesial.


“Ya iyalah. Persis banget sama masakan restoran, padahal aku liat tadi ngak pakai penyedap rasa sama sekali,” balas Yunita.


Kebanyakan orang memang cukup terkejut saat mengetahui soal Ibunya Andre yang memasak sama tanpa menggunakan MSG sama sekali. Ibunya Andre merupakan salah satu orang yang sangat anti dengan namanya MSG, akibat banyaknya orang yang mengatakan MSG bisa membuat orang menjadi bodoh ataupun menyebabkan kanker.


Yah, meskipun sebenarnya semua itu sudah dibantah lewat penelitian secara medis. Akan tetapi, karena sudah menjadi kebiasaan, hal itu terus di lakukan ibunya.


“Bagaimana dengan proyek web drama-mu? Sudah ada jadwal syutingnya?” Andre bertanya.


Sebenarnya, dia sangat ingin menyarankan Yunita untuk tidak usah menjadi artis, namun diurungkannya karena tidak tega dengan perjuangan Yunita yang terlihat bergitu bersungguh-sungguh.


“Hm, mungkin maret katanya baru syuting. Tapi, gila juga ya? Baru mulai, aku langsung dapat pemeran pendukung, bukan peran kecil-kecil dulu,”


“Ya iyalah, orang sponsornya ibuku. Mana mungkin orang PH mau ngebantah. Bisa di tarik tuh semua dana sponsor,” ucap Andre dalam hatinya, “Ya bagus dong kalau begitu, berarti mereka melihat sesuatu dalam dirimu, atau..” Andre memegang dagunya dan melihat Yunita secara seksama dari atas sampai bawah.


“Atau apa?” tanya Yunita, yang sekarang sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Melihat tingkah Yunita tersebut, Andre kepikiran untuk menggoda Yunita. Dia kemudian bergerak maju sampai Yunita terpojok dan tidak bisa menjauh lagi; lalu mendekati telinganya dan berbisik “Mereka cuma tertarik sama kecantikanmu aja,” bisiknya sambil sedikit meniup telinga Yunita.


Melihat wajah Yunita yang memerah hanya karena godaan ringan seperti itu, membuat Andre teringat dengan kata-kata Dimas. “Wanita itu akan lebih mudah tersipu dan terpancing hawa nafsunya kalau di depan orang yang di cintainya.” Untungnya, mereka berdua sedang berada dalam mobil dan ada Pak Budi di depan. Entah apa yang akan di lakukan Andre kepada Yunita seandainya mereka hanya berduaan saja. Apalagi, pikiran Andre sekarang sudah sedikit melayang kemana-mana. (Wajar ya, namanya laki-laki)


“Hah, lain kali saja lah,” gumam Andre dalam pikirannya.


Sebenarnya, dia ingin meminta Yunita untuk mempertimbangkan sekali lagi soal keinginan untuk menjadi artis. Menurut Andre, banyak cara untuk bisa menghasilkan uang tanpa harus menjual privasi. Menjadi Youtuber mungkin? Atau selebgram?. Pemikiran buruk soal bagaimana rintangan yang akan di hadapi Yunita di kedepannya selalu terlintas di pikiran Andre. Bukannya bernegatif thingking, akan tetapi tidak bisa di pungkiri kalo job sebagai artis merupakan salah satu job yang membutuhkan mental baja karena harus menghadapi sorotan dari berbagai orang.


Dia, Andre, hanya bisa berharap Ibunya akan betul-betul menepati kata-katanya untuk menjaga Yunita agar tidak pernah jatuh ke dalam jurang skandal yang selalu mengintai. Terutama dari orang-orang dalam perusahaannya yang menginginkan kehancuran keluarga mereka agar bisa mengambil alih perusahaan.


...***Arc I ***...


...Where Everything Began...

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2