Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC III : CHAPTER IV


__ADS_3

Yunita dan juga Dimas tersedak. Mereka hampir memuntahkan makanan yang ada dalam mulut mereka saat mendengar perkataan Andre.


Yunita tersipu malu dan hanya bisa menunduk saat melihat Ibunya Andre dan juga Cecilia yang melempar senyum genit ke arahnya seakan sedang menggodanya.


“M-Me-Menikah kau bilang?” reaksi Ayahnya Andre terbilang tidak biasa karena sangat jarang sampai bisa terbata-bata seperti sekarang ini.


Namun, Yunita dan Andre bisa cukup tenang. Sorotan mata Ayahnya Andre tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun, hanya murni terkejut saja.


“Iya, Ayah ngak salah dengar kok,” Andre memastikan kalau Ayahnya memang tidak salah dengar.


Yunita cukup terkejut juga saat melihat Andre yang bisa berbicara dengan sepercaya diri itu. Iseng, dia mencoba menggenggam tangan Andre. Dia tersenyum menahan tawa saat merasakan tangan Andre yang dingin, pertanda seseorang sedang gugup.


“Kau memangnya punya apa buat menghidupi dia? Rumah sendiri saja belum ada,” tegas Ayah Andre yang terlihat cukup serius menanggapi Andre, seperti sedang membuat perhitungan dengan Andre.


“Ada kok, Rumahku sudah selesai belum mom?” tukas Andre sambil menengok ke Ibunya. Ayah Andre tampak sedikit terkejut kembali saat mendengar perkataan Andre dan ikut menatap istrinya.


“Baru 90%, sisa interior saja, mungkin seminggu atau 2 minggu lagi baru bisa ditempati dengan normal,” Ibunya Andre menjawab.


“Kamu dapat uang dari mana hah? Minjam Ibumu pasti kan?” ucap Ayahnya Andre


“Ngak, ingat investasi yang ku kelola?” Andre berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Dulu, sebelum aku pergi, nilainya masih 1M. Tapi selama di US, aku buka rekening dan beli saham beberapa perusahaan di sana sambil ngembangin portofolio yang di Indo juga lewat saham dan properti. Dan sebelum bangun rumah setahun yang lalu, sudah ada 50 atau 60M-an,” jelas Andre, yang membuat Dimas kembali tersedak untuk kedua kalinya.


Mendengar jumlah yang begitu besar, Yunita tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Andre. Sedangkan Ibunya Andre, beliau hanya tersenyum melihat ke arah Andre, lalu mengedipkan mata ke Yunita.


“Wah, kakak memang the best. Pantes beli anggur mahal kayak gini enteng banget sampai 2 biji pula,” Cecilia menyela sambil bertepuk tangan pelan beberapa kali dan kemudian mengancingkan jempolnya ke kakaknya.


“Oke, kalian boleh menikah,” perkataan Ayahnya langsung membuat Andre tersenyum lebar, “Tapi, kau harus memimpin akan cabang perusahaan papa yang baru sampai bisa selamat dari tren negatifnya dan bertahan setahun baru setelah itu kau bisa menikah. Bagaimana?”


Andre terlihat berpikir sejenak. Yunita sedikit cemas menunggu jawaban Andre,


“Ok, aku setuju,” ucap Andre menerima tantangan Ayahnya tersebut dan membuat Yunita tersenyum lebar sampai wajahnya merona.


“Eits, tunggu dulu. Kalian kan belum mengumumkan soal hubungan kalian,” celetuk Ibunya Andre ditengah kegembiraan tersebut.

__ADS_1


“Ah, itu sedang diupayakan Brandon,” Andre menjawab.


Setelah mengatakan keinginannya tersebut, Andre merasa sedikit lega, seperti sesuatu yang mengganjal dalam hatinya sudah terangkat. Dia sebenarnya ingin mengatakan hal tersebut setelah dirinya selesai menamatkan studi S1-nya dan mendapatkan gelar ganda.


Apalagi, dia juga sudah melamar Yunita duluan di London saat mereka liburan setelah mendapatkan gelar gandanya.


Akan tetapi, dia memilih untuk menundanya dan mencapai sesuatu yang lebih besar lagi sebagai pembuktian ke orang tuanya. Karena pada saat itu, dia juga mendapatkan tawaran dari salah seorang dosen di kampusnya yang menyarankan dia langsung lanjut S2 saja agar dianggap lebih terpandang dan semakin diperebutkan banyak perusahaan.


***


Selama  seminggu berikutnya, Andre dan Yunita mulai memberikan hint kepada banyak orang dengan memakai berbagai macam barang couple sesuai dengan ide Brandon yang ingin menyalakan api yang tadinya kecil dengan memutar pemantiknya, sedikit demi sedikit.


Mulai dari hal yang kecil, seperti gelang couple, lalu sweter couple yang mereka pakai di tempat dan waktu yang terpisah, jenis hewan peliharaan yang sama, sepatu couple, sampai merilis foto mereka liburan bersama yang diedit agar tidak memperlihatkan wajah mereka di IG masing-masing.


“Kenapa kita yang harus jadi paparazi sih? Bos lu kan orang pewaris perusahaan dengan valuasi paling besar se-Indonesia. Ngak bisa sewa orang apa?” Stefani menggerutu ketika dia dan Brandon mengikuti Andre dan Yunita dari belakang.


“Dia cuma mau hasilnya lebih maksimal, pengertian sedikit lah,” Brandon balik mengomeli Stefani.


Stefani hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Brandon yang sudah terlalu tenggelam dalam karakternya sebagai sekretaris Andre.


Alasannya? Karena biasanya wartawan gosip suka mondar mandir dengan akun samaran di akun-akun shippers sesekali. Tidak sampai disitu, dia juga mengupload foto-foto tersebut ke berbagai forum gosip dan beberapa wartawan dari media yang cukup populer dengan akun anonim untuk memanaskan suasana.


“Bagaimana?” begitu masuk mobil, Andre langsung bertanya.


Brandon mengangkat jempolnya, “Beres, banyak orang yang langsung heboh. Komentarnya juga positif,” Brandon melaporkan semuanya.


Terima kasih dengan kepopuleran Yunita, hanya dalam waktu 3 hari saja semua media langsung merilis artikel soal Yunita dan Andre. Dan, beberapa hari berikutnya, tanpa Brandon harus melakukan sesuatu, video lama saat pengumuman putusnya Andre dan Yunita pun kembali beredar dan menjadi perbincangan panas di sosial media.


“Wah gila juga ternyata kepopuleranmu,” ujar Andre ketika dia dan Yunita sedang dalam perjalanan menuju rumah barunya untuk melihat sudah sampai mana progressnya.


Sekalian juga untuk memberi feedback ke Interior Designer yang mereka sudah janjian untuk ketemu langsung. Dia tidak menyangka kalau efek berita mereka berdua juga akan membuat saham perusahaan ayahnya naik 3 - 5% hanya dalam waktu beberapa hari.


“Ya iyalah, dia sekarang artis kelas atas dan jadi rebutan para produser. Sudah pasti dong,” celetuk Pak Budi yang kebetulan sudah pulang dari US—agak belakangan karena harus mengurus beberapa barang-barang Andre terlebih dahulu yang memang tidak bisa dibawa dalam 1 kali flight—dan menjadi supirnya lagi.

__ADS_1


“Betul itu, nama Yunita ada di peringkat 1 pencarian terpopuler, tapi nama Pak Bos kita hanya ada di peringkat 8,” Brandon ikut setuju dengan perkataan Pak Budi.


Andre menghela nafas, “Memang, tampaknya gue sudah ngak bisa mengalahkan kepopuleran artis besar kita ya,”


“Apaan sih. Ini semua kan berkat kamu juga. Kalau ibumu tidak memberikan kesempatan itu dulu, mungkin aku tidak akan seperti ini sekarang,” Yunita menyangkal perkataan Andre.


Dia tidak bisa melupakan jasa-jasa ibu Andre selama perjalanan karirnya dari 0 hingga seperti sekarang ini.


“Apa aku coba jadi artis juga ya? Siapa tahu kan, dengan wajah yang tampan, kecerdasan di atas rata-rata, dan image yang bagus, aku bisa jadi lebih populer dari kamu Hon,” Andre berandai-andai.


Menurutnya, menghafal skrip dibanding tesis dalam bahasa Inggris begitu banyak tentu akan lebih mudah bukan? Selain itu, seperti yang baru saja dia katakan, semua hal tersebut menurutnya bisa menjadi daya tariknya .


“Halah, mimpi kamu. Sudah, fokus saja dengan perusahaan ayahmu. Biar nanti kalo kalian sudah punya anak, istrimu dirumah saja dulu sampai anak kalian agak besar,” Pak Budi mematahkan angan-angan Andre dan menasihatinya.


“Ish,” Andre mencibir, “Kenapa kamu senyum-senyum?” sambungnya saat melihat Yunita yang seperti sedang menahan tawa saat menatapnya.


“Kamu sama Pak Budi kayanya semakin akrab ya semenjak di luar negeri? Jadi kaya lebih santai saja ngomongnya begitu,”


“Dari dulu memang sudah begini. Tapi memang, semenjak pulang dari US, bapak-bapak di depan ini sudah ku anggap omku sendiri. Dan kamu mau tahu ngak, ada kejadian konyol….”


Pak Budi yang melihat jalanan di depannya agak kosong, langsung menginjak pedal gas cukup dalam sampai membuat Andre dan Yunita tersentak demi menutup mulut Andre, “Awas kamu ya...” ucap Pak Budi dengan sorotan mata siap menerkam Andre.


Andre tidak marah, dan malah menggoda Pak Budi dengan memasang tatapan jahilnya.


***


Sampai di lokasi rumah barunya, Andre dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dari 4 orang yang sedang berdiri dan saling bercakap.  Dia melihat seorang perempuan yang sekilas wajahnya terlihat tidak asing baginya, Diana yang sedang berbicara dengan beberapa orang disitu.


Suaranya memang terdengar berbeda, yang mana wajar karena suara memang berubah seiring bertambahnya usia. Namun ciri-ciri wajah Diana; hidung yang mancung, mata yang agak terbuka lebar, dan yang paling membuatnya yakin, adalah tai lalat di bagian dagu sebelah kiri.


Meski begitu, Andre tidak mau langsung memanggil namanya; berjaga-jaga kalau dia mungkin saja salah. Dia hanya terus berjalan, menghampiri orang tersebut, dan membiarkan Yunita tetap melingkarkan tangannya.


“Halo,” Yunita menyapa lebih dulu, sedangkan Andre bersikap ramah kepada semuanya, kecuali Diana.

__ADS_1


“Ah, Pak Andre ya?” sapa salah seorang dari keempat orang tersebut sembari menjulurkan tangannya. Andre berusaha bersikap biasa saja, tidak melihat ke perempuan yang dikiranya sebagai Diana, dan membalas orang yang menyapanya. “Perkenalkan, saya Agus, mereka bertiga asisten saya, Haryono, Wibowo, dan Diana,”


__ADS_2