Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 20. Masa Lalu (3)


__ADS_3

...Chapter XX...


***“Musuh yang paling berpotensial menjadi ancaman terbesar adalah teman sendiri\,” ***


kata-kata itu rasanya cukup tepat untuk menggambarkan kejadian yang dialami Andre sekarang ini.


Tidak seperti persahabatannya dengan Dimas dan Brandon yang memang terjalin karena orang tua mereka yang sudah sangat dekat. Tony dari awal adalah orang luar yang saat itu terlihat cukup baik di mata mereka. Sikapnya yang humble dan easygoing membuat Andre, Dimas, dan Brandon gampang berteman dengan Tony.


Selain itu, Tony dengan perawakannya yang gagah, membuat Dimas sangat menyukainya. Apalagi Dimas memang sangat ingin membuat group penakluk kaum hawa sampai mereka semua beranjak dewasa dan mempunyai pasangan masing-masing. Pertemanan mereka terbilang cukup erat; setidaknya saat mereka duduk di kelas 7 sampai 8 saja.


Beranjak kelas 9, benih-benih perpecahan mulai timbul diantara mereka. Pertengkaran kecil mulai terjadi diantara mereka, akan tetapi semua masih bisa di selesaikan dengan baik-baik. Namun, ibarat kain yang sudah mulai usang dan rentan putus. Tidak peduli bagaimana pun mereka berusaha menambal hubungan mereka yang sudah berlubang di sana-sini. Pertemanan mereka pun pecah, Tony memutus hubungan dengan Andre, Dimas, dan Brandon.


Berharap masalah mereka selesai disitu. Akan tetapi masalah lebih besar datang menimpa mereka, atau lebih tepatnya menimpa Andre. Tony, seperti tidak punya dosa merebut Diana dari Andre. Padahal, selama ini, Andre sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Tony sedikit pun. Bahkan ketika terjadi perselisihan selama ini, di antara mereka berempat, Andre lah yang selalu berusaha melerai mereka semua.


Dan saat ini, melihat Tony yang melangkah maju dengan sumringah yang cukup lebar di wajahnya. Hal itu membuat Andre cukup kesal sampai-sampai ingin menonjok wajah Tony yang terlihat tidak tau malu sama sekali. Belakangan ini, Andre merasa kalau Tony sudah merencanakan semua ini dari awal.


“Jangan di ladeni. Dia sengaja memancing lo. Dan kalau lo balas, itu malah akan membuat orang mencmooh lo. Orang akan menganggap kalau Diana dan Tony adalah orang yang bisa mengendalikan lo,”


Begitulah nasihat Dimas kepada Andre. Meskipun alasan tersebut sedikit tidak masuk akal dan omong kosong. Akan tetapi, jika dipikirkan sekali lagi, ada benarnya juga. Memikirkan bagaimana orang-orang yang berharap dirinya terlibat masalah dan bisa dijadikan bahan gosip, Andre berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


“Well, well, lihat siapa yang kembali. Pecundang yang dibangga-banggakan, namun berakhir tragis. Kenapa? Apa karena pemimpin kalian yang sedang patah hati? Seharusnya menyerah saja dari awal kalau begitu,”


“Dasar B....” Ucapan Tony dengan agak nyolot tersebut sempat membuat Dimas maju satu langkah dengan tangan yang di kepal.


Beruntung, Andre dibantu oleh Brandon sempat menghentikan Dimas sebelum suasana berubah menjadi kacau. Dan, hal itu tampaknya sangat dinantikan oleh Tony yang tidak memperlihatkan ketakutan sedikit pun di wajahnya.


“Terus, apa yang sudah lo perbuat? Merebut pacar orang secara diam-diam saat pacarnya sedang berusaha mengharumkan nama sekolah? Mana yang lebih pecundang menurutmu?”


Andre dengan tenang membalas provokasi Tony tadi. Walaupun sebenarnya, dalam hatinya, dia juga sangat ingin menghajar Tony sekarang juga tanpa ampun. Namun, melihat Tony yang mengertakkan gigi sampai garis rahangnya muncul, hal itu membuat Andre sedikit senang.


Rasanya, dia berhasil menemukan titik kelemahan Tony yang sudah susah-susah memanjat ke atas, dan mendorongnya kembali ke bawah.


Pandangan orang-orang yang tadinya tertuju kepada Andre, sekarang kebanyakan malah menatap Tony, beberapa perempuan dalam kelas bahkan terlihat mulai bergosip dengan gerombolannya masing-masing. Situasi di luar kelas juga tampaknya tidak terlalu berbeda dengan di dalam kelas. Tony yang mungkin menanggap situasi tersebut tidak menguntungkan baginya, dia langsung berjalan keluar dari kelas dengan langkah panjang dan agak cepat.


“Minggir!! Apa liat-liat!!” ucap Tony saat membubarkan murid-murid lain yang berdiri di depan pintu kelas Andre. Suaranya terdengar meninggi karena emosi.


Setelah kejadian tersebut, Tony dan Diana tidak pernah lagi berinteraksi dengan Andre, Dimas, maupun Brandon. Saat tidak sengaja bertemu pun, mereka tidak saling menyapa, bahkan tersenyum pun tidak. Itu semua karena Andre memutuskan untuk menghapus semua soal Diana yang tersisa pada dirinya. Dan di samping itu, dia tidak ingin orang tuanya untuk tahu tentang hal ini, meskipun dia harus menahannya sendirian.


Namun, tembok yang dia bangun selama bermingu-minggu tersebut perlahan retak ketika mendengar pernyataan Dimas dan Brandon. Di belakangnya, kedua temannya ini ternyata menyelidiki hubungan Diana dan Tony. Dari awal, mereka bertiga memang sedikit curiga soal Tony dan Diana. Akan tetapi, Andre yang sudah terlanjut sakit hati memilih mengesampingkan kemungkinan tersebut.

__ADS_1


Rasa penasaran yang dikurungnya selama ini di balik tembok pun menyeruak keluar dari celah-celah retakan. Andre yang tadinya merasa masa bodoh, mulai dimakan oleh rasa penasaran sedikit demi sedikit. Dan pada akhirnya, dia ikut dengan Dimas dan Brandon untuk memata-matai Tony dan Diana setiap ada kesempatan.


Merasa kegiatan baru ini sangat menarik, Dimas bahkan sampai melanggar aturan, dan mengemukakan mobilnya sendiri tanpa sepengetahuan orang tuanya—Dimas sedari SMP memang sudah mengontrak di sebuah apartemen dan tinggal sendiri—dengan menipu sopir yang disewakan oleh kedua orang tuanya sendiri.


Selama beberapa hari pertama. Membagi waktu untuk memuaskan rasa penasarannya dan persiapan ujian nasional sempat membuatnya kewalahan. Ide untuk menyerah juga sempat terlintas di pikirannya beberapa kali. Akan tetapi, pendiriannya selalu saja goyah setiap mendengar bujukan Brandon dan Dimas.


Selama 2 minggu penuh, Andre dan kedua temannya; yang tampaknya lebih banyak penasaran dari pada orang yang bersangkutan, mengikuti Tony dan Diana secara diam-diam. Diluar maupun saat dalam lingkungan sekolah.


Tidak banyak yang mereka dapatkan—atau setidaknya selama mereka berusaha mengikuti Tony ataupun Diana—selain Tony yang mengantar pulang Diana, ataupun saat mereka pergi ke mall atau tempat umum. Karena terus menemui momen tidak penting, Dimas dan Brandon juga hampir menyerah. Sampai, pada suatu sore hari, di taman belakang sekolah, saat mereka sudah cukup muak mengikuti Tony dan Diana layaknya stalker.


Mereka bertiga mendapati Tony dan Diana yang seperti sedang cekcok. Bahkan sampai terjadi sedikit adegan saling menunjuk diantara Tony dan Diana. Kata-kata yang tidak pantas juga keluar dari kedua orang tersebut. Beruntung, taman belakang sekolah tersebut yang merupakan bagian dari gedung lama jarang di datangi orang-orang.


“CUKUP!! Gua sudah muak dengan ancaman lo ya. Semua kemauan lo sudah gua turutin. Sekarang...”


Diana dengan putus asa, melompat-melompat berusaha mengambil ponsel yang ada di tangan Tony yang diangkat cukup tinggi sampai Diana tidak bisa meraihnya.


“Apa? Lo mau kembali ke orang itu hah? Lo pikir dia mau menerima orang yang sudah berkhianat seperti lo. Mimpi!! Bangun woi, bangun!!”


Tony sepertinya tidak peduli, dan terus mengangkat tangan yang memegang ponsel itu setinggi mungkin.

__ADS_1


Diana yang terlihat lelah, langsung berbalik—sepertinya menyerah untuk mengambil ponsel tersebut—dan hendak berjalan pergi meninggalkan Tony. Hal yang terjadi berikutnya, membuat Andre sangat syok dan terkejut. Tony, ketika Diana pergi, langsung meraih tangan Diana, menahannya, dan terlihat menarik Diana, lalu menciumnya.


__ADS_2