Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC III : CHAPTER IX


__ADS_3

“Jangan khawatir, dia bukan orang yang galak. Tapi memang wajahnya saja yang begitu, kaya mau makan orang dan....” mendekati ruang yang dikhususkan memang untuk menerima tamu. Andre bisa mendengar Brandon yang sedang berbincang dengan Diana.


“Dan apa?” Andre menyela; dia berpikir ada bagusnya juga Brandon sudah mengoceh duluan, sehingga dia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana cara memulai pembicaraan.


“L.. Lo sudah datang?” Brandon terkejut, di berdiri dari tempat duduknya, “Silahkan, gua ke belakang dulu,” dia lalu meninggalkan Andre dan Diana untuk mengobrol berdua.


“H.. Ha.. Hai, sudah lama ya, ba.. bagaimana kabarmu?” Diana, sambil berdiri dan dengan agak terbata-bata menyapa Andre  yang mengambil tempat duduk di sofa di hadapannya.


Tatapan Andre saat ini jelas-jelas seperti tidak peduli dengan keramahan yang di tunjukkan oleh Diana, dia menunjukkan sikap dingin walau Diana sudah tersenyum kepadanya.


“Saya rasa kita tidak sedekat itu untuk menanyakan kabar masing-masing kan?” ucap Andre dengan raut wajah datar. Meski sebenarnya, jauh di dalam hatinya, banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada Diana.


Diana mendengus, dia tersenyum tipis, “Hmph. Ternyata kamu masih sama seperti dulu ya. Selalu bersikap dingin ke orang lain kecuali orang-orang terdekatmu, sama seperti waktu itu,” ucapnya dengan lebih santai kali ini.


‘seperti waktu itu’ mendengar Diana mengucapkan kata-kata itu, Andre tiba-tiba teringat kenangan mereka berdua dahulu; saat dimana mereka berdua saling bercanda tawa, berjalan bersama sambil bergandengan tangan, pergi liburan bersama ke Bali bersama keluarganya.


“Ngak usah bahas masa lalu, semua itu sudah berlalu. Dan, saya tidak punya waktu untuk bernostalgia. Jadi, lebih baik kau ceritakan apa maksudmu soal Tony yang merencanakan semua gosip soal Yunita, dan bagaimana kau bisa mendapat nomor telponku,” sesudah berhasil menahan dirinya untuk tidak kembali ke kenangan masa lalunya tersebut, Andre langsung menanyakan apa yang di maksud Diana dalam pesan singkatnya.


Diana menghela nafas terlebih dahulu sebelum mulai berbicara, “Jadi...”


Diana mulai dengan menceritakan hubungannya dengan Tony yang berantakan, karena dari awal Tony memang hanya ingin memanfaatkannya. Namun, dia tidak bercerita soal kejadian dulu sewaktu masih berpacaran dengan Andre dan kenapa mereka berdua putus.


Setelah semua histori singkat tersebut, Diana melanjutkan dengan kejadian seminggu sebelum kepulangan Andre ke Indonesia. Dimana saat itu, dia tidak sengaja mendengar percakapan Tony dengan seseorang di telpon. Karena tidak berani terlalu mendekat, dia hanya bisa mengetahui kalo Tony seperti sedang mengancam seseorang, entah siapa itu.


Tidak sampai disitu, sehari sebelum kepulangan Andre, dia kembali mendengar Tony mengatakan “Ikuti orang tersebut, jangan sampai ada satu momen pun yang terlewatkan”.


Pada awalnya, dia tidak ingin terlalu tahu menahu soal hal tersebut dan hanya ingin melupakan semua yang didengarnya.


Namun, ketika artikel soal dirinya, Andre, dan juga Yunita keluar. Dia baru mengerti, kalau selama ini apa yang di rencanakan Tony, semua berkaitan dengan Andre. Dia sebenarnya ingin mengatakan yang sejujurnya kepada semua orang tentang apa yang di lakukan Tony.


Akan tetapi, dia tidak bisa berkata apa-apa saat Tony mengancamnya dengan video mereka berdua di ranjang ketika dirinya mabuk. Terpaksa, dia diam seribu bahasa dan lebih memilih menyelamatkan harga dirinya.


Merasa aman, tapi ternyata tidak, karena kemudian Tony menyuruhnya untuk mengakui soal semua rumor yang sudah beredar. Dan endingnya, dia sekali lagi terpaksa mengikuti kemauan Tony dan mengikuti semua perintah Tony.


***


Yunita, yang sedari tadi bersama dengan Brandon mendengarkan cerita Diana dari balik tembok secara diam-diam, merasa tidak tega. Dia kemudian menghampiri Diana dan memeluknya.


Bisa dibilang, dia sedikit paham bagaimana perasaan Diana; tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menahan semuanya sendirian, dia juga pernah beberapa kali merasakan hal tersebut.

__ADS_1


“Jadi. Kau akan mengatakan segalanya kalau video itu berhasil kudapatkan?” Andre bertanya dengan ekspresi yang begitu dingin, seolah dirinya tidak mudah tersentuh dengan cerita barusan.


Yunita bisa melihat kalau sorotan mata Andre sebenarnya penuh dengan kemarahan.


Diana tidak menjawab, dan hanya mengangguk.


“Oke. Akan ku bantu. Tapi, awas saja kalau ini merupakan rencana busuk kalian yang lainnya,”


Andre, dalam hatinya bukannya tidak mempercayai perkataan Diana. Hanya saja, dia masih sedikit meragukan beberapa perkataan Diana. Seandainya, Tony memang selalu melakukan kekerasan dalam hubungan mereka berdua, kenapa dia tidak tinggalkan saja Tony. Simple kan?


Andre kemudian berdiri dan berjalan ke dapur, namun berhenti sebentar, “Makan dulu sebelum pulang, Kau juga boleh menginap disini kalau memang takut pulang ke rumahmu,” ucapnya kembali.


Meski dia meragukan perkataan Diana. Namun, ekspresi Diana yang terlihat ketakutan; dari gerakan matanya, cukup untuk membuat hati nuraninya tergerak.


Ya, lagipula rumahnya memang memiliki 4 kamar tidur—selain kamar tidur utama—sehingga tidak ada salahnya membiarkan Diana menginap, apalagi saat melihat Yunita yang sepertinya berempati dengan Diana.


Setelah selesai makan, Yunita dan Diana yang bersantai di tepi kolam terlihat semakin akrab setelah sesi curhat tadi. Mempunyai masalah yang sama, terkadang bisa membuat seseorang menjadi lebih saling memahami dan semakin akrab.


Andre—yang sedang bersantai dengan Brandon di balkon ruang baca di lantai 2–cukup senang dengan kemajuan yang dia lihat di depan matanya sekarang ini.


“Wah, kapan lagi bisa lihat pemandangan kaya begini. ‘Calon istri bisa akrab dengan mantan calon suaminya’. Beh, ini pasti bakal jadi headline yang bisa menghebohkan media kan?” Brandon mulai menggoda Andre.


“Coba lu pikirkan baik-baik, kalo lu keluarin berita kaya gini beserta foto apa yang ada di depan mata lu sekarang ini. Semua pasti bisa akan teredam kan?”


“Tujuan gua sekarang bukan itu,”


“Terus apa bambang?”


“Tony,” tepat setelah Andre selesai berbicara, sebuah panggilan masuk membuat handphonenya bergetar di atas meja.


Tidak ada nama, hanya tertulis No.Pribadi di layar handphonenya. Andre hanya tersenyum, dia menyuruh Brandon untuk mengambil laptop untuk melacak panggilan dari No. tersebut sebelum dia mengangkat panggilan itu.


Dan setelah Brandon memberi isyarat ‘ok’ dengan tangannya, Andre mengangkat panggilan misterius itu dan memasangnya di mode pengeras suara.


“Apa yang kau mau hah?!” Andre dengan segera bisa mengetahui kalo itu Tony karena suara Tony ternyata tidak banyak berubah dari semenjak terakhir kali mereka ketemu di pesta 10 tahun lalu.


“Hoho, lihatlah siapa ini. Ada gerangan apa ya sampai orang penting seperti Direktur Tony menelepon saya?” sedikit sarkas, Andre mengungkit Tony yang sudah menjadi Direktur.


“Ngak usah banyak basa-basi, katakan saja apa maumu sampai Diana datang ke rumahmu?”

__ADS_1


“Wah, secepat itu? Perasaan baru beberapa jam dia disini,” dia mencoba menggoda Tony kembali, ”Kenapa? Apa ada rahasia berbahaya milikmu yang Diana tahu? Cukup menarik,”


“Kau...”


“Tapi gua sayangnya bukan orang seperti itu; orang yang menusuk kawannya sendiri dari belakang,” Tony tidak menjawab, “Begini saja, bagaimana kalo besok kita bertemu di kafe lama tempat kita berempat pernah bolos dulu?” Andre melanjutkan dengan mengajak Tony untuk bertemu.


“Ok, jam 1 siang,”


“Oke, ja...” sebelum Andre selesai berbicara, Tony sudah menutup telpon dan mengakhiri percakapan diantara mereka berdua, “Wah, dasar si kunyuk satu ini. Ngak punya sopan santun amat,” Andre mengumpat.


“Ok, lokasi rumahnya sudah gua dapat,” ucap Brandon sambil menunjukkan ke Andre lokasi alamat rumah Tony, “Tapi, ngomong-ngomong rencana lo apa?” Brandon bertanya saat melihat Andre yang ekspresinya seperti sedang merencanakan sesuatu.


“Besok lu ikut saja. Di jalan baru gua jelasin,” Andre hanya tersenyum lebar ketika menjawab rasa penasaran Brandon.


Dia kemudian berbaring di atas kursi malasnya sambil memejamkan matanya. Sebenarnya, dia sudah punya sedikit gambaran apa yang akan dilakukannya besok, hanya saja dia belum memikirkan rencana selanjutnya kalo besok semuanya berhasil.


***


Meninggalkan Brandon dan Andre. Yunita dan Diana yang duduk di tepi kolam sedang asyik mengobrol soal masa lalu Andre yang penuh dengan kekonyolan. Yunita merasa kalau Diana sebenarnya orang yang enak di ajak bicara, jarang-jarang dia menemukan orang yang bisa klop dengannya saat diajak berbicara.


Statusnya sebagai seorang artis, terkadang mempengaruhi kehidupan sosialnya. Orang yang dia ajak bicara secara bebas tanpa memedulikan imagenya bisa dihitung dengan jari. Sehingga, saat berbicara dengan Diana yang sangat nyambung dan seperti tidak melihatnya sebagai artis, dia cukup menyukai Diana dan ingin lebih berteman akrab dengannya.


“Din,”


“Hmm?”


“Kamu, kenapa bisa putus sama Andre? Padahal kalau ku liat kamu orangnya cukup baik,” Yunita yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, mencoba bertanya hal yang cukup menganggu di hatinya, “Kalau memang terlalu sensitif, ngak apa-apa kok kalau ngak mau cerita,” imbuhnya saat melihat raut wajah Diana yang sedikit agak berubah.


Diana kemudian menghela nafas, menatap ke arah langit sore yang agak berwarna jingga cerah, sebelum akhirnya menjawab, “Entahlah, mungkin sudah takdirnya kami berdua seperti itu. Dia bukan jodohku, tapi jodohmu,” senyuman tipis menghiasi wajah Diana ketika berkata-kata.


“Mungkin, gua bukan orang yang tepat untuk menemani dia. Gua dulu terlalu bodoh, gampang dipanas-panasi oleh orang lain. Sedangkan dia kan memang banyak musuhnya. Jadi pasangannya juga musti tahan mental kalo mau langgeng,” Diana menambahkan.


“Hah,” Yunita menghembuskan nafas panjang, “Aku mengerti banget perasaan itu kaya bagaimana,” mendengar penjelasan Diana, Yunita kembali teringat dengan kisahnya dulu saat baru berpacaran dengan Andre.


Penuh dengan celaan, tantangan dan beban mental yang rasa-rasanya cukup untuk membuatnya stress. Kalau saja Andre tidak berdiri di depannya saat itu, mungkin dia akan senasib dengan Diana sekarang ini.


“Maaf ya, gara-gara aku, kalian sampai harus kerepotan begini,”


“Ah, ngak apa-apa kok. Andre juga sebenarnya marah itu bukan ke kamu sepenuhnya, tapi ke Tony. Sorotan matanya kelihatan banget kalau memang marah. Dan yang tadi itu lebih ke arah empati, cuma ya memang dia agak gengsian orangnya. Dia lebih menunjukkannya dengan tindakan, bukan kata-kata,” Yunita membalas dengan santai.

__ADS_1


Dia lega, karena ternyata Andre tidak bereaksi seperti yang ada dalam pikirannya; akan membentak Diana dengan emosi yang meledak-ledak.


__ADS_2