
“Ya ampun, itu kakimu kenapa bisa begitu sih?”
Sesuai dugaan Andre. Pak Budi, pasti akan cukup terkejut saat melihat kakinya tersebut. Wajah yang pucat, dan tatapan cemas tersebut Pak Budi mungkin sebenarnya lebih ke arah takut kepada Ibunya Andre, yang sudah pasti akan menanyakan banyak macam pertanyaan setibanya mereka di rumah nanti.
“Tenang aja pak, ngak apa-apa kok. Cuma goresan kecil doang. Si Brandon ini aja yang agak berlebihan ngeperbannya,”
Tidak mau pikiran Pak Buditerganggu dengan perasaan khawatir saat menyetir nanti, Andre sedikit berbohong soal luka di telapak kakinya. Brandon sempat terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun Andre dengan cepat menahannya.
“Ya sudah, bantu dia masuk ke dalam mobil,”
Pak Budi awalnya terlihat tidak yakin, apalagi saat melihat sikap Brandon yang sedikit canggung barusan. Beruntung, Brandon yang pada akhirnya memilih mengikuti alur sandiwara Andre, membuat Pak Budi terkecoh.
“Awas lu ya lain kali,” ancam Brandon dengan sedikit berbisik ketika membantu Andre masuk ke dalam mobil.
“Ayo masuk. Sekalian om antar,” ajak Pak Budi.
“Ngak usah om, kami mau ke apartemennya Andre dulu. Mau istirahat sebentar,” jawab Dimas menolak ajakan Pak Budi.
“Oke kalau begitu,” balas Pak Budi.
Andre, dalam hatinya entah kenapa merasa sedikit curiga dengan apa yang akan di lakukan oleh kedua temannya tersebut. Terlebih lagi setelah tadi, ketika melihat senyuman iseng di wajah Brandon. Entah kejahilan apa lagi yang akan dilakukan Dimas ataupun Brandon.
Dengan cepat, dia langsung mengingat-ingat. Apakah ada sebuah rahasia yang dia sembunyikan di apartemennya? Atau ada foto-foto memalukan yang dia sembunyikan di apartemennya. “Ah, bodo amatlah,” gumamnya dalam hati ketika kepalanya menjadi sedikit pusing.
...***...
__ADS_1
Di rumah, sesuai apa yang di perkirakan oleh Andre. Ibunya langsung panik ketika melihat gulungan perban yang membalut kakinya sampai menutupi seluruh kakinya. Berbeda dengan ayahnya, sama perhatiannya dengan Ibunya, namun lebih tenang dalam membawa diri.
“Ah, cuma luka kecil doang ini, kecillah kalo buat aak cowok itu,” ucap Ayahnya setelah memeriksa dengan cermat kaki Andre.
Ayah Andre memang bukan tipe orang tua yang terlalu memanjakan orang. Malahan, Ayahnya Andre adalah orang yang ingin anaknya itu mandiri, punya jiwa petarung, tidak lembek dan tahan banting dalam menghadapi permasalahan.
Contohnya saja, adik perempuan Andre, Cecilia. Adiknya tersebut sampai memilih tinggal dengan nenek mereka—dengan saran ibu mereka juga sih—karena sikap ayah mereka yang begitu keras.
Akan tetapi, jangan salah. Sesuai dengan kata orang bijak, “Tidak ada orang tua yang tahan saat anaknya di sakiti.” Ayah mereka—didorong oleh Ibu mereka juga—sampai-sampai hampir menghacurkan kehidupan orang lain demi membela Andre.
“What? Segini luka kecil katamu? Yang betul saja, ini parah kali pa,” celoteh Ibunya Andre sambil menunjuk-nunjuk kaki Andre.
“Duh, udah deh ma. Ngak apa-apa kok. Cuma perlu rutin ganti perban, itu aja. Ngak usah di lebih-lebih kan,”
“Yah sudah kalau begitu. Yang penting jangan sampai infeksi aja. Ngeri tau,” ucap Ibunya Andre kembali, namun kali ini sedikit memasang muka jijik di akhir kalimat. Mungkin karena membayangkan bagaimana menjijikkannya kaki Andre yang bengkak kemerahan, berbau tidak sedap, dan sedikit mengeluarkan nanah.
Terkadang, Andre menanggap ibunya ini sedikit terlalu imajinatif. Tidak semuanya buruk sih, namun ada kalanya hal itu terasa sedikit terlalu berlebihan. Mungkin semua itu karena ibunya punya latar belakang hukum, sehingga dituntut harus bisa memprediksi berbagai macam kemungkinan ketika membela klien, gumam Andre.
Dibantu oleh salah satu pembatu di rumahnya, Andre menaiki tangga ke lantai 2 satu per satu. Meskipun sebenarnya dia merasa bisa sendiri, akan tetapi dia memilih untuk mengikuti kemauan ibunya untuk hal ini agar tidak memperpanjang celotehan ibunya.
“Terima kasih mbak, aku bisa sendiri kok kalau dari sini” ucapnya setelah sampai di lantai 2. Sejujurnya, dia benci kalau harus diperlakukan seperti orang yang lemah. Apalagi kalo sampai harus dipapah sampai ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, hal yang pertama di lakukan oleh Andre adalah berjalan ke tepi kasurnya, dan melempar badannya ke atas kasurnya yang empuk. Dia memejamkan matanya, merilekskan seluruh badannya yang terasa agak tegang akibat harus membiasakan berjalan pincang, dan sedikit memikirkan keraguan soal ibunya yang mungkin terlibat soal awal karir Yunita sebagai aktris.
Kepalanya kembali terasa agak pusing setiap kali berpikir terlalu keras semenjak hari ini. Rasa sakit di kakinya yang tadinya sempat mereda kembali terasa agak perih sekarang.
__ADS_1
Tak mau larut dalam stres, Andre kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Dengan agak sedikit bersusah payah karena kakinya yang terluka, dia berjalan ke lemari, mengambil sehelai pakaiannya secara acak dari tumpukan baju di lemari, dan mengganti pakaiannya lalu kembali melempar dirinya ke atas kasur kembali setelah mencas handphonenya terlebih dahulu.
Untuk membantunya mengurangi stres, Andre memutar lagu dengan lentunan piano saja yang biasa dipakainya saat ingin menenangkan diri atau melakukan yoga.
...***...
Selama beberapa hari berikutnya, Andre tidak bisa berbuat banyak. Terutama ketika harus naik atau turun tangga, Pak Budi, atau pembantu di rumahnya harus menolongnya. Walau sebenarnya, dia merasa kalau bisa menuruni tangga tersebut, Ibunya tetap melarangnya untuk turun sendirian dengan alasan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Selain itu, Andre juga tidak bisa beraktifitas di luar, dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumahnya; atau lebih tepatnya di kamarnya. Bermain game DOTA yang sudah tidak di sentuhnya beberapa bulan menjadi kegiatan rutinnya selama kakinya masih dalam proses penyembuhan. Yah sekalian hitung-hitung push MMR sedikit mumpung ada waktu.
“Duh, kamu tuh ya nge-game mulu, coba meditasi kek, atau YOGA begitu? Emangnya ngak bisa?” omel Ibunya yang memang selalu mengomel setiap kali menangkapnya bermain game berlebihan. Hal itu bermula, ketika secara tak sengaja dirinya tertangkap basah melakukan top up cukup banyak untuk sebuah game Online di ponselnya; walaupun sebenarnya itu memakai tabungannya.
“Kan kaki ku lagi cidera mom,” jawab Andre tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar kompyternya karena sedang dalam pertempuran sengit.
“Dasar anak ini. Stop dulu itu, ada tamu penting di bawah,”
“Ah, palingan juga tamunya papa atau mama kan? Nanti dulu deh, tanggung ini. Ngak bisa ditinggalin,”
“Oh gitu ya, jangan nyesel kamu kalo mama bilang kamu lebih pentingin game ya,” ucap Ibunya sambil berjalan menuju pintu kamar.
Awalnya, Andre tidak menganggap ancaman ibunya itu. Namun, saat memikirkan kembali kata-kata ibunya. Dia memiliki beberapa dugaan liar di kepalanya, ‘Yunita, Dimas, atau Brandon?’.
Tapi, jika dipikir-pikir lagi, Brandon mengatakan butuh waktu 2 minggu dan hal itu tentu bisa di sampaikan lewat WA. Sedangkan Dimas, di waktu liburan seperti ini, sangat jarang orang itu datang ke rumahnya. Bagi temannya satu itu, ‘cuci mata’ adalah hal yang lebih penting jika tidak ada urusan yang urgent. Dan yang terakhir, Yunita. Dia sedikit skeptis Yunita akan datang ke rumahnya. Apalagi dengan persiapan akting yang dia hadapi, tentu waktunya akan cukup tersita. Meskipun begitu, perkataan Ibunya tadi menganggunya.
Tidak peduli dengan gamenya yang masih berjalan, Andre meninggalkan mejanya, berjalan secepat yang dia bisa dengan kakinya yang sudah agak baikan dan menuruni tangga dengan semangat namun agak berhati-hati. Akan sangat menyenangkan juga sih kalo Yunita bisa datang ke rumahnya, pikirnya.
__ADS_1