Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC III : CHAPTER III


__ADS_3

ARC III


CHAPTER III


“Hebat juga lu ya,” ujar Brandon yang sedang menyetir. Sementara Andre hanya senyum-senyum sendiri saat sedang saling mengirimkan pesan lewat WA.


“Hebat kenapa?” Andre menjawab tanpa memalingkan pandangan dari HPnya.


“Ya kebanyakan orang kan agak susah mengatasi jetlag setelah tinggal di luar negeri cukup lama dan akhirnya kembali Indonesia. Lu kok bisa sehabis dari US langsung mengajar di kampusnya Yunita?”


“Yah, gua sih membiasakan diri dengan jam di Indo sejak sebulan yang lalu, setelah ngak ada urusan yang terlalu ribet di kampus. Jadi pas pulang ke Indo ngak perlu terlalu extra lagi buat beradaptasi,”


“Cerdik juga,” kata Brandon,  “Kenapa lo bisa mengajar di tempatnya Yunita?”


“Ah, itu. Prof Guntur itu kenalannya Ayahku. Dan kebetulan dia memang lagi cari asdos untuk sementara. Yah, hitung-hitung kasih suprise ke Yunita juga lah sekalian. Lagian kan jurusannya juga ekonomi, jadi ngak ada masalah karena sama dengan bidangku,”


“Tapi hebat juga, dengan kepopulerannya Yunita sekarang. Bisa-bisanya ngak ada yang tahu soal kisah kalian dulu,”


“C’mon, itu kan sudah 7 tahun yang lalu. Orang-orang mungkin sudah pada lupa soal hubungan gue dan Yunita Apalagi gue ngak pernah show up setelah pengumuman waktu itu, dan juga semua perhatian sekarang tertuju ke Yunita. Jadi sudah pastilah orang-orang lupa sama gue,” jelas Andre.


Walau dia sebenarnya sedikit kecewa, tapi dia juga bersyukur karena tidak ada orang yang mengingat hubungannya dengan Yunita. Apalagi jika mengingat yang terjadi waktu itu.


“Jadi, sekarang kita mau kemana dulu? Langsung pulang?” Brandon kembali bertanya.


“Nope, kita ke tempat Toko Wine yang biasa dulu kita singgahi. Gua mau ambil titipan spesial,” ujar Andre.


“Oke, you are the boss,” Brandon membalas dengan begitu semangat.


Andre hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil melihat tingkah Brandon. Padahal, dia sudah berkali-kali mengatakan untuk tidak memanggilnya dengan sebutan ‘bos’ meski Brandon sudah sepakat untuk mengikutinya sebagai sekertaris, asisten, sekaligus tangan kanannya untuk kedepannya; karena perusahaan Brandon pada akhirnya diwariskan ke kakaknya.


Karena jalanan yang cukup macet menjelang jam pulang kantor, dan dia tidak mau telat di acara penyambutannya kembali. Andre akhirnya memilih untuk membatalkan niatnya pergi ke mall dan langsung pulang seusai dari Toko Wine tempat dia menitip Wine Spesialnya.


“Kota ini ternyata tidak banyak berubah ya,” ucap Andre saat melihat pemandangan kemacetan di sore hari yang terjadi di luar jendela mobilnya; padahal mereka sedang berada di tol.


Pindah dari US yang jalannya jarang macet ke Indonesia membuat dia menjadi cepat bosan. Selain karena dia sudah terbiasa dengan jalanan US yang lancar, di samping itu dia juga terbiasa melaksanakan kegiatannya tanpa membuang-membuang waktu. Sehingga saat terjebak macet seperti ini, dia tidak tahu harus berbuat apa dan malah membuatnya mengantuk. Di tambah lagi, waktu yang menjelang malam hari, waktu yang pas untuk tidur.

__ADS_1


“Tidak ada yang bisa diharapkan. Entah ke mana semua larinya pajak yang kita bayarkan. Volume kendaraan meningkat tapi lebar jalannya tetap saja sama,” timpal Brandon.


“Kacau memang,” Andre menghela nafas dan menguap tak lama setelahnya. Dia kemudian mengambil handphonenya, menuliskan sesuatu di IGnya dan mempostingnya.


“Eh, tapi ngomong-ngomong, kapan lu mau mengumumkan hubungan lu dengan Yunita lagi?” Brandon kembali bertanya.


“Nanti, saat konferensi pers gua memimpin anak perusahaan bokap gue. Cari wartawan yang bisa dipercaya dan atur bagaimana caranya supaya pertanyaan soal gue dan Yunita bisa menjadi trending topik, dan usahakan agar sorotan media lebih banyak ke gue. Lumayan kan, sekalian publisitas awal buat gue,” jawab Andre.


Beberapa hari sebelum pulang ke Indonesia, dia memang sudah memikirkan hal tersebut.


“Ok kalau begitu,” Brandon membalas sambil mengangguk.


***


Setelah sampai di rumahnya, Andre sebenarnya ingin Brandon tinggal untuk tinggal dan ikut makan malam dengannya. Namun Brandon tampaknya lebih memilih untuk pulang menggunakan taksi.


Tidak mau terlalu merepotkan temannya, Andre meminta Brandon agar tidak usah mengantarnya untuk seterusnya dan lebih fokus saja soal cara mengungkap hubungannya dengan Yunita saja.


Dia juga sebenarnya merencanakan Brandon untuk menjadi  Wakilnya nanti di perusahaan manapun mereka pergi nantinya. Alasannya? Dia merasa agak sayang saja kalau orang dengan latar pendidikan dan kecerdasan seperti Brandon—walaup tidak sebaik dirinya sendiri—harus stuck menjadi asistennya saja.


“Lama amat sih,” sahut Yunita ketika sedang berjalan menghampiri Andre.


“Macet, Hon,” Andre menjawab dengan memasang senyuman manis, satu-satunya yang dapat dilakukan seorang pria saat sedang menghadapi pacar yang sedang marah.


Yunita—yang entah sejak kapan menjadi begitu agresif—mengejutkan Andre dengan tiba-tiba mengecup bibirnya saat mereka saling berhadapan.


“Welcome back,” ucap Yunita dengan senyuman yang begitu manis sampai membuat Andre tidak bisa berkata apa-apa karena masih terkejut dengan tindakan Yunita tadi.


“Mobilmu mana?” tanya Andre ketika mereka berdua berjalan melewati garasi ke taman belakang rumah; tempat dimana pesta BBQ untuk menyambut dirinya diadakan.


Yunita yang sepertinya sedang datang sifat manjannya, mengambil tas tenteng yang di apit Andre di ketiaknya dan melingkarkan tangannya di lengan Andre meski Andre sedang membawa 2 tempat Wine di kedua tangannya. Andre yang sadar dengan hal tersebut, kemudian memperlambat langkahnya.


“Sudah pulang, dipake sama Stefani tadi. Dia lagi bete mungkin sama Dimas. Makanya ngak mau ikut,”


“Dasar, pada gengsi mereka berdua sebenarnya,”

__ADS_1


“Terus, kenapa kamu ngak bilang kalau pulang hari ini? Kan aku bisa jemput ke bandara,”


“Mau kasih kamu suprise saja,”


“Dasar,” Yunita mencibirkan bibirnya dan diam-diam berusaha untuk tidak tersenyum lebar, “btw, Dimas belum tahu kita masih pacaran ya?”


“Iya, agak bodoh kan itu manusia satu,” Andre mengejek kawannya satu itu yang jago soal wanita, tapi terkadang juga sangat tidak peka semenjak berpacaran dengan Stefani.


Padahal 2 tahun pertama setelah pengumuman mereka berdua putus, banyak foto yang beredar menangkap mereka berdua saat sedang liburan di luar negeri. Namun, lama kelamaan orang-orang mulai tidak tertarik  dengan hal tersebut.


Selain karena sumber yang menguploadnya selalu adalah media gosip yang tidak terlalu beken. Yunita dan Andre juga tidak pernah memberi tanggapan langsung sehingga orang menjadi bosan karena tidak pernah ditanggapi.


Meski begitu, beberapa akun IG tetap terus menjodohkan mereka berdua lewat foto atau video, seolah menjaga kompor untuk tetap menyala meski dengan api kecil, dan berharap seseorang akan memutar pemantiknya dengan bukti lebih konkret agar api itu menjadi lebih besar.


“WHAT?!! Apa-apaan kalian berdua? Jadi kalian rujuk kembali?!!” sahut Dimas ketika melihat Yunita berjalan sambil melingkarkan tangannya ke lengan Andre.


“Duh, kakak kok punya teman sebodoh ini ya? Kak Brandon saja bisa langsung tahu pas foto-foto kakak sama kak Yunita liburan terekspos,” celetuk Cecilia, dia geleng-geleng kepala melihat kebodohan teman kakaknya tersebut.


“I-Itu karena dia selalu mengatakan tidak pas kutanya,” Dimas menjawab dengan kesal untuk membela dirinya, “Dasar penipu,” tambah Dimas sambil menunjuk Andre yang sekarang ini sedang menaruh 2 kotak botol Wine yang dibawanya tadi dan kemudian menarik kursi untuk Yunita.


“Heh? Berarti kamu juga bilang saya penipu dong?” Ibunya Andre menyela dengan nada tersinggung; hanya sekedar bercanda.


“Betul, itu kan ide mama,” Andre memanas-manasi keadaan.


“T-t-tapi…”


“Sudah, kasian anak orang kalian begitukan,” Ayahnya Andre menyela saat Dimas sedang terbata-bata saat akan membalas Ibunya Andre dan Andre yang bercanda.


Mereka akhirnya menyudahi hal itu dengan menertawakan Dimas yang seperti salah tingkah sekarang.


Andre dan Ayahnya duduk bersebelahan, Yunita juga ikut duduk di samping Andre; berhadapan dengan Ibunya Andre, sedangkan Dimas duduk di sebelah Yunita dan berhadapan dengan Cecilia.


Sesudah pelayan menyajikan semua hidangan pelengkap; karena saat Andre datang, beberapa piring penuh daging sudah tersedia di meja. Ketika sedang menyantap makanan di depan mereka, Andre kemudian terpikir sesuatu.


“Ma,” dia memulai,

__ADS_1


“Hmm,” ibunya Merespon,


Dia sempat sedikit ragu-ragu namun sebuah perasaan yang kuat dalam dirinya mendorong kata-kata yang mengagetkan semua orang di situ dari dalam otaknya, “Aku ingin mengumumkan rencana untuk menikah dengan Yunita,” ucapnya sambil menutup matanya sedikit untuk sesaat.


__ADS_2