
Selama beberapa minggu, gosip soal Andre dan Yunita terus berhembus kencang. Hal itu bahkan sampai membuat Yunita sempat menjuluki orang-orang itu, "Ibu-ibu sosialita tukang rumpi". Banyak dari teman-teman kelasnya seperti bersikap baik kepadanya; yang dalam hatinya dia anggap sebagai teman karena ada maunya.
Selama beberapa minggu itu juga, kenyataan yang dia alami menghancurkan pandangan awalnya yang mengira kalau SMA M akan sama saja seperti SMA lainnya, hanya berbeda dalam segi fasilitas saja. Namun, teorinya terpatahkan ketika melihat dua hirarki utama di sekolah ini, yaitu Crazy Rich dan orang biasa-biasa saja.
Meskipun keluarganya mempunyai usaha olshop dan memiliki beberapa butik, tetap saja pada akhirnya Yunita hanya di masukkan ke dalam golongan ke dua. Walau tidak semua menganggap hal tersebut betul-betul ada. Namun, beberapa siswa/siswi dengan angkuhnya berjalan dan bersikap seperti raja, memilih-milih teman dan memandang rendah selera orang.
Dan yang mengejutkannya, orang-orang tersebut datang kepadanya ketika gosip antara dirinya dan Andre berpacaran tersebar ke seluruh sekolah. Ia cukup bersyukur karena berkesempatan untuk melihat sikap asli dari orang-orang tersebut.
"Dasar para lintah itu," Yunita meluapkan kekesalannya dengan meremas bantal kecil yang biasa di pakai untuk sandaran lehernya.
Muak dengan kemunafikan yang sedang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, dia memilih untuk pergi ke aula serba guna yang ada di lantai paling atas dari gedung sekolahnya bersama dengan Stefani; teman yang biasa dia jadikan tempat curhat, dan Stefani juga selalu memberikannya nasihat yang cukup bijak.
Semenjak hari di mana dia, Rico, dan Andre terlibat masalah; sampai-sampai ada yang menyebutnya ‘cinta segitiga’, Stefani jarang membicarakan masalah itu kecuali dia mengungkitnya terlebih dahulu, tidak seperti siswi lain yang kepo dan terus menanyainya soal Andre.
“Eh cie, cie, lu kan udah berhasil mendapatkan hatinya Andre, official lagi di depan banyak orang. Kok malah cemberut?” tanya Stefani sambil menggelitiknya,
“Taulah, mungkin karena dia orang terkenal ya, makanya gua selalu dikejar tukang gosip,”
Yunita menjawab dengan lesu, energinya sudah habis untuk menahan kejengkelannya terhadap orang-orang yang sangat penasaran dengan kehidupan pribadinya.
Dia juga menjadi sedikit heran dan penasaran bagaimana Andre bisa bertahan dengan banyaknya gosip yang beredar. Rasa-rasanya sangat mustahil untuk mengacuhkan semua gosip tidak berdasar seperti itu, apalagi ketika berada di lingkungan yang sama dengan para penggosip tersebut.
“Terus.. lo sekarang nyesel gitu setelah pacaran ama dia?”
“Not like that, gua cuma agak shock aja, with all buzz like that you know? Gua ngak pernah ngerasain hal semacam itu, dan gua juga ngak mungkin kan ngomong ama dia buat bilang i don’t like that stuff, karena itu kan sudah menjadi bagian dari resiko kalau dekat-dekat dia, tapi....” kata-katanya terhenti. Yunita cukup bingung bagaimana cara menyampaikan apa yang dirasakannya, “Ah taulah, runyem banget dah pokoknya,” ucapnya dan bertopang dagu dengan kedua tangannya,
“Hmm, Kalo gitu just tell him, remember? Hanya kejujuran yang bisa menyelesaikan masalah antara pasangan. Kalau lo tidak terbuka, maka kalian akan semakin menjauh nantinya. Ini juga baru hari pertama loh, tapi lo udah merasakan yang enggak-enggak, gimana kedepannya nanti?” kata Stefani,
“Tapi gua harus gimana ngomongnya biar ngak terlalu rude gitu kesannya?” Yunita bertanya,
__ADS_1
“Lebih baik lu jujur dari pada mikirin yang kaya gituan, kalo dengar cerita lu sih, gua berpikir dia itu orang yang open minded soal yang kaya begituan. Malahan lu bisa belajar nantinya gimana menjadi orang yang cuek untuk hal yang tidak penting,” ucap Stefani lagi,
“Oh, jadi begitu toh,” suara seorang laki-laki mengejutkan mereka berdua, dengan secepat kilat Stefanie dan juga Yunita langsung menengok ke sumber suara tersebut. Dan agak kaget begitu melihat Andre muncul dari balik tangga.
“K.. Kamu. Sejak kapan ada disana,” Yunita bertanya karena penasaran sejauh mana Andre mendengar pembicaraannya dan Stefani tadi.
“Hmm, mulai dari cerita bagaimana perasaanmu soal perhatian yang kamu dapatkan sekarang,” jawab Andre, yang sekarang sedang berjalan ke arahnya dan Stefani,
“Excuse me, tapi bisa saya berbicara berdua saja dengan pacar saya?” tanya Andre ketika berdiri di depan Yunita dan juga Stefani.
Pertanyaan Andre tersebut membuat Stefani tidak bisa menahan tawa. Spontan, karena malu, ia langsung memukul bahu. “Oh, pantas ya kalian di sebut pasangan MMK,” sontak, mendengar perkataan Stefani. Wajah Andre sedikit berubah; seperti sedang menahan senyuman aneh.
Sedikit mengerti dengan apa yang dipikirkan Andre—thanks karena kakaknya yang selalu mengucapkan kata-kata kotor setiap sedang kesal—ia langsung memaksa Stefani; yang masih menatap mereka berdua dengan senyum-senyum menggoda, untuk segera pergi dengan mendorongnya.
“MMK, maksudnya...” sebelum Andre sempat menjelaskan kata tersebut, Yunita langsung menampar mulut Andre dengan pelan.
“Dasar ya, laki-laki otaknya selalu aja mesum semua,” kata Yunita.
“Hmm, jadi kamu juga mengerti hal-hal seperti itu ya?” tatapan Andre dengan senyuman aneh diwajahnya sembari memegang dagu, membuat Yunita sedikit resah dan perlahan mundur beberapa langkah tanpa sadar.
“J.. Ja.. Jauh dikit kamu,” ucap Yunita.
Dia terus berjalan mundur dengan perlahan setiap kali Andre bergerak maju ingin menghampirinya; juga mengangkat lengannya ke depan memberi tanda kepada Andre untuk menjaga jarak.
Tanpa melihat ke belakang, Yunita terus berjalan mundur, sampai akhirnya dia tersandung; lupa kalau ada semacam tangga naik untuk panggung di aula tersebut. Untuk sesaat, dalam waktu yang sangat singkat tersebut, pikirannya sempat membayangkan hal yang tidak-tidak. Namun, dalam hitungan sepersekian detik, dia bisa melihat Andre dengan wajah yang panik langsung meraih tangan dan pinggangnya, menahan dirinya agar tidak terbentur di undakan tangga tersebut.
“Makanya, jangan suka jalan mundur,” tegur Andre.
Pikiran Yunita terbuai dengan senyuman Andre sekarang, semua pikiran buruk tentang Andre barusan seolah langsung terhapus dari ingatannya. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasakan sesuatu bergejolak dalam dirinya. Suhu udara di sekitarnya pun terasa agak panas.
__ADS_1
“Apakah ini yang di namakan gairah?” Yunita bertanya kepada hatinya.
“Kamu mau terus-terusan dalam posisi ini atau bagaimana? Atau mungkin sedikit adegan kiss maybe?” perkataan lancang Andre dengan senyuman menggoda berikutnya membuat pikiran Yunita yang tadinya sudah melayang langsung kembali ke dalam kepalanya. DIa kemudian mengedipkan matanya beberapa kali, dan mendorong Andre cukup kuat.
“Jauh-jauh sana. Dasar kamu tuh ya, selalu aja nyari kesempatan dalam kesempitan,” ucap Yunita. Karena memang kenyataan, sudah beberapa kali Andre menggodanya seperti itu.
Untung saja, selama ini ia masih bisa mengendalikan hasratnya. Di samping itu, dia juga tidak mau momen ciuman pertamanya terkesan jelek di ingatannya nanti.
“Ya udah deh, maaf kalau begitu,”
“Ada urusan apa kamu nyariin aku?” Yunita berusaha bersikap acuh tak acuh dengan Andre; berharap agar Andre bisa mengetahui kalo ‘joke’ seperti itu semua punya waktu dan tempatnya masing-masing.
“Ah, itu. Kamu ada waktu ngak Sabtu besok?”
“Mau ngapain?”
“Mau ngedate,”
“W.. What?”
Sejujurnya, dia cukup senang dengan ajakan Andre. Namun, terasa sedikit asing baginya mendengar Andre yang menanyakan waktu jauh-jauh hari sebelum mereka pergi berkencan. Karena biasanya, Andre selalu mengajaknya berkencan secara spontanitas di hari yang sama dengan mereka pergi ‘ngedate’.
“Mau ngedate, sayang. Kamu punya masalah telinga ya?”
Tatapan Andre sedikit aneh. Dia memang tersenyum, namun matanya seperti tidak fokus, gesture badannya—walau tidak terlalu kentara—seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
“Tumben banget kamu ngajak kencan jauh-jauh hari,” kata Yunita. Dia memutuskan untuk mengabaikan kecurigaannya tersebut; berpikir kalau dirinya terlalu paranoid akibat cinta pertamanya di masa lalu yang singkat dan suram, “But, okay. Aku terima, jam berapa?”
“Aku jemput jam 5, gimana? Bisa?” tanya Andre.
__ADS_1
Sekali lagi, rasa ragu-ragu melanda Yunita, seperti sedang berusaha memperingati dirinya membuatnya terdiam sesaat, “Okay,” imbuhnya. Dia memutuskan melawan kehendak pikirannya.