Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 13. Pertemuan Yang Terlupakan (2)


__ADS_3

...CHAPTER XIII...


Tidak ingin menjadi obat nyamuk saat menonton, Yunita memilih untuk duduk di belakang sendirian dan memberikan Axel kesempatan untuk berbicara dengan Liani berdua.


Sialnya, film yang dipilih Andre ternyata adalah film yang penuh dengan adegan romantis. Otomatis, dia merasa sangat aneh karena semua yang duduk di sampingnya duduk dengan pasangannya masing-masing.


“Axel ******,” umpatnya dalam hati.


Saat film berjalan 1 jam lebih; bagian di mana kebanyakan film romantis sudah mencapai klimaksnya; dan bagian di mana penuh dengan adegan uwu-uwunya. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan teater tersebut lebih cepat karena tidak tahan dengan pemandangan di sekitarnya yang penuh dengan pasangan yang saling bermesraan.


Melirik ke jam tangannya dan menyadari masih ada sisa waktu 30 menit sebelum film berakhir, dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Keluar dari bioskop, dia berbelok ke kiri. Menyusuri lorong mall yang padat dengan orang-orang yang berlalu lalang.


"Seharusnya gua tidak ikut tadi kalau tau begini jadinya," Yunita sedikit menyesali keputusannya ikut nonton hari ini.


Dia melewati berbagai toko; mulai dari yang terlihat mewah sampai sederhana, tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Terus berjalan, dia akhirnya berhenti ketika melihat salah satu toko buku yang cukup besar memajang 2 buku Novel favoritnya di bagian best seller.


Melihat buku favoritnya sudah turun dari top 5 dan diganti dengan Novel lain, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya dan langsung masuk ke dalam toko buku tersebut tanpa berpikir panjang.


Membaca Novel, memang salah satu hobinya di samping kegiatan robotik. Baginya, membaca bisa mengurangi stresnya di saat tertentu. Karena itulah, dia hanya membaca novel romance yang ringan-ringan, alias tidak terlalu menguras otak untuk mengerti jalan ceritanya; walaupun begitu, beberapa dari koleksi novelnya di rumah juga ada yang bergenre Thriller yang cukup menguras otak.


Dan untuk mengetahui apakah novel itu memeras otak atau tidak, terkadang membaca rangkuman saja kurang meyakinkan. Sehingga, hal yang pertama di lakukannya setiap tertarik terhadap sebuah novel—seperti kebanyakan orang—adalah mencari yang sudah terbuka atau tidak terbungkus plastik lagi, dan membaca 1 atau 2 chapter pertama. Baru setelah itu dia akan menentukan apakah akan membelinya atau tidak.


Sayangnya, kali ini dia tidak beruntung, karena tidak ada satu pun yang sudah dibuka. Dia kemudian mulai mengeluarkan hpnya, dan memakai cara terakhir, yaitu dengan mencari review singkat dari kritikus atau orang yang sudah membacanya langsung di internet.

__ADS_1


Saat sedang sibuk mencari, layar handphonenya tiba-tiba menunjukkan panggilan dari Liani. Dia akhirnya tersadar kalau sudah lebih 30 menit dia berada dalam toko buku tersebut, hanya untuk mencari informasi dari beberapa buku pilihannya.


“Ah, ****,” umpatnya dengan agak pelan. Dengan cepat, dia mengambil tumpukan buku yang ingin dia beli yang sudah disusunnya tadi dan segera berjalan ke kasir.


Bermaksud ingin menghemat waktu, karena tadi kasir terlihat sepi, dia berjalan sembari meraba-raba ke dalam tasnya dengan tangan kanannya untuk mencari dompet, sementara tangan kirinya menenteng buku yang dia bawa. Setelah sedikit bersusah payah, dia akhirnya berhasil mendapatkan dompetnya.


Dan, cukup beruntung, kasir kebetulan sepi, cuma ada 2 orang di depannya. Akan tetapi, Liani yang tampaknya tidak sabaran, terus-terusan mengirim WA kepadanya; yang mana itu sedikit menganggu dan membuatnya tidak bisa fokus. Dia lalu memilih untuk memasang mode getar pada hpnya dan memasukkannya ke dalam tas.


Seusai membayar semua belanjaannya, dia berjalan agak cepat sambil membawa kantong belanjaannya. Namun, lagi-lagi handphonenya kembai bergetar untuk yang ke 3 kalinya dalam lima menit terakhir. Dengan perasaan sedikit agak kesal, dia terus berjalan sambil berusaha mencari handphone dalam tasnya.


Namun, baru saja dia mengalihkan pandangannya untuk beberapa detik, dia secara tak sengaja menabrak seseorang tepat di depan pintu masuk toko sampai dirinya terjatuh.


“Ah, maaf, saya ngak sengaja,” dengan cepat, Yunita langsung bangkit kembali setelah berhasil memasukkan beberapa buku yang tercecer.


Siapa yang menyangka, kalau orang yang ditabraknya saat itu ternyata adalah Andre. Awalnya saat itu, dia hanya mengira kalau orang itu hanya sekedar mirip saja.


DRT.. DRT.. Handphonenya miliknya kembali bergetar,


"Ah, maaf ya," dia meminta maaf sambll mengambil handphonenya yang terus bergetar, "Saya permisi," ucapnya dengan sesopan mungkin.


Ketika tengah makan di restoran bersama Axel dan Lian, hatinya agak gelisah. Entah kenapa berpikir kalau orang yang ditabraknya tadi adalah Andre. Namun, sebagian dari otaknya, masih menganggap kalau orang itu hanya mirip saja. Dia juga tidak bisa bercerita kepada Axel dan Liani; karena mereka berdua menganggapnya cukup halu untuk bisa berpacaran dengan orang sekelas Andre.


Saat hendak pulang, dia melihat seseorang mirip Dimas dan Brandon di sebuah toko. Karena penasaran, dia ijin ke Axel dan Liani untuk ke toilet dan janjian untuk ketemu di tempat parkir.

__ADS_1


Padahal, yang ingin dia lakukan sebenarnya adalah memastikan dugaannya. Setelah merasa cukup jauh dari Axel dan Liani, Yunita kembali ke toko di mana dia melihat orang yang mirip Brandon dan Dimas tadi. Namun, kurang beruntung baginya, kedua orang tersebut sudah tidak ada di dalam toko tersebut.


Sayang sekali, pikirnya waktu itu. Seandainya Liani tidak menekannya saat itu, mungkin saja dia, dengan nekatnya akan menanyakan nama orang itu langsung.


Akan tetapi, seolah mereka memang sudah ditakdirkan, dan pertemuan saat itu seperti sebuah pertanda kalau doanya akan dikabulkan karena dia akhirnya bertemu dan bahkan satu sekolah dengan Andre. Dan, kalau mau dipikir-pikir kembali, pertemuannya dengan Andre setelah dari singapore, selalu berawal dari satu hal, accident.


...***...


“Hm, cukup meyakinkan sih, karena mall itu merupakan tempat nongkrong kita dulu, sekarang pun masih sih,” perkataan Brandon membuat Yunita semakin yakin itu merupakan pertemuan keduanya dengan Andre, walau tidak di sengaja.


“Wah, kapan ya gua bisa ketemu jodoh gua kaya kisah kalian?” Dimas yang sedari tadi mendengarkan cerita Yunita, tiba-tiba melantur tidak jelas.


“Kayanya ngak bakal terjadi sih,” jawab Andre,


“Maksud lo apaan hah?” Dimas kelihatannya sedikit tersingung dengan perkataan Andre; mimik wajahnya dengan alis sebelah kanan yang sedikit terangkat memperlihatkan dengan jelas hal tersebut.


“Bagaimana ya, habisnya lu kan punya banyak dosa sama Mantan-mantan lu. Kecuali lu minta maaf sama mantan lu, mungkin bisa sih,” perkataan Andre yang mengandung sindiran sarkasme tersebut tampaknya dianggap lucu oleh Brandon yang tertawa untuk sesaat.


“Dasar teman ngak punya akhlak lo berdua ya,” gerutu Dimas, sementara Andre dan Brandon malah menertawakan Dimas yang sedang kesal.


Pertemanan mereka bertiga disini terlihat begitu erat. Bahkan Yunita sendiri agak cemburu, karena sangat jarang dia melihat pertemanan yang seperti ini; tidak baperan sekalipun disindir agak keras, bahkan bagi mereka hal seperti itu dianggap sebagai lucu-lucuan.


Melihat bagaimana mereka bertiga bercanda satu sama lain, dia menjadi merindukan temannya, Axel dan Liani. Sayang sekali, mereka bertiga tidak bisa menepati janji mereka untuk terus bersama-sama sampai kuliah karena berbagai halangan. Axel, memilih bersekolah di luar Jawa karena ikut dengan orang tuanya, sedangkan Liani, memilih bersekolah di luar negeri setelah mendapatkan beasiswa.

__ADS_1


Entah apa reaksi mereka berdua saat mengetahui kalau dia berpacaran dengan Andre, orang yang selalu mereka anggap mustahil untuk dia dekati.


__ADS_2