
Sontak, kemunculan Andre membuat ruangan menjadi agak gaduh. Yah, kalau dipikir-pikir siapa yang tidak akan terpesona melihat wajah tampan Andre tersebut. Namun, dalam hatinya Yunita sedikit agak kesal karena Andre tidak mengabari soal kepulangannya.
Dan juga, Andre terlihat seperti mengacuhkan keberadaan Yunita yang begitu jelas di depan matanya.
“Kenapa? Cakep?” Prof Guntur bertanya, dan seisi ruangan yang didominasi wanita—karena biasanya para lelaki selalu berusaha menghindari ruangan Prof Guntur—serentak bersorak dengan kehadiran Andre.
“Hari ini, bapak punya pengumuman spesial. Anak muda di samping bapak ini, spesial akan menjadi Assisten bapak selama 2 minggu karena bapak ada urusan pribadi di luar kota,” pengumuman Prof Guntur tersebut membuat seisi ruangan menjadi riuh.
Banyak cewek-cewek di ruangan tersebut langsung bertingkah; ada yang merapikan rambutnya dengan diam-diam, ada yang mulai mengeluarkan cermin kecil untuk berkaca, dan berbagai tingkah centil lainnya.
Namun, reaksi dari para laki-laki terlihat tidak terlalu senang, beberapa bahkan saling berbisik dan seperti menganggap kalau Andre tidak akan mampu untuk menggantikan Prof Guntur.
“Ok, silahkan perkenalkan dirimu dulu,” Prof Guntur yang kemungkinan menangkap reaksi dari para murid laki-laki tersebut terlihat sedikit menyeringai sebelum mempersilahkan Andre untuk memperkenalkan diri.
“Terima kasih pak,” begitu Andre berbicara, seisi ruangan menjadi agak tenang, “Nama saya Andre Pratama, untuk riwayat pendidikan. Bisa kalian saksikan di di layar di belakang saya,” ujarnya dan layar di belakangnya pun mulai menampilkan SD, SMP, dan SMA Andre.
Dan ketika sampai di bagian yang paling mencenangkan, yaitu Harvard University, semua orang berdecak kagum. Para lelaki yang tadi memandang Andre dengan sinis sekarang seperti menelan ludah. Tentu mereka akan malu, karena Harvard merupakan Universitas No. 1 di dunia saat ini.
“Saya masuk ke Harvard University saat umur 16. Dalam 7 tahun, saya berhasil tamat dengan double BA di bidang Manajemen Bisnis Internasional dan Perbankan Internasional. Dan juga MBA di Administrasi Bisnis. Ada yang mau bertanya?” cara Andre dalam menjelaskan—terkhususnya untuk studinya—terlihat seperti hendak membungkam orang-orang yang memandang rendah dirinya karena usianya. Prof Guntur sekali lagi terlihat menyeringai saat Andre menjelaskan soal Harvard.
“Sudah punya pacar belum kak?” ucap salah seorang cewek dengan cukup berani.
__ADS_1
Pertanyaan tersebut spontan membuat semua cewek dalam ruangan tersebut seperti harap-harap cemas; kecuali Yunita dan Stefani tentunya.
“Hmm, pacar? Tidak ada,” jawaban Andre tersebut membuat Yunita dan Stefani terkejut. Berbeda dengan mereka berdua, cewek-cewek seisi ruangan langsung tersenyum manis saat mendengar jawaban Andre tadi, “Tapi kalo Calon Istri, ada,” imbuh Andre tepat sebelum Yunita hendak beranjak dari kursinya seandainya tidak di tahan oleh Stefani.
Yunita yang tadinya terlihat agak jengkel, sekarang malah tersenyum malu saat mendengar kata ‘calon istri’ keluar dari mulut Andre. Cewek-cewek dalam ruangan yang tadinya terlihat gembira, sekarang malah terlihat agak murung dan kecewa setelah di PHP Andre tadi.
“Yah sayang banget, kenapa sih orang baik selalu sudah ada yang punya,”, ”Beruntung banget yang jadi calonnya tuh,” Yunita tidak menyembunyikan perasaan senangnya saat mendengar cewek-cewek yang bergosip di belakangnya. Terlebih lagi, Andre sempat melirik dan melempar senyum kepadanya tadi. Dan untungnya, tidak ada orang yang menyadari hal tersebut.
“Ternyata jiwa isengnya masih sama saja kaya dulu,” bisik Stefani ketika Prof Guntur mengambil alih kembali dan tengah berbicara.
“Ingat! Tugasnya tetap akan disetor ke ketua tingkatnya,” pengumuman Prof Guntur tersebut langsung merusak mood semua orang di dalam ruangan tersebut, “Oke, selanjutnya saya serahkan kepada Andre. Ingat, konsentrasi ke materinya. Bukan ke orangnya. Apalagi sudah ada yang punya, jangan jadi pelakor,” canda Prof sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan.
“Boleh saya pinjam catatannya?” ucap Andre, yang ternyata malah bertanya ke Putri dan membuat Yunita yang pikirannya sudah melayang ke langit langsung dibanting ke tanah.
“Wah, damagenya bukan main,” cewek di belakangnya kembali bergosip. Yunita yang melihat Andre di depannya sekarang ini juga tidak bisa untuk tidak setuju dengan pendapat tersebut.
Setelah membaca catatan Putri dengan cukup serius, Andre langsung mulai menjelaskan materi lanjutan dari yang terakhir di berikan Prof Guntur.
Tidak seperti Prof Guntur, gaya pembawaan Andre lebih santai, sesekali diselingi dengan candaan saat memberi contoh dari materi yang dia berikan. Efeknya, kelas memang terasa lebih asyik; entah itu memang kerena mereka fokus dengan ketampanan Andre atau bukan.
Ketika kelas selesai, cewek-cewek dalam ruangannya langsung berbondong-bondong mengikuti Andre berjalan kemanapun dia pergi; tidak terkecuali Yunita dan Stefani juga.
__ADS_1
Bahkan mereka mengikuti sampai ke parkiran, dan membuat mereka kagum saat melihat Andre menaiki sedan Mercy seri S yang identik dengan orang kaya saja. Dan hal yang cukup menarik adalah saat melihat orang yang membukakan Andre pintu ternyata adalah Brandon, bukan Pak Budi.
Brandon sempat melihat Yunita dan Stefani namun hanya melempar senyuman saja. Tampaknya Andre dan Brandon sudah bekerja sama untuk tetap menyembunyikan kenyataan soal Andre dan Yunita yang masih berkencan selama ini.
Begitu mobil yang dinaiki Andre pergi, gerombolan cewek-cewek yang mengikuti Andre juga membubarkan diri. Dan di saat yang bersamaan, handphone Yunita bergetar satu kali menandakan ada pesan yang masuk.
‘Sampai ketemu nanti malam di rumah keluargaku, ajak juga Stefani. Dimas kemungkinan juga datang’ pesan dari Andre tersebut membuatnya sedikit terkejut dan penasaran. Namun, dia juga tetap tidak bisa menahan rasa senang yang begitu meluap dalam hatinya.
“Masih ada jadwal ngak hari ini?” Yunita bertanya dengan begitu bersemangat, rasanya dia ingin cepat-cepat menyelesaikan semua kegiatannya hari ini dan bertemu dengan Andre.
“Kenapa? Lu mau cepat-cepat ketemu Andre kan? Hari ini, lu masih ada 1 jadwal wawancara dan rapat dengan Brand C soal pembaharuan kontrak lu dengan mereka,” seperti biasa, Stefani bisa menebak pemikiran Yunita. Persahabatan mereka selama 9 tahun ini membuat mereka berdua seperti Andre, Dimas, Brandon; mampu menembus isi hati masing-masing.
Seolah sudah tidak ada lagi rahasia diantara mereka berdua, setiap ada hal yang mengganjal di dalam hati, mereka pasti akan langsung mengungkapkannya tanpa merasa tidak enak atau apalah itu.
“Jam berapa kira-kira selesainya?”
“Jam 7 paling lambat lah kalau jalan tidak macet,” Stefani menjawab sambil melihat jam tangannya yang sekarang menunjukkan pukul 4.15 sore.
“Ok kalau begitu, ayo,” ucap Yunita sambil berjalan menuju ke tempat dimana mobilnya biasa di parkir. Sambil berjalan, dia juga membalas pesan dari Andre, ‘Ok, mungkin aku baru sampai jam 10 malam’ tulisnya yang diakhiri dengan emot ciuman.
Stefani, yang berjalan di samping Yunita dan sempat mengintip isi pesan Yunita dan Andre, hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya ini yang bahkan sampai senyum-senyum sendiri hanya karena pesan seperti itu.
__ADS_1