Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 8. Pengalaman Pertama


__ADS_3

Sabtu sorenya, tepat pukul 5, ketika keluar melewati pagar, sebuah sedan mewah berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. Dengan sedikit agak ragu-ragu, Yunita mendekati mobil tersebut dan terkejut saat melihat Andre ketika kaca mobil bagian belakang diturunkan.


Hari ini, demi bisa pergi, dia dengan terpaksa berbohong kalau akan pergi dengan Stefani. Untungnya, Ayahnya yang terlihat curiga tidak sampai menelepon Stefani untuk memastikan perkataannya.


“Kamu pakai parfum apa? Kok baunya harum banget, ngak seperti yang biasa?” Andre bertanya begitu Yunita memasuki mobil.


“Ngak ah, cuma parfum seperti biasanya,”


Pertanyaan Andre membuat Yunita agak malu. Dia akhirnya berbohong karena sedikit malu mengakui kalo untuk kencan kali ini, semuanya betul-betul di persiapkan. Mulai dari pergi perawatan wajah dan kulit di tempat langganannya; yang bahkan sangat jarang di kunjunginya kecuali ada event khusus.


Bahkan, dia sampai menghabiskan waktu sekitar 2 jam lebih di dalam kamar mandi dengan mandi susu demi membuat kulitnya terlihat indah; yang memang terbukti worth it sih.


“Hmm, apa iya?”


“Tapi, btw, kok kamu masih pakai baju biasa sih?” Yunita bertanya karena heran melihat Andre yang cuma memakai kaos oblong dan celana pendek.


“Ini kita mau ke butik dulu kok sebentar,”


“Mau ngapain kencan pake ke butik segala? Kamu nyembunyiin sesuatu ya?” dia kembali bertanya untuk yang kedua kalinya. Apalagi tingkah Andre yang sedikit mencurigakan saat menjawabnya tadi.


“Duh, curigaan amat sih. Ngak kok, cuma memang kali ini agak spesial aja. Ada orang tuaku sama beberapa keluargaku juga. Kamu tentunya ngak mau dong kesan pertamamu jadi buruk, ya kan?”


“Wait, kamu bilang ada siapa tadi?” Yunita berusaha untuk mencerna kembali jawaban Andre, dan menyakinkan dirinya kalau dia tidak salah mendengar kata 'Orang Tua' yang keluar dari mulut Andre.


“Orang tuaku,”


“What? Jadi ini kaya pertemuan dengan mertua begitu?” jawaban Yunita membuat Andre dan Pak Budi sampai tertawa.

__ADS_1


“Hm, kalo kamu menganggapnya seperti itu lebih bagus lagi. Jadi, kapan kamu mau married? Setelah tamat SMA? Atau pas kuliah?” Andre menggoda Yunita sambil tersenyum jahil.


Yunita lalu membalas dengan memukul pelan lengan Andre, “Ngomong-ngomong, kenapa orang tua kamu tiba-tiba pengen ketemu sama aku?”


“Gara-gara tagihan kartu kredit pas ganti hp nak Yunita waktu itu,” jawab Pak Budi saat Andre terlihat ragu menjawab pertanyaannya tersebut.


“Ah...” Yunita berhenti berbicara ketika menyadari kalau semua ini terjadi sebagian besar karena ulahnya waktu itu.


Perasaan jengkel karena dibohongi oleh Andre sekarang berganti menjadi perasaan gugup. Entah dia harus menganggap ini hal baik atau buruk, ditambah lagi pikirannya tiba-tiba teringat dengan berbagai adegan drama-drama yang ditontonnya. Di mana pertemuan seperti ini kebanyakan berakhir dengan tamparan atau disiram air.


Ketika di butik pun, Yunita tidak banyak berbicara sama sekali. Pikirannya hanya berusaha fokus memikirkan cara memberikan kesan baik kepada orang tua Andre nantinya.


“Mau yang model bagaimana mbak?” tanya salah seorang pelayan perempuan di toko tersebut yang menemaninya.


“Yang sederhana, tapi tetap terlihat elegan di depan orang tua. Dan, kalau bisa yang off shoulder ya,”


Setelah menunggu beberapa saat, pelayan toko yang tadi kembali dengan beberapa set dress. Saat melihat dress itu satu persatu, matanya kemudian sebuah long dress dengan warna blue ocean yang terlihat cantik dengan slit di bagian kanan bawah.


Saat mencoba dress pilihannya tersebut, dia langsung jatuh cinta dengan long dress tersebut.


Ada satu alasan kenapa dia suka dengan dress yang bertipe off shoulder; dia selalu agak risih ketika pergi dengan kakaknya ke sebuah acara formal, dimana perbedaan tinggi badan mereka terlihat cukup mencolok.


Kakaknya, Angelica yang lambat laun menyadari hal tersebut menyarankannya untuk memakai mini dress atau long dress off shoulder untuk mengalihkan perhatian orang; yang pada akhirnya memang betul, semakin sedikit orang yang memperhatikan soal perbedaan tinggi badan mereka berdua.


Kebanyakan orang malahan memperhatikan bentuk neck line Yunita yang selalu dipuji sangat indah.


“Wah, ternyata mbaknya tau soal fashion juga ya?” tanya salah seorang pegawai toko tersebut ketika dia sedikit berpose untuk melihat apakah dress tersebut terlihat bagus dari berbagai angle.

__ADS_1


Merasa cukup puas dengan hasilnya, Yunita hanya tersenyum mendengar pertanyaan mbak pelayan toko tersebut, “Ngak kok, saya cuma sering lihat-lihat di majalah aja,” dia merendah dan tidak mengatakan kalau memang selama ini dia cukup tau soal fashion karena keluarganya mempunyai beberapa butik yang cukup terkenal, “Ah, ada high heels ngak disini?” tambahnya.


“Ada, mau yang berapa?”


Yunita mencoba menerka butuh berapa centi agar tingginya dan Andre bisa terlihat agak berimbang—karena ujung kepalanya saat ini hanya sampai di bahu Andre—dia berusaha untuk tidak terlalu ekstrem dan meminta yang 10 cm. Akan tetapi, saat pelayan yang pergi tadi kembali, dia cukup kaget saat melihat pelayan tersebut membawa yang tingginya mungkin 5 cm jika dilihat secara sekilas.


“Maaf, mbak. Tapi orang yang tadi datang bersama mbak suruh ganti yang 5 cm aja, katanya ngak baik buat program kehamilan,” perkataan pelayan tersebut membuat 2 orang pegawai toko lainnya di belakangnya saat ini sempat menjerit dan mulai terdengar seperti sedang berbisik.


Dia hanya tersenyum, namun dalam pikirannya sedang terbayang-bayang dirinya yang menyiksa Andre. Tapi, di sisi lain, dia tersentuh melihat bagaimana betapa perhatian Andre kepada dirinya. Di samping itu, dia memang juga tidak terlalu suka memakai heels yang sangat tinggi kecuali terpaksa.


“Wah, very nice, ngak nyangka aku kalau cuma ganti baju saja, kamu bisa berubah jadi ratu,” baru saja keluar dari ruangan ganti, Yunita langsung di sambut Andre dengan gombalan murahan.


“Sudah tidak bisa di tolerir lagi,”


Gumam Yunita dalam hatinya. Oleh karena itu, ia langsung mendekati Andre, menggandengnya namun, juga secara diam-diam mencubit pinggangnya.


“Aw,” Andre menjerit karena cubitan Yunita tersebut.


“Bukannya kita sudah telat ya honey. Buruan gih, biar ngak kena macet nanti,” kata Yunita. Dalam hatinya, dia sebenarnya ingin memerahi Andre.


Akan tetapi, setelah berpikir ulang, dia merasa kalau dirinya harus menjaga wibawa Andre di depan semua orang ini. Apalagi, saat mereka di kelilingi cewek-cewek penggosip seperti ini. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalo ia memerahi Andre saat ini juga dan tiba-tiba menjadi viral karena sebuah video yang diambil secara diam-diam oleh salah seorang karyawan ataupun pengunjung lain di dalam toko tersebut.


“Ok, kamu ke mobil saja duluan, aku bayar dulu,” kata Andre yang kemudian meninggalkan Yunita.


Sesuai dengan perintah Andre, Yunita berjalan kembali ke mobil lebih dulu. Perasaan gugup akan bertemu dengan orang tua Andre kembali muncul bersamaan dengan rasa gugup ketika dia akan menuruni tangga dengan heelsnya tersebut.


Padahal, baru sekitar beberapa bulan saja semenjak terakhir kali dia memakai heels. Namun, rasanya sangat susah untuk menjaga keseimbangannya walaupun heels yang dipakanya saat ini hanya setinggi 5 cm.

__ADS_1


__ADS_2