
...Chapter II...
Esok paginya, di dalam mobil van mewahnya; yang merupakan hadiah dari Ibunya Andre. Yunita berdiuskusi dengan 2 orang stylist yang ikut bersamanya dan juga Stefani soal pakaian yang akan di pakainya. Dia memang bebas menyarankan, namun pandangan stylistnya yang lebih paham tetaplah penting. Akan tetapi, untuk kali ini dia bahkan sampai menjelaskan alasannya secara khusus; karena kali ini juga pertama kalinya dia akan menghadapi orang seperti Christofer.
Berbeda dengan Dimas yang sudah di kenalnya sebelum dia jadi artis, Christofer merupakan orang asing baginya sehingga dia tidak tau bagaimana sifat asli orang tersebut, dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menekan ‘sex appealnya’ saja.
“Tapi lu yakin mau pake cara begini? Ngak takut kena omel sama sutradaranya nanti?” tanya Stefani.
“Dicoba aja dulu. Makanya gua nyaranin kita bawa dua set pakaian, yang normal dan revisi. Kalo yang revisi lolos, ya kita lanjut. Tapi kalo ngak, ya ganti lah,” jelas Yunita.
Ketika Yunita hendak menurunkan sandaran kursinya, teleponnya berbunyi. Tanpa berpikir panjang, setelah melihat kalo Andre yang memanggil, dia langsung menangkat teleponnya. Hal itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya, dimana Andre pasti akan menghubunginya setiap pagi, siang dan malam hari.
Setidaknya, begitulah mereka berdua mengatasi komunikasi di tengah kesibukan masing-masing. Selain itu, mereka juga bisa tetap pacaran tanpa di ketahui orang-orang; kecuali Kak Alika, Kedua Stylistnya, teman terdekatnya, dan keluarganya.
...***...
Di lokasi Syuting, setelah melihat langsung bagaimana sikap Christofer di lokasi syuting, dia tidak menyangka orang yang kelihatan sangat baik dan ramah tersebut adalah seorang playboy. Untungnya, Sutradara menyetujui Ide Yunita untuk tidak menggunakan pakaian yang terlalu sexy. Sehingga, dia bisa sedikit bernafas lega setelah setidaknya memperkecil kemungkinan dirinya akan menarik perhatian buaya darat di sekitarnya.
“Permisi,” suara seorang laki-laki memanggilnya ketika dia sedang berusaha membaca naskahnya untuk adegan berikutnya, “Dek Yunita ya?” sapa laki-laki tersebut kembali; mungkin karena dia, Yunita tidak bergeming dari naskahnya sedikit pun.
“Ah, iya, ke....” kata-katanya terhenti ketika melihat siapa yang sedang memanggilnya. Christofer, orang yang paling harus dia jauhi sebisa mungkin selama proyek sinetronnya kali ini. “Maaf, ada apa ya?” dia mencoba sebisa mungkin untuk berlaku sopan, karena memang Christofer merupakan seniornya dalam dunia akting.
“Saya cuma penasaran saja. Soalnya banyak kru yang memuji kecantikan dek Yunita. Dan ternyata memang benar ya, lebih cantik kalau di lihat langsung,”
Mungkin karena pikirannya sudah tertanam dengan image negatif soal orang di depannya ini, sehingga kata-kata tersebut malah membuatnya sedikit kurang nyaman, “Terima kasih atas pujiannya, kakak juga ganteng kok,” dia menjawab sekedar untuk berbasa-basi dan memelihara suasana yang baik.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, semoga lancar hari ini,” ucap kak Christofer dengan senyuman yang membuatnya menjadi tambah tidak nyaman. Namun, mau bagaimana lagi, dia setidaknya harus menahan hal tersebut selama 1 tahun ke depan; kalau kontraknya tidak di perpanjang.
__ADS_1
“Awas, jangan sampai lengah dengan rayuan buayanya,” tegur Stefani yang datang tak lama sesudah Kak Christofer pergi, “Nih, pesanan lu,” tambahnya sambil menyerahkan beberapa buah dan makan siang pesanan Yunita.
“Ngak akan lah, Andre jauh berkali-kali lipat lebih baik dari pada dia,” jawab Yunita sambil mencibirkan mukanya.
Seharian penuh, dari siang sampai menjelang malam hari, Syuting berlangsung dengan lancar tanpa terlalu banyak NG. Yah, mungkin karena ini masih bulan-bulan pertama, jadi adegannya masih belum terlalu susah. Dan seperti biasa, Andre yang seolah tau dengan jadwalnya menelpon tepat sebelum adegan terakhir dimulai.
“Halo, kamu punya salinan jadwalku ya? Kok bisa pas jam istirahat selalu kamu nelpon,”
“Iya dong, pacarmu ini kan orang yang paling peka dan punya feeling yang kuat kalo soal kamu,”
“Gombalanmu makin meningkat ya? Belajar dari mana? Dimas pasti kan?”
“Enak aja, dibilang kekuatan telepati. Kita kan memang di takdirkan bersama,”
“Tau ah, gombal mulu, tapi jarang punya waktu sama aja boong,”
“Apaan tuh?” Yunita yang mendengar hal yang berhubungan dengan kejutan, langsung gembira, wajahnya bahkan berseri-seri meskipun sebenarnya sangat lelah karena syuting seharian.
“Nanti lah, setelah syuting mu selesai, oke?”
“Awas kamu ya kali bohong,” Yunita mengancam.
“Mana si Yunita..” suara Sutradara yang sedang mencarinya membuat Yunita sedikit terkejut ketika dia sedang senyum-senyum sendiri sambil telponan dengan Andre.
“Eh sudah dulu ya, giliranku sekarang, Love u,”
“Love u too,” balas Andre sebelum mereka berdua mengakhiri percakapan.
__ADS_1
Syuting adegan terakhir yang berlangsung sekitar satu jam terasa sangat sebentar bagi Yunita; karena dalam pikirannya, dia terus membayangkan hadiah apa kira-kira yang ingin di berikan Andre nanti.
“Anu, permisi, Dek Yunita,” saat hendak kembali ke mobil, kak Christofer kembali menghampirinya.
“I.. iya? Ada apa ya, kak?” dalam hatinya, Yunita sebenarnya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini secepat mungkin. Apalagi saat melihat orang-orang di lokasi syuting yang memperhatikan mereka. Dia takut hal ini akan menjadi gosip nantinya. Namun, dia tidak bisa bersikap tidak ramah kepada seorang yang lebih senior dari pada dirinya, karena hal itu juga bisa menjadi gosip yang mungkin lebih parah.
“Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Sekalian mengakrabkan hubungan kan?” tanya Kak Christofer.
“Anu, saya ....” dititik ini, Yunita agak sedikit bingung bagaimana menolak ajakan tersebut dengan halus.
“Honey, kamu ngapain. Udah ku tungguin dari tadi loh,” secara mengejutkan, dia mendengar suara Andre. Awalnya, dia berpikir kalau itu cuma halusinasinya saja. Akan tetapi, ketika dia berbalik, Andre betul-betul sedang berjalan menghampirinya.
“Ka.. Kamu kok tau lokasi syutingku?”
“Aku nanya sama Stefani tadi siang. Btw, ini siapa?” entah kalimat terakhir Andre tersebut bermaksud sarkas atau tidak, yang jelas raut wajah Kak Christofer terlihat sedikit tidak senang, “Ah, maaf, saya ngak terlalu ngikutin dunia hiburan lokal soalnya,” kalimat yang sebenarnya merupakan permintaan maaf tersebut, entah kenapa tidak terdengar ramah sama baginya.
Menyadari orang-orang di lokasi syuting melihat ke arah mereka bertiga, Yunita langsung mengenalkan dengan cepat Andre sebagai pacarnya kepada Kak Christofer; meskipun sebenarnya dia sudah yakin kalau kata ‘honey’ yang di ucapkan Andre tadi sudah menjelaskan semuanya. Namun, dia memilih untuk menegaskan kembali hal tersebut dengan tujuan, agar Kak Christofer tidak menanggunya lagi kecuali untuk urusan pekerjaan.
Setelah perkenalan secara singkat tersebut, Yunita langsung mengajak Andre untuk pergi meninggalkan tempat tersebut sebelum makin banyak orang yang melihat dan bergosip.
“Wah, sudah gila lu berdua ya? Kagak takut muncul gosip besok pagi apa?” begitu sampai di depan mobil Andre yang di parkir di samping van Yunita. Stefani yang sudah menunggu dan melihat kejadian barusan, langsung mengomeli keduanya sambil menunjuk-nunjuk Yunita dan Andre yang bergandengan tangan di depan banyak orang.
“Udah, biarin aja. Lagian orang kantor udah pada tau kok, Jadi lebih baik jujur aja kan? Dan juga, pilih mana? DI gosipin sama Andre atau sama tuh playboy kakap?”
Melihat Stefani yang seperti merenungkan kata-kata tersebut dan tidak bisa membantah sama sekali, Yunita kemudian pamit kepada Stefani, kedua stylistnya, dan sopir yang mengantarnya dari tadi siang lalu masuk ke mobil Andre.
“Besok, jadwal kosong kan? Gua duluan ya, mau ngedate,” ucap Yunita, yang membuat Stefani geleng-geleng kepala sementara kedua stylist Yunita senyam-senyum seperti sedang melihat adegan romantis yang terlalu alay.
__ADS_1
Sebenarnya, dia sendiri juga merasa khawatir soal bagaimana gosip yang akan muncul antara dirinya dengan Andre dan juga Kak Christofer. Satu hal yang pasti, dia akan sangat tidak suka apabila ada artikel dengan kata ‘cinta segitiga’ yang keluar. Tapi, jika mengingat bagaimana situasi tadi. Kemungkinan artikel seperti itu muncul sangatlah besar. “Hah, bodo amatlah,” dia bergumam dalam hatinya.