Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC III : CHAPTER I


__ADS_3

7 Tahun Kemudian


Waktu berlalu begitu cepat, Yunita dalam 7 tahun terakhir berkembang menjadi Aktris yang sangat tenar. Dia bahkan mengorbankan 3 tahun setelah tamat dari SMA M untuk fokus di dunia akting dan melebarkan sayapnya ke hollywood sebelum akhirnya masuk melanjutkan studinya. Walaupun bukan proyek besar, akan tetapi cukup untuk membuatnya diundang ke ajang penghargaan paling bergengsi di dunia perfilman; Oscar, dan juga merasakan red carpet yang menjadi idaman banyak artis. Dia juga bahkan berhasil membeli penthouse idamannya, walau tidak semewah milik Andre.


“Wah, gila, kenapa lebih susah bikin presentasi dari pada menghafal naskah sih?” Yunita menggerutu untuk yang kesekian kalinya dalam seharian ini. Tugasnya yang sudah menumpuk begitu banyak dan semakin dengan deadline membuatnya agak stress.


Dia sebenarnya sudah mengurangi jadwalnya dengan hanya menerima 1 Web Drama setiap tahun sampai studinya selesai. Tapi, sesuatu yang lebih menyusahkan selalu menggodanya di tahun terakhirnya sebagai mahasiswa, yaitu rasa malas.


“Aduh dek, masa kamu kalah sama calon suamimu itu. Dia bisa dapat double degree di Harvard dan bisa dapat MBA hanya dalam waktu tujuh tahun. Ngak malu kamu?” sindir kakaknya, “Nih minum teh dulu sambil menyegarkan pikiranmu,” tambah kakaknya sembari menaruh secangkir teh di atas meja yang ada di hadapannya. Kakaknya, sekitar 3 tahun yang lalu, secara tak sengaja memergokinya bermesraan dengan Andre saat sedang liburan di Prancis sehingga akhirnya kakaknya tahu soal prank massal yang ia dan Andre rencanakan.


“Tau lu, ngak malu apa kalo disindir kalo kalian itu tidak sebanding?” Stefani sahabatnya, juga ikut menyindirnya.


“Ngak sebanding bagaimana? Gue kan cantik, dia ganteng. Kalo di korea kan ada namanya visual couple. Jadi, ngak sebanding kaya bagaimana lagi?” dia membela dirinya.


“Duh, maksudnya Stefani dalam hal kepintaran oneng,”


“Jadi maksudnya aku bodoh begitu hah?” melihat Stefani yang megangguk pelan. Dia kemudian bergeser mendekati Stefani yang duduk tak jauh darinya dan memelototinya, “Oh, jadi begitu ya lu sekarang, sudah mulai berani,” ucapnya dengan suara yang biasa dipakainya saat berperan sebagai karakter antagonis; tidak terlalu keras atau pelan, agak rendah dan menambahkan sedikit emosi di dalamnya agar terdengar mengintimidasi.


“Yeah, something like that,” Stefani membalas dengan santai.


“Eh, ngomong-ngomong. Calon Suami lu kapan pulang?” kakaknya bertanya,


“Lusa sih katanya,”

__ADS_1


“Terus, kapan kalian mau mengungkapkan kalau kalian masih pacaran sebenarnya?”


“Sehabis dia pulang sih kemungkinan. Tapi ya liat sitkon dulu nantinya,” dia menjawab sambil kembali mengerjakan presentasi yang harus dikumpulkannya besok siang.


“Ya sudah, jangan kemalaman tidurnya, kalian besok pagi kan masih ada syuting iklan terus siangnya masih harus masuk kampus. Jangan kecapean ntar, bikin repot ntar,” celoteh kakaknya yang kemudiang beranjak dari tempat duduknya dan naik ke lantai 2; tempat di mana kamar kakaknya berada.


Sementara itu, dia dan Stefani kembali melanjutkan tugasnya; karena kebetulan mereka satu angkatan, satu jurusan dan beruntungnya, juga satu kelas, sehingga bisa saling membantu ketika ada tugas yang agak susah. Dan seperti biasa, agar tidak bosan, mereka berdua selalu memutar drama china atau korea sambil mengerjakan tugas. Tak lupa juga, beberapa snack dan minuman ringan sebagai penghilang suntuk.


“Hah, akhirnya selesai juga,” Stefani bersorak sembari merenggangkan badannya untuk sejenak.


“Stef,”


“Hmm?”


“Ingat, demi membuktikkan ke orang tua lu, keluarga besar lu, dan orang-orang yang memandang rendah lo kalau lo bisa sukses dengan jalan lu sendiri kan?”


“Ya kan? Seharusnya gua bahagia dengan semua kesuksesan dan kekayaan yang gua dapat sekarang. Tapi, entah kenapa gua kok masih merasa ada sesuatu yang kosong ya? Dan anehnya gua ngak tahu apa itu,” keluhnya sambil menatap ke jendela besar yang memberikan pemandangan langit malam.


Begitu tenang dan indah jika dilihat dari tempat dia duduk, namun sebenarnya sangat dingin dan tidak akan pernah habisnya jika dijelajahi. Sama seperti perasaannya sekarang ini. Bagi orang-orang, dia mungkin sudah menjadi panutan bagi kaum muda karena kesuksesannya. Namun, bagi dia sendiri, dia merasa selalu ada yang kurang dalam dirinya. Hal itu mulai di rasakannya setelah dia berhasil membeli penthouse yang dia tinggali sekarang setahun yang lalu.


“Mungkin karena lu belum bisa berdamai dengan orang tua lu? Lebih baik lu mendekatkan diri lu ke Tuhan, minta jawaban sama yang di atas. Sudah berapa lama lu ngak rajin ke gereja?”


“Ya kan lu tahu sendiri gua sibuk syuting,”

__ADS_1


“Ok, bagaimana kalau next project ke depan, gua minta kak Alika untuk tambah syarat supaya hari minggu wajib di kosongkan jadwal. Setuju?”


“Ok, hari Sabtu juga sekalian dong,” candanya.


“Ye, ini anak. Dikasih hati malah minta jantung,” jawab Stefani seraya melayangkan bantal dan seperti hendak melemparnya, “Dah, tidur gih, sudah jam setengah 1 noh,” imbuh Stefani sambil menunjuk jam digital yang ada di meja TV.


***


Esok siangnya, setelah selesai dengan urusannya untuk syuting iklan. Dia dan Stefani langsung menuju ke kampus menggunakan mobil yang biasa dipakainya untuk ke lokasi syuting, karena berpikir tidak akan keburu kalau harus balik ke agensi untuk mengganti mobil. Lagipula, seisi kampus juga sudah tahu soal dirinya, sehingga dia tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti saat semester pertama.


Melihat jam menunjukkan kurang 5 menit sebelum pukul 2 siang; yang artinya mereka berdua sudah hampir terlambat, begitu pintu mobil terbuka, dia dan Stefani langsung berlari secepat yang mereka bisa tanpa memedulikan orang yang melihatnya. Alasannya? Karena dosen untuk matkul yang satu ini adalah dosen killer yang biasanya selalu on time.


“Fiuh, ternyata belum datang itu Prof,” sambil mengatur nafasnya kembali dan bersandar di dinding, dia bersyukur dalam hatinya tidak terlambat kali ini. Soalnya, ini bisa jadi yang kedua kalinya dia terlambat. Meski dia belum pernah satu kalipun bolos di mata kuliah ini, namun menurut rumor yang beredar, terlambat satu kali saja maka nilai A sudah pasti melayang.


“Sudah, duduk saja dulu,” ajak Stefani.


Karena dia dan Stefani telat, mau tidak mau kali ini dia mendapat tempat paling depan; tempat terkutuk yang paling dihindari kebanyakan orang, karena biasanya kursi paling depan akan menjadi tempat yang paling pertama di periksa tugasnya. Hanya orang yang memang rajin, beruntung, atau dekat dengan prof saja yang berani duduk di deretan paling depan.


“Hai, telat lagi ya?” sapa Putri, teman yang cukup akrab dengannya karena sering satu kelompok dengannya dan juga Stefani. Berbeda dengan dirinya, Putri bisa dibilang cukup pintar; semua tugasnya beres; kehadirannya paling rajin; dan catatannya pun terbilang lengkap, sehingga tidak heran kalau dia pede-pede saja untuk duduk di manapun, termasuk kursi paling depan sekalipun.


“Belum datang kan prof? Atau dia sebenarnya lagi keluar sebentar?” dia bertanya karena agak parnoan. Sebab, dia pernah mengalaminya satu kali; saat dia mengira kalau dirinya tidak terlambat, padahal prof killer tersebut sedang keluar ke tolet sebentar.


“Tenang saja, belum kok, lagi beruntung lu kali ini,” Putri menjawab dengan santai.

__ADS_1


Tak lama, sekitar beberapa menit, Prof Guntur memasuki ruangan kuliah. Namun, yang membuatnya cukup kaget adalah orang yang mengikutinya, yaitu ANDRE.


__ADS_2