Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
Ch 16. Time To Make A Decision


__ADS_3

Di kamarnya, Yunita langsung tertunduk lemas. ‘Apakah aku harus melakukannya?’, tidak seperti tadi saat dia masuk ke dalam rumah dengan percaya diri, pikirannya sekarang seolah mempertanyakan kembali apa tujuan sebenarnya yang ingin dia capai.


Dia kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya dengan agak keras dan menggelengkan kepala beberapa kali untuk menghilangkan pemikiran yang akan membatalkan tekadnya di awal, saat sebelum dia masuk ke dalam rumah ini.


Tidak mau terus tenggelam dalam kebingungannya saat ini, dia berjalan ke lemari pakaiannya yang berada di pojok kamarnya; mengambil koper yang biasa dipakainya saat jalan-jalan; lalu memasukkan beberapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper tersebut, berjaga-jaga untuk skenario terburuk yang mungkin akan terjadi nanti.


"Yun?"


Sialnya, ketika dia sedang mengepak barang-barang miliknya, pintu kamarnya terbuka karena dia lupa menguncinya. Karena jarak tempat dia berdiri sekarang dengan pintu cukup jauh—dan tidak mungkin dia akan sempat mencapai pintu tersebut untuk menutup dan menguncinya—dia akhirnya mengerahkan tenaganya sekuat mungkin untuk menutup koper tersebut, dan bermaksud menggesernya ke sisi kasur yang lain.


Namun malang baginya, koper tersebut terlalu berat untuk dia dorong. Tatapan kakaknya sekarang ini seperti orang yang sedang menangkap basah maling yang membobol rumahnya, “Yun, ka.. kamu mau kemana?”


“Ka.. Kak, aku bisa...” ketika dirinya hendak menjelaskan, kakaknya malah menutup pintu; menguncinya; lalu berjalan menghampirinya.


“Apa maksudnya semua ini?” kakaknya bertanya dengan suara yang agak pelan namun sangat jelas kalo kakaknya sedang marah. Kakaknya bahkan sampai menunjuk koper di atas tempat tidur yang dalam keadaan tidak tertutup rapi.


Tidak punya pilihan lain, Yunita akhirnya menceritakan kejadian kemarin mulai pertemuannya dengan kak Alika kemarin, sampai dengan bagaimana dirinya di casting untuk sebuah web drama. Dia hanya bisa berharap kakaknya bisa mengerti keadaannya saat ini, apalagi kakaknya lah yang selalu menyuruhnya untuk tidak terlalu memikirkan perkataan Ayah mereka setiap kali dia atau kakaknya dimarahi.


“Tunggu disini,” ucap kakaknya keluar dari kamarnya, dan kembali lagi tak lama setelahnya, “Nih,” kakaknya memberikan sebuah kartu yang biasa digunakan hotel-hotel.


“Ini apa?”


“Kunci Apartemen,”


“Tapi kan...”


“Sudah, dari dulu memang kakak sudah berencana untuk melepaskan diri dari ikatan Ayah. Tapi selalu saja batal. Dan sekarang, malahan kamu duluan yang memberontak,”


“Tapi mama...”

__ADS_1


“Mama pasti bakalan mengerti kok, kamu fokus saja dengan rencanamu, buktikan kalau kamu memang bisa sukses dengan cara kamu sendiri. Tapi, tetap, pendidikanmu juga yang nomor satu, tidak bisa kamu anggap remeh itu,”


Untunglah, kakaknya ternyata diam-diam juga mempunyai pikiran yang sama dengannya selama ini. Dalam hatinya, dia berjanji, akan membuktikan kalo pandangan ayahnya selama ini tentang yang namanya kebebasan dalam berkarir adalah omong kosong itu salah.


Selama beberapa menit, ia dan kakaknya mengenang masa kecil mereka. Baginya, tidak ada yang terlalu spesial, karena Ibu kandungnya meninggal ketika dia lahir. dia hanya bisa mendengar cerita soal ibu kandungnya dari kakaknya; yang sering mengatakan kalau dirinya sangat mirip dengan Ibu mereka bak pinang dibelah dua.


Ayah mereka, kata kakaknya mulai berubah semenjak kepergian ibu mereka. Terkadang, saat mendengar cerita kakaknya bagaimana ibu dan Ayah dulu, Yunita kerap menyalahkan dirinya atas kepergian ibunya. Namun, kakaknya selalu mengatakan, ‘Takdir itu di tangan Maha Kuasa’.


Selesai bernostalgia singkat, mereka berdua berpelukan sebentar sebelum turun ke ruang makan. Waktu makan malam bersama, Ayahnya sama sekali tidak berbicara apa pun, melihat ke arahnya pun tidak. Tidak tahan lagi, dia memulai pembicaraan sementara ibunya dan salah satu pembantu mereka sedang menyiapkan makanan.


“Ma, kalau aku jadi artis bagaimana ma?” alih-alih mengutarakan maksudnya secara langsung, dia memulai dengan pura-pura menanyai pendapat ibunya terlebih dahulu.


“Bagus sih, asal jangan main sinetron-sinetron yang ngak masuk akal aja kaya sekarang-sekarang,” jawab ibunya, sementara Ayahnya sepertinya masih tidak peduli sama sekali dan hanya fokus ke koran yang dibacanya.


“Jadi boleh?”


“Kenapa harus akuntan? Supaya Ayah bisa bersombong di pertemuan keluarga begitu?” setelah diam sejenak, Yunita memutuskan untuk melawan Ayahnya terang-terangan dengan mengungkapkan semua isi hatinya.


“Kau..”


“Iya kan? Selalu saja begitu, semua harus sesuai dengan standar mereka. Apa sih hebatnya dipuji-puji mereka? Memangnya mereka yang mau ngehidupin aku di masa depan? Ngak kan,”


“Sudah...”


“Kenapa kau mau jadi artis? Apa gara-gara pacarmu yang namanya Andre? Yang jemput kamu pake mobil mewah di luar waktu itu? Dia yang ngeracunin pikiranmu kan?” ibunya tadi berusaha melerainya, akan tetapi Ayahnya tampaknya tidak peduli dan malah membawa Andre ke dalam permasalahan ini. Spontan, Yunita menjadi sedikit emosi melihat bagaimana Ayahnya malah menyeret dan menuduh orang lain.


“Ayah ngak usah bawa-bawa dia, malahan dia menyuruh aku untuk tanya ke Ayah sama mama. Tapi, ngak ada hasilnya juga kan. Ayah memang selalu egois, selalu memaksa untuk memenuhi standar keluarga besar yang tidak ada manfaatnya,”


“Egois? Ini balasanmu setelah selama ini Ayah membesarkanmu? Setelah susah payah Ibumu melahirkanmu sampai harus tiada seperti itu,”

__ADS_1


“AYAH!! STOP!!” suara kakaknya yang begitu keras membuat mereka semua terdiam.


Wajah Ayahnya berubah seperti merasa bersalah dengan perkataannya barusan. Akan tetapi, kata-kata Ayahnya yang terakhir barusan membuat keinginan Yunita untuk tinggal di rumah ini menjadi hilang sepenuhnya. Hatinya terasa begitu sakit ketika mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Ayahnya, Ayah kandungnya sendiri.


“Ja.. Ja.. Jadi begitu ya, perasaan ayah yang sebetulnya,” dia mencoba menahan kesedihannya, tapi tampaknya tidak bisa. Air matanya terasa mulai membasahi pipinya, “Oke kalau i.. itu yang ayah rasakan, lebih baik aku ngak ada di sini kan?”


Tanpa banyak berbasa-basi, dia meninggalkan meja makan; berjalan dengan langkah yang cepat kembali ke kamarnya dan merapikan koper yang sudah dia siapkan tadi. Setelah selesai berbenah, saat matanya melihat foto-foto keluarga yang ada di meja belajarnya, dia mengambil foto salah satu foto tersebut dan menyelipkannya ke dalam kopernya kembali.


Di depan pintu kamarnya, kakaknya yang masih memakai piama menunggunya dengan senyuman tipis di wajahnya, “Kamu ngak apa-apa kan? Kata-kata ayah tadi...”


“Aku ngerti kok, itu cuma amarah sesaat. But, i can’t forgive what he say to me, at least for couple days,” ucapnya, dia sangat tahu apa yang ingin diucapkan kakaknya. Kakaknya memeluknya, kemudian mengantarnya turun.


“APA KAMU AKAN MEMBIARKANNYA PERGI SEPERTI ITU HAH!!?” suara Ibu tiri mereka yang cukup keras bahkan terdengar saat dia dan kakaknya sedang menuruni tangga menuju ruang tamu, “BELUM CUKUP SEMUA PERTENGKARAN SELAMA INI SAMPAI KAMU HARUS MENGUNGKIT HAL MENYAKITKAN SEPERTI ITU?!!”


Cukup mengejutkan, ini merupakan pertama kalinya dia melihat Ibu tiri mereka marah. Jika kebanyakan orang tua tirilah yang jahat, dia tidak menduga kalo Ibu tiri mereka malah yang membela mereka mati-matian terkhusus dirinya saat ini.


Dia sebenarnya ingin berpamitan, namun perasaannya yang sudah hancur saat ini, membuatnya agak malas harus melihat wajah Ayahnya. Kakaknya yang tampaknya mengerti hanya tersenyum, tidak mengatakan apa-apa, dan terus berjalan bersamanya.


Ketika mereka berdua sedang memasukkan koper ke dalam mobil kakaknya dan bersiap untuk pergi, Ibu tiri mereka keluar menghampiri mereka; dan dengan berlinang air mata berusaha menghentikan Yunita pergi. Akan tetapi, keputusannya sudah bulat; dia kemudian meminta ibu tiri yang sudah dianggap seperti ibu sendiri baginya, untuk menjaga ayah sampai dia bisa menunjukkan kalo dia bisa sukses.


Butuh beberapa menit sampai akhirnya Ibunya menerima keputusannya tersebut. Ibunya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, dan memberikan sebuah kartu kredit kepada Yunita.


“Setidaknya ambil ini, beli makanan yang enak, jangan hidup seperti orang susah. Kalau sampai kamu mama dapat hidup seperti itu, mama akan seret kamu kembali ke rumah,”


“Hidup susah apaan, orang dia aku kasih kunci apartemenku,” ujar kakaknya.


“Pokoknya awas saja kalau kamu hidup kaya orang susah, ngak akan mama maafkan, ingat itu baik-baik,” ucap Ibunya.


Setelah berpelukan sebentar, dia kemudian pamit kepada Ibunya; masuk ke dalam mobil; dan pergi meninggalkan Ibunya di garasi.

__ADS_1


__ADS_2