Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Keputusan


__ADS_3

Di pagi hari nya Nafisha pulang kerumah bersama Devano untuk siap siap berangkat sekolah, mereka pulang pagi sekali sebelum semua anak geng nya bangun.


Sesampainya di apartemen waktu menunjukan pukul setengah enam pagi, Nafisha langsung menyiapkan seragam untuk Devano dan juga tak lupa menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Dev,"


"Iya Fisha," Jawab Devano.


"Kamu yakin mau sekolah dengan keadaan seperti ini, kamu istirahat aja Dev jangan sekolah,"


"Nggak papa aku baik baik aja kok," Jawab Devano.


"Hmmm baiklah,"


Devano langsung mendekat kearah Nafisha yang sedang menghidangkan makanannya di meja makan.


"Nafisha,"


"Iya Dev,"


"Makasih," Ucapnya.


Nafisha langsung berbalik badan melihat kearah Devano, Dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Untuk apa,???"Tanya Nafisha dengan Nada yang lembut.


"Untuk yang semalam,"


"Ini udah sepantasnya Dev, kamu itu suami aku maka bagaimana pun keadaan nya kita hadapi sama sama," Jawab Nafisha dengan santai.


Deg


"Kenapa aku begitu bodoh, dan baru menyadari ternyata Nafisha begitu Istimewa," Bathin Devano.


"Gue emang laki laki terbodoh di dunia," Lanjutnya.


"Dev sini duduk kita ganti perban dulu," Ucap Nafisha sambil mengraih tangan Devano dan menuntunnya menuju sofa Ruang tamu.


Nafisha mengobati Devano dengan telaten dan Hati hati , Nafisha begitu serius mengobati wajah Devano hingga tanpa sadar wajah mereka begitu Dekat yang hanya berjarak beberapa senti saja bahkan Mereka bisa merasakan Nafas mereka masing masing.


Devano memandang wajah Nafisha dengan tatapan yang sulit di artikan, Perlahan tapi pasti tangan Devano mulai menyentuh bagian belakang kepala Nafisha dan membuka tali cadar Nafisha, terpampanglah sudah wajah Nafisha yang begitu cantik bak bidadari.


"Mata Devano tertuju pada bibir ranum Nafisha.


" Ternyata kamu lebih cantik jika dilihat dari arah dekat," Ucapnya dalam hati.


Nafisha kaget dengan tindakan Devano yang begitu tiba tiba.


"Dev," Lirih Nafisha dengan pelan.


"Devano memiringkan wajahnya setelah itu memajukan wajahnya kedepan dan


Cup


Devano mencium bibir Nafisha hingga lambat laun mereka terbuai dengan ciuman panas di antara mereka berdua.


Ciuman itu berlangsung lama hingga Nafisha kehabisan nafasnya, dia memukul dada devano berkali kali.


Devano yang tahu kalau Nafisha sudah kehabisan Nafas pun segera menjauhkan wajahnya dari wajah Nafisha, tangannya menyentuh bibir Nafisha dan mengelap bibi Nafisha yang basah bekas ciuman mereka.


"Manis," Gumamnya sambil tersenyum.


Sedangkan Nafisha yang di perlakukan seperti itu sudah tertunduk karena malu bahkan wajah nya pun sudah memetah seperti kepiting Rebus.


Tak lupa Devano juga memasangkan cadar Nafisha kembali.


"Makasih,"


Nafisha mengangkat pandangannya menatap Devano " Sama sama," Jawabnya

__ADS_1


"Dev mari kita sarapan dulu," Ucap Nafisha sambil mengajak Devano kearaha meja makan.


Mereka makan dengan hikmah tidak ada bahan perbincangan diantara keduanya.


"Aku sudah selesai, Aku berangkat duluan Fisha,"


"Iya,"


Nafisha mendekat kearah Devano Setelah itu dia meraih tangan Devano dan menciumnya.


"Hati hati," Ucap Nafisha.


"Hmmm," Devano melangkahkan kakinya begitu Cepat karena dia takut Nafisha tahu kalau dirinya sedang menahan malu, bahkan wajahnya pun sudah memerah hingga ketelinganya.


Setelah Devano berangkat Nafisha pun mengikuti untuk berangkat ke sekolah.


Sesampainya di sana Nafisha berjalan seperti biasanya,.


Sesampainya di kelas Nafisha langsung duduk anteng di bangkunya.


"Nafisha," Ucap Hazel kepada Nafisha.


"Iya Zel kenapa,??" Tanya Nafisha.


"Gue boleh ngomong berdua nggak dengan lo??" Tanya Hazel hati hati.


"Boleh," Ucap Nafisha.


"Yaudah Nanti pas istirahat kita bicara berdua," yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Nafisha.


Bel masuk sekolah pun berbunyi...


Seperti biasanya mereka belajar dengan biasanya hingga tak terasa sudah 4 jam mereka belajar hingga


Kringg


Bel Istirahat pun berbunyi.


"Nafisha," Panggil Hazel.


"Ayo," Ajak Nafisha kepada Hazel.


Hazel mengajak Nafisha ke taman belakang mereka duduk di sana berdua.


"Ada apa,???"


" Kamu udah ada jawaban tentang ucapan mama Arini,??" Tanya Hazel tiba tiba.


"Entahlah aku juga bingung Zel," Jawab Nafisha dengan lesu.


"Aku juga pasti bingung jika di posisi kamu Fisha," Ucap Hazel.


"Tapi aku kayak nya akan menerima usulan mama Dekh untuk loncat kelas," Ucap Nafisha tiba tiba.


"Hah, kamu serius Fisha??? "


"Iya,"


"Berarti kamu sudah sudah siap memberikan cucu dan cicit," Tanya Hazel yang hanya di angguki oleh Nafisha.


"Akan tetapi aku tidak berharap lebih biarlah mengalir seperti air, toh sekarang Devano juga masih berpacaran Dengan Vania,"


" Kamu yang sabar ya Fisha,"


"Tenang lah Aku nggak papa Hazel,"


"Kapan kamu akan mulai meloncat kelas,??" Tanya Hazel


"Secepatnya," Jawab Nafisha.

__ADS_1


Dert dert dert


Handphone Nafisha bergetar, Nafisha dan Hazwl pun melirik kearah suara tersebut, Nafisha langsung saja mengangkat Handphone nya melihat siapa orang yang menghubunginya.


Namun Raut wajah Nafisha berubah menjadi tegang saat melihat nama orang tersebut yang tertera di sana.


"Siapa,???" Tanya Hazel penasaran.


"Mama Arini," Jawab Nafisha dengan Lesu.


Sedangkan Hazel yang mendengar Nama itu tak kalah kaget dan juga syok karena Hazel harus menyaksikan bagaimana keputusan Nafisha.


Nafisha langsung saja menekan tombol hijau di layar ponselnya


"Hallo ma,"


"Hallo Fisha, gimana kabar kamu Nak,???" Tanya mama Arini basa basi


"Baik ma,"


"Sukurlah, kalau begitu,"


"Ada apa ma tumben tumbenan mama menghubungi Fisha di saat jam sekolah???" Tanya Nafisha penasaran.


"Emm mama hanya mau menanyakan tawaran mama kemarin Fisha, jadi gimana kamu udah ngambil keputusan??" Tanya mama Arini dengan hati hati.


Sedangkan Nafisha yang di tanya seperti itu mukanya langsung pucat pasi bahkan Nafisha berapa kali melirik kearah Hazel tanda minta persetujuan,Sedangkan Hazel hanya tersenyum sambil menganggukan kepala saja.


"Fisha,"


"Ekh iya ma, Fisha 7dah ambil keputusan kalau Fisha bakal loncat kelas akan tetapi Jika fusha udah lulus sekolah fisha mau tetap mengikuti kegiatan Sekolah di AHS ma untuk memantau Devano, bagai mana???"


"Baiklah ,tenang saja itu bisa di atur," Ucap Mama Arini dengan santai.


"Kalau begitu kamu Nanti pulang sekolah langsung ke ruangan Kepala sekolah, ya untuk melakukan tes loncat kelas,"


"Baik ma, tapi mama harus sembunyikan keputusan Fisha dari Devano ya mah,"


"Kenapa??"


"Biar ini bisa jadi surprice untuknya,"


"Baiklah.


"Kalau begitu mama tutup dulu ya Fisha??"


"Iya ma,"


"Awas lupa pulang sekolah,"


"Iya ma baik,"


tuttt tuttt tuttt


Panggilan berakhir.


"Huffffhhh," Nafisha menarik napas dalam dalam.


"Gila Naf baru juga kita omongin udah di ulti aja kamu," Ucap Hazel tak kalah gugup saat mendengar suara mama Arini.


"Iya aku juga deg degan banget tadi," Ucapnya dengan jujur.


"Apa katanya tadi???"


"Aku di suruh ke perpustakaan untuk melakukan tes loncat kelas, tapi kamu jangan bocor sama siapa pun oke termasuk Devano,"


"Sipp,"


"Kalau gitu Nanti pulang sekolah kamu temani aku ya," Pinta Nafisha dengan memohon kepada Hazel.

__ADS_1


"Oke dengan senang hati.


__ADS_2