
Akhirnya karena kegigihan Devansha dan Novia Nafisha bisa melakukan perjalanan jauh ke luar negri asalkan Nafisha harus istirahat dan tidak boleh banyak fikiran terlebih dahulu.
Mereka berjalan bersama menuju bandara untuk berangkat ke Korea.
Sesampainya Di bandara Mereka langsung masuk kedalam pesawat yang sebentar lagi akan terbang.
Saat sudah aman duduk di pesawat Novia mulai menjalankan Aksinya yaitu mengintrogasi dan meminta penjelasan tentang maksud semua ini.
"Fisha maksud kamu apa kita berangkat ke Korea untuk apa???" Tanya Novia penasaran.
"Untuk menjemput adiknya Devansha anaknya Jihan," Jawab Nafisha dengan santai.
"Maksud kamu,???" Novia sudah melototkan mata tak percaya, dia begitu syok dengan tingkah Nafisha yang gila, istri mana yang mau melihat anak madunya.
Akhirnya mau tak mau Nafisha menceritakan bagaimana pertama Nafisha bertemu dengan Jihan di saat Nafisha sedang koma atau di alam bawah sadarnya.
Nafisha juga menceritakan kalau Jihan sempat menitipkan anaknya pada Nafisha, entahlah Nafisha sebenarnya tidak ingin mempercayai mimpinya karena menurutnya mimpi itu adalah bunga tidur, tapi Nafisha juga penasaran dan ingin membuktikan bahwa apakah mimpinya itu benar atau salah,"
Sesampainya Di sana Nafisha langsung pergi nenuju tempat tantenya Jihan berada, kenapa Nafisha bisa tahu ya karena Devansha yang melacak dimana alamat tante nya itu , sehingga Nafisha dan Novia tidak kebingungan untuk mencari orang yang belum Nafisha kenal.
Perjalanan di bandara hingga ketempat tujuan membutuhkan waktu sekitar 2jam.
Nafisha turun dari mobil tumpangannya bersama Novia dan juga Devansha yang berada di gendongan Novia.
Mereka langsung masuk kedalam gerbang rumah mungkin itu alamat yang mereka cari.
Tok tok tok
"Permisi," Ucap Nafisha ( Dalam bahasa Inggris ya thor)
"" Ya sebentar," Teriak seseorang di dalam.
Ceklek
Orang itu terkejut dengan dua orang asing dan satu anak laki laki yang baru dia lihat.
"Maaf dengan siapa ya??? Mungkin kalian salah orang???" Ucap Tante Jihan.
"Apakah benar ini rumahnya Jihan???"
"Iya, saya tantenya," Jawavnya.
"Ekh silahkan masuk," Sambung nya sambil mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya.
Ea Ea Ea Ea
Suara tangisan bayi menggema di satu ruangan tapi karena saking kencangnya suara itu dapat terdengar oleh mereka begitu juga dengan tantenya Jihan.
"Sebentar ke atas terlebih dahulu," Pamit nya.
Tantenya Jihan beranjak dari tempat duduk nya menuju lantai atas untuk membawa Jivan turun ke bawah karena tidak baik bayi di tinggalkan sendiri di atas tanpa pengawasan orang tua.
"Maaf lama," Gumam nya sambil menggendong Jivan.
"Tante apakah itu anaknya Jihan???" Tanya Nafisha.
"Umi itu dede bayi adik Devansha kan Umi,???" Tanya Devansha.
"Iya sayang itu adik kamu," Jawab Nafisha sambil memalingkan wajahnya karena dia tidak mau kalau Devansha sampai tahu dirinya menangis.
"Jadi benar mimpi itu Jihan, Kenapa kamu pergi," Gumam Nafisha dalam hati.
__ADS_1
"Apa??? Jadi kamu Nafisha istri sah Devano yang sering Jihan ceritakan itu,???" Tanya tantenya Jihan.
"Iya tante dan saya kesini mau memastikan apakah benar mimpi yang saya alami itu apa tidak, tapi rasanya itu memanglah nyata, buktinya bayi itu ada dan Jihan meninggal Hiks," Pecah sudah tangisan Nafisha yang sedari tadi dia tahan.
"Iya Nafisha Jihan memang menitipkan bayi ini pada tante, tapi dia juga berpesan jika Nafisha datang maka berikanlah bayi ini padanya," Gumamnya sambil menatap sendu pada Jivan.
"Lantas siapa nama bayi itu tante,???" Tanya Novia padanya.
"Jivan Alexander,"
Sedangkan Devano dan keluarga nya kondisinya sangat kacau setelah mengetahui Nafisha keluar dari rumah sakit bahkan semua orang tidak tahu kalau Nafisha sudah sadar dari kemarin malam, cuma Devansha dan Novia lah yang tahu Nafisha telah sadar.
"Ma gimana Ini kemana Nafisha ma," Gumam Devano dengan tatapan sendu dan putus asa.
"Tenangkan diri kamu Devano, kita tunggu dulu kabar dari mereka," Gumam Dion.
"Tapi aku takut Nafisha pergi lagi, meninggalkan aku pa, aku nggak sanggup sudah berapa kali Nafisha pergi dari ku dan itu sukses membuat kehidupan ku hancur sehancur hancurnya,"
"Sekarang kita pulang dulu, kita tanyakan pada teman kamu siapa tahu mereka tahu alamat rumah Nafisha yang baru," Usul mama Arini.
"Benar kata mama kamu Dev,"
"Baiklah," Ucapnya sambil tertunduk lesu.
Setelah berbicara basa basi dengan tantenya Jihan Nafisha dan Novia berencana akan langsung pulang dengan keberangkatan nya pukul 11 malam mungkin Nafisha akan sampai di Indonesia pada malam hari berikutnya.
"Baiklah tante kalau begitu kami pamit," Ucap Nafisha.
"Hati hati nak,"
"Iya tante,"
Setelah berpamitan Novia dan Nafisha langsung berangkat ke bandara dengan di antarkan supir tantenya Jihan.
"Iya Umi,"
Setelah percakapan itu Akhirnya mereka tidak banyak bicara karena kondisi mereka yang sangat lelah dan juga takut mengusik tidurnya Jivan.
Sesampainya Di bandara Nafisha langsung masuk kedalam pesawat karena kebetulan pesawat yang akan mereka tumpangi sudah akan lepas tandas.
Di pesawat mereka benar benar istirahat mereka begitu kelelahan, karena mereka tidak istirahat sama sekali tambah lagi fisik Nafisha yang masih sedikit lemas karena baru saja keluar dari rumah sakit.
Malam hari pun tiba pukul sembilan malam Nafisha baru saja sampai di bandara Soekarno Hatta.
Nafisha turun dari pesawat dan langsung memasuki mobil miliknya yang mereka simpan saat akan berangkat ke Korea.
"Dev kita langsung pulang saja ya,???"
"Iya Umi,"
"Nov kamu yang nyetir ya,??"
"Iya Fisha,"
Di perjalanan pulang mereka tidak banyak bicara, namun satu hal yang Nafisha tanaman yaitu mengiklaskan tentang apa yang telah menimpanya cukup di jadikan pembelajaran dalam hidupnya, dan bagaimana dirinya menjalani hidup kedepannya.
"Nov kita pulang ke Mansion Alexander, " Ucap Nafisha tiba tiba.
"Kamu yakin???,"
"Ya aku yakin, karena bagaimana pun aku juga merasa kasihan pada Jivan dan juga Devansha yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya, jika aku ditanya apakah kamu yakin ??? Ya aku yakin??? tapi jika aku di tanya bagaimana perasaan ku sebenarnya, Aku akui memang menyakitkan dan tidak bisa di benarkan tingkah Devano itu, tapi saat ini bukan saatnya aku memikirkan perasaan aku ini, karena akupun tidak boleh egois pada Devansha dan juga Jivan yang tidak tahu apa apa, sudah cukup aku yang merasakan sakitnya dan jangan sampai Devansha dan Jivan merasakan hal yang sama seperti yang aku alami bersama Jihan.," Ucap Nafisha dengan tertunduk lesu.
__ADS_1
Tak terasa Mobil yang Novia kendarai sekarang telah sampai di depan mansion Alexander.
Tok tok tok
Semua orang sedang berkumpul di mansion Alexander termasuk Devano.
Saat Ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, untuk membicarakan Tentang hilangnya Nafisha.
"Ma siapa itu yang mengetuk pintu malam malam, tidak tahu waktu saja," Gerutu Devano dengan muka yang keruh dan muram.
"Biar papa saja yang buka pintunya,"
Dion berjalan meninggalkan Anak dan istrinya Namun mereka berdua juga mengikutinya dari belakang karena mereka juga penasaran siapa yang datang pada malam hari begini.
"Ceklek"
Dion Alexander langsung terkejut saat mengetahui siapa yang datang pada malam hari seperti sekarang ini.
"Siapa pah,???" Tanya Devano.
"Oe oe oe," Jivan tiba tiba saja menangis saat mendengar ucapan Devano seakan dirinya tahu bahwa itu adalah suara ayahnya.
"Nafisha,????"Teriak Devano saat Devano melihat Nafisha yang mematung di depan pintu rumah saat ini bersama dengan Movia dan juga Devansha.
"Oma opa ayo kita masuk Devansha ngantuk," Ucap Devansha polos sambil terus menarik Baju opanya.
"Akh iya mari kita masuk sayang,"
"Ayo masuk semuanya,"
Semua orang masuk kedalam mansion Alexander, dengan tatapan berbeda beda, mereka berfikir siapa bayi yang berada di gendongan Nafisha.
"Fisha bayi siapa ini???" Tanya Papa Dion.
"Devano," Hanya kata itu yang Nafisha ucapkan.
"Aku???"Tunjuk Devano pada dirinya sendiri.
Sebelum Devano melanjutkan ucapannya Nafisha sudah memberikan Jivan terlebih dahulu pada pangkuan Devano.
"Dev Adzanilah terlebih dahulu,"Perintah Nafisha dan Devano hanya nenurutinya saja.
Setelah mengadzani Jivan Devano langsung bertanya pada Nafisha tentang siapa bayi ini, Sungguh Devano bingung dengan situasi sekarang ini.
"Ada yang ingin kamu jelaskan Nak,???" Tanya mama Arini.
"huh," Nafisha menarik nafas dalam.
"Jivan itu adalah anaknya Devano dan Jihan, aku sengaja membawa Jivan kesini karena Jihan telah meninggal dunia saat melahirkan Jivan,"
"Apa??? Jihan hamil???"
"Dan bodohnya kamu tidak menyadari itu," Sarkas Nafisha.
"Maaf,"
"Trus apa langkah kamu selanjutnya Nak???"
"Aku akan mencabut gugatan ceraiku pada Devano, tapi bukan berarti aku akan melupakan penghianatan Devano, tapi karena aku kasian pada Jivan dan juga Devansha yang masih kecil dan juga masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Jadi gunakan lah kesempatan ini sebaik mungkin, Tapi Jika Devano masih mengulanginya lagi maka aku gak akan segan segan membawa Devansha dan Jivan dari kalian semua, setelah mereka besar Nanti,"
Deg
__ADS_1
Hati Devano begitu tak karuan saat mendengar ucapan Nafisha, Entahlah Devano apakah saat ini harus merasa sedih atau merasa senang yang pasti untuk saat ini Devano merasa bersyukur karena Nafishaa mau kembali pada nya meskipun bukan dia alasannya.
"Baiklah aku berjanji akan memperbaiki semuanya dan tidak akan melakukan hal yang fatal lagi, dan tidak akan menyakiti hati kamu untuk yang kedua kalinya.