Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Koma dan Amnesia


__ADS_3

Setelah menjalani Oprasi selama 5 Nafisha akhirnya sadar dari pingsannya karena efek dari obat bius yang sengaja dokter suntikan pada selang infus Nafisha.


"Enggghhhh," Nafisha mengerang menahan sakit sambil memegangi kepalanya.


"Nafisha kamu sudah sadar,???" Tanya Deren yang setia berada di samping Nafisha.


"Umi," Teriak Devansha pada Nafisha saat dirinya mendengar suara erangan Nafisha.


Nafisha hanya tersenyum pada Devansha.


"Aku berada dimana sekarang???" Tanya Nafisha.


"Kamu berada di rumah sakit dan sekarang kita berada di Singapura," Jawab Deren dengan tenang.


"Kamu siapa???" Tanya Nafisha pada Deren.


"Aku Deren sahabat suam-" Baru juga Deren ingin menjawab tapi Nafisha sudah mendahului ucapannya.


"Akh aku ingat kamu Deren suami aku, dan dia anak aku," Tunjuk Nafisha pada Devansha.


"Ya iyalah ngapain kamu di sini nungguin aku jika kamu bukan suami aku iya kan,???" Tanya Nafisha kepada Deren, Namun Deren tidak menjawabnya karena dia begitu syok dengan ucapan Nafisha kalau dia adalah suaminya, ya meskipun Deren akui bahwa dia juga pernah menyukai Nafisha tapi dia tidak bodoh hanya karena cintanya dia harus menghancurkan persahabatan nya, tidak Deren tidak seperti itu, dia lebih baik memendam perasaannya dari pada harus menghancurkan kebahagiaan orang yang dia sayangi.


"Bukan Nafisha, aku bukan suami kamu," Ucap Deren mencoba menjelaskan kepada Nafisha.


"Okh namaku Nafisha," Jawabnya dan menghiraukan ucapan Deren.


"Dan kamu siapa namanya kamu tampan sekali nak," Nafisha bertanya pada Devansha sambil menjcapit hidung Devansha.


"Sakit Umi," Teriak Devansha.


"Diapa Nama kamu Nak???"


"Namaku Devansha Umi, Umi kok lupa sama Devansha sama Abi juga," Tanya Devansha dengan wajah yang begitu polos.


"Devansha Umimu mengalami Hilang ingatan yang sering di sebut amnesia," Deren menjelaskan dengan perlahan kepada Devansha.

__ADS_1


"Hah apa hubungannya Papi kekurangan darah sama hilang ingatan,???" Tanya Devansha dengan Heran pada Deren.


"Itu anemia Devansha," Deren harus menyiapkan stok Sabarnya jika Devansha sudah dalam mode menyebalkan.


"Okh, bukannya Anemia itu penyakit kanker darah ya Papi,"


"Itu Lekimia Devansha Alexandra," Deren sekarang benar benar Frustasi menghadapi anak curut satu ini.


"Hahahahhah, hahaha kamu lucu sekali Devansha," Nafisha tertawa melihat perdebatan antara Devansha dengan Deren, Nafisha tidak tahu saja kalau putra nya itu bisa lebih gila di bandingkan sekarang.


"Loh kok papi marah sama Devansha sih," Ucap Devansha dengan tanpa Dosa.


"Terserah kamu aja lah Dev Papi pusing dengarnya," Deren menjawabnya dengan membelakangi Devansha dan tak lupa mulutnya dia tekuk pertanda dia sangat kesal pada Devansha.


"Dih pundungan, harusnya Devansha yang marah sama Papi, lah napa jadi papi yang pundungan," Devansha malah mengikuti tingkah Deren dengan mulut yang lebih di manyunkan.


"STOP kalian berdua yah, dasar ayah dan anak tak ada Bedanya," Teriak Nafisha.


"Andaikan saja aku benar suami kamu Nafisha mungkin aku akan senang saat kamu bicara seperti itu, tapi kenyataan nya kamu tetap istri sahabat aku," Ucap Deren dalam hatinya.


"Iya gak papa sayang, tapi jangan banyak bergerak ya kasian uminya," Deren memberikan lampu hijau pada Devansha sambil mengelus pucuk kepala Devansha dengan lembut.


Cup


"Makasih papi," Devansha tiba tiba saja mencium pipi Deren, dia memperlakukan Deren seolah adalah abinya.


"Abi Devansha kangen dan merindukan kasih sayang Abi," Devansha membatin dalam hati.


"Abi jahat sama Devansha," Devansha tiba tiba murung bahkan matanya pun sudah berkaca kaca.


"Loh Devansha kenapa???" Tanya Nafisha yang tak tahu menahu sebab Devansha jadi murung, ya karena Nafisha lupa ingatan jadi dia tidak ingat dengan kejadian yang lalu.


Deren yang menyadari Devansha murung, langsung saja dia memangku Devansha dan menciumnya serta memeluknya.


"Cup cup cup, sayang kamu jangan Nangis yang kuat ya Ada Umi sama papi di sini, Devansha jangan fikirkan tentang Abi oke," Deren mencoba menenangkan Devansha karena Deren tahu bahwa Devansha begitu sakit hati dan kecewa pada abinya yaitu Devano.

__ADS_1


"Abi jahat Papi," Rengek Devansha sambil menelungkupkan wajahnya kedalam pelukan Deren.


"Iya papi tahu Devansha harus kuat oke, untuk papi sama Umi,"


"Iya Papi,"


"Sekarang jangan sedih dan senyum jangan sedih di Depan Umi oke,"


"Iya papi, " Jawabnya sambil tersenyum pada Deren dan menghapus air matanya.


"Umi," Devansha merentangkan kedua tangannya pada Nafisha untuk meminta di pangku, sontak saja Nafisha menerimanya Dengan senang hati.


"Kamu kenapa Nak, apa alasan kamu sampai sedih seperti ini," Nafisha membatin dalam hatinya.


Entah kenapa melihat wajah Devansha Nafisha seperti mengingat wajah seseorang tapi siapa namun tiba tiba saja hatinya merasakan sesak dan sakit di dada.


"Kenapa dengan diriku, kenapa sakit sekali tuhan,"


Jika di Singapura Nafisha sudah sadar pasca oprasi beda lagi dengan kondisi Devano di Indonesia yang terbaring di Ranjang rumah sakit tak sadarkan diri, Entah akan sampai kapan Devano seperti itu, hanya tuhan yang tahu bahkan untuk hidup saja Devano di bantu dengan alat yang begitu banyak terpasang di seluruh tubuh Devano.


"Mas kapan kamu akan sadar," Ucap Jihan yang terus saja menangis di ruang Devano sambil memegang tangan Devano yang terdapat banyak jarum dan selang yang mengancab di tangannya.


"Kamu tega mau ninggalin aku Mas sama seperti Nenek," Gumam Jihan pada Devano meskipun Devamo tidak menjawabnya setidaknya Jihan ingin menumpahkan Keluh kesahnya pada Devano meskipun Devano dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Nafisha, lo lihat sendiri gimana hancurkan Devano saat nggak ada lo di sampingnya," Ucap Aldino yang melihat Devano di kaca rumah sakit.


"Bahkan sebelum dia koma pun hanya Nama lo yang dia sebut, bukan orang lain," Sahut Devan.


"Dev maafin kita," Ucap Aldino desela sela Frustasi nya.


"Gue nggak nyangka lo bakal senekat ini Dev," Gumam Devan dia begitu tak menyangka pada Devano baru saja tadi dirinya berdebat dengan Devano, Dan sekarang Devano sudah terbaring koma di Ranjang rumah sakit.


Jika mereka tahu pada akhirnya Devano akan seperti ini mungkin mereka tidak akan keterlaluan terhadap Devano.


"Mereka hanya ingin Devano berubah karena jika tidak kasihan anak dan istrinya yang harus menelan pil pahit setiap harinya untuk menyikapi sifat Devano yang playboy cap gayung itu, dan yang membuat mereka lebih terkejut Devano turun karena balapan tanpa mengajak anggota Arion lainnya, bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu jika Devano turun ke sircuit dunia malam itu, karena semenjak menikah dengan Nafisha Devano jarang sekali turun tangan untuk ikut balapan.

__ADS_1


__ADS_2